
Hari-hari ku sudah begitu bahagia dengan Althara sekarang tak ada lagi masalah yang mengganggu ku dan Althara. Dan Cafe ku pun sudah mulai beroperasi di hari weekend ini.
Semua teman-teman ku dan Althara tampak bahagia sekali membantu ku di Cafe yang sudah mulai ramai ini. Ada Ghea dan Edo yang sibuk menerima Pesanan dengan pusing nya di belakang kasir,ada Venna dan Tata yang sedang mengantarkan pesanan dengan manis. Rizal dan Kevin tampak hilir mudik memeriksa chef yang sedang membuat pesanan di kitchen.
Sedangkan aku hanya diam memperhatikan mereka semua yanig sedang bekerja di tengah loby.
Aku memperhatikan setiap detail Cafe ini, ini sudah menjadi impian ku selama ini, yaitu memiliki Cafe yang bertema kan Bintang. Cafe ini kita namakan Polaris, nama bintang yang sudah menjadi sejarah untuk aku dan Althara, nama ini awal nya menjadi perdebatan untuk aku dan Papa, karena menurut Papa nama Polaris untuk sebuah Cafe sepertinya tidak menarik, tapi aku bersikukuh jika aku ingin teteap menamakan Cafe ini dengan nama Cafe Polaris, dan akhrinya Papa setuju, bahkan Papa membuat design di dalam Cafe ini banyak sekali ornamen bintang dan galaxy di sekitar nya, namun tidak menjadi kan Cafe ini seperti layaknya museum yang banyak sekali manik-manik planet tata surya, semua hiasan bintang dan galaxy di tempel dan di pasang hanya sebagai pemanis saja, dan aku menyukai nya.
Aku bahagia dengan apa yang aku miliki sekarang, teman-teman yang setia membantu setiap saat nya, Mama Papa yang selalu support,mertua yang begitu baik, dan juga Althara si suami yang sempurna.
“Hay Bu Bos, bagaimana dengan Grand Opening nya ?” Tanya Althara yang tiba-tiba ada di belakang ku.
“Hay” sapa balik ku.
Lalu aku memutarkan badan ku untuk berhadapan dengan nya.
“Semua nya terkendali” ucap ku sambil menatap sekitar ku.
Althara terus menatap ku sambil tersenyum.
“Apa ?” Tanya ku bingung dengan tatapan nya yang begitu manis.
“Kamu bahagia?” Tanya nya membuat ku tersenyum menertawakan pertanyaan nya.
“Menurut mu?”
“Apa semua ini cukup?” Tanya nya lagi, kali ini dengan senyuman yang memudar.
Aku tahu apa maksud nya.
“Cukup” jawab ku menatap nya dengan bangga.
“Lebih dari cukup” ucap ku lagi.
Lalu kita berdua tersenyum saling menatap penuh arti.
“Permisi Pak Bos Bu Bos” ledek Venna dengan berpura pura begitu sopan.
Aku tertawa melihat tingkah nya.
“Maaf ini Cafe nya sudah penuh dan udah banyak sekali yang waiting list di luar. Apa tidak akan membantu kami?” Ujar Venna meledek ku dan Althara.
Aku emnganggukan kepala ku.
__ADS_1
“Oke” lalu aku dan Althara segera bergegas untuk mem bantu teman-teman kami.
Tentu aku tidak hanya memanfatkan teman-teman ku untuk membantu Grand Opening Cafe ini, aku pun sudah memiliki beberapa karyawan yang sudah terlatih dan yang sudah melalui beberapa tes. Kini mereka semua sudah menjadi karyawan magang di Cafe ku, dan yang menilai adalah manager Cafe ku yang Althara pilih sesuai CV yang dia kirimkan kepada kami.
Seseorang wanita baru saja masuk ke dalam Cafe ku. Dia menghampiri ku dengan senyum nya yang bahagia.
“Meldi” sapa ku begitu terkejut melihat nya.
“Hey Alhena” balas nya dengan menempelkan pipi nya di pipi ku.
“Akhirnya datang juga kamu Mel”
Aku memang sudah mengundang dia dari kemarin.
“Thank ya Al udah mau undang aku kesini” ujar nya dengan begitu senang.
“Iya dong. Sekarang kan kita berteman, sudah seharusnya aku mengundang semua teman aku ke sini”
Meldi tersenyum menatap ku.
“kamu baik banget Al” ujar nya dengan haru.
“Al. Bagaimana dengan Roni?” Tanya Meldi membuat senyuman ku pudar seketika.
“Ke kantor polisi?” Meldi terlihat begitu terkejut.
Aku diam membenarkan ucapan nya.
“Kenapa harus di bawa ke kantor polisi?” Tanya Meldi dengan mengkerutkan kening nya.
“Ya karena dia terus neror aku Mel,bahkan minggu kemarin dia sempet hampir celakain aku di Cafe” ucap ku menjelaskan dengan tenang.
“Aku tahu kamu pun sebenarnya ga tega lihat dia seperti itu, tapi ini agar memberikan dia efek jera dia harus merasakan akibat dengan apa yang sudah dia lakukan” ujar Meldi dengan memegang lenganku.
“Iya Mel. Yang pasti dia sudah mendapatkan ganjaran nya,dan tidak lagi meneror aku dengan terus menakuti ku dan mengirimkan aku bunga..” ucap ku membuat dia mengkerutkan kening nya.
“Ngirim kamu bunga?” Tanya Meldi dengan raut wajah yang bingung.
“Iya. Udah 2 kali Roni kirim aku bunga Lili ke rumah,walaupun tanpa tanda pengenal,tapi aku tahu kalo itu dari dia” ujar ku mengingat tentang si misterius pengirim bunga Lili yang aku tebak itu dari Roni.
“Roni itu alergi serbuk bunga Al,itu bikin dia benci banget sama bunga jenis manapun, ke aku aja dia lebih baik ngasih aku barang lain atau makanan di bandingkan dengan bunga. Jadi dia ga mungkin kirimin kamu bunga”
“Tapi dia kirim aku bunga Mel”
__ADS_1
“Dia bilang sendiri kalo dia kirim bunga?” Tanya Meldi masih saja tak percaya.
Aku berfikir untuk mengingat nya.
“Memang ngga. Tapi,aku yakin itu dari dia karena waktu di pernikahan aku,dia pernah ngirim karangan bunga buat aku dan dia bilang sendiri itu dari dia” ucap ku penuh keyakinan. Namun memang membuat aku janggal,karena tentang bunga Lili aku sebenarnya belum sempat menanyakan itu kepada Roni.
“Baiklah kalo memang Roni mengakuinya sendiri” ujar Meldi membuat ku menjadi terfikir tentang itu.
Lalu keesokan hari nya tiba-tiba aku penasaran dengan kiriman bunga Lili itu. Aku harus memastikan jika memang benar Roni adalah pengirim nya.
“Althara. Aku mau bertemu Roni” ucap ku yang membuat Althara begitu terkejut.
“Untuk apa?”
“Ada sesuatu yang harus aku pastikan Al,dan kali ini kamu pun harus tau” ucap ku mencoba jujur.
“Apa?” Tanya Althara dengan raut wajah yang begitu penasaran.
“Kamu ingat waktu itu ada yang mengirimkan bunga Lili kerumah?”
“Iya”
Lalu Athara coba mengingat lagi tentang hari itu.
“kamu bilang kiriman itu untuk Venna kan?”
“Bukan. Sebenarnya itu untuk aku,tapi tidak ada pengenal yang ada di dalam sana dan hanya ada catatan kecil yang bertuliskan ‘selamat datang kembali Alhena’ dan kata-kata mutiara yang sangat tidak masuk akal” ucap ku mengingat kiriman bunga Lili itu.
Althara mulai terlihat bingung. Dia mengkerutkan kening nya dan langsung memijat mijat kening nya.
“Itu dari siapa?” Tanya nya tanpa menoleh ku.
Aku yakin dia sudah merasa kesal karena masih saja ada yang tidak di ketahui nya.
“Aku kira itu dari Roni,tapi kemarin Meldi bilang kalo Roni itu alergi serbuk bunga dan dia benci banget sama bunga,dan dia ragu kalo Roni mau kasih bunga sama orang lain dan bahkan dia selama pacaran 2 tahun dengan Roni pun belum pernah di beri bunga” ucap ku berusaha untuk membuat Althara mengerti.
“Iya bisa aja dia suruh orang untuk kirim itu kan?”
“Iya aku kira juga seperti itu. Tapi aku mau pastiin itu semua Althara”
Althara terlihat menghela nafas begitu berat sambil menatap ku. Dan aku menatap Althara dengan begitu berharap jika dia mau menuruti ku.
“Baiklah” jawab nya.
__ADS_1