
Keesokan hari nya aku dan keluarga ku telah bersiap untuk menerima kunjungan dari Althara dan keluarga nya.
Makanan sudah di siapkan di meja makan untuk makan siang. Papa dan Mama ku sudah berdandan dengan rapih menyambut keluarga Althara di depan rumah,karena Althara mengabari jika dia sudah hampir sampai ke rumah ku. Dan benar saja,mereka sudah sampai dan memarkirkan mobil nya di garasi ku yang cukup luas.
Aku masih merias diri ku di kamar ketika Althara sudah turun dari mobil nya. Aku melihat diriku di cermin. Begitu cantik dengan dress ku yang baru berwarna kuning terang dan lengan pendek yang memiliki V neck untuk memperlihatkan leher dan bahu ku yang cantik.
Aku menuruni tangga dengan cepat dan segera menyambut mereka yang sudah terlanjur masuk ke ruang tamu.
“Kak Alhena” teriak Laluna seperti biasa dia akan senang dan berlari ke arah ku jika sudah melihat ku.
“Lalunaaa” teriak ku menghampiri nya dan memeluk nya.
“Kak Alhena kok cantik banget sih” ujar Laluna yang memang baru kali ini dia melihat ku memakai dress.
“Laluna juga cantik banget” balas ku kepadanya.
Dia juga tampak cantik dan imut dengan dress yang berwarna pink dan memiliki rok balon itu.
“Hay Bunda,hay Ayah” sapa ku memeluk mereka berdua.
“Hay sayang” balas nya.
“Ayo kita makan dulu,istri saya sudah menyiapkan makanan yang banyak untuk makan siang ini” ujar Papa menyentuh punggung Ayah Althara.
Ayah Althara tertawa begitu senang mendengat celotehan Papa.
“Oh kebetulan sekali kita semua sengaja membawa perut kosong kesini” balas celotehan Ayah Althara kembali membuat kami tertawa.
Jokes orang tua. Gumam ku dengan tersenyum begitu kaku.
“Ayo ayo mari” lalu Papa ku menggiring semua orang ke meja makan.
__ADS_1
Kita mulai makan dengan terus bercanda dari celotehan yang keluar dari mulut Papa dan Ayah Althara, kita hanya menanggapi nya dengan terus terawa sambil makan.
Setelah acara makan hampir selesai tiba-tiba Bunda berbicara kepada Mama dan Papa.
“Sebenarnya tujuan utama kami untuk mengajak bertemu Papa dan Mama nya Alhena utamanya adalah untuk membicarakan perubahan acara pernikahan Bu Dini” ujar Bunda kepada Mama ku.
Ucapan nya membuat aku,Mama dan Papa bingung menatap nya.
“Perubahan rencana?” Tanya Papa.
“Iya. Jadi begini Pak Handoko,tadinya kan rencana pernikahan ini akan di selenggarakan setelah pembangunan Cafe Alhena. Nah bagaimana kalau kita tukar saja,pembangunan Cafe di lakukan setelah pernikahan mereka,karena menurut saya tidak baik menunda nunda suatu niat baik” ujar Ayah Althara menjelaskan kepada Papa.
Aku masih terdiam dan hanya berlempar pandang dengan Althara dengan hal yang tidak aku ketahui ini. Saat aku lihat wajah Althara yang tidak bingung,sepertinya dia sudah tahu dengan hal itu.
Papa menarik nafas dan menaruh dulu sendok dan garpu nya di atas piring yang masih ada sisa makanan nya.
“Sebanarnya saya pun ingin nya seperti itu Pak Gilbran,tapi saya pun hanya mengikuti keinginan anak saya dan Althara saja. Yang akan menikah kan mereka,jadi saya hanya bisa menurut saja bagaimana mau mereka” ujar Papa begitu pasrah.
Aku belum memberi jawaban ataupun keputusan biarlah mereka berbicara dulu dan memberikan masukan untuk menjadi bahan pertimbangan ku dengan Althara.
“Karena kan takut Nya pembangunan itu tidak berjalan dengan waktu yang di tentukan sesuai rencana, takut nya pembangunan ada kendala atau yang lain kita kan tidak tahu ya Bu” tambah Mama meminta dukungan kepada Bunda.
“Iya betul Bu Dini. Saya juga berfikiran seperti itu,syukurlah jika kita punya pemikiran yang sama. Nah sekarang kita serahkan lagi kepada Alhena dan Althara apakah mereka mau untuk menikah secepatnya?” Ujar Bunda menyindir ku dan Althara.
Aku hanya bisa menatap mereka dengan bingung,lalu memandang Althara meminta pertolongan. Althara malah balik menatap ku seolah harus akulah yang memberi jawaban atas pertanyaan mereka.
“Euh kalo Alhena sih yah bagaimana baik nya saja,kalau memang semua sudah banyak suara untuk di adakan lebih cepat. Alhena setuju saja untuk mengambil keputusan itu” ujar ku dengan gugup dan begitu meyakinkan.
Karena memang aku pun sudah begitu siap untuk segera menikah. Agar aku dan Althara bisa lebih bahagia dengan bersama lebih cepat.
Semua tampak tersenyum bahagia dan terlihat bernafas dengan lega.
__ADS_1
“Althara ?” Panggil Papa untuk menanyakan tanggapan Althara,dia pun harus memberi suara. Karena yang akan menikah kita berdua bukan aku saja.
“Aku setuju Pa” jawab Althara tanpa beban dan dengan tenang. Dia memang seperti sudah membicarakan hal ini dengan keluarga nya,dan memang jawaban dia pasti akan setuju sekali dengan keputusan yang sudah di bicarakan ini.
“Syukurlah kalau memang semua ternyata sudah setuju dan mau pernikahan Alhena dan Althara di lakukan dengan cepat. Dan selanjutnya kita bisa membicarakan untuk akad dan resepsi yang akan di lakukan di Jakarta dulu” ujar Mama Althara membuat ku terkejut menatap nya.
“Di Jakarta Bunda?” Tanya ku memastikan. Aku berharap jawaban nya adalah tidak,dan aku harap jika aku salah mendengar.
“Iya di Jakarta” jawab Bunda dengan menganggukan kepala dengan semangat.
Aku melirik Althara di hadapan ku dengan bingung. Althara menatap ku dengan tajam dan cemas.
“Althara belum bilang soal ini” ujar ku dengan mengkerutkan kening ku begitu bingung kepada Althara.
“Althara belum bilang?” Tanya Bunda lagi.
“Althara malah bilang kalau acara akan di lakukan di Bandung” ucap ku mengingat dia selalu bilang jika dia ingin menikahi ku disini.
“Alhena. Keluarga Ayah kan lebih banyak di Jakarta ayah juga sudah mengumumkan kepada mereka tentang pernikahan kalian. Dan keluarga Ayah meminta untuk acara di adakan di Jakarta. Ayah dan Bunda juga sudah survey hotel untuk resepsi kalian disana” ucap Ayah membuat ku semakin heran.
Aku menghela nafas begitu kesal dan terus menatap Althara dengan tajam. Aku melihat Althara mulai risau karena telah melihat raut wajah ku yang berubah seperti bertanduk.
“Ma,Pa,Ayah,Bunda” panggil ku sambil melirik mereka satu satu.
“Alhena betul-betul tidak keberatan dengan rencana pernikahan di lakukan secepatnya. Alhena juga mau menikah tanpa di patok pembangunan Cafe. Tapi untuk tempat akad dan resepsi nya boleh Alhena bicarakan dulu dengan Althara berdua? Harus ada yang di bicarakan secara pribadi oleh kami berdua” ucap ku dengan sopan dan begitu hati-hati kepada mereka semua.
Semua orang di meja makan tampak saling melempar pandang dengan bingung.
“Baiklah Nak,kita berikan kalian waktu. Tapi berikan keputusan secepatnya ya Nak biar kami juga bisa cepat mengurusi nya” ujar Ayah menengahi kami semua.
“Baik yah Alhena akan bicarakan ini dengan Althara secepatnya” ucap ku dengan tersenyum.
__ADS_1
Lalu aku kembali menatap Althara dengan tajam. Dia sudah tahu persis aku akan memarahi nya setelah ini.