
Aku membiarkan Althara membawa ku kemana dia mau. Dan ternyata dia membawaku ke rumah nya. Aku turun dari mobil nya begitu kita sampai di parkiran rumah nya. Aku ikut Althara turun dari mobil dan mengikuti nya masuk kedalam rumah.
“Aku ke toilet dulu” ucap Althara di dalam ruang tamu.
Aku menganggukan kepala ku dan duduk di sofa nya. Merebahkan diri ku disana dan memegang mataku yang mulai bengkak karena terus menangis. Handphone ku bergetar di dalam tas ku. Dari sejak di Club handphone ku terus berdering tak henti,namun aku tidak bisa mengangkat telepon di saat seperti itu.
Mama.
Baru saja aku akan mengangkat telepon nya handphone ku mati habis baterai.
Aku berdecak kesal. Mama pasti khawatir padaku saat itu. Aku berdiri mencari Althara ke toilet di dapur. Namun dia tidak ada di toilet sana. Aku mengendap endap naik ke atas tangga mencari Althara di lantai atas. Begitu sepi dirumah, tidak terdengar suara satu orang pun yang masih bangun.
Apakah orang tua Althara sedang berada disini ?
Aku sampai di lantai atas dan terlihat lah satu pintu besar yang bergantung bingkai bintang dan di dalam nya ada huruf kapital A. Sudah bisa di tebak itu adalah kamar Althara. Terlihat pintu nya sedikit terbuka. Aku dengan lancang mengintip kamar nya yang ternyata gelap.
“Althara” panggil ku dengan pelan.
Mataku masih sembab dan tubuh ku masih lemas sebenarnya,tapi aku juga perlu mengabari Mama sebelum Mama benar-benar khawatir dan malah mencariku dengan menelepon polisi untuk bantuan. Lebay memang,tapi Mama memang memiliki ke khawatiran yang lebih kepadaku,karena aku adalah anak semata wayang nya,jadi aku harus segera mengabarinya.
Aku masuk kedalam kamar nya,berniat hanya meminjam charger nya disana lalu kembali keluar. Namun terlalu gelap di dalam sana. Dan aku berusaha mencari saklar lampu dengan meraba dinding nya. Setelah ketemu aku langsung menyalakan saklar lampu itu. Dan kamar Althara akhirnya terang dengan tembok nya yang berwarna putih dan masih saja berserakan banyak kanvas dan cat di lantai. Begitu membalikan badan aku terkejut dengan sebuah lukisan besar yang di tempel Althara tepat di atas tempat tidur nya.
Itu lukisan ku yang sedang tersenyum bahagia. Dia melukis wajah ku di sebuah kanvas yang sangat besar,dan melukis dengan begitu cantik tampak seperti nyata,lukisan itu 3D malah lebih mirip seperti fhoto yang di cetak besar'
Aku sempat terharu melihat dia menempelkan lukisan besar itu di kamar nya. Ternyata apa yang di katakan nya selama ini benar,Althara tak pernah melupakan aku.
Aku hendak kembali pergi dari kamar nya sebelum Althara memergoki disini namun sesuatu membuat ku tersadar. Aku kembali melihat lukisan itu,aku terkejut ketika menyadari sesuatu. Aku perhatikan dengan teliti baju yang di kenakan di dalam lukisan itu,di dalam lukisan terlihat kerah baju ku yang seperti nya aku kenali, dan logo almamater yang ada di dada itu aku ingat itu adalah baju yang aku kenakan ketika kuliah dulu.
Berarti lukisan itu di gambar ketika aku kuliah di Bandung. Sedangkan dia sudah pergi meninggalkan ku jauh sebelum itu.
Aku ingat Althara selalu menyimpan semua foto hasil jepretan nya di dalam laptop nya. Aku melihat laptop nya di atas meja kerja nya dan langsung menyalakan laptop itu lalu segera melihat galeri foto nya.
Dan lagi-lagi aku terkejut,melihat beberapa foto ku beberapa taun lalu ada di dalam galeri nya yang sudah tersimpan di sebuah folder yang dia namai 'Amo stella'. Ada beberapa foto ketika aku baru masuk ke Universitas,ada juga foto ketika aku tengah bermain di mall bersama teman ku, bahkan ada foto aku yang sedang diam di taman dengan sebuah buku,semua foto itu dia ambil dari jauh dan secara sembunyi-sembunyi. Foto itu di ambil beberapa taun yang lalu sebelum aku pergi ke Jakarta. Air mataku kembali menetes.
Suara pintu Althara terdengar terbuka lebar.
“Alhena” Althara terkejut melihat ku yang sudah membuka galeri laptop nya. Sepertinya Althara menyadari jika aku sudah berada di kamar nya, karena wajah nya sudah begitu panik ketika masuk ke dalam kamar.
Aku menatap Althara dengan mata yang membulat tak percaya.
“Selama ini kamu ada di sekitar aku?” Ucap ku dengan sedih.
“Alhena dengar”
“Selama ini ternyata kamu ada di sekitar aku al!” teriak ku dengan kesal.
“Aku selalu bilang kalau aku akan selalu ada di sekitar kamu Alhena”
__ADS_1
“Kamu ada di sekitar aku dan kamu ga pernah nyamperin aku ?!” Teriak ku mulai menangis.
Dia berusaha menenangkan ku.
“Jangan sentuh aku” aku menghempas kan tangan nya dari bahu ku.
Aku sudah benar-benar emosi sekarang. Bisa-bisa nya dia melakukan hal setega itu kepadaku.
“Kamu liat selama ini aku sedih kan al? Selama ini kamu menyaksikan sendiri penderitaan aku ketika kamu menghilang,kamu melihat itu semua tapi kamu malah diam dan hanya berkeliaran di sekitar aku!”
“Al dengar !”
“Tega kamu Althara,kamu bener-bener jahat” aku tak memberikan dia kesempatan untuk berbicara.
Aku berusaha meninggalkan kamar itu, namun Althara menarik tangan ku dan memeluk ku dari belakang.
“Alhena”
“Lepasin aku Al”
“Biar aku jelasin dulu semuanya”
“Ngga aku ga mau! Udah cukup aku tau kalau ternyata kamu sejahat itu!”
“Alhena please dengerin aku dulu!” Teriak nya dengan masih mendekap ku dari belakang.
“Aku udah pernah minta untuk kamu dengar semua penjelasan aku Al, tapi kamu ga pernah kasih kesempatan itu”
Aku masih saja menangis dengan diam tak berdaya di dalam pelukan Althara.
“Sejak dulu aku selalu bertanya sama kamu,bagaimana jika aku pergi,kamu ingat itu? Dan kamu tidak pernah mau itu terjadi. Aku sempat menunda kuliah ku di Jerman karena aku ingin menyaksikan kamu lulus sekolah Al. Aku ingin menemani kamu selama itu. Aku tau aku salah ga pernah jujur sama kamu tentang pendaftaran ku di Jerman. Aku takut kamu ga terima semua itu, aku takut kamu sedih dan meninggalkan aku,aku takut membayangkan itu terjadi”
Aku diam membiarkan dia menjelaskan semua nya.
“Aku kira setelah kepergian aku ke Jerman kita bisa saling melupakan satu sama lain dengan mudah,aku kira dengan mengorbankan perasaan aku,aku akan bisa bahagia dengan kehidupan baruku tapi ternyata aku salah. Selama di Jerman aku malah selalu rindu sama kamu,aku terus memikirkan kamu yang selalu bikin aku bahagia. Aku bahkan selalu mengharapkan kamu ada disana temani aku,menghilangkan semua gundah yang aku alami”
Althara masih memeluk ku dengan erat di belakangku. Aku masih saja menangis di pelukan nya mendengar semua penjelasan nya.
“Setiap 6 bulan sekali aku pulang ke Indonesia,dan pertama kali aku pulang ke Indonesia orang yang pertama kali aku cari adalah kamu. Aku ingin melihat keadaan kamu waktu itu, dan aku mengharapkan kamu sudah bahagia dan melupakan aku. Tapi ternyata dugaan ku salah, aku malah melihat kamu menjadi pemurung,melihat kamu begitu berubah tak seperti Alhena yang aku kenal. Aku begitu sedih ketika mendengar kamu masih saja memikirkan aku. Dan sejak saat itu,setiap aku pulang ke Indonesia orang yang pertama kali akan aku cari adalah kamu. Karena aku selalu ingin memastikan jika kamu sudah melupakan aku dan bahagia, tapi aku tidak pernah melihat itu terjadi. Sampai akhirnya kamu menghilang di Bandung dan aku ga pernah tau dimana kamu berada selama 3 tahun ini”
Aku membalikan badan ku menatap langsung mata Althara. Dia memegang lembut pipiku dengan mata yang begitu sedih mengingat semua kejadian itu.
“Kamu tau aku frustasi karena kepergian kamu” ucap ku dengan sedih.
“Aku minta maaf” lirih nya dia benar-benar terlihat begitu menyesalinya.
“Aku ga tau kalau perasaan yang kita punya bisa sekuat ini Alhena”
__ADS_1
“Kamu fikir aku bisa mudah lupain kamu gitu aja?” Ucap ku terus menyalahkan nya.
“Aku minta maaf” dia terus minta maaf.
“Aku juga mulai frustasi saat tau kamu pergi dari Bandung,dan aku ga pernah bisa cari tau keberadaan kamu selama ini”
“Dan aku malah di pertemukan kamu dengan keadaan seperti ini. Di saat kamu udah sama Rey” ucap Althara sambil menyeka air mataku.
“Aku kira aku udah benar-benar terlambat,aku kira kamu dan Rey sudah saling jatuh cinta,aku hampir memaksakan diri untuk lupain kamu”
Aku menggelengkan kepala ku dengan masih bersedih.
“Aku ga pernah bisa lupain kamu Althara” sedih ku.
“Aku terlalu sayang sama kamu”
“Iya aku tahu Al, perasaan yang kamu punya masih sama seperti dulu”
“Aku udah berusaha buat lupain kamu Al,tapi ga pernah berhasil,aku bingung selama ini, apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa buka hati untuk orang lain”
Dia memegang kedua pipi ku.
“Aku kembali,dan aku ga akan biarain kamu buka hati untuk orang lain lagi”
“Kamu harus janji” ucap ku ingin berikrar karena aku masih saja merasa takut.
“Aku janji ga akan pernah pergi lagi tanpa pamit”
Aku menggelengkan kepala ku.
“Kamu jangan pernah pergi lagi walaupun kamu pamit Al” pinta ku mengingat begitu menyakitkannya jika dia kembali meninggalkan ku walau dia berpamitan.
Dia tersenyum kepada ku.
“Iya”
“Kamu harus bilang janji Al”
Dia kembali tersenyum mendengar itu.
“Iya aku janji, aku janji ga akan pernah lagi ninggalin kamu apapun yang terjadi”
Lalu dia mencium bibir ku.
Aku menangis di dalam ciuman ini,aku sangat merindukan dia, merindukan ciuman yang penuh cinta ini,dan kini akhirnya aku mendapatkan nya kembali.
Aku mencintai kamu Althara
__ADS_1