
Keesokan harinya,aku terlambat lagi terbangun dari tidur ku. Tadi malam aku begitu sulit memejam kan mataku karena terlalu banyak fikiran yang mengganggu ku membuat ku sulit untuk tidur.
Aku buru-buru mandi dan memakai pakaian ku sebelum Althara mengomel di depan rumah.
Tok..tok..tok
“Non Alhena, ada temen nyariin Non di bawah” teriak Bi Inah di balik pintu kamar ku.
Aku sudah begitu yakin itu Althara, namun tidak biasanya dia mau masuk ke dalam rumah ku.
“Iya suruh tunggu sebentar lagi bi”
Begitu selesai berdandan, aku berlari keluar kamar ku dan menuruni tangga dengan cepat. Aku terus tersenyum menuruni tangga senang karena Althara mau masuk ke dalam rumah ku.
Seketika senyum ku memudar,langkah ku terhenti di akhir anak tangga saat ku melihat siapa yang sudah menunggu ku di ruang tamu.
Devan.
Dia langsung berdiri menyambutku dengan senyuman nya yang sudah membuatku muak. Kejadian kemarin masih begitu kuat dalam ingatan ku, bagaimana dia mencengkram tangan ku begitu kencang, dan bagaimana cara dia berteriak membuatku takut. Dan dia masih berani datang kerumah ku dengan berlagak sok manis.
“Ngapain kakak kesini” nadaku begitu terdengar sangat kesal.
“Aku mau anter kamu ke sekolah hari ini” ucap nya dengan seolah terjadi apa-apa di antara kita.
“Ga usah , aku udah di jemput Althara” sinis ku.
“Mungkin hari ini dia ga ada niat untuk jemput kamu, buktinya sekarang sudah telat dia masih belum muncul kan” aku melirik jam di tangan ku.
Memang benar, ini sudah sangat terlambat. Kemana dia ? Kenapa dia membiarkan si berengsek ini menjemput ku.
“Kakak kenapa ga sekolah?” Tanyaku.
“Hari ini kan hari jum’at Al,kegiatan extracurriculer ku sudah selesai dan tinggal tugas seni musik saja yang belum selesai karena ruang musik masih di pakai untuk latihan kalian kan”
Aku terus saja berfikir bagaimana cara menghindari Devan, namun tak ada ide satupun yang muncul dari kepalaku.
“Udah yuk,kamu kan udah telat, nanti yang lain nungguin kamu disna”
aku begitu terpaksa mengikuti nya masuk ke dalam mobil. Karena memang sudah tak ada lagi pilihan lain selain mengikuti nya.
Di perjalanan aku terus memalingkan wajah ku keluar jendela mobil dan berusaha untuk tak bercengkrama dengan dia.
“Alhena” panggil Devan memegang tangan ku.
Dengan reflek aku menangkis sentuhan nya. Devan menghela nafasnya.
“Kamu masih marah ya masalah kemarin?”
aku terus memalingkan wajah ku keluar jendela.
“Al,aku bener-bener minta maaf, Cassandra itu bukan siapa-siapa aku,kita cuma berteman baik, ga salah dong kalo aku cuma gandeng tangan nya doang kan, bukan berarti aku ada hubungan khusus sama dia”
Devan masih saja berkelit, aku tak menanggapi omong kosong nya,karena bukan karena Cassandra aku kecewa kepadanya.
“Al” panggil nya begitu lirih.
Lampu merah berubah menjadi hijau. Sudah banyak suara klakson yang memperingati mobil Devan untuk maju. Namun Devan terlihat santai sekali melajukan mobil nya.
“Sabar woy, bisa santai gak!” Teriak dia kepada pengendara mobil yang menyalip nya sambil membunyikan klakson nya.
Aku memutarkan bola mataku,dan menggelengkan kepala ku melihat sifat nya yang begitu jauh berbeda dengan Althara.
Sesampainya di parkiran sekolah, dengan cepat aku turun dari mobil Devan dan melangkah pergi dengan cepat.
“Alhena , alhena tunggu”
lagi-lagi Devan menarik tangan ku dan memegang tangan ku yang masih terasa sakit di cengkram oleh nya kemarin.
Aku menatap tajam tangan ku yang di tahan nya,lalu menatap mata nya dengan sinis.
“Maaf al”
lalu dia melepaskan genggaman nya.
“Alhena please dengerin aku dulu. Oke, kalo kamu ga suka liat aku deket-deket lagi sama Cassandra aku akan jauhi dia, tapi aku mohon kamu kasih aku kesempatan untuk buktikan sama kamu kalau aku serius”
dia benar-benar tidak mengerti rasa kekesalan ku bukan lah karena orang lain.
“Kak denger ya. Aku amat sangat ga peduli Kakak mau deket sama siapa aja, itu urusan Kakak dan bukan urusan ku. Tapi jangan samain aku sama cewe-cewe lain yang bisa kakak mainin sesuka hati Kakak, aku ga segampang itu untuk bisa Kakak mainin. Dan jangan berusaha untuk deketin aku lagi, oke”
__ADS_1
“Tapi al..” kalimat dia menggantung ketika dia melihat sosok seseorang di belakang ku.
Aku ikut melihat siapa orang yang telah membuat Devan tak melanjutkan ocehan nya.
Althara. Dia berdiri di tengah lorong dengan minuman di tangan nya. Dia berdiri begitu tegap menonton ku dan Devan yang sedang bertengkar.
“Aku hubungi kamu lagi nanti” ucap Devan,dan tiba-tiba dia mengelus kepalaku.
Apa yang di lakukan Devan membuat ku tidak nyaman,apalagi Althara menyaksikan itu, aku takut Althara salah paham.
Aku berjalan begitu kesal mendekati Althara. Dia hanya terus berdiri dan menatap ku dingin menunggu ku menghampirinya.
“Darimana aja lo? Kenapa ga jemput gue hari ini?”
Aku sudah tidak bisa lagi menahan emosi ku kepada nya.
“Bukan nya lo sakit?” Tanya nya, mengingatkan ku dengan kejadian kemarin saat aku mengatakan kepada Bu Renatha jika aku tak enak badan.
“Sakit dari mana ! Lo sendiri kan tau apa masalah nya!”
“Ya udah,loe kan udah di anterin cowo lo, ngapain lo marah-marah sama gue”
Althara malah semakin membuat ku kesal dengan panggilan ‘cowo lo’ terhadap Devan.
“Bukan gue yang minta dia jemput gue, tapi dia sendiri yang tiba-tiba ada dirumah gue. Kalo bukan gara-gara loe hari ini ga jemput gue, gue ga akan mungkin mau pergi sama si berengsek itu. Dan gue ingetin sekali lagi sama loe, dia bukan cowo gue!!” Ada penekanan di akhir kalimat ku agar dia mengerti dan tak menggunakan kata ‘cowo lo’ lagi kepada Devan.
Aku pergi meninggalkan Althara dengan perasaan yang begitu kesal kepadanya.
Bel istirahat telah berbunyi. Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan teman-teman ku di kantin, setelah kejadian kemarin yang membuatku batal bertemu dengan teman-teman ku.
“Serius Al, Devan kasar gitu sama lo” ucap Tata tak percaya. Setelah aku menceritakan semua kejadian kemarin.
“Kurang ajar si Devan,berani-berani nya dia kasar sama temen gue” sambung nya.
“Gue kan udah bilang,kalo gue tuh ga suka sama dia, karena udah keliatan banget kalo dia tuh playboy” keluh ku kepada mereka,karena aku menganggap semua ini kesalahan mereka yang memaksa aku untuk dekat dengan Devan.
“Ih Al, gue minta maaf ya, gue kira Devan ga sejahat itu” ucap Venna memeluk ku dari samping.
“Tapi kok, Althara baik banget ya sama lo. Dia bisa bikin Devan ngelepasin lo gitu aja, aneh ga sih?”
Ya memang apa yang di tanyakan Ghea juga sempat terlintas di fikiran ku,namun aku selalu tidak terlalu memikirkan nya karena itu bukan urusan ku.
“Apaan sih lo. Ya ga mungkin lah Althara suka sama gue, sampe sekarang aja gue ga pernah ada ngobrol special sama dia”
“Althara kenapa ya? Hidup nya tuh kayak ngebosenin aja gitu, ga ada menarik nya sama sekali, iya gak sih?” Tanya Tata meminta pendapat yang lain.
“Iya banget,Althara ga kaya yang lain nya, yang lebih ramah, manis sopan sama orang lain, ga kayak Edo” ucap Ghea membuat kita semua kembali menatap nya dengan tajam.
“Emang iya Edo baik kan Al?” Tanya nya berusaha meminta persetujuan ku.
“Tapi Althara juga baik kok, maksud gue dia nyebelin tapi ga terlalu” tidak tahu kenapa aku meras telah membela Althara tanpa ku sadari.
Teman teman ku menatap ku curiga.
“Kok lo malah salting sih” ucap Tata mencurigai gerak gerik ku.
“Jangan-jangan lo suka lagi ya sama dia” ledek nya sambil menunjuk wajah ku.
“Ngga lah enak aja lo” tangkis ku dengan berusaha meyakinkan.
“Mana bisa gue suka sama cowo yang super jutek dan dingin kaya dia. Kalo sampe gue jadian sama dia, bisa-bisa kita cuma bisa diem-diem an sampai kutub utara mencairkan suasana tau ga, gabut banget ga sih sama orang yang kaya gitu?” Semua orang tertawa dengan ocehan ku.
Namun hatiku berkata lain. Seperti ada penolakan ketika aku mengatakan nya. Aku merasa ada yang aneh dalam diriku,namun aku tak ingin mengakui nya.
Latihan hari ini selesai. Aku masih saja merasa kesal kepada Althara, dan sepanjang latihan pun aku sama sekali tak memperdulikan nya. Aku membereskan barang-barang ku dan segera pergi dari ruang musik meninggalkan Althara yang terlihat kebingungan dengan sikap ku.
Aku akan pulang dengan menaiki umum. Aku harus belajar tak menggantungkan hidup ku kepada orang lain jika aku tak ingin merasa di kecewakan lagi. Aku tidak ingin di antar oleh Devan ataupun Althara.
“Al udah selesai” Devan sudah seperti setan tiba-tiba muncul di hadapan ku.
“Kakak ngapain disini?” Keningku berkerut melihat nya.
“Aku nunggu kamu, aku mau anterin kamu pulang” ucap nya dengan masih tanpa rasa bersalah.
“Kak..”
“Alhena pulang bareng gue,sorry” Belum sempat aku mau memaki Devan lagi,Althara sudah datang menyelamatkan ku.
Althara menatap tajam Devan lalu menarik tangan ku menjauh darinya.
__ADS_1
Devan masih menatap ku dan Althara sampai parkiran. Althara melepaskan genggaman tangan nya dan dia memberikan helm yang entah milik siapa ini. Aku memakai helm itu dan ikut naik ke atas motor nya lalu pergi meninggalkan Devan yang terlihat sangat kesal sekali.
Seperti biasa di sepanjang perjalanan kita hanya diam tak saling bicara. Lalu gemercik hujan turun mulai membasahi tubuh kami.
Althara menghentikan motornya di samping halte bus.
“Kenapa ?” Tanyaku.
“Lo ga liat ini hujan?” Ketusnya.
“Ya terus kenapa?”
“Ya nanti kita basah kuyup lah, lo mau kita sakit?” Omelan nya berhasil membuatku diam dan ikut turun berteduh di halte bis yang tidak ada orang satupun ikut berteduh bersama kami.
Aku ingat perkataan ku sendiri
Kalo gue sampe jadian sama dia, bisa-bisa kita cuma diem-diem an sampai kutub utara mencairkan suasana.
Entah apa yang sudah ku fikirkan,namun seperti nya aku ingin mencoba berbincang dengan nya sesekali agar tidak terlihat kaku.
“Sebenernya lo sama Devan ada apa? Kok kayak nya kalian ga akrab” tanya ku dengan so akrab.
“Bukan urusan lo” jawaban Althara sudah cukup membuat ku bungkam.
Seperti nya aku salah memulai percakapan ini dengan bertanya tentang Devan.
“Kenapa ga langsung tanya sama cowo lo” lagi-lagi Althara membuat ku kembali kesal.
Aku memicingkan mataku menatap nya sinis.
“Gue udah bilang berkali kali kalo dia bukan cowo gue”
“Tapi keliatan nya dia ngejar lo mulu”
“Ya dia ngejar gue bukan berarti gue mau kan sama dia”
“Gak lama juga kalian bakalan jadian kok” Althara bersikap seolah dia itu cenayang bisa menebak masa depan aku.
“Lo jangan sok tahu, mana mau gue pacaran sama dia”
“Kenapa?” Tanya nya.
“Ya gue ga suka aja sama dia. Dia bukan tipe gue” ucapku masih saja sinis.
Dia terkekeh mendengar ucapan ku.
“Terus tipe cowo lo kaya gimana ?” Ledek nya sambil menertawakan ku.
Kali ini pertanyaan nya membuat ku menatap nya bingung. Pertanyaan Althara membuat mulut ku tiba-tiba terkunci, aku menyisir wajah Althara. Hidung nya yang mancung, wajah nya yang putih bersih, senyum nya yang manis dan kebaikan dia selama ini yang sudah menolong ku, sudah membuat aku mengaggumi nya tanpa sadar. Ternyata benar apa yang di katakan seluruh siswi di sekolah ku. Dia sangat tampan dan memang baik,hanya saja aku selalu melihat dia dari sisi menyebalkan nya,dan akhirnya aku malah tidak pernah menyadari jika dia itu setampan dan sebaik ini.
Dia mengangkat halis nya nya untuk menyadarkan ku dari lamunan. Aku menjadi salah tingkah dan langsung membuang muka ku. Aku benar-benar sudah gila,bisa bisa nya aku malah memandang Althara dengan penuh rasa kagum.
“Bukan urusan lo” jawab ku sambil melangkah pergi menerjang hujan yang sudah semakin reda.
Aku membodohi diriku sendiri, kenapa bisa-bisa nya aku menggagumi Althara seperti itu.
“Lo mau kemana ?” Althara sudah berada di motornya mengimbangi jalan ku.
“Gue mau pulang nyari kendaraan umum,kesel gue lama-lama sama lo” ucapku sambil terus berjalan tak memperdulikan nya.
“Heh bocah” dia berhasil membuatku berhenti melangkah dan menatap nya kembali dengan tajam.
Apa dia bilang ? Bocah ?
“Naik” perintah nya dengan sinis.
“Gue ga mau”
“Ini bukan permintaan, ini perintah, cepet naik” aku terus diam tak bergerak dari tempat ku. Karena rasa gengsi ku menolak untuk mengikuti perintah nya, memang nya dia siapa?
Althara turun dari motor dan menarik tangan ku. Dia memberikan lagi aku helm dengan kesal.
“Ga usah keras kepala, pake helm nya”
“Ini perintah atau permintaan?”
“Keduanya!”
Aku berdecak dengan kesal karena harus selalu mengikuti keinginan nya. Padahal aku bisa menolak nya dengan gamblang,tapi entah kenapa hati ku malah berontak.
__ADS_1