
Pagi hari,aku mengerjapkan mataku melihat cahaya matahari yang mulai keluar dari sela sela jendela.
Aku melirik jam beker di samping tempat tidur ku. Jam 10.00. Malam tadi aku memang sulit untuk tidur, karena memikirkan tentang Rey dan Althara. Mereka sudah membuat ku menjadi Insomnia.
Dengan malas aku bangun dari tempat tidur ku memakai sandal rumah berbulu yang berwarna biru dan bergambar bintang emas. Aku Pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajah ku. Lalu aku keluar kamar dan menuju dapur untuk membuat sarapan. Aku buka lemari es dan mengambil sebuah cereal dan aku simpan dulu di atas meja makan. Aku mengambil dulu air putih untuk ku basahi tenggorokan ku. Begitu gelap di dalam sana karena semua gorden belum ku buka.
Dengan air putih yang masih di tangan ku aku menghampiri jendela dan pintu untuk membuka kan gorden yang menutupi cahaya. Aku geserkan gorden tinggi di balik pintu kaca itu agar cahaya bisa masuk ke dalam ruangan,namun begitu shock nya aku melihat seseorang sudah berdiri di balik pintu.
Althara. Dia berdiri tegap di balik pintu kaca dengan baju yang rapih di balut dengan jaket yang tak di resleting nya. Dia menatap ku dengan dingin di balik pintu kaca.
Aku membuka kunci dan langsung menggeserkan kan pintu nya.
“Kamu ngapain disini?” Tanya ku dengan mengerutkan kening,karena bisa-bisa nya dia mengagetkan ku di pagi hari seperti ini disaat aku bisa sejenak melupakan nya,namun sepertinya dia tidak bisa membiarkan aku untuk melupakan dia sedikit pun.
“Aku udah bilang aku akan kesini”
Aku menggelengkan kepala ku karena begitu keras kepala nya dia.
“Althara aku..”
“Kamu cuma punya waktu 30 menit untuk ganti baju sebelum Rey dateng kesini”
Tentu aku tidak langsung percaya dengan omongan nya. Aku berlari menuju kamar ku dan mencari handphone ku. Benar saja Rey sudah beberapa kali mencoba menghubungi ku tadi pagi namun aku tak mendengar suara telepon masuk.
Aku kembali berlari ke depan rumah.
“Terus kamu ngapain kesini kalo tau Rey mau dateng ?!”
“Kamu tinggal pilih, kita pergi sekarang atau kita sama-sama tunggu Rey disini”
Aku menggelengkan kepala ku begitu kesal dengan sikap nya yang tidak pernah berubah. Aku berdecak kesal dan akhirnya menyerah dengan pilihan nya untuk pergi dari sini.
Aku tidak bisa mengambil resiko akan ketahuan Rey secepat ini. Aku belum siap dengan itu.
Dengan cepat aku mengganti pakaian ku,dan memakai sepatu. Aku rapihkan rambut di depan kaca dan segera menyambar tas,aku berlari keluar rumah dan mengunci nya. Aku berbalik dan mendapati Althara sudah terlihat diam di atas motor sport nya.
Aku kembali teringat di masa dia selalu menjemput ku dengan motor besar nya,walaupun sekarang motor nya sudah jauh berbeda,namun suasana nya masih terasa sama. Aku membuang fikiran itu dan segera menghampiri nya. Althara memberikan sebuah helm biru kepadaku, ya helm itu persis dengan helm yang di berikan nya dulu, dia masih menyimpan nya,dan dari bau nya sepertinya helm ini tidak pernah di pakai,dan wangi sekali seperti baru saja di cuci nya. Namun aku berusaha untuk tak memperdulikan itu dan naik ke atas motor nya.
Dia melajukan motor nya begitu kencang. Aku tahu jalan yang tengah kita tempuh ini akan kemana. Jalan menuju puncak. Dan aku tahu persis kemana dia akan membawaku.
Kita sampai di Cafe Milky Way. Tentu saja,kemana lagi dia mau membawa ku.
Kami melepas helm kami setelah Althara memarkirkan motor nya di depan cafe.
Dia memperhatikan Cafe yang sudah banyak berubah setelah di tinggalkan nya begitu lama.
“Banyak perubahaan selama aku ga kesini”
Ujarnya membuat ku memutar bola mata malas mendengar ocehan nya.
__ADS_1
Althara menarik tangan ku masuk kedalam cafe dan duduk di tempat favorite kami dulu, yang telah menjadi tempat favorit ku selama ini sendiri.
Althara terlihat begitu senang dari raut wajah nya yang berseri seri melihat pemandangan kota di samping nya yang masih terang.
Seorang pelayan menghampiri kami.
“Eh mbak Alhena,tumben kesini nya masih terang mbak” ujar pelayan itu yang membuat ku hanya tersenyum kaku.
Secara tidak langsung pelayan itu memberi tahu Althara jika aku sering datang kesini di malam hari.
Althara terlihat menertawakan ku di balik senyumnya sambil membuka buka buku menu.
“Saya pesan Coffee Latte sama French fries keju ya” ujar Althara sambil memberikan kembali buku menu nya.
“Mbak Alhena sama Coffee latte juga kan?”
Tanya pelayan itu yang kembali membuat ku kikuk di depan Althara.
Kenapa pelayan ini terus saja menunjukan kepada Althara jika aku sering kesini ?
Aku menganggukan kepala ku dengan ketus. Ya memang minuman favorit kami selalu sama sejak dulu,itu tidak bisa di rubah.
Dia kembali menatap pemandangan di samping nya.
“Ngapain ajak aku kesini?” Tanyaku.
“Aku cuma mau jalan-jalan”
“Semua teman aku sibuk”
“Ya kenapa harus aku? Kamu kan bisa ajak Rey,dia lagi ga ada kerjaan kan hari ini?”
Althara menatap ku dingin ketika aku menyebut nama Rey.
“Dia juga sibuk Alhena”
“sibuk mengejar perempuan yang di sukai nya”
Jawaban Althara berhasil membuat ku diam. Aku tahu yang di maskud nya adalah aku.
Handphone ku berdering di atas meja ku. Terlihat nama Rey muncul di dalam layar,Althara pun melihat itu.
Aku membiarkan handphone ku terus berdering.
“Kenapa ga di angkat?” Tanya nya membuat ku enggan untuk menjawab.
“Mau kamu atau aku yang angkat?” Ancam nya.
“Kalo dia nanya aku lagi dimana aku harus jawab apa?” Nada ku sudah mulai terdengar kesal.
__ADS_1
Kini Althara yang diam dan terlihat tak nyaman. Aku tidak mengerti kenapa setelah semua yang sudah terjadi pun aku masih saja takut melihat Althara yang seperti ini,padahal bisa saja aku melawan nya atau tidak memperdulikan nya. Namun yang kurasakan saat ini,sama seperti beberapa tahun yang lalu. Aku memang bodoh.
Hari mulai gelap,namun Althara masih saja sibuk membaca novel nya. Kami tak saling bicara atau pun saling bercerita kemana dia selama ini. Aku pun enggan untuk memulai percakapan yang hanya akan membuat ku naik darah.
“Aku mau pulang”
Dia tak menggubris ku,dia terus membaca bukunya.
“Althara aku mau pulang” ujar ku dengan sedikit mengencangkan volume suara ku agar dia mendengarnya.
Dia melipat buku nya dan menyimpan nya di atas meja. Dia mengangkat kepalanya melihat taburan bintang yang sudah terlihat bersinar menyinari langit malam itu. Lalu dia melirik pemandangan di samping nya yang sudah mulai terlihat lampu-lampu kota berkelap kelip dengan indah.
Aku menyandarkan diriku di kursi,membiarkan dia menikmati nya dulu. Mungkin dia sedang melepas rindu dengan semua itu.
“Sejak kapan kamu pindah ke jakarta?” Tanya nya tanpa menoleh ku.
“Bukan urusan kamu” ketus ku.
Althara menatap ku dengan tajam. Tatapan itu adalah tatapan yang amat tidak aku sukai. Aku benci ketika aku harus takut untuk tak memperdulikan nya.
“3 tahun yang lalu” akhirnya aku menyerah untuk menjawab nya.
“Kuliah kamu udah selesai?”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Ngga”
“Kenapa?”
“kamu kok kepo banget sih!”
Althara menyimpan kedua tangan nya di meja menghadapi ku yang sudah mulai keras kepala.
“Apa alasan kamu pindah ke Jakarta?”
Aku menatap nya dengan kesal. Bisa-bisa nya dia bersandiwara seolah tidak tahu apa yang telah di lakukan nya terhadap ku selama ini.
“Aku mencoba cari kehidupan baru dan kebahagiaan baru di sini” ada penekanan dalam kalimat ku agar Althara percaya dengan apa yang aku katakan.
“Lalu? Sampai sekarang Kamu belum nemu kebahagiaan baru kamu?”
Aku mengangkat alis ku menatap nya.
“Siapa bilang? Aku hampir mendapatkan kebahagiaan baru kalo aja kamu ga muncul di hadapan aku lagi”
Althara terlihat terkejut dengan ucapan ku. Dia bersandar di kursi nya dan membuang wajah nya menatap pemandangan yang ada di samping nya. Dia yakin dia sedang mencerna ucapan ku, karena terlihat sekali wajah nya begitu risau.
Aku tidak tahu kenapa aku merasa tidak enak melihat dia seperti itu. Ada yang salah dalam diriku,aku benci mengapa aku harus merasa bersalah telah membohongi nya. Namun aku harus sadar,dia sudah menyakiti hati ku lebih dari ini.
__ADS_1
“Kita pulang” ucap nya sambil membereskan semua barang-barang ke dalam tas nya,lalu dia pergi meninggalkan ku.
Aku masih duduk di kursi ku. Mengatur perasaan ku yang sudah tidak menentu,dan pergi menyusul Althara.