7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Mengenal Laluna


__ADS_3

Esok pagi aku terbangun dengan sinar yang menyilaukan mataku. Membuatku mengerjapkan mataku dan melihat cahaya dari sela sela tirai menyinari wajah ku.


Aku melihat sekeliling ku mengingat semua kejadian semalam pertengkaran hebat dengan Althara di kamar nya dan tertidur setelah semua nya selesai. Aku merasakan tangan Althara yang melingkar di tubuh ku. Aku melirik nya di belakang ku. Matanya masih tertutup.


Aku memperhatikan wajah nya yang selama ini aku rindukan. Hidung nya yang mancung,bibirnya yang indah,bentuk wajah nya yang oval dan kulit nya yang putih membuat ku tersenyum melihat perubahaan wajah Althara yang sudah banyak berubah dan sangat tampan ini.


Tadi malam Althara meminta ku untuk mengganti pakaian ku dengan kaos polos nya yang berlengan panjang berwarna putih. Begitu besar baju itu ketika ku pakai sampai tangan ku tak terlihat karena begitu panjang lengan baju Althara, dan bahkan celana boxer pendek yang di pinjamkan Althara pun sampai tak terlihat karena besar nya baju ini,aku terlihat memakai baju besar tanpa celana. Namun semalam dia mengatakan bahwa aku cantik menggunakan baju apapun. Kata-kata itu selalu di ucapkan nya dulu ketika aku meminta pendapat dengan pakaian yang tengah ku pakai ketika akan pergi bersamanya.


Dengan perlahan aku berusaha mengangkat tangan Althara dari tubuh ku. Namun dia malah melingkarkan kembali dengan erat tangan nya di tubuh ku. Bahkan dia merekatkan tubuh nya kepadaku.


Nafasnya begitu terasa di leher ku. Aku tersenyum melihat dia seperti itu.


“Aku harus bangun Al, ini sudah siang”


Dia tak menggubris nya.


“Althara aku harus pergi”


“Kamu janji gak akan pergi lagi Al”


Aku terkekeh mendengar ucapan nya dengan mata nya yang masih tertutup.


“Aku pergi untuk kerja,bukan pergi seperti kamu” ledek ku. Lalu melirik kebelakang melihat dia yang sudah membuka matanya dan menatap ku dengan sinis.


Aku membalikan tubuh,dan menatap dia begitu dekat.


“Aku harus pergi dulu” ucap ku.


“Aku masih mau seperti ini”


Aku begitu merindukan tatapan dia yang dalam seperti ini. Tatapan yang penuh cinta dan ketulusan.


“Tapi aku harus kerja” dia kembali memeluk ku tak membiarkan ku untuk bangun. Dan terus menatap ku melepas kerinduan nya.


“Kamu ga ada acara hari ini?” Tanyaku.


“Aku bisa membatalkan semua acara ku demi bisa seperti ini sama kamu”


Aku tersenyum haru mendengarnya lalu dia mencium ku lagi di dalam pelukan nya.


“Althara Alhena ayo bangun sarapan dulu!”


Suara ketukan pintu bersamaan dengan suara perempuan membuat aku melepaskan bibir ku dari bibir Althara.


“Itu Bunda?” Tanya ku.


Althara menganggukan kepala nya dengan dingin.


Aku langsung bangun dari tempat tidur nya dan bertingkah panik mencari barang-barang ku.


“Kamu kenapa?” Tanya Althara dengan bingung.


“Ada Bunda Al, aku takut ketemu Bunda”


“Kenapa takut? Kamu buat salah sama Bunda?” Tanya nya yang ikut bangun dari tempat tidur nya.


Lalu aku terdiam memikirkan pertanyaan nya.


“Iya yah, kenapa aku harus takut? Yang udah buat salah kan kamu,kenapa aku yang panik”


Althara tersenyum melihat ku yang masih terus menyindir nya.


“Sebentar! Kenapa Bunda tau aku disini?” Tanya ku dengan mengerutkan kedua halis ku.


Althara melingkarkan tangan nya lagi di tubuh ku.


“Semalam aku pamit sama Bunda buat jemput kamu, Bunda tahu kamu disini”


Aku menatap nya tak percaya.


Aku berdecak kesal kepadanya.


“Aku malu ketemu Bunda”


“Tapi Bunda mau ketemu kamu”


“Bunda mau ketemu?” Tanya ku ragu.


“Iya, selama ini juga Bunda tau aku masih belum bisa lupain kamu”


“Oyah?”


“Ya. Dan give me..” dia mendekatkan kembali wajah nya namun dengan cepat aku membekap mulut nya.


“No Althara”


Dia terlihat kesal.


“Kita harus kebawah,Bunda udah nungguin”

__ADS_1


“Bunda bisa nunggu sebentar lagi”


“Ngga Althara!”


Terlihat dia menghela nafas menyerah.


“Baiklah” ucap nya dan melepaskan pelukan nya.


Aku membereskan barang ku dan tengah mencari sesuatu.


“Baju aku mana?” Tanya ku ketika aku mencari dress mini ku yang semalam ku kenakan.


“Aku buang” dingin nya sambil pergi ke kamar mandi.


Aku mengikuti nya dan diam di ambang pintu kamar mandi.


“Di buang?!” Tanya ku tak percaya.


“Aku ga suka liat kamu pake pakaian gitu keluar”


“Iya tapi kan..”


“Kenapa? Kamu masih mau pergi ketempat seperti itu dengan pakaian itu?” Potong nya dengan ketus.


“Itu baju baru aku beli” aku cemberut mengingat baju itu baru saja aku kenakan sekali malam tadi.


“Aku bisa membelikan baju yang lebih bagus dan lebih baik dari itu” ucap nya.


Aku masih saja diam di ambang pintu dengan cemberut melihat dia mencuci wajah nya di washtafel.


“Kalo sampai aku liat masih banyak baju seperti itu di lemari kamu,aku bakal buang-buangin semuanya” dia masih saja mengoceh di dalam sana.


“Yah jangaannn” rengeku ku.


“Aku ga akan pake baju gitu lagi janji,biarin pakaian itu di jadiin pajangan aja di lemari aku” panik ku mengingat semua baju minim itu begitu lucu dan bagus walaupun aku jarang memakainya.


“Ngga!” Ucap nya dengan kesal sambil menggosok giginya.


Aku menghela nafasku menyerah. Karena tidak akan bisa menang berdebat dengan nya seperti ini.


Althara tidak pernah berubah. Masih saja bisa bersikap tegas dan ketus menanggapi ku. Walaupun kita sudah melalui petengkaran hebat tadi malam,tidak merubah sikap nya untuk menjadi terus manis kepadaku,dia masih saja bersikap tegas dan dingin. Namun aku senang karena Althara yang aku kenal tidak pernah berubah.


Aku dan Althara selesai mencuci wajah dan menggosok gigi di kamar mandi nya.


Althara membuka lemari pakaian nya lagi dan memberikan aku celana piama polos nya yang juga berwarna putih.


Aku melirik boxer Althara yang masih aku kenakan. Memang benar, mana bisa aku bertemu dengan Bunda dengan seperti ini.


Aku langsung menggantikan celana pendek itu dengan celana piyama Althara yang sangat besar itu. Ketika keluar Althata sedikit tertawa melihat ku karena mengenakan baju dan celana yang kebesaran.


“Kenapa?” Tanya ku sambil mengerutkan keningku.


“Kok kesan nya jadi kaya baju model terbaru ya di pake kamu ?”


Aku ikut melirik pakaian yang aku kenakan, ya ini seperti baju oversize wanita yang modis kelihatan nya.


“Ya udah ayo turun” ajak Althara menarik tangan ku namun aku langsung menahan nya.


“Tunggu dulu”


“Kenapa?”


Aku memikirkan sesuatu bagaiman first impression Bunda melihat aku lagi nanti.


“Aku malu”


Althara menarik nafas nya dan menghembuskan dengan cepat.


“It’s Ok. Bunda udah nunggu kamu Al”


Aku tetap saja malu bertemu Bunda,tapi aku juga tidak bisa bersikap tidak sopan dengan terus diam di kamar Althara.


Ketika turun dari tangga aku melihat Bunda dengan rambut lurus sebahu, berbadan slim dan pakaian nya yang santai. Bunda masih saja terlihat cantik dan awet muda,dia duduk di ujung meja makan yang berbentuk persegi panjang itu. Tiba-tiba mata ku basa melihat Bunda di depan mata ku, akhrinya aku bisa kembali bertemu dengan Bunda. Lalu pandangan ku teralihkan kepada sosok anak kecil duduk di sebelah kiri nya yang sedang ikut sarapan. Aku mengerutkan kening ku melihat ada anak kecil dirumah nya.


Althara tersenyum melihat ku yang kebingungan.


“Ayok” ajak nya menggandeng tangan ku.


“Hay Alhenaa” sapa Bunda dengan gembira sambil berdiri menyambutku dengan membuka kedua tangan nya bersiap memeluk ku.


Aku menghampiri Bunda dan langsung memeluknya.


“Hay Bundaa”


Kita berpelukan cukup lama dengan Bunda yang mengusap usap punggung ku dengan lembut.


“Bunda kangen banget sama kamu Al” ucap nya.


“Aku juga kangen banget sama Bunda”

__ADS_1


Lalu Bunda melepaskan pelukan nya.


“Kamu udah besar Al, kamu udah dewasa dan tambah cantik seperti ini”


Aku terus memegang kedua tangan Bunda sambil terus menatap nya melepas rindu ku.


“Iya Bunda. Bunda apa kabar?” Tanya ku menahan haru ku.


“Bunda baik sayang,kamu apa kabar?”


“Aku juga baik Bunda”


“Udah berapa lama kita ga ketemu?” Tanya Bunda sambik tersenyum manis kepadaku.


Aku menggelengkan kepala ku tak yakin tepat nya berapa lama.


“6 tahun Bunda”


“Waw 6 tahun ?” Tanya Bunda tak menyangka waktu berlalu begitu cepat.


Kita menganggukan kepala bersama dengan sambil terus menatap dan tersenyum.


“Maafin Althara ya, dia udah jahat banget sama kamu” ucap Bunda sambil melirik Althara yang sudah duduk di sebelah kanan nya tepat di samping ku.


“Iya Bunda,dia emang udah jahat banget” ucap ku ikut menatap nya sinis.


“Padahal dari dulu Bunda udah bilang,kalo Alhena masih sayang sama kamu coba samperin Alhena dan coba jelasin semua nya, biar Alhena ngerti. Tapi dia ga pernah mau denger Bunda”


“Oyah? Kerasa kepala nya emang ga pernah ilang ya”


Althara menatap ku dengan tajam.


“Udah dulu ya mojokin aku nya, sekarang kita sarapan” ucap nya membuat ku dan Bunda tertawa.


Aku melirik gadis kecil yang ada di samping kiri Bunda. Dia tampak lucu dengan pakaian yang berwarna pink,rambut berponi dan memakai bando pink di kepalanya.


“Ini?” Tanya ku sambil menatap gadis kecil yang begitu cantik itu.


Dia tersenyum kepadaku.


“Oh iya kenalin” ucap Bunda meminta ku untuk memutar dan menghampiri gadis kecil itu.


“Ayo kenalan sama Kak Alhena dulu” pinta Bunda.


“Hallo aku Laluna umur aku 4 tahun” polos anak kecil itu begitu lucu sambil terus tersenyum.


“Ini adik Althara?” Tanyaku tak percaya sambil tersenyum.


Bunda tersenyum kepadaku.


“Hallo Laluna,Kakak Alhena” ucap ku mencubit kecil pipinya.


“Laluna tau kok,wajah kakak kan ada di kamar Kak Althara”


Aku mengingat lukisan besar yang ada di kamar Althara. Lalu tersenyum melihat tingkah lucu nya.


“Laluna kok pinter banget sih”


“Iya kata Kak Althara Laluna harus pinter kalo ngga nanti kak Althara pergi lagi”


“Oyah?” Aku melirik Althara yang sedang mengoles selai di atas roti nya.


Wajah nya berseri seri mendengar percakapan ku dengan adiknya.


“Kak Althara gak akan pergi lagi kok,dia disini buat nemenin Laluna” ucap ku menenangkan nya dengan merapihkan rambut lurusnya.


“Tapi Kak Althara suka marah sama Laluna kalo Laluna makan coklat” anak kecil itu terus membuat ku teresenyum melihat tingkah lucu nya.


“Ya udah Kakak pergi lagi aja ya” ucap Althara menjahili adik kecil nya ini.


Wajah Laluna berubah murung dan hampir menangis mendengar Althara menjahilinya.


“Bundaaa” rengek Laluna mengadu kepada Bunda nya.


“Altharaa!!” Ucap Bunda memperingati.


“Al” aku ikut memelototi nya yang telah membuat sedih adiknya sendiri.


“Iya iya” lalu Althara menyimpan roti nya dulu dan menatap Laluna yang hampir menangis


“Kak Althara ga akan pergi lagi, Kakak disini nemenin Laluna terus sampai Laluna besar”


“Sebesar Kak Alhena?” Tanya nya mulai membaik.


“Iyah” jawab Althara sambil tersenyum manis.


“Yeeaayyy Kak Althara ga pergi lagi” Laluna mengangkat kedua tangan nya begitu bahagia.


Aku tersenyum melihat nya dan melirik Althara yang juga menatap ku dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2