
13 Mei 2020 di Restaurant tempat ku bekerja.
Aku masih di sibukan dengan pekerjaan ku yang mulai menumpuk, karena akhir bulan adalah hari dimana semua data penjualan harus aku kumpulkan dan di cocokan sesuai data pengeluaran. Dan nanti malam aku harus sudah menyerahkan nya kepada Daniel.
“Hay” sapa seseorang di hadapan ku ketika aku sedang sibuk dengan komputerku.
“Hay” balas ku ketika aku melihat bahwa pria itu adalah Rey.
“Hay” sapa nya lagi.
“Hay” jawab ku lagi dengan kikuk
Lalu kami tertawa.
“Gimana kabar kamu?” Tanya nya.
“Aku baik,kamu?”
“Aku juga baik” aku hanya tersenyum setelah itu.
“Malam ini ada acara?” Tanya nya, membuat ku terkejut.
“Hah?”
Rey tertawa melihat ekspresi ku yang kikuk.
“Lagi-lagi kamu terkejut,padahal aku cuma nanya kamu ada acara atau tidak”
Aku tersenyum malu. Karena memang tingkah ku yang selalu absurd ketika berhadapan dengan pria sudah terasa langka untuk ku.
“Gimana?” Tanya nya lagi.
“Aku memang ga ada acara, tapi setiap akhir bulan aku banyak kerjaan Rey, aku ga yakin punya waktu untuk keluar selain istirahat” aku tahu Rey pasti akan kecewa, namun aku memang belum siap untuk mengenal dia lebih dekat.
Beberapa minggu ini aku jadi terlihat akrab dengan pelanggan setia ku ini,namun ke akraban kami hanya di dalam restaurant saja,di luar itu aku tidak mengenal Rey,walaupun dia selalu berusaha meminta no handphone ku.
“Oke, aku mengerti” Rey berusaha tersenyum kepadaku.
“Oke” lalu Rey kembali duduk dengan teman-teman nya.
Aku fikir memang tidak ada salah nya jika aku berteman dengan Rey, dia baik,bahkan dia tidak pernah memaksa untuk meminta no handphone ku. Dia akan menghargai keputusan ku,dia tidak akan memaksa hal yang tidak aku sukai, jadi itulah alasan ku untuk bisa berteman dengan dia.
Hari itu adalah hari terlelah untuk ku dan untuk seluruh karyawan resto. Karena pelanggan kami 2 kali lebih banyak di banding hari biasa.
“Alhena kamu ga bawa mobil kan? Aku antar kamu pulang ya” Tanya Daniel ketika di luar Restaurant.
“Hah?”
“Aku tadi denger percakapan kamu sama Riani di dalem,katanya mobil kamu di service pulang dari puncak kemarin”
__ADS_1
Kenapa bisa Daniel menguping percakapan ku dengan Riani tadi di dalam.
“Iya memang aku ga bawa mobil” ucap ku terbata bata mencari alasan.
“Tapi,aku..” aku tidak bisa mencari alasan saat itu.
“Alhena” seseorang menghampiriku.
Rey.
“Hay, sorry aku mau..” aku menggandeng tangan Rey sebelum dia menyelesaikan ucapan nya.
“Hay Rey akhirnya kamu dateng juga” ucapku membuat Rey terkejut tak mengerti.
“Kenalin ini Rey, Rey ini Daniel atasan aku” mereka berjabat tangan dengan wajah yang sama-sama bingung.
“Aku udah di jemput Rey niel”
Daniel mengerutkan keningnya dan memperhatikan Rey. Aku harap dia tidak mencurigai sandiwaraku. Rey tampak bingung namun dia hanya diam saja mengikuti sandiwaraku.
“Oke” ucap Daniel sambil terus memperhatikan Rey.
“Kalo gitu kita pergi dulu ya niel” ucap ku sebelum Daniel menyadari kebohongan ku.
“Yu Rey”
Di dalam mobil Daniel masih saja memperhatikan aku dan Rey dengan raut wajah kesal nya,namun aku berusaha bersikap biasa saja di balik jendela mobil.
Ini adalah kali pertama aku duduk di mobil laki-laki lain.
Setelah terlihat jauh dari restaurant dan terasa sudah aman dari Daniel aku langsung menghela nafas lega,dan langsung melirik Rey dengan tidak enak.
“Rey aku minta maaf,bener-bener minta maaf. Bukan maksud aku manfaatin kamu, tapi aku bener-bener ga mau pergi sama Daniel”
“Daniel atasan kamu yang tadi?”
Aku mengangguk.
“Iya dia pemilik Restaurant itu”
“Pemilik Restaurant?”
“Iya”
“Kenapa kamu ga mau di antar dia?”
“Iya kenapa aku harus mau?” Ketus ku dengan pertanyaan nya yang membuat ku bingung.
“Bukan begitu,maksud aku..” Rey terlihat panik karena telah membuat ku salah paham.
__ADS_1
“It’s Ok Rey. Aku makasih banyak ya udah mau bantu aku” Rey hanya tersenyum dan kembali memandang lurus melajukan mobilnya.
Begitu sampai di depan rumah ku yang minimalis namun memiliki kesan Modern dan mewah. Rey menghentikan nya di depan rumah ku.
“Ini rumah kamu?”
“Iya aku tinggal disini selama di Jakarta”
“Selama di Jakarta?” Tanya nya tak mengerti.
“Aku asal dari Bandung Rey, tapi aku kerja disini sudah lebih dari 2 tahun”
“Kenapa ga di Bandung? Maksud aku di Bandung banyak sekali lapangan pekerjaan kan apalagi kamu lulusan Sarjana Gastronomi Molekul dan..”
“Euh Rey aku masuk dulu ya,aku perlu istiarahat” aku tidak ingin dia mengetahui kisah hidup ku lebih jauh dengan banyak pertanyaan dia yang akan kembali mengingatkan ku kepada Althara.
Rey mengangguk dengan heran.
Aku turun dari mobil nya dan mulai berjalan masuk ke pekarangan rumah yang tidak memiliki pagar namun di depan nya memiliki halaman luas dengan rumput hijau yang estetik.
“Alhena” panggil Rey.
Aku menghentikan langkahku dan berbalik,Rey berjalan menghampiriku.
“Aku cuma mau bilang,jika kamu butuh pertolongan aku lagi untuk bersandiwara di depan Daniel, aku siap, tapi mungkin kamu akan butuh nomor telepon aku hanya untuk berjaga-jaga jika kamu membutuhkan pertolongan”
Aku tertawa mendengar alasan Rey untuk mendapatkan nomor telepon ku. Rey menyodorkan handphone nya kepadaku. Sebenarnya masih ada keraguan di dalam hati ku, namun kata-kata Riani selalu terngiang dalam fikiran ku.
“Lo mau sampai kapan kaya gini? Lo nyakitin diri lo sendiri al”
Aku mengetikan no telepon ku di handphone Rey dan mengembalikan nya.
“Thank you al” ucap Rey terlihat begitu bahagia.
Aku tersenyum lemah kepadanya lalu masuk kedalam rumah ku yang pintunya terbuat dari kaca.
Aku menutup pintu ku dan menyeret gorden yang berwarna putih untuk menutup seluruh kaca jendela dan pintu nya.
Rumah ku berada di Jakarta pusat. Komplek ini memiliki rumah yang beragam dari ukuran yang besar sampai ukuran minimalis seperti rumah ku. Walaupun terkesan kecil, tapi seluruh rumah disini tampak modern dan mewah walaupun rumah ku tidak memiliki pagar luar. Namun halaman depan rumah ku memiliki rumput hijau dan parkiran mobil membuat rumah minimalis ini terasa estetik.
Di dalam rumah hanya ada 1 kamar tidur, 1 ruang tamu yang luas dan dapur yang bisa di lihat langsung di ruang tamu juga meja bar makan di depan dapur.
Rumah ku memiliki taman di belakang rumah dan tempat laundry di atap rumah. Dan di atap sana juga aku menyulap tempat itu menjadi tempat bersantai untuk ku membaca. Aku membuat rumah itu senyaman mungkin untuk ku tinggali sendiri,sampai aku akan selalu menghabiskan waktu ku di rumah ketika tidak bekerja.
Aku melempar tas ku ke atas kasur dan menghempas kan diri ku disana. Aku memikirkan Rey.
Baru kali ini lagi aku memberanikan diri mengenal lebih dekat seorang laki-laki. Karena sudah lama sekali aku tidak memperdulikan mereka yang mendekati ku,karena fikiran ku masih terganggu dengan Althara.
Riani benar, aku harus mencoba membuka hati ku untuk orang lain. Aku tidak bisa terus seperti ini, Althara sudah pergi. Dia sudah tidak ada untuk ku.
__ADS_1