
Aku masih berdiri terpatung tak percaya dengan apa yang aku dengar ini.
“Ini sebuah promosi Alhena. Jangan berfikir yang macam-macam tentang itu” ucap Daniel menjelaskan apa yang di maksud nya.
Aku tersenyum manis kepada Daniel dan berjalan menghampiri nya lebih dekat.
“Niel. Sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu” ujar ku dengan serius.
“Apa ?” Tanya nya dengan mengerutkan kening nya.
“Sebenarnya aku mau bicarakan ini nanti tapi seperti nya aku harus mengatakan nya sekarang”
Dia diam menatap ku dengan bingung.
“Aku mau resign Niel” dia terlihat terkejut dengan ucapan ku.
Aku pun menatap nya dengan tidak enak.
“Orang tua aku bikin Cafe di Bandung dan mereka ingin aku yang mengelola nya. Sebenernya Papa aku udah lama minta ini ,tapi baru kali ini aku mau memenuhi keinginan orang tua aku”
Daniel tampak begitu terkejut dan dia masih saja diam menatap ku.
“Kapan rencana kamu resign?” Tanya nya dengan kecewa.
“Minggu ini. Secepat nya” jawab ku dengan perasaan penuh terpaksa melakukan hal ini kepada Daniel yang sudah begitu mempercayai ku.
Dia menganggukan kepala nya dengan lemah.
“Oke” jawab nya dengan tersenyum begitu kaku.
“Nanti kita bicarakan lagi ini ya. Aku pulang dulu. Kamu di jemput kan?” Tanya Daniel terlihat sekali dia kecewa namun dia berusaha menutupinya.
Aku menganggukan kepala ku.
“Kalau gitu aku duluan”
“Oke”
Lalu Daniel pergi meninggalkan ku yang berdiri melihat dia berjalan menjauh. Aku tahu dia kecewa tapi aku pun tidak bisa membuat kecewa Papa dan Althara,aku harus bisa tega kepada Daniel.
Suara Handphone berdering di dalam tas ku.
Althara.
“Hallo”
“Aku sudah sampai” dia sudah sampai di depan gerbang kantor.
“Baik aku kesana” lalu aku menutup telepon nya dan menghampiri Althara disana.
Sepanjang perjalanan terlihat sekali aku terus melamun menatap luar jendela.
“Ada apa?” Tanya Althara dengan sesekali melirik ku dan kembali fokus dengan jalanan di hadapan nya.
“Aku udah bicara sama Daniel tentang rencana Resign aku” ucap ku dengan sedih.
“Lalu?”
“Sebelum aku ngomong tentang itu, Daniel malah nawarin aku untuk jadi Owner”
“Kamu mau?”
“Aku bingung. Tawaran dia terlalu berat Al, kamu bisa bayangkan aku jadi Owner? Dan aku memegang beberapa Restaurant Daniel yang sudah cukup di kenal”
__ADS_1
Althara terdiam dia tak menjawab. Raut wajah nya berubah ketus.
“Iya aku tahu kamu ga akan setuju” ucap ku menebak isi kepala nya.
“Tapi rasanya sayang aja tawaran besar itu aku biarin”
Althara masih saja terdiam sama sekali tak menggubris ku. Aku tahu dia kesal. Dia tidak akan pernah menyetujui hal itu.
Kita sampai di depan rumah ku. Dia memberhentikan mobil dan menatap ku begitu tajam. Dia pasti akan mengatakan sesuatu yang serius.
“Dengar Alhena. Aku hanya mau mengembalikan semua kebahagiaan yang sempat aku tinggalin di Bandung. Dan aku mau kita berdua kembali kesana. Tapi kalau emang kebahagiaan kamu udah ada disini dan menjadi Owner akan membuat kamu lebih bahagia aku ga akan pernah maksa kamu untuk kembali ke Bandung”
Ujar Althara dengan raut wajah yang tak bisa aku artikan.
“Aku akan tetep resign dari kerjaan ku sekarang,dan jadi Owner di Cafe ku sendiri nanti” ucap ku dengan manis.
Althara tersenyum dengan tenang dan memeluk ku.
“Ya udah aku masuk dulu ya” ujar ku sambil melepaskan pelukan nya.
“Oke. Langsung istirahat ya” pinta Althara sambil mengusap rambut ku.
Aku menganggukan kepala ku dengan manis. Lalu turun dari mobil Althara dan melihat mobil nya pergi dari rumah ku.
Aku mengganti pakaian ku dengan baju tidur. Aku mencuci wajah ku dan segera pergi ke tempat tidur.
Aku kembali memikirkan apa yang di tawarkan Daniel untuk ku. Daniel sudah sebegitu percaya nya kepada ku untuk meminta ku sebagai Owner. Tapi sayang nya permintaan Daniel terlambat. Andai saja dia meminta ketika Althara belum kembali,aku pasti akan mau menerima tawaran itu. Namun kini semua terlambat. Aku tidak mau membuat Althara kecewa.
Ke esokan hari nya. Aku sudah berada di tempat kerja dengan super sibuk nya. Banyak sekali pengunjung yang datang ke Restaurant dan membuat aku membantu seluruh pegawai untuk melayani pengunjung.
“Dea tolong layani dulu yang duduk di sana” pinta ku kepada pegawai yang baru saja masuk.
“Oh oke” lalu dia segera menghampiri pengunjung yang aku tunjuk.
Aku kembali duduk di belakang meja kerja ku dan mulai mengotak atik komputer di hadapan ku.
Riani menghampiri ku.
“Heh” sapa nya dengan masih meliuk liukan kepala nya ke arah ruangan Daniel.
“Apaa?” Ketus ku.
“Kok si Daniel jutek banget sih sama lo?” Ternyata Riani pun menyadari perubahan sikap Daniel yang biasa nya selalu menyapa ku atau tersenyum manis kepadaku.
“Iya kemarin gue udah bilang kalo gue mau resign” ujar ku dengan tangan masih terus menekan keyboard dan pandangan tak lepas dari layar komputer.
“Terus?”
Aku menghela nafas dan menatap sedih Riani.
“Tadinya gue juga ga bakalan ngomong rencana gue yang mau resign kemarin, karena gue nunggu waktu yang pas buat obrolin hal ini sama dia. Tapi kemarin dia malah nawarin gue promosi buat jadi Owner”
Mata Riani membulat,dia terkejut mendengar ucapan ku.
“Serius lo di tawarin jadi Owner?”
“Iya makanya gue juga bingung ini. Tapi gue bener-bener ga bisa buat kecewain Althara Ri”
Aku semakin bingung mengingat semua itu.
“Hidup lo ribet banget ya” ledek Riani.
Aku memicingkan mata ku menatap Riani dan memutar bola mata ku dengan kesal lalu kembali mengerjakan pekerjaan ku.
__ADS_1
Malam pun tiba aku pulang lebih cepat malam itu dan aku belum memberi tahu Althara tentang itu.
“Lo ga telepon Althara?” Tanya Riani.
“Ngga gue mau kerumah dia dulu sekarang” ujar ku sambil membereskan barang-barang di meja kerja.
“Mau ngapain?”
“Ketemu keluarga nya ,udah lama gue ga kesana. Bye” ucap ku dengan tergesa-gesa pergi karena taxi online ku sudah menunggu di depan Restaurant.
Sengaja aku tidak memberi tahu Althara jika aku sudah pulang dan akan mengunjungi rumah nya. Biarkan ini menjadi kejutan kecil untuk Laluna dan Bunda.
Aku sampai di depan rumah Althara. Aku segera turun dan mendekati gerbang rumah nya. Aku berusaha untuk mencari satpam rumah Althara yang biasanya segera membuka kan pintu ketika mendengar suara mobil di depan rumah. Namun pintu tak kunjung di buka. Akhirnya dengan hati-hati aku membuka pintu gerbang rumah Althara sedikit dan melihat ke arah posko penjaga. Penjaga rumah Althara tidak ada di posko nya. Dan pintu rumah nya pun terbuke lebar. Aku langsung masuk dengan cepat kedalam rumah Althara.
Aku mendengar seseorang berbicara di dalam ruang tamu Althara.
“Aku tahu kamu udah pulang dari Jerman makanya aku cari kamu kesini” ujar seorang wanita kepada Althara.
Aku terus bersembunyi di balik tembok rumah nya.
“Terus kamu mau apa?” Ketus Althara.
“Aku cuma mau tau keadaan kamu Althara. Selama di Jerman tiba-tiba saja kamu ngilang”
Aku berfikir bahwa wanita itu adalah teman kuliah nya selama di Jerman.
“Sekarang kamu tinggal bilang,ada urusan apa kamu kesini ? Aku ga ada waktu, aku harus jemput pacar aku sekarang” dingin Althara.
“Pacar? Kamu punya pacar?” Tanya wanita itu tak percaya.
“Alhena”
Tiba-tiba terdengar dia tertawa dengan sinis.
“Perempuan yang sering kamu ceritain itu? Ternyata dia ada?” Aku kesal dengan cara dia berbicara.
Dengan kesal aku masuk kedalam rumah Althara dan membuat mereka terkejut.
“Alhena” panggil Althara dengan pelan.
“Hay” sapa ku manis dan langsung melingarkan satu tangan ku di pinggang nya.
“Kamu kenapa ga kabarin aku dulu” panik nya menatap ku.
“Aku mau ketemu sama Bunda dan Laluna” jawab ku.
“Ini siapa?” Tanya ku memandang manis wanita yang ada di hadapan ku. Namun dia malah terlihat tak senang dengan kehadiran ku.
“Kenalin? Aku teman dari lama Althara” ujar nya mengulurkan tangan dengan sinis.
Aku menatap wajah Althara ketika dia mengatakan jika dia teman lama Althara. Aku tidak ingat Althara memiliki teman wanita yang sudah lama sekali.
Aku menyambut uluran tangan nya.
“Alhena” ucap ku memperkenalkan diri.
“Tania”
ujar nya membuat ku terkejut menatap nya. Aku sampai tak bisa berkedip ketika dia menyebutkan nama nya.
Apa dia Tania yang aku tahu? Apa dia wanita yang dulu sering aku dengar?
Lalu aku menatap bingung Althara di samping ku,dengan wajah yang begitu shock.
__ADS_1
Apakah ini adalah Tania teman dekat nya dulu semasa SMA? Dan bahkan mereka bertemu ketika kuliah di Jerman.
Kenapa Althara tidak pernah menceritakan nya kepadaku?