
Hari senin yang tak pernah ku harapkan pun tiba.
Jam 08.30 aku sudah bersiap di kamar ku dengan pakaian casual untuk pergi latihan di sekolah. Aku memakai kaos berwarna biru langit dan memakai jeans biru, rambutku di ikat kebelakang dan memakai sepatu kets berwarna putih.
Aku duduk di samping kamarku dan memikirkan Althara. Bagaimana bisa dia menjemputku jika dia saja tidak pernah menanyakan alamat lengkap rumahku. Buktinya sudah jam segini dia masih belum memberikan kabar.
Ponsel ku bergetar di dalam tasku. Sebuah pesan dengan nomor tak di kenali masuk ke handphone ku.
‘Cepetan lelet amat sih!’
Aku sedang menebak siapa yang mengirim pesan seperti ini, dan nama Althara terlintas di fikiran ku. Aku langsung berlari mendekati pintu jendela dan melihat kebawah mencari sosok makhluk itu. Dan benar saja dia sudah berada di luar gerbang ku dengan motor sport nya, helm full face dan dengan handphone di genggaman nya.
Aku membulatkan mataku dan langsung berlari keluar kamar ,menuruni tanggaku dengan cepat.
“Non ga akan sarapan dulu?” Teriak bi Inah yang sudah menyiapkan sebuah sarapan yang hanya untuk ku.
“Ngga bi aku buru-buru udah telat”
Dengan cepat aku membuka pintu dan gerbang ku. Melihat Althara yang sepertinya sudah kesal menungguku yang entah sejak kapan dia disana.
Aku mengatur nafasku dulu untuk berbicara kepadanya setidak nya aku meminta maaf karena telah membuatnya menunggu.
“Cepetan pake ini dan naik” ketusnya sambil menyodorkan helm yang tercium baru dari tangan nya.
Aku menghela nafas dan mengurungkan niat untuk meminta maaf kepadanya. Karena ku lihat Althara tidak membutuhkan itu.
Dia melajukan motornya begitu kencang,aku memegang jaket nya dari belakang berusaha untuk tidak terjatuh.
Latihan pertama begitu lancar,tidak ada kendala sama sekali. Lagu yang akan di ikut sertakan lomba pun sudah mulai lancar di mainkan. Katanya acara lomba ini sudah ada selama 3 tahun berturut turut, dan dari 3 tahun yang lalu personil nya adalah Althara dan kawan kawan ini, tidak pernah di rubah sama sekali oleh bu Renatha, dan sekolah kami selalu pulang membawa piala walaupun selalu menjadi juara kedua.
Pertanyaan ku muncul begitu aku mengetahui sejara lomba musik ini.
Siapa vokalis sebelumnya?
Bukan kah jika itu angaktan Althara, berarti vokalis nya pun masih ada di sekolah ini, kenapa bukan dia saja yang melanjutkan lomba ini ?
Namun aku lebih baik tak banyak tahu tentang semua ini, karena tidak ada pentingnya untuk ku.
Setelah selesai pukul 15.00 aku berjalan melewati koridor sekolah yang sudah sangat sepi.
__ADS_1
“Lo mau kemana ?” Althara menghadang langkahku.
“Ya gue mau pulang”
“Ya motor gue kan disana,lo ngerjain gue banget sampe harus nyari nyari lo kaya gini”
“Loh siapa yang nyuruh lo nyari gue”
“Handphone lo kenapa ga aktif?” Tanya nya membuatku tak menyadari itu dan langsung melihat handphone ku di dalam tas.
“Handphone gue mati lowbat” ucapku dengan kesal.
“Ya udah balik lagi kesana” aku terus diam dan malah kebingungan.
“Ga usah, gue bisa naik umum pulang nya” ujar ku terdengar begitu jahat karena tidak mengindahkan niat baik dia.
Aku tidak pernah ingin terus bersama nya yang begitu jutek seperti ini, namun aku pun tidak ingin berlama lama di dalam angkutan umum.
“Keras kepala banget jadi orang. Kalo lo ga mau gue bener-bener ga akan kasih tebengan lagi sama lo!”
“Ih iya tunggu, anceman banget sih orang nya” kesal ku sambil mengejar nya.
Althara tak menjawab,dia hanya terus berjalan menuju parkiran motornya.
Althara memberikan helm nya kembali padaku, helm ini berwarna biru langit, begitu bagus dan sangat terlihat baru, aku malah sempat berfikir jika Althara sengaja membeli helm baru karena aku akan nebeng dengan dia selama latihan,namun aku langsung menangkis prasangka yang tidak masuk akal itu. Mana mungkin Althara mau dengan sengaja membelikan helm baru untuk ku pakai. Mungkin helm ini memang milik nya namun tak pernah di pakai nya karena warna nya yang begitu lucu.
Kita sampai di depan rumah ku,aku turun dan melepaskan helm dari kepala ku.
“Thank you yah” ucap ku sambil memberikan helm nya kembali.
“Simpen aja gue ribet bawa nya, besok masih latihan kan?” Aku terdiam bingung dengan sikap nya.
“Ya udah thank” dia sama sekali tak menjawab ku dan langsung pergi begitu saja meninggalkan ku.
Aku masuk ke dalam rumah ku,sudah terlihat Papa dan Mama yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga dengan tontoan favorit mereka.
“Alhena pulaangg” teriak ku sambil merebahkan diri di kursi kosong.
“gimana acara latihan nya?” Tanya Papa.
__ADS_1
“Membosankan” singkatku.
“Kok membosankan sih? kan enak ga belajar”
Semua orang yang mendengar psti akan menganggap ini menyenangkan, namun beda lagi ceritanya jika aku selalu merasa tidak nyaman harus selalu bertemu dengan orang yang sama sekali tidak aku sukai.
“Kata bibi tadi kamu di anter cowo kesini siapa ?” Tanya papa
“Temen latian pa, kebetulan aja rumah dia searah sama aku, jadi dia bisa sekalian antar jemput aku”
“Oh, kenapa ga di suruh masuk dulu sih? Kan Mama Papa bisa sekalian ucapin makasih sama dia”
aku menatap mama yang sudah mulai tersenyum mencurigakan. Aku tahu apa yang di fikirkan mereka sekarang.
“Aduh udah deh mah, dia tuh sebenernya nyebelin aku juga gamau sebenernya di antar jemput dia,kalo aja Alhena udah di bolehin bawa mobil sendiri kan Alhena ga perlu repotin orang lain” ucapku dengan sedikit menyindir kedua orang tua yang masih saja tidak memperbolehkan aku mengendarai mobil ataupun motor sampai aku lulus sekolah.
“Kan Papa udah bilang, kamu selesaikan dulu sekolah kamu,apapun mobil yang kamu mau bisa Papa belikan asalkan nilai rapot kamu bagus”
Aku memutarkan bola mataku mendengar ucapan Papa yang sudah pasti tidak akan mungkin aku bisa mendapatkan nilai yang begitu sempurna demi mendapatkan mobil impian ku.
“Terus itu helm punya siapa,kamu udah beli sendiri?” Tanya mama melihat aku menenteng sebuah helm yang baru.
“Bukan, ini punya dia yang tadi nganterin Alhena”
Mama tersenyum.
“Kalo dia nyebelin dia ga mungkin minjemin kamu helm baru nya itu dan minta kamu buat simpen”
“Mah ini cuma helm, dia cuma ga mau ribet bawa lagi helm buat aku, nanti kalo lomba udah beres juga aku balikin” kesal ku.
“Kamu kan bisa suruh beli kenapa dia harus minjemin?” Tanya Mama yang semakin membuatku bingun dan berfikir, bahwa apa yang di ucapkan mama memang ada benar nya juga. Althara kan bisa saja meminta ku untuk membawa helm sendiri, kenaapa dia bisa sampai tahu jika aku tidak memiliki helm ?
“Aduh udah deh mah pa, udah ya udah Alhena cape mau ke kamar dulu mau mandi mau istirahat bye”
Ucapku meninggalkan kedua orang tua ku yang masih tersenyum penuh curiga.
Aku langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan badan ku, setelah selesai membersihkan diri, aku melihat helm yang tergeletak di atas kursi samping kasur ku.
Aku meraih nya dan memandang nya, Jika memang benar ini adalah helm baru, kenapa Althara bisa sebaik itu kepadaku?
__ADS_1
Althara membuatku bingung.