7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Hari ke tujuh


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sudah di nanti kan oleh ku dan semua pemain Band yang akan ikut perlombaan musik antar sekolah. Aku bersiap dengan diriku yang sudah memakai seragam sekolah yang rapih,rambut yang di biarkan tergerai indah, dan sedikit dandan agar wajah ku terlihat tak kusam saat di tonton oleh banyak orang.


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel ku.


Mr.strange


-aku udah di bawah


Hah aku ? Sejak kapan Althara menjadi manis seperti ini.


Aku tersenyum membaca pesan nya, begitu tersipu malu dengan isi pesan yang sudah membuatku senang di pagi hari. Aku memasukan handphone ku kedalam tas dan keluar dari kamar ku untuk segera menghampiri Althara.


“Hay ma” sapaku dengan ceria kepada Mama dan Papa ku yang sudah berada di meja makan.


“Hay sayang, ceria banget” ujar nya sambil menyiapkan bekal untuk sarapan ku.


“Iya dong kan mau lomba” ucap ku beralasan.


Mama mengangkat kedua halisnya tak percaya dengan perkataan ku.


“Bukan karena di jemput sama cowo yang nama nya siapa bi ? waktu itu yang jemput Alhena kedalem rumah?” Tanya mamah berteriak kepada Bi Inah yang berada di dapur.


“De Devan bu” jawab Bi Inah membuatku terkejut.


“Nah Devan”


“Iihh mama, Devan bukan yang biasa jemput Alhena, dia tuh malah kurang ajar tau ngga berani mainin alhena, waktu itu dia datang kerumah karena mau minta maaf” ujar ku membuat ku kembali kesal mengingat Devan.


“Oh bukan dia”


“Udah ah, Alhena udah telat nih”


“Ga akan nyuruh dulu dia masuk” ujar Papa meledek ku.


“Apaan sih pa!”


“Loh kenapa?”


“Iya ga apa-apa, dia kan cuma temen bukan siapa-siapa nya Alhena” ucap ku mengingat bahwa memang Althara bukan lah siapa-siapa untuk ku.


“Emang kalo cuma temen ga boleh di bawa masuk kerumah?” Papa terus meledek ku.

__ADS_1


“Udah bye Alhena mau pergi dulu, do’akan Alhena ya ma, pa. Semoga lomba ini lancar” pamit ku sambil mencium kedua pipi mereka


“Iya sayang. Semoga kamu bisa membawa harum nama sekolah kamu ini ya. Maaf Mama dan Papa ga bisa dateng karena harus kerja ya” ucap Mama sambil membenarkan rambutku.


“It's Oke mah, Alhena hanya perlu doa aja dari kalian” jawab manis ku.


“Kita akan selalu do'akan yang terbaik untuk anak satu satu nya ini” ucap Papa.


Lalu aku segera pergi dari percakapan pagi yang manis ini.


Aku langsung pergi dengan Althara ke balai kota yang sudah sesak dengan para siswa-siswi yang akan mengikuti lomba juga para pendukung nya.


Ketiga teman ku berjanji akan datang menghadiri acara perlombaan ini ketika sekolah kami tampil, namun mereka masih belum mengabariku.


Kami semua masuk kedalam stage yang telah di sediakan oleh para panitia, stage itu hanya tenda berwarna putih dan sudah di sediakan tempat duduk dan cemilan untuk mengisi perut kami.


Mereka semua terlihat tenang dengan bermain game,dan Althara begitu santai membaca novel yang di bawanya. Aku melihat plester kecil di sudut bibir nya. Itu plester yang kemarin aku pakaikan untuk menutupi luka nya. Lalu aku teringat permintaan Althara ketika di minimarket.


Jangan lagi deketin Devan, gue mohon.


Masih saja misteri kenapa Althara meminta ku seperti itu dengan memohon.


Aku begitu terlihat tegang mendengar suara orang lain yang sudah tampil terdengar begitu bagus di bandingkan aku, seketika rasa percaya diriku hilang,aku terlihat tak tenang dan merasa panik.


Bu Renatha masuk ke dalam Stage dengan tergersa-gesa.


“Ayok siap-siap kita udah mau tampil setelah sekolah ini”


kami semua langsung membereskan barang bawaan kami dan merapikan baju kami.


Kami berjalan menuju belakang panggung untuk bersiap. Rasa panik kini menyerang ku, aku terlihat begitu tak tenang dan gelisah,terasa sekali kening ku berkeringat.


“Ga usah tegang gitu” ucap Althara memukul kecil jidatku.


Aku mengusap nya dengan malu, karena aku kira tak ada yang memperhatikan ku.


“Ayo” ajak nya sambil menggenggam tangan ku naik ke atas panggung.


Tangan nya yang lembut begitu terasa di telapak tangan ku. Aku tersentak namun aku membiarkan nya, karena sentuhan Althara sketika bisa menenangkan ku. Seperti ada kekuatan di dalam genggaman nya ini,aku tiba-tiba saja bisa terasa setenang ini ketika naik ke atas panggung.


Dia mengantarkan ku ke depan stand microfon sebelum akhirnya dia mengusap bahuku dan tersenyum meninggalkan ku pergi ke belakang piano nya.

__ADS_1


Aku pejam kan mata ku untuk menenangkan fikiranku,berdo’a bersama dengan para band lain nya. Lalu musik pun mulai terdengar dan aku mulai bernyanyi dengan semangat.


Aku meras begitu tenang, melihat semua orang yang menonton ikut mengikuti alunan lagu ku. Terlihat teman-teman ku di belakang sana melambaikan tangan nya kepadaku. Ternyata mereka datang dengan siswa siswi yang lain yang ikut mendukung sekolah kita.


Aku semakin bersemangat menyanyi dan tampak begitu menguasai panggung. Sampai akhirnya lagu berhenti aku mendengar sorak dari semua orang dan tepuk tangan yang begitu meriah.


Senyum ku terpancar begitu bahagia melihat semua orang mengapresiasiku. Aku membungkukan tubuhku untuk berterimakasih, dan aku menatap Althara yang sudah memperhatikan ku dengan senyum bangga nya.


Terimakasih Althara.


Kami semua turun dari panggung dan kembali ke Stage. Bu Renatha menyambut kami dengan senang.


“Kalian keren banget, selamet ya kalian dapetin standing aplouse dari Bapak Walikota”


Aku tersenyum tak percaya. Dan semua orang di dalam Stage bersorak gembira.


“Emang bener ya, kamu emang memberikan keberuntungan Alhena”


aku tersipu malu mendengar pujian dari Bu Renatha.


“Tapi kan pengumuman pemenang nya masih di proses bu sampe besok lusa” ucap ku mengingat peraturan perlombaan.


“Tapi ibu yakin banget, suara kamu itu lebih baik dari Tania”


nama itu terucap lagi, membuat Edo, Kevin dan Rizal kembali saling pandang dan bertingkah aneh. Sementara Althara duduk dan menghindar.


“Ibu yakin kamu pasti bisa bawa pulang juara 1 ke sekolah” lanjut bu Renatha.


“Tania?” Tanya ku penasaran.


Bu Renatha terlihat bingung menatap ku.


“Tania itu..”


“Bu, kayak nya kita harus langsung pulang deh, di luar temen-temen kita udah pada nunggu kita kayak nya” ucap Edo memotong pembicaraan Bu Renatha.


“Oh iya mereka datang?” Tanya nya.


“Iya dateng bu mereka di luar sama Pak Kepala Sekolah” lanjut nya.


“Oh oke ibu samperin dulu paman kamu ya” ucap Bu Renatha padaku lalu di apergi keluar dari Stage.

__ADS_1


Aku menatap Edo,Kevin dan Rizal secara bergantian,namun mereka langsung pura-pura sibuk membereskan barang bawaan mereka. Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan orang yang bernama Tania itu. Mengapa sampai aku tidak di perbolehkan tahu tentang nya.


Aku menatap Althara yang sedang membereskan barang-barang nya, dia terlihat dingin. Namun begitu tersirat di wajah Althara jika dia sedang mengingat sesuatu. Aku menjadi semakin penasaran, namun aku yakin, suatu saat aku akan tahu tentang itu.


__ADS_2