7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Milky way


__ADS_3

Minggu berganti menjadi bulan, dan tidak terasa hari ini adalah hari kelulusan untuk angkatan Althara.


“Selamet ya akhirnya kamu lulus” ucap ku sedih. Membayangkan bagaimana aku jadinya di sekolah jika tanpa pantauan nya.


Althara mengajak ku duduk di samping lapangan. Di antara siswa siswi yang berlalu lalang melewati kami,dan meriah nya di tengah lapangan dengan siswa siswi yang sedang merayakan kelulusan mereka.


“Kok sedih?” Tanya nya yang malah semakin membuat ku sedih.


“Aku ga ada lagi yang jagain nanti di sekolah”


Althara menghela nafas.


“Tapi kan aku selalu anter jemput kamu sampai kamu lulus sekolah, dan aku yakin ga akan ada yang berani gangguin kamu lagi, karena semua orang di sekolah sudah tahu, kalo Alhena milik Althara”


Aku menggedikan bahu ku. Ucapan nya tak membuat baik suasana hatiku.


“Bagaimana kabar seleksi ujian kamu?” Tanya ku mengingat dia tengah mengikuti uji tes untuk masuk ke universitas favorit nya yang aku pun tidak tahu kampus apa itu.


“Aku ga jadi ikuti uji tes nya”


“Kenapa?”


“Aku belum mau untuk daftar kesana,dan kemarin aku udah daftar ke Universitas Trisakti Jakarata jurusan Desain Komunikasi Visual”


“Emang Universitas yang kamu mau itu dimana?” Tanyaku.


“Kalo aku bilang tempat nya jauh banget, kamu mau aku tinggal?” Tanya nya balik membuat bibir ku mengerucut.


“Jauh nya banget emang ? Jangan dong Al, aku ga mau” sedih ku dengan manja.


Dia tersenyum melihat tingkah ku yang lucu dan mengusap rambut ku dengan lembut.


“Ya ngga lah, mana bisa aku tinggalin kamu. Kamu aku tinggal lulus sekolah aja begini,apalagi kalo sampe aku tinggal ke luar negri” ucap nya.


Dari tatapan Althara ada yang aneh,menurut ku ada yang di fikirkan nya namun entah apa itu.


“Nanti sore aku mau puncak bareng temen-temen ku, kamu ikut ya”


“Yah,aku takut ga di bolehin sama Papa” mengingat Papa yang masih selalu mengekang ku untuk tidak sembarangan keluar rumah apalagi sampai larut malam.


“Gak apa-apa aku bawa mobil nanti”


“Jangan Al, aku ga enak sama temen-temen kamu. Yang lain bawa motor masa kamu bawa mobil”


“Ya udah kamu jangan fikirin,nanti aku sendiri yang minta izin ke Mama Papa kamu untuk ikut ya”


Malam hari nya Althara benar-benar datang kerumah untuk menjemput ku.


Aku ragu jika Papa akan mengizinkan ku untuk pergi ke puncak malam itu. Namun aku menunggu Althara dan Papa memgobrol selagi aku bersiap di kamar. Aku turun menghampiri Althara dan Papa.


“Gimana ?” Tanya ku kepada Althara setengah berbisik.


Althara menggelengkan kepala nya dengan kecewa. Aku melirik Papa yang sedang duduk serius menatap ku dan Althara. Aku menghela nafas pasrah dan kesal.


“Kenapa sayang?” Tanya Mama saat Mama ikut duduk di samping Papa.


“Papa ga ngizinin aku ikut ke Puncak Ma” ucap ku mendelikan mata menatap Papa.


“Ih siapa bilang?” Ucap Papa.


“Papa udah bilang ke Althara kalo kamu boleh pergi kok” Ucap Papa membuat ku bingung.


“Iya” jawab Althara sambil tertawa.


“emang aku bilang kamu ga di izinin?” Timpal Althara. Mereka mengerjai ku, dan mereka berhasil membuat ku kesal.


“Iihh, Sebel deh” ucap ku sambil mencubit pinggang nya.


“Aw aw iya ampun sakit sakit. Kamu kan cuma nanya ‘gimana?’ Aku kan ga tau itu ‘gimana’ yang mana” ucap nya berdalih.


“Ya udah sana pergi, nanti keburu malem. Jagain Alhena ya Althara” ucap Mama mengusir kami secara halus.

__ADS_1


“Baik Ma,kita pergi dulu ya”


Kami berdua mencium punggung tangan Mama dan Papa lalu pergi dengan motor Althara.


Perjalanan dari bandung menuju puncak begitu menyenangkan walaupun terbilang begitu jauh harus menempuh jarak 3 jam 30 menit. Namun aku tak keberatan jika harus pergi bersama Althara.


Aku,Althara dan semua teman-teman sekelas nya beriringan melajukan motor menuju Puncak ke tempat tujuan kami mengadakan acara perpisahan pribadi kelas nya.


Dan sampai lah kami di sebuah Caffe yang berada tepat di puncak bogor samping jurang namun aman. Tempat ini begitu indah,sungguh. Langit yang begitu terlihat luas terasa dekat sekali dengan kepalaku,dan taburan bintang-bintang yang menyinari malam kami menambah indah nya langit di puncak malam itu. Suasa di Caffe ini persis seperti nama Caffe yang tertera di ukiran papan besar di Atap Caffe nya “Milky Way” yang artinya Bintang bertaburan di Angkasa.


“Ayok masuk” ajak Althara menggandeng tangan ku.


Dia menyeret ku masuk ke dalam Caffe, namun ternyata Caffe itu memiliki tempat terbuka sehingga aku masih bisa menikmati langit malam yang indah. Dan begitu terkejut nya aku ketika melihat keindahan City Light yang tak kalah indah nya di hadapan ku.


Aku tertegun melihat keindahan Lampu kota yang begitu jelas terlihat berkelap kelip begitu luas sejauh mata memandang.


“Althara, keren banget” ucap ku terpatung tak bergerak.


“Kamu suka?” Tanya nya.


“Aku suka banget Al” aku memeluk nya bahagia.


Dia menuntun ku duduk di salah satu tempat duduk di tepian jurang yang telah di pagari pembatas demi keselamatan pengunjung tentu nya. Aku duduk berdua dengan dia disana, mataku tak lepas dengan keindahan alam ini.


“Tempat nya kok keren banget sih Al” dia hanya tersenyum membiarkan ku terus menikmati pemandangan di hadapan ku.


“Mau pesen apa Al” teriak Edo.


“Coffe Late aja, kamu mau apa?” Tanya nya padaku.


“Samain aja” ucapku sambil terus menatap lurus kedepan.


Teman-teman nya yang lain sedang mempersiapkan pembakaran untuk membakar jagung sendiri. Beberapa orang ada yang bermain gitar dan yang lain nya juga sedang makan memisahkan diri, sedangkan Althara memilih untuk menemani ku menikmati keindahan malam.


Kita berdua telah habis makan jagung juga makanan ringan lain nya, sekarang aku hanya tinggal menikmati keindahan langit malam sampai bintang bintang tertutup awan.


“Sayang banget bintang nya mulai di tutupin awan” ucap ku menatap langit langit malam.


Tatapan Althara tak lepas dari pemandangan City light di hadapan nya.


Aku ikut memandang pemandangan City Light di hadapan kita.


“Alhena Reva Amara” ucap nya dengan tatapan yang masih lurus kedepan.


Aku menoleh kepadanya.


“Kamu tahu arti nama kamu?” Tanya nya masih tidak menoleh kepadaku.


“Cahaya cincin bintang yang bersinar” ucapku dengan bangga.


Althara menganggukan kepala nya sambil terus melamun.


“Dan kamu tahu nama lengkap aku apa?” Tanya nya, aku mengingat kembali apa aku pernah tahu nama lengkap Althara selama beberapa bulan ini,karena selama ini aku tak pernah memanggil dia dengan lengkap seperti dia memanggil ku. Namun aku berusaha mengingat nya lagi mungkin saja aku pernah mengecek KTP atau tanda pelajar nya dan ternyata aku tidak pernah tahu.


Aku menggelengkan kepala ku sambil menunjukan sederet gigi ku padanya.


“Althara Tarendra Orion” aku mengingat sesuatu ketika dia menyebut kan nama lengkap nya. Seperti nya aku mengerti dengan nama itu.


“Pangeran Bintang Sang Pemburu?” ucapku setelah berfikir keras. Dan aku terkejut begitu aku baru menyadari jika namanya memiliki nama Bintang sama seperti ku.


“Dari pertama kali aku lihat kamu waktu MOS aku udah tertarik dengan siswi baru yang bernama Alhena Reva Amara. Nama itu selalu di sebut di setiap siswa yang bermasalah di tengah lapangan. Kamu sering sekali bikin ulah waktu MOS sampai nama kamu sering di sebut di tengah lapangan untuk di beri hukuman”


Aku mengingat masa masa MOS waktu itu ketika aku sering sekali kesiangan mengikuti kegitan di pagi buta,bahkan aku sering sekali tak menuruti mentor untuk membawa tugas yang aku malas sekali mencari nya.


“Tapi kok aku malah ga pernah liat kamu sih?” ucapku.


Dia menatap ku sambil tersenyum.


“Aku itu ketua OSIS Alhena,ga mungkin kamu ga pernah liat aku selama MOS. Itu karena kamu nya yang ga pernah peduli siapapun itu dan apapun status mereka di sekolah. Kamu cuma berfokus sama diri kamu sendiri, dan kamu ga peduli dengan orang-orang di sekitar kamu”


“Emang iya?” Tanyaku tertawa.

__ADS_1


“Iyaa, aku sering lihat kamu di hukum tapi kamu ga pernah ngelawan ataupun malu,kamu itu terlalu berani”


“Iya aku memang pemberani,tapi semenjak ada kamu aku jadi menggantungkan keberanian ku sama kamu”


Althara terlihat terpaku mendengar itu.


“Alhena” panggilnya dengan sayu.


“Suatu saat aku pasti akan pergi kaya gini, aku ga bisa jagain kamu di sekolah, kamu harus bisa mengembalikan rasa percaya diri kamu dan keberanian kamu, karena aku ga bisa selama nya jagain kamu”


“Iya Althara, di sekolah aku pasti bisa jaga diri”


“Bukan hanya di sekolah Al, di luar juga kamu harus bisa jaga diri”


“Kenapa?” Tanyaku semakin heran.


“Aku mau kamu bisa jaga diri selama aku ga ada di samping kamu”


“Aku gamau kamu jauh dari aku Althara” ucap ku mengelus lembut pipi nya sambil tersenyum.


Aku tidak mengerti tentang percakapan ini, namun Althara terlalu membuat ku takut dengan kata-katanya yang seolah dia akan pergi jauh.


Dia tersenyum dan memeluk ku dengan mesra.


“Aku punya sesuatu buat kamu” ucap nya sambil melepaskan pelukan nya.


Dia merogoh sesuatu di dalam tas nya, dan menunjukan sebuah kalung yang panjang terbuat dari tali berwarna hitam dan dengan gantungan bintang perak yang hanya separuh di hadapan ku.


“Bagus banget Al” ucap ku mengambil alih kalung itu dari tangan nya.


“Separuh bintang lain nya mana?” Tanya ku.


Althara mengeluarkan sesuatu dari dalam baju nya. Dan ternyata kalung itu sudah di pakai nya.


“Keren banget sih Al,kamu sengaja beli ini buat kita?”


“Aku beli ini sebenernya udah lama Al, udah lebih dari 1 tahun yang lalu waktu aku ikut liburan ke Bali sama orang tuaku”


“Terus kenapa kalung ini masih kamu simpan?” Tanya ku heran.


“Karena aku belum nemu yang tepat orang yang bisa ku percaya untuk memakai kalung ini”


Aku menganggukan kepala ku,lalu aku ingat dengan seorang wanita.


“Cinta pertama kamu?” Tanya ku mengingat Tania bukankah cinta pertama Althara.


Althara tersenyum mendengar ucapanku.


“Mau denger ceritaku?”


Aku menganggukan kepalaku.


Dia lalu membenarkan posisi duduk nya untuk memulai cerita sambil menatap ku.


“Dulu aku pernah punya perasaan sama seorang perempuan,dan selama itu aku merasa nyaman sekali ada di samping nya. Aku pernah mengutarakan perasaan ku tapi dia menolak nya”


Aku semakin yakin apa yang di ceritakan Ghea itu benar tentang Tania yang adalah cinta pertama Althara.


“Setelah beberapa tahun pertemanan kita,aku dan dia di timpa masalah yang begitu besar, aku merasa kecewa kepada nya. Aku merasa sudah di khianati oleh dia dan juga teman ku . Tapi aku sadari rasa kecewa yang aku miliki hanyalah sebatas kecewa karena aku telah di bohongi bukan karena aku telah di khianati. Karena aku rasa jika aku memang mencintai nya aku pasti akan mempertahan kan perempuan itu ketika tahu dia dengan yang lain, tapi ini aku malah membiarkan nya dan akhirnya tak memperdulikan mereka. Aku sadari jika perasaan yang aku miliki itu tak lebih dari menyayangi seorang teman”


Aku terus diam mendengarkan curahan isi hatinya.


“Dan aku malah baru merasakan jatuh cinta sedalam ini cuma sama kamu Al, aku merasa takut kehilangan kamu, aku takut kamu pergi dan ninggalin aku ,sejak saat itu aku ga bisa menangkis perasaan yang aku punya ke kamu”


“Jangan” lirih ku.


“Jangan pernah menangkis perasaan kamu seperti itu lagi” sambung ku.


“Tapi kamu pernah minta aku untuk pergi” ujar nya mengingat kejadian yang sudah membuat ku menyesal setengah mati.


“Aku minta maaf” ucap ku bersungguh sungguh.

__ADS_1


“Sebenernya aku juga merasa kehilangan kamu waktu itu Althara. Aku merasa hampa dan sedih lihat kamu ga peduli sama aku. Aku bener-bener nyesel ketika tahu semua nya. Aku…”


Althara menarik wajah ku dan mendekatkan wajah nya kepadaku menatap ku dalam diam dan mencium bibir ku dengan lembut.


__ADS_2