
Beberapa hari berlalu. Pembangunan Cafe sudah mulai di lakukan. Dan rencana pernikahan ku pun akan di lakukan setelah Cafe selesai di bangun.
Orang tua ku dan orang tua Althara telah bertemu dan telah membicarakan tentang rencana pernikahan anak-anak nya dan mereka setuju jika pernikahaan di adakan di Bandung setelah Cafe selesai di bangun. Mereka mengatakan agar semua masalah nya selesai satu persatu tanpa gangguan hal lain.
“Ayah sama Bunda bermalam di Bandung” ucap Althara ketika aku dan dia sedang berjalan jalan di supermarket di dalam mall membeli peralatan kebutuhan bulanan ku.
Althara terus mendorong trolley yang sudah berisi beberapa belanjaan ku.
“Malam ini?” Tanya ku memastikan sambil terus berjalan mencari cemilan.
“Ya malam ini”
“Yeayy! Aku mau ketemu Laluna” seru ku mengingat adik kecil Althara yang selalu menggemaskan.
Lalu handphone ku bergetar di dalam tas. Aku melihat nama di layar ponsel ku.
Riani. Aku langsung mengangkat telepon nya sambil terus berjalan dengan perlahan.
“Hay Ri” sapa ku dengan senang.
“Hay Al lo apa kabar?” Seru dia dengan begitu semangat nya.
“Gue baik Kok. Lo gimana?”
“Gue juga baik nih”
“Gimana di resto pasti sepi kan ga ada gue?” Ledek ku.
Riani terdengar tertawa.
“Iya banget sih Al. Restaurant tuh mulai sepi pas ga ada lo, kayak nya waktu kerja disini lo pake guna-guna ya biar pengunjung pada dateng kesini” ucap Riani membuat ku tertawa dengan tuduhan konyol nya.
“Gila lo” ucap mu dengan terus tertawa bersama nya.
“By the way gue lagi di Bandung nih bisa dong kita ketemu” ucap Riani membuat ku terkejut.
“Di Bandung? Kok ngedadak sih? Ada urusan apa lo ke Bandung?”
“Ya sengaja pengen ketemu elo lah. Gue juga kan kangen sama elo” ucap nya dengan nada sedih.
“Haha iya iya iya. Ya udah mau ketemu dimana kita?”
“Gue lagi di jalan keluar tol pasteur ini”
“Hah kebetulan dong gue di mall PVJ Ri deket lah dari sana”
“Kita ketemu disana aja?”
“Iya ketemu disini aja ya”
“Ya udah tunggu gue ya”
“Oke Ri”
__ADS_1
“See you Alhena”
Lalu aku menutup telepon nya.
“Riani di Bandung?” Tanya Althara.
“Iya”
“Sama siapa?”
Aku mengingat apa aku tahu itu atau tidak.
“Gak tau” jawab ku kikuk.
“Dia naik mobil? Kok bisa lewat tol pasteur ?” Tanya nya lagi yang membuat ku bingung.
“Ya bisa aja dia pake travel kan?”
Lalu Althara mengangguk dan kembali berjalan menodorong trolley ku.
Setelah selesai Althara membayar semua belanjaan ku dan menitipkan nya di penitipan barang. Kami langsung menunggu Riani di Restaurant dekat loby hotel.
“Itu dia!” Seru ku melihat Riani yang sudah lebih dulu melihat ku dari jauh.
Dia berlari kecil menghampiri ku dengan terus memegang tali tas yang di selendangkan di bahu nya.
“Alhenaaaa” ucap Riani ketika menghampiri ku lalu dia memeluk ku yang sudah siap menyambut nya.
“Gue juga Ri aaa ga nyangka lo mau nyempetin waktu nemuin gue disini”
“Iya dong gue kan kangen banget sama lo”
Riani menatap Althara di samping ku.
“Hay tar” sapa Riani kikuk.
Althara ikut berdiri dan menyodorkan tangan nya untuk mengajak Riani bersalaman. Dan Riani menyambut uluran tangan Althara dan menggoyangkan nya ke atas dan kebawah beberapa kali.
“Gue kira Alhena disini sendiri” ujar Riani dengan mencurigakan.
“Ya ngga lah. Gue sekarang kemana mana tuh sama bodyguard” ledek ku menoleh Althara.
Dia sama sekali tidak terlihat keberatan dengan ledekan ku untuk nya. Dia kembali duduk dengan dingin.
“Sebenarnya gue bawa seseorang yang mau ketemu lo” ucap Riani membuat ku mengkerutkan kening ku.
“Siapa ?” Tanya ku penasaran.
Lalu seseorang datang mendekat di belakang Riani.
Daniel. Aku begitu terkejut melihat nya ada disini. Aku tak menyadari dia yang berjalan menghampiri kami dari jauh dan sekarang berdiri di samping Riani.
“Mau apa kamu kesini?” Tanya ku dengan sinis kepadanya membuat Althara juga terkejut melihat kehadiran Daniel.
__ADS_1
Althara heran kenapa aku bisa sejutek ini ke mantan atasan ku,karena sampai saat ini aku tidak pernah menceritakan tentang pertengkaran ku dengan Daniel di kantor nya terakhir kali.
“Aku mau bicara Alhena” ucap Daniel dengan hati-hati.
“Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi kan. Semua sudah selesai” ketus ku menatap nya dengan kesal.
“Aku mau minta maaf atas perkataan ku waktu itu. Aku tahu aku sudah bertindak kelewatan,ucapan ku membuat kamu sakit hati” dia mengingatkan ku dengan kejadian waktu itu.
“Aku tidak pernah memaafkan diriku sendiri sejak saat itu Alhena. Aku terus di hantui rasa bersalah. Kamu benar, selama ini pekerjaan ku ringan karena bantuan dari kamu. Kamu selalu menjadi consultant terbaik ku,tapi aku tidak pernah menawari kamu jabatan yang lebih dari itu. Dan kamu pun tidak pernah menuntut tentang pekerjaan kamu yang sudah di lewat batas. Aku begitu sadar dengan kesalahan aku. Aku benar-benar menyesal dan minta maaf” apa yang di katakan Daniel begitu tulus. Siapapun bisa melihat itu dengan jelas. Namun aku masih saja menanggapi nya dengan sinis.
“sekali lagi aku minta maaf Alhena,setiap hari aku terus memikirkan kesalahan yang sudah aku perbuat ini”
Daniel terus saja memohon kepadaku. Aku melihat kesungguhan nya,aku masih kesal namun aku juga merasa kasihan kepadanya.
“Baik aku maafkan. Tapi aku minta sama kamu ,tolong kamu jangan pernah lagi seperti itu,meremehkan orang lain yang selalu kamu nilai tidak ada apa apa nya di banding kekayaan yang kamu miliki,harta ga bisa menjadikan tolak ukur seseorang untuk memiliki derajat yang tinggi” ucap ku berpesan kepadanya.
Daniel tersenyum mendengar nya.
“Aku akan selalu mengingat itu Alhena” ucap Daniel dengan senang.
“Lalu?” Tanya ku merasa semua permasalahan telah selesai dan aku ingin Daniel segera pergi.
“Masih ada yang mau aku bicarakan” ujar nya lagi-lagi membuat ku mengkerutkan kening.
“apa?”
“Bisnis yang kamu bangun”
“Bisnis yang aku bangun?” Tanya ku memastikan.
“Iya. Aku mau menawarkan kerja sama” ucap nya membuat ku terkejut.
Althara yang sedang duduk pun terus mendengar percakapan ku yang sama sekali tidak mempersilahkan Riani dan Daniel duduk.
“Hah? Ngga ngga ngga aku ga mau” ucap ku menolak mentah mentah ajakan nya.
Althara menyentuh lengan ku.
“Soal kerja sama biar aku yang menanganinya” ucap nya meminta agar dia yang mengambil alih.
“Tapi Althara, dia sempat menghina tentang Cafe ku yang tidak akan memiliki nilai jual yang tinggi” ucap ku dengan kesal mengatakan hal yang membuat ku sakit hati ketika mendengarkan pembicaraan nya saat itu.
“Dia sudah minta maaf kan tentang itu?” Ucap Althara dengan tenang kepadaku.
Aku terdiam dan membenarkan ucapan nya, lalu aku melirik Daniel yang masih berdiri dengan raut wajah menyesal nya.
“Iya” jawab ku singkat.
“Kalau begitu tidak perlu di ungkit lagi. Biar dia menembus semua kesalahan nya dan kita bicarakan tawaran nya dulu” ucap Althara.
“Tapi tar..” keluh ku masih saja ingin melawan.
“Alhena” panggil Althara dengan tegas. Nada dan tatapan sinis nya berhasil membuat ku diam.
__ADS_1