
Keesokan nya,aku pergi lebih awal ke sekolah. Berusaha menghindar dari Althara yang bisa saja masih menjemputku walaupun aku tidak tahu dia masih mau menjemput ku atau tidak. Dia juga tidak ada mengirim pesan apapun kepada ku,karena sepertinya dia tau jika aku menghindarinya.
Aku masih belum mau bertemu dengan Althara. Cerita dari Ghea masih begitu melekat di fikiran ku, bahkan tadi malam aku terus memikirkan Althara dan cerita Ghea. Masih belum bisa ku percaya, jika perasaan ku sudah hancur begitu saja.
“Alhena di panggil bapak kepala sekolah dan Bu Renatha di Ruang Guru” seru seorang siswa begitu aku sampai di dalam kelas.
“Oh oke” ucap ku.
“Gue ke Ruang Guru dulu ya” teman-teman ku hanya menganggukan kepala.
Sesampainya di Ruang Guru aku sudah melihat Bu Renatha,Edo,Rizal,Kevin dan Althara. Althara menatap ku dingin,tatapan itu kembali tersirat di wajah nya setelah sekian lama aku lupa dengan sikap dingin nya.
“Duduk Alhena” pinta Bapak Kepala Sekolah ini yang sekaligus adalah Paman ku.
“Iya pak” aku duduk di samping Edo dan berada tepat di hadapan Althara.
Althara sama sekali tidak menatap ku sedikit pun.
“Bapak ada pengumuman yang sangat penting”
Bu Renatha terlihat begitu bahagia sekali dari raut wajah nya,aku sudah bisa menebak ini pasti akan menjadi berita baik.
“Kemarin pengumuman pemenang lomba musik antar sekolah yang sudah di lakukan di balai kota telah mengeluarkan hasil final untuk juara”
Aku melempar pandang kepada semua orang yang berada disana. Kita mulai tegang mendengar hasil nya.
“Kita juara 1 Lomba Musik se Provinsi!” Ucap Pak Kepala Sekolah ini yang sekaligus Paman ku itu.
Semua orang di dalam ruangan bersorak gembira terkecuali Althara yang hanya diam melamun di tempat duduk nya.
Bu Renatha pergi mengambil piala yang sudah di sembunyikan nya di balik rak buku.
Semua orang berdiri untuk memegang piala itu dengan begitu antusias.
Althara hanya tersenyum tipis kepada teman-teman nya yang begitu terlihat bahagia.
Aku juga jadi merasa awkward melihat dia seperti itu.
“Ayo kita berfhoto bersama” ucap Pak Kepala Sekolah.
Bu Renatha langsung mengeluarkan Handphone dan mengatur posisi kita untuk berfhoto.
Pak kepsek ini berdiri di tengah dengan gagah memegang Piala Juara 1 ini di antara aku dan Rizal.
“Althara berdiri di samping Alhena kamu disitu ga keliatan” pinta Bu Renatha yang melihat Althara malah berdiri di belakang Rizal.
Aku menatap Althara dengan canggung.
Althara berjalan berdiri di samping ku namun dia membuat batas antara kami berdua. Dia di samping ku namun kita merasa jauh.
Bel istirahat pertama sudah berbunyi.
“Al ayok kek kantin”
sebenarnya aku ingin sekali pergi ke kantin, karena rindu menikmati jajanan kantin dengan ketiga teman ku, tapi aku benar-benar tidak siap jika tiba-tiba di kantin aku bertemu dengan Althara.
“Gue mau ke kantin, tapi gue mau ngajak ke kantin belakang” ucap ku mengingat jika kita memiliki kantin belakang yang tidak pernah kita kunjungi. Karena menurut seluruh siswa disini, yang berisitirahat di kantin belakang hanya siswa-siswa yang bermasalah dan terkenal nakal.
Semua teman ku saling lempar pandang, aku tidak menunggu jawaban mereka dan langsung melangkah pergi dari kelas. Tentu saja ketiga teman ku mau tidak mau mengikuti ku.
Kita sampai di kantin belakang.
Kita berempat melirik sekeliling kita dengan penuh rasa keanehan.
__ADS_1
“Lo yakin mau makan disini?” Ucap Tata setengah berbisik.
Ya terlihat begitu menyeramkan. Mereka makan dengan cara yang tidak sopan,ada yang duduk di meja, ada yang makan sambil berdiri, baju mereka juga di keluarkan dari celana, bahkan beberapa siswa melepaskan dasi nya dengan berani,itu semua adalah hal yang bertolak belakang dengan aturan sekolah. Jika saja ada guru yang sedang sidak kesini, seluruh siswa ini pasti akan ketar ketir kabur. Tapi hebat nya, kantin ini jauh dari jangkauan guru-guru, akhirnya seluruh siswa yang datang kesini bisa berbuat bebas melakukan pelanggaran.
“Udah deh kalian ga usah tegang gitu, kali-kali kan kita coba makan disini” ucap ku dengan tenang.
Aku mulai membuka buku menu yang sudah ada di atas meja.
Beberapa siswa menghampiri meja kami.
“Hay cantik,kalian kelas mana ? Kok aku baru liat kalian disini” goda saeorang siswa laki-laki yang berdiri di samping ku.
Aku berusaha tak memperdulikan nya.
“Kalian mau pesen apa?” Ucap Kepada teman-teman ku yang sudah terlihat ketakutan.
Mereka menggelengkan kepala nya.
“Hey gue ngomong sama lo, lo punya kuping kan?” Kesal laki-laki ini.
Aku menatap nya,dan memberikan senyuman kecut kepadanya.
“Maaf kak, tapi saya disini mau makan bukan mau cari teman” jawab ku dengan sinis. Membuat dia di tertawakan oleh seluruh siswa disana.
“Sialan lo, berani banget datang kesini pake belagu lagi!” Emosinya.
Aku terus menatap nya dengan tenang.
“Lo kelas 10 unggulan kan? Lo berani dateng kesini dengan songong nya ya”
“Aku udah bilang aku cuma mau makan disini jadi ga usah ganggu” ucap ku dengan berani.
Semua teman-teman ku melihat ku begitu panik. Dan mereka sudah terlihat ingin kabur dari sana.
Aku heran dengan diam yang begitu tiba-tiba dari siswa so berkuasa ini. Aku kira setelah menggebrak meja dia akan banyak memaki ku,tapi ini dia hanya diam. Aku melirik siswa itu, namun tatapan siswa itu terpaku kepada orang yang baru saja datang dan berdiri di belakang ku.
Althara.
Aku membuang wajah ku ketika aku melihat nya berdiri tegap di belakang ku dengan tatapan nya yang sinis kepada siswa yang sedang menggangguku.
“Althara lo ngapain disini?” Tanya siswa yang tadi so berani.
“Emang kenapa? Keberatan gue makan disini?” Ucap nya dengan ketus.
“Ya ngga lah, kenapa harus keberatan” jawab nya dengan nada yang begitu tegang.
Althara mendelikan mata kepada siswa itu,lalu dia menarik tangan ku begitu kencang untuk pergi dari sana dan teman-teman ku segera mengikuti ku dari belakang.
Dia terus menyeretku menjauh dari kantin yang di sarang siswa ber aura negatif itu.
“Udah lepasin gue” ucap ku melepaskan tangan ku dari genggaman nya ketika kita sudah sampai lorong sekolah.
Althara menghentikan langkah nya dan menatap ku begitu kesal.
“Lo ngapain pergi ke kantin sana?”tanya nya dengan tak kalah kesal nya dengan ku.
“Ya gue mau cari makan lo kira gua mau ngapain ke kantin ?” jawab ku dengan sinis.
“Ya kenapa harus disana?” Tanya nya lagi.
“Lo gak tau orang-orang yang ada di kantin sana itu orang-orang yang ga punya otak?!” ucap nya dengan sedikit nada tinggi.
Aku menatap nya dengan tajam.
__ADS_1
“Mending mereka ga punya otak, dari pada lo ga punya hati” ucap ku akhirnya dengan begitu penuh dendam.
Althara terkejut dengan mendengar umpatan yang keluar dari mulut ku. Dia menatap teman-teman ku yang ada di belakang ku untuk bertanya apa maksud dari perkataan ku.
namun teman-teman ku malah bingung dan takut.
“Euh Al, kita duluan ke kantin depan ya keburu bel masuk”
“Iya Al, kita duluan ya bye Al, permisi kak Althara” pamit mereka berusaha untuk menghindar.
Tatapan ku masih tajam menatap Althara dengan rasa kesal mengingat cerita nya dengan manusia bernama Tania itu.
Mataku mulai basah, namun aku menahan nya untuk jangan sampai menetes.
“Lo kenapa?” Tanya nya bingung melihat ku yang sudah mulai sedih.
“Gue tahu selama ini kenapa lo tiba-tiba baik sama gue, gue akhirnya sadar kenapa sikap lo berubah drastis sama gue, karena lo cuma berusaha manfaaatin gue. IYA KAN ?” Ucapku dengan penuh emosi.
“Maksud lo apa sih ? Siapa yang pura-pura baik sama lo, dan untuk apa gue manfaatin lo?” Tanya nya yang masih belum mengerti.
“Gue tahu, antara lo, Devan dan Tania” ucapku membuat dia tersentak kaget.
“Jadi karena ini lo hindarin gue?” ucap nya.
Aku sedikit menyunggingkan senyum ku.
“Kenapa ? Lo kaget, akhirnya gue tahu kisah cinta segitiga lo”
“Gue juga akhirnya tahu, kalo lo cuma manfaatin gue demi balas dendam lo sama Devan karena dia udah rebut cewe yang lo suka kan ?” air mata ku akhirnya menetes dan mengalir di pipiku.
“Balas dendam apa ? Gue gak pernah punya dendam sama siapapun Alhena” ucap nya begitu yakin.
“Cukup Althara. Cukup” kesal ku.
“Gue ga mau denger apa-apa lagi. Dan mulai sekarang jangan pernah ganggu gue lagi!” ucap ku dengan tegas dan tajam.
Aku langusng pergi dari hadapan nya,meninggalkan Althara yang masih berdiri di tempat nya dengan kebingungan.
Aku melihat Devan di sebrang koridor, dia sudah berdiri di sana entah sejak kapan. Aku menyeka air mata ku dan langsung berlari meninggalkan tempat itu.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi.
“Al gue duluan ya udah di jemput” ucap Ghea.
“Eh gue juga tuh” ucap Venna.
“Ya udah kita duluan ya Al,” tambah Tata.
“Oke bye”
“Bye Alhena”
Aku melambaikan tangan kepada tiga teman ku.
“Alhena”
Devan menghadang ku.
“Aku anter kamu pulang ya” ucap nya.
Aku yakin tadi Devan melihat pertengkaan ku dengan Althara, dia mungkin mengira jika ini adalah kesempatan dia untuk mendekati ku.
Terdengar suara motor yang begitu kencang di parkiran belakang Devan. Itu Althara, dia melihat ku dan Devan begitu dingin, lalu dia melajukan motornya begitu kencang dari balik helm nya. Aku yakin Althara mengira bahwa aku sudah kembali menerima Devan.
__ADS_1
“Ngga kak, aku di jemput Papa” ucap ku sambil pergi meninggalkan Devan disana.