7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Semua ini karena 7 hari bersama Althara


__ADS_3

Aku dan Althara sampai ke Bandung. Dia membantu ku membereskan barang ke kamar ku.


“Kamu menginap dulu ya Althara,ini sudah malam” ujar Mama yang tahu kalau Althara akan langsung pulang ke Jakarta.


“Baik Ma” jawab Altahra.


Lalu aku menyiapkan kamar tidur tamu untuk nya dan memberikan dia kecupan selamat malam sebelum aku kembali ke kamar ku.


Esok hari nya Althara sudah bersiap pagi sekali dengan pakaian baru yang dia bekal. Dia keluar dari kamar tamu saat aku mau mengetuk pintu nya untuk mengajak dia sarapan.


“Kamu mau kemana ?”


“Aku di suruh Mama buat ngecek rumah lama kita yang disini,mungpung aku lagi disini”


“Loh bukan nya di tempatin sama saudara kamu itu?” Tanya ku mengingat dulu aku pernah ke rumah dia dan yang keluar adalah keluarga baru yang menempati rumah nya.


“Aku kan udah bilang, mereka saudara ku yang ikut tidur disana ga sampe setahun. Rumah mereka lagi di renovasi di dekat sana, jadi mereka menumpang di rumah kami dari pada Mama sewakan ke orang lain katanya”


“Terus rumah nya kosong?”


“Iya. Tapi setiap minggu ada aja orang yang beresin rumah itu”


“Barang-barang nya memang masih ada?”


“Sebagian,tapi barang penting kaya TV kulkas gitu memang ga ada. Aman kok,kan ada satpam tiap cluster udah di titipin juga sama mereka”


“Ga ada yang tempatin ?” Bawel ku masih saja khawatir dengan rumah kosong yang lama tidak di tempati Althara.


“Ga ada,Mama kan psang cctv jarak jauh disana,jadi Mama bisa ngecek rumah itu aman apa ngga tiap harinya”


“Ooo” ucap ku.


“Aku pergi dulu ya mungpung masih pagi”


“Eh,sarapan dulu” ucap ke memegang lengan nya.


“Aku bisa sarapan di jalan”


Aku menatap tajam Althara.


“Mama yang nyuruh” ucap ku dengan sinis.


Aku memicingkan mata menatap nya,agar dia takut dengan tatapan yang aku berikan.


Althara menghela nafasnya.


“Oke”


Lalu ekspresi wajah ku berubah seketika.


“Oke,kamu ke ruang makan aku ganti baju dulu”


“Ganti baju?” Tanya Althara.


“Iya. Aku ikut kamu” jawab ku dengan ceria.


“Ikut? Aku cuma beresin..”


Namun aku tak menghiraukan nya dan pergi meninggalkan dia yang kebingungan di depan pintu kamar tamu.


Setelah selesai sarapan aku dan Althara berpamitan kepada kedua orang tua ku untuk mengunjungi rumah lama Althara. Sebenarnya Althara tidak mengajak ku,karena dia hanya mau mengecek dan membereskan sedikit rumah lama nya itu,tapi aku tetap ingin ikut dengan dia,dan Althara tidak bisa melarangku jika aku sudah keras kepala.


Kita sampai di rumah lama Althara. Aku membuka jendela mobil dan menatap penuh kenangan rumah itu. Rumah yang dulu sering sekali aku kunjungi,rumah yang dulu sering membuat ku tertawa di dapur,dan rumah yang begitu penuh dengan kebahagiaan.


Althara turun dari mobil dan membuka gerbang,aku pindah duduk ke kursi pengemudi untuk membantu Althara memasukan mobil ke dalam garasi rumah nya.


Althara terlihat terkejut melihat ku menyetir,dia terlihat khawatir sekaligus masih tak percaya melihat ku bisa menyetir mobil. Karena selama ini aku hanya sering memakai motor ku,dan tidak pernah terlihat menyetir mobil.


Lalu dia menghampiri ku dan membuka pintu mobil.


“Sejak kapan kamu bisa menyetir?” Tanya Althara dengan wajah bingung nya.


“Sejak kuliah”


“Siapa yang ajarin kamu?”

__ADS_1


“Papa” jawab ku menatap dia dengan bingung juga.


“Kenapa kamu ga bilang kamu bisa nyetir mobil?”


“Emang kamu pernah nanya?”


“Ya soalnya selama ini aku ga pernah liat kamu nyetir mobil atau ada mobil”


Aku tersenyum.


“Aku ga bawa mobil ke Jakarta,aku lebih seneng naik motor,mobil ku aku simpen di Bandung ada di garasi belakang” Jawab ku menjelaskan.


“Kenapa?”


Althara menggelengkan kepalanya.


“Aku cuma sedih aja ternyata aku melewatkan banyak hal”


Aku tersenyum mendengarnya.


“Kamu masih rasa aku ini anak SMA?”


Althara menggedikan bahu nya,seolah dia tidak terima dengan cepat nya pendewasaan ku,padahal dia sendiri sudah lebih jauh dewasa daripada aku.


Aku dan Althara mulai membereskan barang-barang di rumah nya. Kami hanya membersihkan debu-debu yang menempel di setiap sudut rumah.


Hari itu aku memakai baju lengan pendek berwarna peach dan celana jeans pendek juga. Rambut ku di gulung ke atas agar tidak menganggu aktifitas ku. Aku pakaikan juga bando bulu yang melingkar di kepala ku agar rambut-rambut kecil tidak menghalangi pandangan ku.


Aku pergi ke sebuah ruangan yang kosong yang hanya terdapat barang-barang bekas. Ruangan itu cukup luas,dengan dinding berwarna putih dan lampu yang menggantung cukup besar.


“Kenapa ruangan ini di jadiin gudang?” Tanya ku kepada Althara ketika dia menaruh box berisi barang tak terpakai nya.


Althara sudah mengganti pakaian nya lagi dengan memakai kaos oversize berwarna biru navy dan celana jogger nya yang juga besar berwarna hitam.


“Ya karena aku udah ga perlu ruangan lagi” jawab nya dengan berkecak pinggang kelelahan telah membawa banyak barang-barang berat.


Aku membalikan badan ku menatap althara dengan memikirkan sesuatu.


“Kenapa ruangan ini ga di jadiin ruangan lukis kamu?” Tanya ku memberi ide.


“Aku lebih nyaman melukis di kamar”


Aku mendekati nya dan melipatkan kedua tangan di depan nya.


“Althara tempat tidur kamu udah berantakan banget,kamu tidur sama cat dan kanvas disana. Cat juga udah ngotorin kamar kamu dimana mana kan? Kenapa ga kamu pake aja ruangan ini jadi lebih manfaat,biar kamar kamu rapih dan enak di pake tidur”


Pinta ku membujuk nya. Namun dia masih saja diam tak berbicara sambil terlihat berfikir melihat sekeliling nya.


“Terus kamu bisa pajang lukisan kamu di setiap dinding ini,tempelin semua hasil karya kamu yang cantik di sekitar nya, biar jadi kaya pameran seni lukis versi mini”


Aku rasa ide ku cukup bagus untuk ini,karena jika Althara punya tempat lukis sendiri, dia akan lebih fokus untuk mengembangkan bakatnya.


Althara menatap ku mempertimbangkan ide ku.


“Baiklah” jawab nya akhirnya.


Aku tersenyum mendengar jawaban nya yang mau menuruti ku.


“Tapi,kalo gitu kamu harus bantu aku beresin tempat ini”


Aku membulatkan mata ku dan kebingungan menatap semua barang-barang tak terpakai di sekitar ku yang begitu banyak.


“Apa kita ga manggil tukang bersih bersih aja?” Tanya ku dengan kikuk.


“Ngga” ketus Althara sambil kembali membawa box yang tadi di bawa nya keluar.


Akhirnya dengan terpaksa aku membereskan ruangan yang kotor itu, mengeluarkan semua barang-barang disana ,menyapu dan me lap semua debu-debu yang menempel di dinding bahkan aku mengepel seluruh lantai nya hingga terlihat bersih. Lalu Althara menurunkan alat-alat lukis nya yang sudah berdebu juga di dalam kamar nya dan menyimpan nya di tengah ruangan sebelum kita menata nya.


Althara menyimpan barang-barang yang tadi di ruangan ini ke ruangan di basemant nya.


Dia mulai memaku tembok dan menggantung lukisan dia yang sudah di bersihkan di dinding. Sementara aku membantu merapihkan meja yang bermanfaat untuk menyimpan cat warna dan juga koas di sudut ruangan,juga menyimpan dengan rapih kanvas Althara di dalam lemari nya.


Aku menyimpan tripod,easel atau standing,kotak perlengkapan nya melukis di sudut ruangan agar lebih rapih,lalu setelah selesai aku membantu Althara untuk memajang lukisan nya di dinding.


Althara mulai membawa tangga untuk memaku dinding bagian atas agar lebih aesthetic dia bilang tidak di pajang berjejer rapih. Dia yang memaku tembok aku yang memberikan lukisan nya.

__ADS_1


Lalu saat tiba aku memberikan lukisan yang cukup besar kepada Althara,aku terpatung melihat lukisan yang di buat dengan pensil biasa dan berupa sketsa yang tampak begitu nyata.


Itu adalah lukisan pertama Althara yang pernah aku lihat di kamar nya dulu.


“Ini masih ada?” Tanya ku bahagia.


Althara melihat ku di atas tangga,lalu dia menghela nafas ketika melihat benda yang aku pertanyakan.


“Kamu fikir aku bisa buang itu?” Tanya nya sinis.


Aku senang sekali melihat diriku yang masih memakai seragam di dalam lukisan Althara,aku jadi ingat masa-masa sekolah dulu sebelum kita bersama seperti ini. Dia dulu sosok yang menyebalkan dan begitu dingin,bahkan aku tidak pernah berfikir akan bisa mencintai nya seperti ini.


“Kenapa?” Tanya Althara yang bingung karena aku senyum-senyum melihat lukisan nya.


“Ngga,lagi kagum aja liat lukisan wajah aku bagus kaya gini” ucap ku sambil memberikan lukisan itu kepadanya.


Althara mulai memajang lukisan itu di dinding,dia juga ikut terdiam melihat lukisan nya sendiri sambil terus duduk di atas tangga stainless nya.


“Kenapa sih kamu seneng banget lukis aku candid kaya gitu?”


“Kenapa emang?”


“Ya kenapa kamu ga minta aku buat bergaya cantik pake baju bagus biar bisa lebih waw” ucap ku yang sudah terlalu percaya diri.


Althara melirik ku dengan dingin.


“Kamu lebih cantik kaya gini” ucap Althara.


Aku mengangkat kedua halisku.


“Lebih natural,lebih polos,disini sifat kamu itu tergambar” ucap Althara kembali memandangi lukisan di hadapan nya.


“Oiya?”


“Iya. Kamu lihat ini,kamu ga ada senyum sama sekali”


Aku melihat lukisan nya,dan ya memang di lukisan itu aku tidak tersenyum sama sekali.


“Kamu terlihat begitu menyebalkan”


Aku menyipitkan mata ku dengan sinis menatap nya. Lalu Althara turun sambil tertawa karena berhasil melihat ku marah.


“Yang nyebelin tuh kamu Althara” ujar ku tak ingin kalah saat dia sudah turun dan bersandar di tangga.


“O ya ?”


“Iya. Kakak kelas dingin,ngomong nya irit,sombong,nyebelin” ucap ku begitu puas mengingat Althara yang dulu pertama kali aku kenal.


“Tapi kenapa bisa kamu sayang sama kakak kelas kamu yang dingin dan sombong itu” tanya Althara sambil melipat kedua tangan nya di dada. Dia mulai dengan rasa percaya dirinya,menatap ku begitu puas.


Aku terlihat kesulitan untuk menjawab.


“Ya karena..”


“Karena?” Tanya nya tak sabar menunggu jawaban ku.


“Karena aku kenal kamu selama 7 hari”


Althara mencoba mengingat nya lalu tertawa.


“Sesingkat itu?” Tanya nya lagi.


“Ya mungkin proses 7 hari itu yang bikin aku kenal kamu lebih jauh,tau ternyata kamu perhatian,tau ternyata kamu ga sombong cuma emang ga friendly aja sama orang,terus ternyata kamu ga playboy seperti apa yang orang-orang bilang” ucap ku dengan malu-malu karena sempat termakan omongan orang lain.


Althara kembali tersenyum mendengar jawaban ku.


Lalu dia memegang kedua tangan ku dan menatap ku begitu dalam,ini adalah tatapan yang selalu aku rindukan setiap harinya.


“7 hari bersama Althara,untuk selamanya” ujar nya yang kembali membuat ku tertegun.


Namun lagi-lagi dia mencium bibir ku di saat aku kebingungan dengan ucapan nya yang belum aku pahami.


Apakah dia akan menikahi ku ?


Sore hari nya Papa dan Althara kembali bertemu di rumah dan kembali membicarakan tentang pembangunan Cafe yang akan di mulai pada bulan ini.

__ADS_1


Althara sudah mengurus pembelian tanah nya dan Papa sudah menanda tangani kontrak dengan arsitek nya.


Aku bahagia karena akhirnya semua akan lebih menjadi indah. Bahkan mungkin lebih dari itu.


__ADS_2