7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi


__ADS_3

1 tahun berlalu.


Aku sudah duduk di kelas 12 sekarang,dan Althara sudah menjalani masa masa kuliah nya di Universitas nya sekarang.


Hubungan ku dan Althara berjalan dengan baik. Bahkan kami tidak pernah menemukan masalah yang akan membuat kami bertengkar hebat sedikitpun. Jika pun ada perselisihan,Althara selalu mengalah untuk ku bahkan walaupun aku salah,dia akan tetap mengalah,begitu kan biasa nya perempuan tak mau di salahkan.


Althara selalu bisa mengimbangiku, dia hampir tidak pernah absen untuk mengantar jemput ku di sekolah. Dia memang sudah di sibukan oleh tugas di kampus nya, namun dia lebih banyak meluangkan waktu nya untuk ku. Dia sering mengajak ku bermain dirumah nya dan bertemu dengan Bunda dan Ayahnya. Sama seperti Althara, aku pun memanggil kedua orang tua nya dengan nama Bunda dan Ayah, aku lebih dekat dengan kedua orang tua Althara karena mereka sudah benar-benar menganggap ku sebagai anak mereka.


Aku mengetuk sebuah pintu rumah yang begitu besar. Sampai ada seseorang yang membuka nya.


“Eh Alhena” sapa Bunda begitu melihat ku di depan pintunya.


“Hay Bunda” aku langsung mencium punggung tangan nya dan mencium kedua pipinya.


“Masuk sayang,Althara masih di kamar nya”


“Iya Bunda”


Aku duduk di kursi ruang tamu.


“Kalo mau, susul aja Althara aja ke atas, biasanya dia kan sering buru-buru orang sekarang biar dia rasain kalo di buru-buru itu gimana” ujar Bunda sambil tersenyum mengingat watak anak nya yang satu itu.


Bunda memang benar,Althara sesekali harus merasakan bagaimana rasanya di buru-buru oleh orang lain.


“Kamar nya belah mana Bunda?” Tanya ku.


“Naik aja ke atas nanti juga kamu bisa tebak yang mana kamar nya” Bunda tersenyum lalu pergi meninggalkan ku.


Aku pergi melangkahkan kaki menuju tangga untuk sampai ke lantai atas. Aku sering berkunjung ke rumah Althara, namun tak pernah masuk ke dalam kamar nya. Aku di sini paling hanya transit sebentar, atau hanya belajar memasak dengan Bunda,karena Bunda jago sekali memasak apapun, apalagi buat kue dan bolu.


Aku menginjakan kaki ke tangga terakhir di lantai dua itu. Disana ada ruang keluarga dan ada tempat GYM yang terlihat, juga beberapa pintu yang tertutup.


Namun ada sebuah pintu yang menarik pehatian ku. Sebuah pintu besar berwarna putih dengan gantungan Bintang berwarna hitam dan ada huruf A di dalam bintang nya itu. Sudah bisa ku tebak itu pasti kamar Althara.


Aku mendekati pintu itu dan mencoba mengetuk nya,namun ternyata pintu kamar nya tak di kunci dan tidak tertutup rapat.


“Althara” panggil ku dengan pelan. Aku membuka lebar pintu nya.


Kamar itu besar namun tampak berantakan dengan banyak nya kanvas dimana mana dan cat yang tersimpan di setiap sudut ruangan. Althara sudah mulai mahir dalam melukis, namun aku tak pernah melihat hasil lukisan nya karena dia bilang jika dia masih pemula dan lukisan nya belum terlihat bagus.


Aku melihat beberapa lukisan yang tergeletak di samping tempat tidur nya. Begitu bagus dan tampak nyata. Ini yang di sebut Althara belum sempurna ? Aku begitu kagum melihat nya.


Ada sebuah kanvas besar yang masih berdiri di dekat meja belajar nya. Seperti nya lukisan ini belum selesai di buatnya, karena kanvas nya di tutupi oleh kain putih dan beberapa cat masih tersimpan di samping nya. Ada sebuah kamera juga di sana. Kamera ini pernah ku lihat beberapa kali di bawa oleh Althara.


Laptop Althara tiba-tiba menyala di atas meja belajar nya. Sebuah notifikasi E-mail masuk ke dalam laptop nya. Aku menggeser kan mouse nya untuk mematikan laptop Althara karena seperti nya laptop ini tak pernah beristirahat namun akud di buat terkejut ketika melihat sebuah fhoto diriku di layar laptopnya.


Itu fhoto ku, ketika pertama kali mengikuti MOS di sekolah dan berdiri di tengah lapangan. Aku masih ingat betul saat itu,aku sedang mendapatkan hukuman dengan siswa baru lain nya. Tetapi di dalam fhoto ini Althara hanya memotret ku sendiri.


Wajah ku masih bergitu polos dengan rambut yang di kuncir kuda dan wajah yang dingin tanpa ekspresi. Bisa bisa nya Althara memotret ku di saat aku di hukum di tengah lapangan. Aku lihat beberapa fhoto lain nya di galeri laptop nya.


Ternyta begitu banyak fhoto ku di dalam galeri nya. Dan fhoto itu di ambil ketika MOS jauh sebelum aku tahu adanya makhluk dingin seperti Althara. Ternyata benar apa yang di katakan Althara, dia sudah memperhatikan ku ketika aku mengikuti MOS. Dia memotret ku secara diam-diam. Aku tak percaya karena pertama kali aku bertemu dengan Althara, dia begitu dingin bahkan terkesan menyebalkan. Tapi ternyata, jauh sebelum itu dia sudah memperhatikan ku.


Aku perhatikan kanvas yang tertutup kain di samping ku. Aku berdiri dan menyingkap perlahan kain putih itu. Dan, terlihat sebuah sketsa yang belum sempurna di buat Althara. Sketsa wajah perempuan yang sedang tersenyum gembira dengan sebuah baju berkerah. Aku memicingkan wajah ku, karena perempuan yang ada di lukisan itu begitu tak asing untuk ku. Itu aku,walaupun lukisan ini masih berupa sketsa tapi aku bisa mengenali ku di dalam lukisan itu.


Aku tersenyum begitu bahagia melihat Althara melukis wajah ku.


“Udah liat-liat nya?”


Althara dengan celana pendek dan baju polos berwarna putih,baru saja keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk di tangan nya.


Aku menatap nya sambil tersenyum.


“Aku ga nyangka, ternyata aku udah punya fans dari waktu MOS”

__ADS_1


“Bukan nya emang udah banyak yang ngincer kamu saat itu?” Ledek nya sambil menggeser pintu lemari pakaian nya yang berwarna hitam putih.


Suasana di dalam kamar Althara bertema monokrom, jadi tak heran jika hampir semua benda di dalam kamar nya hitam atau putih saja. Ya terkesan elegant.


Aku mengerutkan kening ku.


“Banyak yang ngincer? Masa ?” Ucap ku berpura-pura tak tahu. Padahal aku tahu persis semasa MOS banyak kakak kelas yang bermodus mengajak ku berkenalan dan meminta no telepon.


“Tapi aku ga tau kalo dari MOS kamu sering fhoto aku diem-diem kaya gini” aku terus tersenyum senang meledek nya.


“Kamu fikir aku mau fhoto kamu secara terang-terangan?”


Ya memang bukan itulah Althara. Dia sudah terkenal dengan misterius nya.


Dia menyemprotkan sebuah parfume ke pakaian yang baru saja di kenakan nya.


Aku menutup kedua lubang hidung ku sedikit dengan jari telunjuk. Althara baru menyadari hal yak tak kusukai. Bau parfume yang berlebihan.


“Kenapa?” Tanya nya sambil terkekeh.


“Banyak banget sih pake nya Al” kesal ku.


“Ini dikit Al” ujar nya berdalih.


Dia mendekatiku tanpa ku curigai lalu dia menyemprotkan begitu banyak parfume ke tubuh ku.


“Ini baru banyak” ucap nya sambil tertawa.


“Althara Stop”


dia tak mendengar ku, dia terus tertawa dan menyemprotkan banyak parfume di sekeliling ku. Aku memeluk nya dan terus menjauhkan tangan Althara dari ku.


“Altharaa udahh!!”


“Uhuk…uhuk..” aku terbatuk secara tiba-tiba seperti tersedak bai parfume.


“Alhena” panik Althara.


Aku memegang tenggorokan ku sambil terus terbatuk.


“Alhena aku minta maaf, aku bawain minum ya”


Althara masih terlihat panik dari raut wajah nya.


Aku menganggukan kepalaku.


“Aku bawa minum ya, air putih mau?” Tanya nya sambil terus mengelus punggung ku dengan khawatir.


“Es jeruk” jawab ku menahan tawa.


Wajah Althara berubah menjadi kesal melihat ku yang sudah membuat nya panik.


Aku tertawa begitu bahagia dan terbahak bahak melihat begitu panik nya Althara.


“Alhenaaaa!!!” Panggil nya dengan kesal.


Aku berlari mengitari kamarnya, dan Althara mengejarku.


“Iya iya maaf” ucapku terus menghindar.


“Ngga!” ucap Althara begitu kesal.


Dia menangkap ku,dia memeluk ku dan menggelitik ku.

__ADS_1


“Oke.. oke aku minta maaf”


“Please Altharaaa…” teriak ku.


Dan dia berhenti menggelitik ku.


Dia memeluk ku dengan tatapan nya yang masih pura-pura marah. Namun tawa ku masih belum bisa hilang menertawakan kepanikan nya.


“Sorry, aku ga kuat liat ekspresi kamu yang khawatir banget kayak gitu” ucap ku sambil terus menahan tawa.


“Kamu ga boleh bikin aku khawatir kaya gitu lagi” ujar nya.


“Okee” ucap ku masih saja menahan tawaku.


“Kamu harus janji” ucap nya mulai terlihat serius sambil memeluk pinggang ku.


“Oke Althara aku janji” ucap ku melingkarkan tangan di leher nya.


Dia menatap ku begitu dalam.


“Stella meus” ucap nya. Membuatku mengerut kan kening.


“Stela meus?” Ulang ku bertanya.


“Itu bahasa asing,artinya kamu nyebelin” ucap nya sambil menyentil kecil kening ku.


Aku mengusap nya kesakitan.


“Kamu juga nyebelin Althara”


“Tapi aku sayang kamu” manis ku.


Althara menatap ku begitu dalam, aku masih selalu merasa jika ada sesuatu yang di fikirkan nya jika dia menatap ku seperti ini,tapi dia selalu meyakinkan ku jika tidak ada apa apa,dia hanya senang menatap ku seperti ini.


“Alhena,jangan pernah tinggalin aku apapun yang terjadi” lirih nya lagi dengan kalimat yang tidak pernah asing di telingaku.


“Itu gak akan pernah terjadi Althara”


Jawaban ku pun akan selalu sama seperti itu.


“Kamu harus janji” ucap nya menuntut keyakinan.


“Kenapa?” Tanyaku bingung.


“Aku ga tahu, suatu saat mungkin kita akan tertimpa masalah yang amat begitu besar, aku takut kamu ga bisa bertahan dengan masalah itu”


“Masalah seperti apa?” Tanyaku tak mengerti dengan ketakutan nya yang belum tentu pasti.


“Aku ga tau,aku cuma takut kamu ga bisa bertahan apapun masalah nya itu”


Aku menghela nafasku,dan merekatkan tangan ku di lehernya.


“Althara. Selama ini kita udah bisa hadapi masalah kita sebesar apapun itu, kita udah bisa menghadapi segala macam masalah yang mengusik hubungan kita,tapi kamu lihat kan,kita baik-baik aja,dan akan selalu baik-baik aja. Karena kita tahu,perasaan yang kita miliki itu gak mudah untuk di hancurkan. Mana mungkin aku ninggalin kamu cuma karena suatu masalah yang pasti akan ada jalan keluarnya”


Dia menatap ku begitu dalam untuk sejenak.


“Jangan pernah tinggalkan aku apapun yang terjadi” ucap nya lagi seolah dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan.


Aku menghela nafasku.


“Itu permintaan atau perintah?” Tanyaku sambil tersenyum.


“Keduanya”

__ADS_1


Althara tersenyum,lalu dia mencium bibirku dengan lembut.


__ADS_2