
Hari kedua di Bandung aku dan Althara menghabiskan waktu dengan Mama dan Papa dirumah. Papa dan Althara kembali akrab seperti dahulu,dan sekarang malah lebih terlihat lengket. Pembicaraan yang mereka bahas pun sudah lebih dewasa tidak seperti dulu.
Papa dan Althara masih terus membahas tentang pembangunan Cafe yang akan di buat di dekat sekolah kami dulu. Mereka bersungguh-sungguh melakukan itu. Aku tidak bisa berbuat apapun jika sudah begini. Mungkin memang benar ini adalah saat nya aku untuk kembali,dan meninggalkan pekerjaan ku.
Hari terakhir ku di Bandung. Mama membuat makan malam begitu mewah sebelum kembalinya aku ke Jakarta. Banyak sekali makanan di atas meja makan untuk kami santap,dan kami mulai makan dengan tenang.
Setelah selesai makan malam,aku dan Althara langsung memasukan barang kami ke dalam bagasi mobil. Mama dan Papa menunggu di depan pintu.
“Pa aku pulang ya” pamit ku memeluk Papa ketika aku dan Althara sudah memasukan semua barang-barang kedalam mobil.
“Iya sayang hati-hati ya” dia mengecup kening ku.
“Ma Alhena pulang ya”
“Bukan pulang nak,tapi pergi” omel Mama sambil memukul kecil lengan ku.
“Kalo pulang kan kesini. Rumah kamu disini”
Aku dan Althara tersenyum karena kena omel Mama.
“Iya iya iya Alhena pergi dulu ya,nanti Alhena pulang lagi”
Lalu wajah Mama berubah sedih mendengar itu. Dia memeluk ku dengan lembut.
“Iya sayang,cepet pulang lagi ya. Mama kangen kita kumpul seperti dulu”
Lalu giliran Althara yang berpamitan kepada Mama dan Papa dengan mencium punggung tangan mereka.
“Jangan ngebut-ngebut ya Althara” perintah Mama.
“Oke Ma”
Lalu aku dan Althara segera masuk ke mobil,aku terus melambaikan tangan ku kepada mereka yang masih menunggu kami sampai kami pergi. Dan kami kembali melajukan mobil kami menuju Jakarta.
Kita sampai tengah malam di Jakarta. Aku langsung turun dari mobil dan Althara membantu menurunkan koper kecil ku.
“Aku pulang ya” pamit nya ketika sudah mengantarkan ku sampai depan pintu.
Aku menganggukan kepala ku sambil tersenyum.
“Besok aku jemput”
“Iya” jawab ku.
“Bye”
“Bye”
Lalu Althara pulang.
Esok nya.
Aku kembali ke kehidupan ku di Jakarta. Aku melakukan semua aktifitas ku disini seperti biasanya. Dan kembali di sibukan oleh pekerjaan ku seperti biasa. Ini hanya untuk beberapa hari lagi,dan aku akan berhenti dari semua pekerjaan ini.
Hari itu aku memakai kemeja cream dan rok selutut berwarna hitam untuk bekerja. Dan mengikat rambut ku yang panjang dengan rapih,tak lupa memakai name tag kerja di baju yang menuliskan nama ku dan bagian pekerjaan di Restaurant.
“Hay Al” sapa Riani saat melihat ku masuk.
__ADS_1
“Udah pulang Bandung kemarin?” Tanya nya.
“Iya kemarin gue jadi pulang” jawab ku sambil menaruh semua barang-barang ku di atas meja kerja.
“Tumben lo beneran pulang” cibir Riani dengan mengangkat kedua halisnya.
“Kemarin Althara yang anter gue”
“Oooohhh pantes” dia meledek ku.
“O iya Al” Riani mengingat sesuatu.
Raut wajah nya berubah pilu.
“Kemarin Rey kesini”
Aku langsung menatap nya dengan gelisah.
“Dia nyari lo”
“Terus lo bilang apa?”
“Gue bilang lo ambil cuti dan pulang ke Bandung. Dia sempet nanya berapa hari lo ke Bandung,dan gue bilang ga tau karena ga pernah pasti”
Aku kembali gelisah di buat nya. Rey ternyata masih saja mencari ku.
“Dia keliatan sedih banget tau Al. Kayak nya dia masih berharap penuh sama lo”
Aku menghela nafas begitu berat.
“Gue ga tau Ri. Padahal dia juga udah dapet penjelasan dari gue,tapi masih aja ga terima”
“Iya lah,gue udah dapet lagi semua kebahagiaan gue. Dan Ri, gue kayak nya bakalan berhenti kerja”
“What!!” Teriak nya tak percaya.
“Kok lo berhenti kerja. Kenapa?”
“Lo inget kan Papa gue sering banget ngomongin bikin Cafe di Bandung?”
“Iya. Terus?”
“Dia bener-bener bikin Cafe disana dan parah nya lagi Althara bantu Papa buat bikim Cafe disana”
Raut wajah Riani berubah menjadi sedih.
“Yah Al. Lo bener-bener berhenti akhirnya”
“Iya Ri,gue juga ga mau tapi gimana lagi”
“Ya udah Al mungkin ini memang saat nya untuk lo balik ke Bandung”
“Tapi gimana lo ngomong sama Daniel?” Tanya nya membuat ku kembali bingung.
“Iya itu masalah nya,kira-kira mudah ga ya gue ajuin resign ke Daniel?”
“Ya lo coba aja dari sekarang,jangan dadakan”
__ADS_1
“Iya udah nanti gue coba hubungi dia”
Beberapa jam berlalu. Aku di hubungi Daniel untuk bersiap ikut meeting di kantor sore itu. Ini sudah jadwal bulanan ku,selalu ada meeting di setiap awal dan akhir bulan. Dan aku harus selalu ada menemani Daniel.
Daniel menjemput ku dan langsung melajukan mobil nya ke kantor yang menempuh jarak hampir satu jam karena macet.
Aku dan Daniel sampai di kantor. Seperti biasa aku terus mengekor Daniel di belakang dengan memegang sebuah berkas di tangan ku.
Daniel menyapa semua karyawan kantor nya begitu dia masuk. Aku pun menyapa mereka dengan tersenyum manis.
Aku berjalan dengan anggun di belakang Daniel dengan higheels hitam ku.
Kita masuk dulu ke sebuah ruangan yang di tempati beberapa orang dengan masing-masing meja kerja dan komputer di meja nya.
“Gery. Gimana udah selesai data yang kemarin aku pinta?” Tanya Daniel kepada salah satu pegawai nya.
“Sudah Pak,nanti saya kirimkan ke E-mail Bapak” jawab orang yang bernama Gery itu.
“Oke thank you”
Lalu Daniel kembali berjalan ke ruang meeting yang sudah terdapat beberapa orang di dalam sana dengan berbagai devisi.
“Selamat Sore” sapa Daniel begitu masuk dan duduk di ujung meja.
Aku menyapa mereka semua dengan sebuah anggukan kecil dan duduk di meja samping Daniel.
Meeting itu di mulai. Meeting itu terbilang dadakan karena di adakan lebih awal dari jadwal biasanya,karena ada hal penting yang harus di sampaikan oleh Daniel mengenai omset yang sempat menurut beberapa hari ini.
Aku memberikan masukan kepada Daniel dan semua bagian divisi untuk melakukan action plan bagaimana kita untuk mengatasi masalah ini. Beberapa orang ada yang menerima masukan ku dan ada juga yang menolak nya. Namun aku memberikan alasan kuat dan riset yang pasti di tunjukan kepada mereka semua.
Daniel memperhatikan ku dengan serius dan dia pun menerima masukan action plan yang aku sampaikan. Dia meminta semua bagian divisi melakukan apa yang sudah ku rencanakan.
Meeting pun selesai dengan hasil yang memuaskan semua orang.
“Alhena” panggil Daniel ketika kami keluar kantor.
“Iya” aku menghentikan langkah ku dan menatap nya.
“Terimakasih ya”
“Kenapa?” Tanya ku mengerutkan kening.
“Karena kamu selalu memberi yang terbaik untuk Restaurant ku”
Aku tersenyum kepada nya.
“Sudah jadi tugas ku kan”
“Ini sudah melampaui batas kerja mu Alhena”
“It’s ok, aku senang dengan pekerjaan ku” jawab ku dengan tersenyum dan hendak meninggalkan dia.
“Alhena”
Aku kembali berhenti dan berbalik.
“Aku mau menawari kamu untuk menjadi bagian dari pemilik Restaurant ku”
__ADS_1
Ucapan Daniel membuat ku terkejut. Aku memelototi nya tak percaya. Aku mulai merasa gundah dan bingung. Dia menawarkan ku menjadi seorang owner Restaurant nya yang sudah mulai memiliki nama di kota-kota besar.
Apa yang harus aku lakukan ?