
Hari ini Althara masih menjemput ku tepat waktu. Tapi aku yang sedikit terlambat karena aku lupa memasang alarm,namun Althara sama sekali tidak berisik hari ini dengan banyak ngomel-ngomel karena menunggu ku. Dia hari ini begitu dingin,walaupun sebelum nya dia memang dingin,tapi hari ini dia berbeda,dia sangat dingin.
Latihan belum di mulai,kami sedang menunggu bu Renatha di koridor tepat di depan ruang guru. Karena dia masih sibuk dengan pekerjaan nya sebagai guru seni. Jadi dia masih membagi waktu nya antara membagi nilai rapot dan mengurusi lomba.
“Masih lama bu Renatha ?” Tanya ku kepada Edo yang sedang bermain game di sampingku.
Edo hanya menggedikan bahu nya. Aku melihat Rizal dan Kevin pun sedang sibuk bermain game di samping ku. Dan Althara duduk terpisah jauh di sebelah kanan ku, bersandar di tembok dengan sebuah buku di tangan nya. Aku penasaran buku apa yang sedang di bacanya itu, sulit sekali melihat nya karena sampul buku nya di lipat dan judul buku nya jadi tak terlihat.
Tidak lama bel istirahat kedua berbunyi. Aku langsung berdiri mencari kelas ku yang berada di lantai atas sana. Aku meliuk liuk kan kepalaku mencari sosok teman-teman ku yang sudah ku ajak untuk pergi ke kantin bersama.
Terlihat Ghea yang melambaikan tangan nya kepadaku di ikuti Venna dan Tata di samping nya. Aku membalas lambaian tangan nya dengan begitu bahagia. Mereka langsung menghilang dan pasti sudah langsung pergi ke bawah untuk menemui ku.
Namun begitu terkejut nya aku ketika aku kembali duduk di tempatku, di samping kanan ruang guru turunlah Devan dan kawan kawan nya dari tangga,aku terus memperhatikan dia yang sedang menggandeng mesra seorang perempuan yang aku kenal adalah taman sekelas nya. Beruntung Devan tak melewati ku, jadi aku bisa menyaksikan sendiri kebusukan dia dengan leluasa. Dia terlihat begitu mesra,bahkan dia sampai mencium rambut perempuan itu.
Devan melewati Althara yang sedang duduk di samping lapangan. Aku tak sengaja melihat Althara yang ternyata sudah melihat ku memperhatikan Devan. Aku memalingkan wajah ku menyembunyikan ekspresi wajahku yang begitu terkejut melihat Devan menggandeng wanita lain. Aku tidak ingin Althara melihat ku dengan tatapan rasa kasihan,atau malah akan memojokan ku.
Aku langsung mengeluarkan handphone ku dan menelepon Tata.
“Hallo Ta?”
“Iya al kenapa ?”
“Gue ga jadi ikut ke kantin ya”
“Kenapa ?”
“Gue udah langsung di suruh latian sama bu Renatha ini”
“Oke kalo gitu, bye”
“Bye”
Aku mematikan ponsel ku dan menatap kosong layar ponsel ku.
Aku terus memikirkan Devan, bukan karena aku cemburu melihat nya. Tapi memikirkan kenapa aku bisa di bodohi dia seperti ini ?
Bu Renatha akhirnya benar-benar keluar dari ruang guru.
“Duh Ibu minta maaf ibu masih ada urusan penting ini, kalian bisa nunggu di aula aja ya, karena ruang musik mau ibu pake dulu untuk penilaian kelas 11”
“Iya gak apa apa bu, kita nunggu disana aja ya sambil latihan” ujar Edo.
“Ya udah kalian kesana duluan nanti ibu susul ya” lalu dia bergegsas pergi lagi dengan terburu buru.
“Yuk” ajak Kevin.
Semua berdiri dan pergi menuju gedung aula, Althara masih duduk santai dengan novel dan earphone yang masih terpasanag di telinga nya. Rizal menepuk bahu Althara yang masih tidak menyadari semua teman nya akan pergi.
“Ayokk pindah” ajak Rizal sambil berjalan.
Althara langsung melipat buku nya dan ikut berjalan di depan ku. Aku terus menudukan kepalaku merasa malu kepada Althara,karena baru saja kemarin aku mengatakan padanya jika aku bersama Devan kini dia menyaksikan sendiri perlakuan busuk Devan yang telah menyakitiku.
Kami semua masuk ke aula sekolah yang sering di pakai untuk pentas dan acara-acara lain di sekolah.
Kita semua menarik bangku dan membentuk sebuah lingkaran untuk memulai latihan,tapi tidak termasuk althara yang memisahkan diri karena piano nya dia tinggal di ruang musik. Dan dia kembali membaca buku nya di sudut ruangan.
Sudah selang satu jam kita diam di aula, semua sudah terlihat mulai bosan, Rizal dan Edo kembali bermain game di handphoene nya masing masing, sedangkan Kevin masih saja bermain gitar.
“Duh bu Renatha mana sih lama banget?” Ucapku yang sudah mulai bosan.
“Udah biarin aja al,kita asik kan kaya gini bebas, latihan mulu bosen” ucap Edo tanpa memalingkan wajah nya dari layar handphone nya.
“Iyasih, tapi aku laper” ucap ku.
“Gue juga sih” ujar Kevin berhenti bermain gitar.
“Ya udah kalo gitu aku ke kantin dulu ya, sekalian beliin kalian makanan juga”
“Asiikk thank you”
Aku melihat sekali lagi Althara di sudut ruangan yang terus terdiam dan tak berbicara sama sekali lalu aku pergi menuju kantin.
Suasana sudah semakin sepi, lorong sekolah pun bersih dari para siswa yang tadi sempat ramai. Ini sudah masuk jam pelajaran, jadi aku bisa ke kantin dengan leluasa dan tanpa rasa malu karena tidak memakai baju seragam.
“Neng Alhena kemana aja ? Kataya latian buat acara lomba ya?” Tanya Bibi kantin yang sudah begitu akrab dengan ku.
“Kok Bibi tau?”
“Iya kan tadi Bibi nanya ke temen neng Alhena, siapa itu namanya Ghe..” ucap Bibi kantin berusaha mengingat nama teman ku.
“Ghea bhi ga susah kan inget namanya”
“Iya itu maksud Bibi hehe. Taun ini ternyata neng Alhena yang ikut lomba toh”
Aku merenyitkan dahi ku mendengar Bibi kantin ini bebricara dengan tangan yang terus membungkus pesanan ku.
“Emang harusnya siapa bi ?”
“Iya dulu kan neng Tania”
“Tania?”
“Neng ga tau?” Tanya Bibi kantin terlihat terkejut begitu mengetahui aku tidak mengenal sama sekali nama yang di sebut Tania itu.
“Ini pesanan nya neng”
__ADS_1
Sebenarnya aku ingin tahu tentang orang yang bernama Tania itu, tapi kenapa Bibi kantin seperti terkejut melihat aku tak mengenal Tania. Aku bmelupakan rasa penasaran ku dan pergi kembali ke aula.
Perut ku sudah terlalu lapar, sambil berjalan aku membuka salah satu roti di dalam kantung kresek ku. Baru saja aku membuka dan memasukan nya ke dalam mulut aku melihat pemandangan tak mengenakan di hadapan ku.
Devan dan dan wanita tadi berjalan menuju arahku, Devan pun ikut terkejut begitu dia melihat ku.
“Dev ada apa?” Tanya wanita itu melihat devan tiba-tiba terpatung seperti melihat hantu, lalu dia melihat ku ke depan.
“Ya udah aku duluan ya” lalu wanita itu pun pergi meninggalkan tatapan yang begitu sinis kepadaku.
Aku berusaha tak memperdulikan nya, dan kembali berjalan lurus tak menghiraukan nya.
“Al” Devan menghadang ku.
Aku berusah untuk tak melihat wajah nya yang hanya akan membuatku muak.
“Kamu habis darimana ? Kenapa ga latian?”
“Abis dari kantin” singkat ku dengan dingin.
“Oo, nanti pulang aku anterin lagi ya”
Barulah aku bisa menatap nya dengan tatapan yang begitu jijik.
“Gak perlu, aku ada Althara”
lalu aku kembali melangkah kan kaki ku. Dan devan menarik tangan ku.
“Kamu kenapa malah milih pulang bareng dia sih?” Wajah Devan berubah menjadi kesal.
“Kenapa ? Kakak juga harus nganterin cewe kaka yang barusan pulang kan?”
“Siapa Cassandra? Dia bukan cewe aku dia temen sekelas aku kamu tau dia kan?”
“Aku tau dia temen sekelas Kak Devan,tapi yang aku ga tau Kak Devan bisa begitu mesra sama semua temen cewe Kak Devan ya”
Ucap ku penuh kagum dan sekaligus merasa ilfil kepadanya.
“Mesra apa sih?”
“Tadi jelas jelas aku liat Kak Devan gandeng mesra tangan cewe itu ke kantin,bahkan aku liat sendiri ka Devan cium cium kepala tuh teman ka Devan”
begitu jelas sekali aku mengatakan itu kepadanya. Barulah dia diam tak bisa mengelak.
“Udah Kak aku di tunggu latian” Devan terus menghentikan langkah ku dia mencengkram begitu kencang tangan ku.
“Bentar al, aku jelasin dulu”
“Jelasin apa sih Kak, udah deh aku mau pergi”
“Aku udah bilang gamau”
aku terus berontak berusaha melepaska diri ku dari cengkraman nya.
“DIEM!!” Dia berteriak begitu kencang membuatku terkejut dan menjadi takut.
Dia menarik tangan ku dan meghentakan tubuh ku ke tambok dengan kasar. Wajah nya berubah memerah membuat ku takut menatap nya. Aku tidak bisa lari,dia mengurung ku di tembok dengan kedua tangan nya.
“Dengerin gue baik-baik! selama ini gue begitu sabar ngadepin lo yang selalu jual mahal sama gue, gue udah berusaha baik sama lo,tapi lo malah bisa seenak nya gini sama gue,lo harus tau cewe-cewe disini berusaha buat deketin gue al,mereka bahkan mau melakuakn apa saja buat dapetin gue” ucap nya penuh percaya diri.
“Iya terkecuali aku. Aku ga mau kaya cewe bodoh bodoh itu yang sia sia in waktu nya baut ngejar Kakak” jawab ku berusaha melawan nya dan memaksa pergi dari hadangan ya.
Devan kembali mencengkram keras tangan kanan ku dengan kasar membuat makanan yang aku pegang terjatuh.
“Gue belom selesai ngomong”
“Aww sakit” aku meringis kesakitan, karena memang cengkraman dia di tangan ke begitu kencang.
“Lepasin tangan aku kak. Sakit..” aku terus memohon kepadanya,tapi dia tak menggubrisnya.
“Alhena!!” Panggil seseorang di tengah tengah lorong sekolah. Membuat ku dan Devan melihat sumber suara.
Althara.
Aku begitu tenang ketika melihat nya.
“Lo di panggil bu Renatha”
Nafasku mulai tak teratur, aku merasa takut sekarang. Aku melihat cengkraman Devan yang masih tak di lepaskannya dari tangan ku. Devan masih saja menatap ku dengan tajam. Aku menatap Althara meninta pertolongan nya sebelum aku menangis ketakutan.
“Dev” Althara memanggil nya begitu tenang.
Mataku mulai basah,merasakan sakit nya tangan ku dan juga merasakan sakit hati yang begitu hebat kepada Devan.
Lalu dengan terpaksa Devan melepaskan cengkraman nya dengan kesal, lalu menatap Althara dengan penuh dendam.
Aku segera berlari menjauh dari psikopat itu dan berhenti di samping Althara, aku melirik nya, Althara masih terus menatap sinis Devan di hadapan nya. Lalu aku pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam aula.
Aku menyeka air mataku dulu dan masuk kembali ke dalam aula berusaha untuk tenang.
“Heh mana makanannya ?” Tanya Edo.
Aku lupa jika makanan nya tadi sudah terjatuh dan tak sempat aku ambil kembali,karena takut dengan si Devan brengsek itu.
“Makanan nya tadi jatuh kak berserakan jadi ga aku pungut lagi” aku berusaha untuk tetap terlihat tenang walaupun jantung ku masih terus berdebar kencang.
__ADS_1
“Jatoh ? Lo nabrak apa ? Bajaj?” Canda Edo membuat semua tertawa.
Aku terus terlihat panik dan masih merasa ketakutan.
“Kak, bu Renatha kemana lagi?” Tanyaku karena teringat jika Althara bilang Bu Renatha mencariku.
“Kemana lagi ? Orang dia belom dateng” ucap Edo membuat ku bingung.
Lantas kenapa Althara bilang Bu Renatha mencari ku ?
Apa dia sengaja membantuku ?
“Hey anak-anak maaf nunggu lama” itu bu Renatha, diam di ambang pintu
“yuk pindah ke ruang musik,kita latihan sebentar aja” ucap Bu Renatha lalu dia pergi lagi.
aku masih terdiam di tempat ku.
Dan tidak lama terdengar suara langkah kaki lain masuk ke dalam aula.
“Abis darimana lo?” Tanya Edo.
Aku tau itu Althara. Aku tak berani untuk membalikan tubuh ku dan memandang nya.
“Toilet” jawab Althara.
Aku menggelengkan kepalaku dengan penuh kesedihan,dan membereskan barang barang ku ke dalam tas dan pergi mengikuti semua orang ke ruang musik. Althara mengimbangi langkah ku, aku berhenti di ambang pintu membuat dia juga menghentikan langkahnya.
Aku menatap Althara dengan lemah, pasti terlihat begitu jelas jika aku sedang merasa kacau sekali saat itu. Althara balas menatap ku dengan dingin, tak sepatah katapun yang keluar dari mulut ku atau pun mulut nya. Tatapan Althara terlihat begitu bingung aku tahu dia sedang menungguku untuk berbicara, namun entah mengapa, mulut ku terasa terkunci ketika aku menatap matanya yang sayu. Mataku mulai basah kembali.
Ingin sekali aku berterimakasih kepadanya dan menanyakan kenapa dia mau membantu ku. Namun aku malah menggelengkan kepala ku dan pergi meninggalkan nya.
Sepanjang latihan aku sadar jika diriku sudah tidak fokus untuk bernyanyi. Sepertinya energi ku sudah terkuras habis oleh kejadian tadi,banyak sekali fikiran yang mulai menggangguku ketika latihan.
“Aduh Alhenaaa kamu kenapa sih?”
Bu Renatha menghentikan iringan musik, sudah jelas sekali terlihat jika aku sedang tidak fokus saat itu.
“Maaf bu”
“Kamu kok ga fokus gini?” Tanya Bu Renatha dengan terus merenyitkan dahi nya.
“Alhena ga enak badan bu” ucapku melirik Althara.
Althara sudah menatap ku dengan kesal di balik piano nya.
“Ga enak badan ? Kok kamu ga bilang sih, tau gitu hari ini libur latihan dulu aja”
“Maaf bu Alhena kayak nya cuma telat makan aja jadi lemes”
“Ya udah gak apa-apa ibu juga masih ada kerjaan hari ini, kalian pulang aja istirahat ya, besok kita latihan lagi, kamu jangan sampai lupa untuk sarapan sebelum pergi latihan ya,tapi kalau masih kerasa sakit kamu istirahat saja”
Aku menganggukan kepala ku sambil tersenyum kepada Bu Renatha yang sudah baik ini kepadaku. Kevin,Rizal dan Edo pun segera merapikan alat musik mereka.
Althara masih saja melirik ku dengan sinis sambil menyimpan piano nya kedalam tas piano.
“Sorry ya kak latian hari ini jadi kacau”
aku benar-benar merasa bersalah telah mengacaukan latihan hari ini.
“Gak apa-apa kok lagian gue juga udah ngantuk pengen pulang” ujar Edo sambil terkekeh.
“Iya santei aja, beruntung malah kita bisa pulang cepet” sambung Rizal.
Aku tersenyum begitu malu kepada mereka.
“Ya udah duluan ya”
“Byee”
“Byee”
“Gue duluan Althara” ujar Kevin
“Oke” Althara masih sibuk membereskan piano nya dan di simpan kembali ke tempat yang aman.
Althara menghampiri ku di saat aku masih membereskan barang-barang ku.
“Gue tahu lo lagi mikirin cowo lu itu” aku terkejut mendengar nya bicara langsung seperti itu.
Aku membalikan badan ku dengan wajah yang begitu kesal mendengar dia mengatakan ‘cowo lu’ .
“Tapi sengganya lo bisa profesional dulu untuk saat ini, kita lomba tinggal beberapa hari lagi, jadi gue harap lo bisa fokus untuk lomba dulu baru lo fikirin cowo lu”
Aku membenarkan posisi tas ku sebelum aku siap beradu mulut dengan laki-laki menjengkelkan ini.
“Devan bukan cowo gue” ucap ku dengan begitu jelas agar dia mengerti.
“Dan bukan hanya devan yang ngegganggu fikiran gue” ucap ku dengan begitu sinis.
“Kenapa lo mau nolongin gue?” Tanya ku akhirnya.
Dia diam sejenak dengan terus menatap ku dengan mengerutkan dahi nya.
“Gue ga suka liat cowo kasar gitu sama cewe”
__ADS_1
Alasan althara begitu klasik, namun aku masih merasa tidak puas dengan jawaban nya. Lalu jawaban apa memang nya yang aku harapkan ?