
Hari ini aku dan Althara pergi untuk mengecek Cafe yang sudah selesai di bangun dan sekarang tinggal finishing nya saja. Sebenarnya tempat ini dulu nya juga memang bangunan Cafe,tetapi Cafe ini pindah tempat dan bangunan ini di jual,setahun kemudian Althara menemukan tempat ini dan langsung di beli nya. Lalu Papa merombak nya sedikit seperti apa yang di ingin kan Althara.
Tentu saja Althara akan meminta pertolongan Papa untuk men design kembali Cafee ini, karena Papa adalah seorang arsitek yang cukup handal untuk bisa memenuhi keinginan client nya apalagi untuk anak nya. Dia pasti memberikan yang terbaik untuk anak nya.
“Alhena” panggil Althara.
“Kamu bener ga akan ikut aku ketemu client?” Tanya Althara karena dia ada pekerjaan mendadak ke luar kota,dia selalu khawatir meninggalkan aku sendiri tanpa dia.
Penghasilan Althara sebagai pelukis handal tentu tidak main-main dengan pendapatan nya,client dia pun adalah para pejabat-pejabat tinggi,ataupun terkadang artis artis terkenal, jadi dia tidak bisa membatalkan acara pertemuan nya dengan client.
“Ngga. Aku disini aja nunggu Venna mau dateng” ucap ku mengingat aku telah membuat janji dengan Venna disini.
“Baiklah. Kabari aku kalau ada apa-apa ya” pinta Althara lalu dia mencium kening ku dengan lembut dan pergi dari Cafe.
Aku memastikan Althara sudah pergi dari Cafe dengan mobil nya,lalu aku langsung menghubungi Venna.
“Althara udah pergi lo masih dimana?” Tanya ku tak sabar menemui nya.
“Bentar lagi ini nyampe” jawab Venna di sebrang sana.
“Oke”
Beberapa menit kemudian Venna datang dengan membawa seorang perempuan yang sangat cantik memakai dress berwarna hijau tosca yang begitu ketat membentuk lekukan tubuh nya. Dia tampak seperti artis china dengan mata sipit dan bibir nya yang tipis,namun dia sungguh anggun dan mempesona.
“Hay” sapa ku ketika mereka menghampiri ku.
“Hay” sahut wanita itu.
“Alhena” ujar ku memperkenalkan diri sambil menjabar tangan nya.
“Meldi” balas nya memperkenalkan diri.
“Kita duduk disana ya” ucap ku mengajak mereka untuk duduk di meja belakang yang jauh dari bising tukang-tukang yang bekerja di dalam Cafe ku.
Kita bertiga sudah duduk di meja bundar yang terbuat dari kaca,dan dengan suasana yang asri dengan banyak tanaman dan rumput hijau di sekitar kami.
“Maaf ya Cafe ku belum selesai di bangun” ucap ku.
“Tidak apa-apa” jawab nya dengan manis.
“Al. Meldi bisa cerita semua nya tentang Roni. Ternyata Roni memang… sakit” ucap Venna menggantungkan kalimat terakhir nya sambil melirik ku dan Meldi bergiliran.
Iya,kemarin setelah kejadian bunga Lili dan kedatangan Roni yang tiba-tiba di Mall membuat aku begitu ketakutan dan aku menceritakan nya kepada Venna,aku meminta bantuan dia untuk menemukan apa saja tentang Roni yang bisa menyelamatkn aku dari dia yang terlihat sudah seperti psycho.
“Iya Alhena. Aku dulu berpacaran dengan Roni hampir 2 tahun dari semenjak kita bertemu di sebuah Perusahaan tempat aku bekerja” ujar Meldi menjelaskan awal mula mereka berpacaran.
__ADS_1
“Lalu bagaimana sifat Roni? Apa dia baik-baik aja selama berpacaran sama kamu?” Tanya ku tidak yakin dengan pertanyaan ku sendiri.
Lalu dia tampak tersenyum dengan lemah.
“Awal nya semua berjalan dengan baik. Roni terlihat begitu menyayangi aku dan dia juga sangat perhatian. Dia membelikan semua yang aku mau,dia memberi semua yang aku butuhkan. Dan dia juga sempat bercerita tentang perubahan yang di alami dia saat dia masih SMA. Dia menceritakan semua nya,termasuk tentang kamu” ujar Meldi mengingatkan ku kembali ke masa SMA.
Venna melirik ku. Aku hanya bisa diam memperhatikan Meldi bercerita.
“Sejak SMA dia sudah menyukai kamu Alhena. Karena kamu selalu memberikan dia nasehat yang luar biasa,Roni terpacu untuk merubah dirinya dan dia bisa seperti ini semua karena kamu”
Aku memalingkan pandangan ku tak lagi menatap mata Meldi, memikirkan apakah yang sudah aku lakukan kepada Roni saat SMA bisa membuat pengaruh besar seperti ini ?
“Tapi sikap Roni pun ikut berubah. Kalau dia pernah bercerita sifat nya dulu lugu dan pemalu,sekarang dia berubah menjadi posesif dan kasar. Dia ga pernah membiarkan aku melirik laki-laki lain. Bahkan semua teman kerja ku di teror oleh nya sampai membuat mereka takut untuk mendekati aku” cerita Meldi begitu menyeramkan.
“Dan bahkan aku di keluarin dari kerjaan karena dia. Saat itu lah aku berusaha menjauhi dia,tapi dia terus mengganggu aku. Dia gak pernah membiarkan aku pergi,dia terus menghantui aku dan mengganggu aku dengan pacar baru ku. Dia bilang kalau dia gak mau lagi di sakiti oleh orang lain,dan dia memaksa ku untuk kembali”
“Lalu sekarang?” Tanya ku penasaran.
“Dia sudah ga ada lagi ganggu aku Al,karena mungkin sekarang ada kamu. Wanita yang selama ini di cari nya” jawab Meldi menatap ku dengan pilu.
“Ya. Dan sekarang dia mengganggu aku” ujar ku dengan begitu khawatir.
“Dia ga akan pernah berhenti Al sampai dia mendapatkan apa yang dia mau” Meldi semakin membuat ku takut.
“Al. Lo harus bilang sama Althara, biar dia bisa jaga-jaga kalo Roni ganggu lo lagi nanti” pinta Venna dengan ikut khawatir.
“Gue takut Ven”
“Takut kenapa?” Tanya nya.
“Takut kalo Althara berantem lagi sama orang lain. Udah cukup gue liat dia banyak berantem sama cowo yang ganggu gue. Gue ga mau lagi liat dia terluka”
“Ya kalo kaya gini, lo malah bikin diri lo terus terancam”
“Gue bakalan coba ngomong ke Roni dengan baik-baik” ucap ku berharap semua itu adalah ide yang bagus.
“Ngomong baik-baik gimana ? Lo denger sendiri kan kalo Roni orang nya nekat dan kasar. Lo ga takut dia apa-apa in lo?” Ucap Venna.
“Dia ga akan sakitin Alhena” ucap Meldi begitu yakin.
Aku dan Venna menatap Meldi bersamaan, melihat apakah perkataan dia bisa di pegang atau tidak.
“Dia begitu mencintai sosok Alhena,dia sangat mengagumi Alhena,dan aku yakin dia ga akan tega buat kasar sama Alhena” ucap Meldi menatap ku sendu.
“Kamu yakin?” Tanya Venna.
__ADS_1
Meldi menganggukan kepalanya tanpa ragu.
“Aku yakin,karena kalo Alhena ga hadepin Roni,dia bakalan terus teror Alhena kaya gini”
kita bertiga diam,saling memikirkan ide yang menurut kita gila itu.
Malam hari nya Althara menjemput ku untuk pulang. Dan kita sampai di rumah,lalu Althara memarkirkan mobil nya di garasi.
Security menghampiri Althara dengan membawa se buket bunga Lili yang besar berwarna putih. Aku begitu terkejut melihat nya dan merasa panik.
“Den. Tadi ada orang kesini ga tau siapa terus kirimin bunga Lili ini” ujar security itu kepada Althara membuat nafas ku terasa sesak.
“Bunga Lili? Untuk siapa?” Tanya Althara sambil mengambil buket bunga itu.
“Ga tau den. Tapi kayak nya ini buat temen aden yang perempuan waktu itu. Soalnya pas temen-temen Aden kesini ada kiriman bunga kaya gini juga terus pas temen Aden keluar katanya ini kiriman buat dia” ucap security itu menjelaskan tentang Venna yang berbohong kepada security nya.
Althara menatap ku dengan bingung.
“Oh iya” panik ku berusaha tenang.
“Jadi ceritanya Venna punya secret admirer gitu. Terus pas dia lagi disini si pengagum itu nanya Venna lagi dimana,karena si pengagum itu mau kirim bunga,lalu Venna malah minta di kirim ke alamat ini karena dia lagi disini. Mungkin si pengagum itu ngira ini rumah dia atau rumah sodaranya kali” aku mencoba meyakinkan Althara dengan kebohongan ku.
Althara lalu tersenyum mendengar penjelasan ku.
“Gaya banget dia punya secret admirer gitu” ledek nya.
“Iya dan dia minta jangan sampe yang lain tahu,makanya waktu itu kita ke depan berdua kan,karena nerima bunga ini” ucap ku dengan terus tenang.
Lalu dia menganggukan kepala nya terlihat percaya begitu saja.
“Sini biar aku simpen di ruang tamu,biar besok di ambil sama Venna” ucap ku mengambil bunga buket dari tangan security itu sebelum Althara melihat isi catatan yang tersimpan di dalam.
Lalu aku pergi masuk ke dalam dan menyimpan bunga buket di sofa ruang tamu.
“Aku kasih kabar dulu Venna ya” ucap ku mengeluarkan ponsel ku.
“Oke” jawab Althara.
“Aku ke atas duluan ya” aku menganggukan kepala ku dengan manis. Dan memperhatikan Althara yang pergi ke atas.
Lalu dengan cepat aku mencari catatan yang biasanya tersimpan di dalam bunga Lili itu. Dan memang ada sebuah catatan kecil di kertas yang tebal bergambar bunga Lili.
-Kita adalah satu dalam dua yang tak menyatu-
Kutipan isi catatan kecil itu. Dengan kesal aku meremas catatan itu dan membuang nya ke tempat sampah di luar rumah. Dan aku membiarkan bunga Lili itu tergeletak disana.
__ADS_1