7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Hatiku hancur seketika


__ADS_3

Keeesokan hari nya di hari senin. Aku kembali ke dunia ku yang normal, tak ada lagi dispensasi, tak ada lagi latihan band, dan tidak ada lagi yang menjemput ku untuk sekolah.


Entahlah, aku hanya merasa hati ku merasa ada yang hilang. Biasanya pagi hari akan selalu ada orang yang menunggu ku di luar gerbang dengan motor besar nya. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Aku menghampiri jendela ku dan melirik ke bawah jendela. Aku masih saja berharap jika Althara ada disana dengan motor nya. Namun seketika aku menertawakan diriku dan menggelengkan kepala ku menghilangkan fikiran bodohku tentang Altharau


Aku menjauh dari kaca jendela dan menyambar tas ku.


Tin..tin..tin


Suara klakson yang tak asing terdengar di luar rumah ku langsung menghentikan langkah ku.


Aku langsung berlari mendekati lagi jendela, dan melihat siapa yang sudah membunyikan klakson di depan rumah ku,dan ternyata benar, itu Althara. Aku tersenyum begitu bahagia ketika melihat nya. Aku meloncat kegirangan melihat Althara ada depan rumah ku.


Aku berlari keluar kamar, dan segera menghampiri Althara.


Terlihat Mama dan Papa yang sudah sarapan di meja makan.


“Pagi ma,pa” sapa ku sambil mencium kedua pipi mereka.


“Hay sayang kok buru-buru sih, itu di luar siapa ?” Tanya Mama.


“Itu Althara mah” jawab ku sambil tersenyum.


“Bi maaf, aku minta sarapan. nya di bekal ya” teriak ku kepada Bi Inah.


“Loh kok masih dijemput, masih ada latihan?” Tanya Papa.


Mama tersenyum meledek sambil menatap ku.


“Apaan sih mah, kok senyum nya gitu sih?”


“Kenapa ? mama kan cuma senyum emang salah yah pah?”


Aku memicingkan mata kepada mereka berdua.


“Ya mungkin karena kita searah jadi sekalian aja Althara jemput aku” ucap ku dengan tersipu malu.


“Oh searah” kali ini Papa yang tersenyum sambil meledek ku.


“Bi Udah ?” Tanya ku dengan memalingkan wajah saltingku di depan orang tua ku.


“Udah udah Non ini” ucap bibi sambil buru-buru memberikan kotak sarapan kepadaku.


“Bye ma,pa Alhena duluan yaa dadahhh” pamit ku setelah mencium punggung tangan mereka dan melambaikan tangan kepada mereka.


Aku berlari keluar rumah dan langsung menghampiri Althara, dengan jantung yang berdetak begitu kencang.


“Hay” sapaku dengan manis.


“Hay” jawab nya lalu dia tersenyum menatap ku.


Aku jadi merasa malu jika dia sudah menatapku dengan seperti itu. Membuat hati ini terus menari.


“Ayok” ajak nya.


“Ayok” aku langsung memakai helm ku dan naik ke atas motor nya dengan senyuman yang terus terpancar di wajahku.


Aku tidak bertanya kenapa dia menjemputku hari ini walaupun tidak ada latihan lomba,aku pun tidak ingin dia merasa kikuk. Dan aku pun tidak ingin kehilangan ojek tampan ku.


Perasaan yang ku miliki sekarang memang tak akan bisa aku sangkal. Aku sudah mulai jatuh cinta kepadanya dan aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu tumbuh. Sikap dingin Althara yang memebuat ku kagum kepadanya membuat aku selalu merindukan sikap tak acuh nya. Dan cara dia yang selalu menolong ku, sudah membuat perasaan ku berbunga-bunga setiap kali dia menjadi pahlawan. Dan aku harap, perasaan yang aku miliki juga di bisa di rasakan oleh Althara.


Kami sampai di sekolah.


Aku turun dari motor nya dan memberikan helm biru itu kepada Althara.


“Aku duluan ya” ucap ku sambil merenyitkan dahi karena aku merasa begitu malu di lihat siswa lain jika aku bersama Althara.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban nya, aku langsung melangkah pergi dari parkiran dengan menundukan kepala karena malu merasa asing setelah satu minggu aku tidak belajar dan masuk pagi.


Baru saja aku menaiki tangga, seseorang berjalan mengiimbangiku.


“Kamu lupa kelas kita di lantai yang sama?” Althara.


Aku menatap nya bingung. Kenapa dia malah mengejarku ? Apa dia tak risih dengan siswa-siswi yang berbisik-bisik ketika melihat kami? Lalu aku tersenyum kepadanya. Sudahlah, biarkan saja mereka melihat kita bersama.


Aku dan Althara berjalan beriringan tanpa bicara. Dia berjalan dengan santai,dan tatapan nya terus lurus kedepan tak peduli dengan orang-orang yang berbisik-bisik membicarakan kami. Berbeda dengan ku, yang terus menunduk malu karena kini aku sudah menjadi bahan gosip satu sekolah.


“Aku masuk duluan aya” ucap ku ketika sampai di depan kelasku.


Althara menganggukan kepalanya lalu dia pergi ke kelas nya.


Aku pun masuk ke dalam kelas dengan perasaan begitu gembira. Terlihat ketiga teman ku sudah berkumpul di meja masing masing.


“Hay girl…. Good morning..” sapaku dengan berteriak.


Aku merasa pagi ini adalah pagi yang paling bahagia yang pernah aku alami.


Namun mereka menyambut ku dengan bingung dan saling melempar pandang.


Aku menyimpan tas ku di atas meja dan duduk di kursi ku sambil menatap mereka dengan aneh.


“Kenapa ? Kok kalian malah bingung gitu ketemu gue? Ga kangen apa sama gue?”


Venna menunjuk Ghea dengan dagu nya seolah meminta Ghea untuk membuka mulut. Namun Ghea masih diam seperti berat untuk berbicara.


“Heh kenapa ? Kok kalian aneh gini?”


Ghea menghela nafas berat.


“Al gue mau cerita sama lo, tapi nanti aja ya pas jam istirahat. Ceritanya panjang banget”


Aku yakin ini adalah hal besar yang harus aku ketahui. Aku menggelengkan kepalaku dengan kesal.


Namun Ghea terus melempar pandang kepada Tata dan Venna. Terlihat sangat berat untuk memulai cerita.


“Al. Lo inget waktu kita cerita tentang Devan kenapa dia ga ikut lomba musik padahal dia bisa di sebut siswa terbaik di kegiatan musik? ”


Aku mengangguk mengingat nya.


“Malam nya gue nanyain Edo tentang itu”


“Bentar?” Potong ku.


“Edo?”


Sejak kapan dia dekat dengan Edo?


Ghea mengangguk kikuk.


“Oke skip. And than?”


“Nah akhirnya Edo cerita sama gue, tentang masa lalu antara Devan dan Althara. Mereka itu dulu nya sahabat deket Al bahkan dari jaman SMP. Dan saat mereka SMA mereka itu sepakat untuk masuk ke SMA yang sama, disini. Dan dari kelas 10 mereka pun udah satu kelas di kelas 10 unggulan,mereka keliatan akrab banget pokok nya. Lalu di kelas nya mereka berteman sama cewe cantik tapi tomboy bernama Tania.”


Jantung ku seketika berhenti mendengar nama Tania yang selama ini menjadi misteri untuk ku.


“Dan loe tau? dari mereka kelas sepuluh sampai kelas sebelas kemarin, si Tania ini dulu juga ikut dalam lomba Band antar sekolah sama seperti lo sekarang,sebagai Vokalis”


Aku mengingat cerita Bibi kantin ketika dia membicarkan tentang aku yang menjadi pengganti Tania. Ternyata ini maksud nya.


“Dan dari kelas 10 Tania itu ga mudah bergaul sama siapapun, bahkan sama cewe. Dia cuma deket sama temen-temen Band nya di kelas kaya Edo,Rizal,Devan dan Althara. Dua tahun berturut turut mereka semua ikut lomba,dan selama lomba mereka selalu menjadi juara dua.”


“Terus Tania itu masih ada di sekolah ini apa ngga sih? Kok gue ga pernah denger ya di kelas Althara ada nama Tania”

__ADS_1


Ghea menghela nafas nya lagi.


“Tania keluar dari sekolah Al pas pertengahan semester taun lalu”


“Kenapa?”


“Dia..” Ghea begitu berat sekali untuk melanjutkan ceritanya.


“Dia ketahuan ciuman sama Devan di belakang sekolah, video nya udah beredar dan itu bukan sembarang ciuman”


aku menarik nafas begitu dalam lalu menghembuskan nya dengan raut wajah tak percaya.


Devan memang berengsek, namun aku tak pernah mengira jika dia bisa berbuat hal sekeji itu.


“Dan Al,lo harus tau.. Althara dulu juga suka sama Tania”


yang ini lebih mengejutkan ku. Aku menatap Ghea tak percaya.


“Jadi dari dulu tuh ternyata Althara menaruh perasaan sama Tania,tapi dia pernah di tolak sama si Tania karena si Tania ini ga mau ngerusak persahabaatan mereka katanya. Dan ternyata tahun lalu Althara dapet video yang bikin perasaan dia hancur Al. Dia berantem sama Devan di luar sekolah, bahkan sampai Devan babak belur”


seperti kejadian di gudang beberapa hari yang lalu. Dia berkelahi dengan Devan tanpa aku tahu alasan nya.


“Mungkin Althara ga terima sama Devan yang membuat malu pertemanan mereka,dan kayak nya Althara juga kecewa banget sama Tania, karena Althara kan udah korbanin perasaan nya demi persahabatan mereka, tapi si Tania malah ngerusak itu semua”


“Dan sebelum keluar sekolah, Tania sama Devan itu sempet di kucilkan ga di temenin lagi sama siapapun, bahkan sama Althara dan geng nya. Tania udah ga sanggup lagi nanggung beban malu yang dia perbuat sendiri, dan akhirnya dia keluar dari sekolah ini. Dan Edo juga bilang, kalo Tania itu sebenernya..” Ghea kembali menggantungkan kata-kata nya.


“Sebenernya apa ? Lo kok gantung gantung gini ceritanya”kesal ku.


“First love nya Althara” ucap nya lalu bel masuk berbunyi.


Hatiku semakin hancur, aku merasa perasaan ku semakin rapuh mendengar kenyataan yang pedih ini.


“Al,gue takutnya Althara deketin lo karena dia ada maksud”


Yang di ucapkan Ghea memang benar. Selama ini Althara begitu dingin padaku, bahkan dia selalu bersikap tak acuh. Namun ketika dia tahu jika aku dekat dengan Devan ,sikap Althara menjadi berubah drastis. Bahkan dia pernah meminta aku untuk menjauhi Devan. Apa ini sebab nya? Dia mau membalas dendam kepada Devan ?


“Al , are you okay?” Ucap Venna,


“Gue gak apa-apa” ucap ku berusaha untuk tersenyum.


“Serius ?” Tanya Venna meyakinkan ku.


“Iya gue ga apa-apa kenapa emang nya ? Apa yang perlu kalian khawatirin ?” Ucap ku penuh dengan keyakinan sambil tersenyum.


“Kita khawatir kalau lo udah mulai jatuh cinta sama Althara,Al” ucap Ghea.


Aku tersentak mendengar itu,karena sepertinya kekhawatiran itu sudah terjadi.


“Perasaan gue belum sejauh itu sama dia” ucap ku dengan begitu berat hati.


Sepanjang pelajaran berlangsung,aku terus memikirkan cerita dari Ghea. Aku belum bisa menerima kenyataan yang baru aku ketahui ini. Baru saja aku merasa bahagia bisa bersama Althara, kini penyesalan tumbuh begitu saja di dalam hatiku. Apa benar Althara hanya memanfaatkan ku, namun dari seluruh cerita yang ku dengar memang semua masuk akal. Althara ga mungkin berubah menjadi semanis ini jika tidak ada apa-apa. Harusnya aku menyadari itu. Kenapa kau malah terbuai sikap manisnya?.


Bel istirahat berbunyi. Aku langsung mengelurakan makanan ku yang ada di dalam toples yang belum sempat aku makan.


“Al lo ga akan ikut ke kantin ?” Tanya Ghea.


“Ngga, gue disini aja, nih liat tugas gue banyak banget” ucapku kepada buku-buku catatan yang sudah berserakan di atas meja.


“Ini kan bisa di kerjain nanti di rumah Al”


“Ven, gue harus ngejar pelajaran-pelajaran gue yang udah ketinggalan selama seminggu kemarin, dan gue pasti bakalan males kalo udah sampe rumah,mungpung gue mau nih salin catatan” ucap ku meyakinkan mereka.


“Ya udah kalo gitu, kita ke kantin ya” ucap Tata.


“Okey” ucap ku mengacungkan jempol.

__ADS_1


Aku harus berusaha tegar di hadapan mereka, aku tidak mau membuat mereka khawatir dengan kesedihan ku. Aku juga tidak ingin bertemu dengan Althara kali ini, aku harus menghindar darinya.


__ADS_2