7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Dia sudah mengganggu fikiran ku


__ADS_3

Suara klakson terdengar begitu kencang memecah keheningan ku dengan Roni. Dengan sigap Roni langsung memindahkan mobil nya ke tempat parkiran dengan posisi yang benar dan tidak lagi menghalangi jalanan. Aku masih terdiam di tempat ku memikirkan kata-kata Roni yang berhasil mengganggu fikiran ku.


Roni mau berubah seperti ini karena ku,dia termotivasi dengan pesan yang aku ucapkan dulu,dan kenapa dia harus bilang jika dia berharap aku bisa menyukai nya?


“Alhena” panggil seseorang memegang dagu ku dan mengangkat nya dengan lembut.


“Hah iya?” Aku tersentak kaget dengan sentuhan tangan di dagu ku.


Althara.


“Kamu kenapa?” Tanya nya melihat ku yang seperti orang linglung.


“Aku gak apa-apa” jawab ku dengan tersenyum kaku berusaha untuk tenang.


Lalu Roni kembali menghampiri ku setelah dia memarkirkan mobil nya. Althara melihat Roni dan mengkerutkan kening nya berusaha untuk mengenali dia. Roni dan Althara saling tatap dengam bingung.


“Althara kenalin ini Roni teman satu kelas ku dulu. Ron Ini Althara pacar ku” ucap ku memperkenalkan mereka satu sama lain.


Roni menatap Althara begitu tak enak saat ku sebut bahwa Althara adalah pacarku. Sementara Althara menatap Roni dengan bingung.


“Roni” ucap Roni sambil menjabat tangan Althara.


“Althara” jawab Althara dengan terus menatap mata nya yang begitu mencurigakan.


“Ini pacar kamu yang dari sekolah?” Tanya Roni yang berhasil mengingat nama Althara.


Tentu saja nama itu pastk tidak akan asing untuk angkatan kami.


“Iya Ron. Ini pacar aku dari SMA” jawab ku dengan menggandeng tangan Althara,agar membuat nya semakin tak nyaman.


Roni terlihat tak peduli dari raut wajah nya.


“Alhena. Boleh gue minta nomor lo?” Pinta nya begitu berani di depan Althara.

__ADS_1


Aku menatap Althara dengan bingung dan begitupun Althara yang menatap ku dengan kebingungan.


“Boleh kan Althara. Gue kan teman satu SMA nya,mungkin aja nanti kita ngadain reuni atau apa itu gue kan perlu hubungi Alhena” ujar nya meminta izin kepada Althara.


“Ya silahkan selama Alhena nya mau” jawab Althara.


Aku masih terus menatap Althara bingung dan tidak tahu harus seperti apa.


“Ayo Al” ujar Roni menyodorkan handphone nya.


“Oh iya” jawab ku mengambil alih handphone dari tangan nya dengan ragu-ragu.


Lalu dengan terpaksa aku memberikan dia no handphone ku.


“Nanti gue hubungi ya Al” ujar Roni dengan tersenyum padaku.


“Bye bro” Roni menepuk bahu Althara lalu pergi dari sana.


Althara terus menatap punggung Roni yang semakin menjauh,sementara aku terus memijat kening ku memikirkan apa yang akan terjadi setelah aku memberikan nomor ku kepada Roni.


“Iya. Dia temen satu kelas ku namanya Roni,tapi dulu dia ga kaya gitu” ucap ku dengan memandang dia yang mulai hilang di pintu lift.


“Ga kaya gitu gimana?”


“Dulu itu dia cupu Althara . Ga pernah ada yang nemenin,selalu di bully temen satu kelas aku. Dia terus aja belajar dan belajar di kelas nya sampai dia lupa bergaul,terus aku kadang suka nemenin dia kalo lagi sendiri” ucap ku mengingat masa-masa sekolah dulu.


“Pantes aja” ujar nya menoleh ke belakang mencari Roni yang sudah tidak ada.


“Pantes aja apa?”


“Ngga” jawab Althara yang malah membuatku bingung.


“Udahlah. Aku juga ga mau nanggepin dia kalau dia ngirim pesan ga jelas” ucap ku dengan malas.

__ADS_1


“Ayo kita pulang” aku menggandeng tangan Althara untuk segera pergi dari sana.


Hebat sekali fikir ku saat itu. Karena baru saja aku dan teman-teman ku membicarakan tentang Roni dan perubahan nya,lalu tiba-tiba dia datang dan mengatakan hal yang amat sangat tak terduga. Aku tak percaya kata-kata ku dulu bisa memotovasi dia hingga seperti ini. Aku saja hampir lupa jika aku pernah mengatakan itu kepadanya. Dulu aku hanya merasa kasihan saja kepada nya,karena dia terlalu banyak belajar sehingga lupa dengan dunia nya. Ketika dia mencari teman,dia malah di jauhi dan di anggap tidak menyenangkan,dan akhirnya aku merasa kasihan dan terkadang aku selalu menemani nya di kelas. Tata juga dulu keterlaluan,dia selalu mem bully Roni habis-habisan,dia pun pernah mengatakan tidak mau berpacaran dengan laki-laku kutu buku seperti nya. Dan aku selalu meminta maaf kepada Roni atas perlakuan teman-teman ku walaupun sebenarnya Roni tak pernah memperdulikan omongan mereka.


Keesokan hari nya di pagi hari aku baru saja terbangun dari tidur ku dan langsung mencari handphone ku dengan mata yang masih berat untuk bangun. Tangan ku meraba sekitar tempat tidur untuk meraih handphone ku yang semalam aku tinggal tidur di samping ku. Aku menemukan handphone ku dan langsung mengecek apa ada pesan dari Althara atau tidak. Namun malah ada nomor yang tak ku kenal telah mengirim ku pesan beberapa menit yang lalu.


-pagi Alhena,selamat beraktifitas


Aku mengerutkan kening ku dan coba memikirkan siapa dia. Dan ketika teringat tentang Roni kemarin yang baru saja memiliki nomor ku,aku langsung membuka mata ku lebar-lebar dan bangun dari tidur ku. Aku terus menatap layar ponsel ku dengan gelisah.


“Ini Roni?” Tanya ku kepada diriku sendiri.


“Apaan sih dia kirim pesan kek gini, ga jelas banget deh. Kalo Althara tahu bisa mati gue” ucap ku memberi tahu diri sendiri begitu bahaya nya pesan yang di kirimian Roni padaku.


Aku coba untuk membiarkan pesan itu dan tak mau membalas nya. Lalu aku melempar nya kembali ke tempat tidur dengan kesal dan berusaha mengabaikan nya.


“Kalau gue diemin nanti dia malah sering ngirim pesan gitu” gumam ku berfikir.


Lalu aku kembali mengambil handphone ku dan memikirkan balasan untuk Roni agar dia tidak seenak nya mengirimkan pesan tidak penting seperti itu.


-Apaan sih lo Ron ga jelas tiba-tiba kirim chat kaya gitu,lol-


Balas ku dengan ketus.


Tidak lama balasan pesan dari Roni masuk ke dalam handphone ku.


-akhirnya di bales juga. Alhena gua udah lama cari lo Al,makanya gue seneng banget pas ketemu lo dan dapet nomor lo-


-mo apa lo cari gue? Cuma mau ngirim pesan ga jelas kek gini?-


-mau bilang makasih Al. Makasih udah ngerubah gue jadi kaya gini-


Balas nya lagi-lagi membuat ku merasa tak nyaman.

__ADS_1


Aku berdecak kesal dan tak lagi membalas nya. Aku mengusap kasar wajah ku dan melemparkan handphone ke tempat tidur dengan emosi. Lalu aku pergi ke kamar mandi dengan hentakan kaki yang tersengar kencang.


Roni sudah mengganggu fikiran ku.


__ADS_2