
“Hay cantik” sapa Rey seperti biasa dia menggangguku di depan meja kasir di saat aku tengah bekerja.
“Hay Rey”
“Kenapa ga sapa ‘Hay ganteng’”
“Emang kamu ganteng ya?” Ledek ku, dengan tangan masih sibuk di atas keyboard.
“Menurut orang lain sih gitu, tapi kayanya ngga buat kamu”
Aku tertawa dengan reaksi kecewanya.
“Belum selesai kerjaan nya?” Tanya Rey.
“Sebentar lagi ya”
“Oke aku tunggu di luar”
Malam hari nya di sebuah mall, aku dan Rey berjalan beriringan menuju ke bioskop untuk menonton film.
“Mau film apa?” Tanya Rey.
“Film apa aja aku ikut”
“Oke kalo gitu kita nonton Scary Movie” Rey menunjuk salah satu iklan besar di dinding bioskop.
Iklan berisikan film menyeramkan dengan banyak nya hantu-hantu yang menaktukan.
“Jangan jangan jangan jangan” ucap ku menahan Rey.
“Jangan pernah ajak aku nonton film hantu, kalo tidak aku pulang” ancam ku.
Rey tersenyum menertawakan ku.
“Kenapa?’ Tanya nya.
Aku kembali mengingat Althara, dulu aku sering sekali menonton film seperti ini dengan nya dirumah atau pun bioskop. Namun Althara tau, jika aku sudah menonton film yang menyeramkan, di malam hari akan membuat aku sulit untuk tidur dan bahkan membuat ku menjadi parno takut dalam kegelapan.
“Oke,kita pilih film yang lain” ucap nya sambil tersenyum menertawakan ku.
Telepon Rey berdering.
“Sebentar ya aku angkat telepon dulu”
Aku menganggukan kepalaku.
“Hallo tar”
“Gue lagi di mall”
“Sama temen gue”
“Iya Alhena”
Tidak terdengar jawaban dari teman nya itu, namun dari jawaban Rey, teman nya itu ingin mengetahui dengan siapa Rey berada.
“Kenapa?”
“Hah sekarang?”
__ADS_1
“Gue ga bisa tar, gue udah mau nonton ini”
“Tar..”
Rey terlihat kesal sekali kepada teman nya yang ada di sebrang telepon.
“Rey, kenapa?” Tanya ku kepada Rey yang masih menempelkan telepon di telinga nya.
“Temen aku minta tolong untuk persiapan pameran nya yang di adain beberapa hari lagi,tapi gak apa-apa aku udah bilang ga bisa. Ya udah tar sorry gue ga bisa” jawab nya dengan tegas.
“Ngga apa-apa Rey, kita pulang aja ya, lagian film nya ga ada yang seru selain film serem dan aku ga mau nonton itu” ujar ku
“Bener gak apa-apa kita pulang?” Tanya nya meyakinkan.
“Iya Rey”
“Oke kalo gitu. Tar, gue anterin cewe gue pulang dulu habis itu gue ke gedung buat bantu lo”
Aku merenyitkan dahi ku ketika dia menyebutku sebagai ‘cewe gue’ lalu rey menutup telepon nya.
“Cewe gue?” Ledek ku.
“Ya kamu cewe kan?” Ucap nya berdalih.
“Iya aku cewe,tapi kesan nya kayak aku punya kamu”
“Kamu emang ngeras kaya gitu?”
“Ya ngga lah” tangkis ku.
“Ya udah, anggap aja tadi aku salah sebut, harusnya aku bilang ‘anterin cewe yang sama gue’ gitu?”
“Udah,terserah kamu”
“Kalo terserah aku, boleh dong aku anggap kamu cewe aku” ucap Rey menggoda ku.
Aku menatap nya begitu tajam
“Rey” panggil ku dengan sinis untuk memperingati nya.
“Haha iya oke oke oke, aku cuma bercanda Al”
Maafkan aku Rey, aku masih belum bisa sepenuh nya menerima kamu. Sosok Althara masih saja menggangguku. Aku tidak akan bisa menjalin hubungan baru dengan orang lain, jika fikiran ku masih saja penuh dengan Althara.
Aku sudah membersihkan tubuh ku dan mengganti pakaian ku untuk segera bistirahat. Aku membuka lemari ku dan ssesuatu terjatuh dari atas lemari.
Itu sebuah box. Box yang berisikan sebagian kenang-kenangan yang di berikan Althara untuk ku.
Novel berjudul Drhuva, manik-manik bintang yang di belikan Althara ketika berlibur di Jakarta, dan ada beberapa foto polaroid yang masih ku simpan di dalam box. Aku tidak tahu apa tujuan ku masih menyimpan semua ini.
Aku hanya masih berharap, Althara akan kembali suatu saat nanti dan menjelaskan semua yang telah terjadi kepadaku. Dan tidak terasa,aku sudah menunggu nya terlalu lama sehingga aku tidak pernah memikirkan perasaan ku yang sudah merasa kesepian.
Mungkin ini saat nya aku untuk melupakan Althara, aku harus memberikan kesempatan untuk laki-laki lain masuk kedalam kehidupan ku. Aku tidak akan pernah tahu apakah Althara akan kembali atau tidak sama sekali. Jika pun dia akan kembali, hati ku sudah terlalu sakit untuk di pulihkan.
Keesokan pagi nya aku dan Riani berisitirahat di tempat makan junkfood.
“Gue seneng sih lo udah bisa move on dari masa lalu lo Al,tapi jangan sampe lo cuma jadiin Rey pelampiasan doang karena lo terlalu memaksakan diri lo buat lupain Althara”
“Lo kenapa sih Ri? Bukan nya lo ya yang bersikeras buat gue coba buka hati gue untuk orang lain? Kenapa sekarang lo curiga kalo gue cuma manfaatin Rey?” Kesal ku.
__ADS_1
“Bukan gitu Al, ya gue cuma takut aja kalo lo malah nyakitin Rey karna lo masih inget terus sama Althara”
“Ya gue harus gimana Ri? Sampai kapanpun gue ga bisa lupain Althara di hidup gue kayanya” pesimis ku.
“Ge cuma minta lo berusaha tulus buat buka hati lo al, jangan sampe lo ngerasa terpaksa untuk nerima dia. Karena itu sama aja lo nyakitin hati Rey diam-diam”
Ucapan Riani lagi-lagi benar. Aku memang masih begitu memikirkan Althara, dan aku hanya ingin mencoba membuka hati ku kepada Rey, aku tidak pernah memikirkan bagaimana jika setelah aku menerima Rey, aku malah masih memikirkan Althara dan masih tidak bisa menggantikan posisi Althara di hatiku.
“Oh iya Al, kemarin ada cowo ganteng banget sumpah gue ga boong” Riani mulai lagi dengan hiperbolis nya membuat ku malas untuk mendengarkan nya.
“Dia ganteng banget Al, tapi aneh nya dia cuma dateng duduk pesen Coffe Latte doang dan celingak celinguk gitu kaya nyari orang”
“Ya nyari temen nya kali”
“Ga ada Al sampe dia pulang pun ga ada orang yang nyamperin dia”
“Ya temen nya ga jadi dateng kali, lo kebanyakan ngurusin idup orang deh” omel ku.
“Ngga urusan semua orang al, cuma yang ganteng-ganteng aja hehe” aku menggelengkan kepala ku melihat tingkah teman ku yang selalu absurd.
Suara handphone ku berdering.
Rey.
“Hallo”
“Hay Cantik” sapa nya.
“Hay tampan” balas ku sambil tersenyum. Membuat Riani tertawa geli mendengar nya.
“Lagi dimana?”
“Aku lagi sitirahat sama Riani, kenapa?”
“Aku mau ajak kamu ke acara pameran temen aku itu besok malam kamu mau ya?”
“Besok malam?” Aku menatap Riani dan dia seolah mendengar apa yang di katakan Rey. Riani menganggukan kepala nya meminta ku untuk menuruti ajakan Rey.
Tanpa persetujuan dari Riani pun sepertinya aku mau ikut dengan Rey.
“Oke” jawab ku.
“Oke kalo gitu, sampai bertemu besok malam cantik”
“Baik” balas ku lalu aku menutup telepon nya.
“Ngajak kemana dia?” Tanya Riani.
“Ke acara Pameran lukisan temen nya. Sebener nya gue ga mau”
“Kenapa ?”
“Althara dulu kan suka ngelukis, nanti gue malah inget lagi sama dia disana”
Riani menghela nafas nya dengan wajah begitu malas.
“Please deh al, lo harus ngelawan itu semua. Jangan semua tentang Althara lo hindarin, Althara suka ini lo jadi ga mau makan ini, Althara suka ke tempat ini,lo jadi ga mau ke tempat ini. Sekarang Althara suka ngelukis,jangan juga lo ga suka liat lukisan orang. Ayo lah, stop al” ucap Riani begitu lelah menceramahi ku.
“Iya iya Oke, gue berusaha buat lupain itu”
__ADS_1
Dan sebenarnya aku pun tidak yakin akan bisa melupakan semuanya dengan mudah.