
Aku masih terpatung tak percaya dengan apa yang aku dengar.
“Tania?” Tanya ku menatap Althara.
“Kamu kenal aku?” Tanya Tania dengan tersenyum sinis.
“Aku teman SMA Althara” lanjut nya membuat ku semakin tak percaya.
Aku menatap Althara dengan tajam,dan Althara masih saja diam seperti sulit menjelaskan.
“Althara kamu ga pernah cerita ini” ucap ke menatap nya dengan kecewa
“Alhena aku bisa jelasin” dia memegang tangan ku.
“Selama di Jerman kamu ketemu sama dia?” Ujar ku membayangkan mereka berdua disana.
“Jangan berfikir yang lain-lain Alhena. Dia memang kuliah disana juga tapi..”
“Kalian satu kampus? Kamu diem disana di temenin dia ? kamu bilang kamu ga pernah memikirkan wanita lain selain aku!”
Mata ku mulai basah mengingat semua ucapan nya yang membuat aku bisa kembali kepadanya.
“Itu semua benar aku ga pernah berbohong”
“Ini buktinya apa?!” Ucap ku menunjuk Tania dengan kesal.
“Dia sampai nyusulin kamu kesini !” aku menatap nya dengan penuh kekesalan dan rasa kecewa.
Dia berusaha untuk menyentuh tangan ku.
“Dengarkan dulu Alhena, ini ga seperti apa yang kamu kira” ujar nya berusaha menenangkan ku.
“Aku kecewa sama kamu” ucap ku lalu pergi berlari keluar.
Dia mengejar ku.
“Alhena” dia menarik tangan ku ketika aku baru sampai depan gerbang nya.
“Lepasin aku Al”
“Denger dulu aku”
“Ngga aku ga mau” aku terus berusaha melepaskan diriku.
“Alhena please” dia tidak melepaskan genggaman tangan nya.
“Aku mau pulang Althara”
“Oke aku antar kamu pulang”
__ADS_1
“Ngga. Aku ga mau” teriak ku.
“Alhena” teriak nya memegang kedua bahu ku.
Aku terdiam mendengar teriakan nya.
“Aku antar kamu pulang” ucap nya dengan tatapan yang serius. Aku terdiam tak bergerak di hadapan nya dan mulai menangis.
Dia menarik tangan ku menuju mobil nya. Dia membuka pintu mobil dan meminta ku untuk masuk kedalam mobil nya. Dengan lemah aku masuk kedalam dan duduk dengan perasaan yang tidak tenang. Aku terus menghapus air mata ku yang mulai membasahi pipi.
Althara dengan cepat masuk kedalam mobil nya dan segera melajukan nya ke luar rumah,meninggalkan Tania yang hanya bisa diam melihat Althara mengantarku pulang.
Di sepanjang perjalanan aku terus menangis tak henti-henti nya memandang keluar jendela. Rasa kecewa yang aku rasakan begitu hebat. Aku tak percaya Althara merahasiakan tentang Tania selama ini kepadaku. Selama di Jerman mereka bersama,mana mungkin mereka tak kembali menjalin kasih disana. Althara terus diam tak menjelaskan apapun dengan apa yang baru saja terjadi sampai membuat ku menangis.
Sampai di rumah dengan cepat aku turun dari mobil dan berjalan cepat masuk kedalam rumah. Althara berhasil mengejar ku dan menghalangi ku di depan pintu.
“Aku mau masuk Althara” ujar ku dengan dingin dan berusaha untuk tak menangis lagi.
“Aku mau bicara” ucap nya dengan menatap ku tajam.
“Aku ga perlu penjelasan apapun lagi” ucap ku dengan penuh kecewa.
“Tapi aku mau jelasin semua nya”
Aku menatap nya dengan begitu sedih.
“Kenapa sih tar,kenapa harus sekarang? Kenapa kamu mau jelasin semua nya setelah aku tahu dan ngeliat sendiri” aku kembali sedih menatap Althara.
“Dengar Alhena” dia memegang kedua pipi ku namun aku melepaskan nya enggan untuk di sentuh nya.
“Aku ga pernah berusaha bohongin kamu. Aku lagi cari waktu yang tepat untuk menceritakan ini semua Al,dan aku juga bingung gimana cara jelasin nya. Aku cuma takut kamu ga bisa terima dan percaya”
“Gimana kamu bisa tahu kalo aku ga bisa percaya dengan semua kejujuran kamu?” Kesal ku.
“Buktinya kamu gak mau dengerin penjelasan aku Alhena. Kalau kamu percaya sama aku,kamu ga mungkin kaya gini”
Althara memang benar. Jika dia menceritakan hal ini sebelum nya aku pasti akan marah besar sama seperti ini. Dan aku pasti ga akan terima setelah mengetahui semua nya.
“Bisa kasih kesempatan aku untuk bicara?” Althara kembali memohon dengan menatap ku begitu bersungguh-sungguh.
Aku menghapus air mata ku dan berusaha untuk menenangkan suasana hati ku.
“Kita bicara di dalam” ujar ku.
Lalu Althara menghindar dari depan pintu ku dan aku membuka kan kunci rumah agar kami berdua bisa segera masuk.
Aku dan Althara duduk di meja tamu setelah aku menyalakan seluruh lampu ruangan.
Aku duduk dengan melipat kedua tangan ku dan enggan untuk menatap Althara. Sementara Althara duduk menekuk satu kaki nya di sofa untuk mengahadap kepadaku.
__ADS_1
Dia berusaha menyentuh pipi ku namun aku membuat penolakan dengan menggerakan kepalaku. Althara menghela nafas dan mendekatkan dirinya kepadaku untuk siap menjelaskan semuanya.
“Dulu semasa SMA,aku dan Tania pernah punya hobi yang sama yaitu melukis. Dia juga punya bakat dalam hal itu,dan itu yang membuat aku suka sama Tania dulu”
Aku memutarkan bola mataku mengingat dulu mereka saling suka,itu masih saja membuat ku cemburu.
“Dan kita pernah punya cita-cita untuk mendalami bakat kita ke perguruan tinggi di Jerman. Universitas yang terkenal bagi yang mempunyai seni lukis,ya tempat aku kuliah sekarang, kuliah disana memang impian ku dari dulu Alhena”
Ya dia rela meninggalkan ku karena impian nya itu
“Dan aku berani sumpah kalau aku ga pernah denger lagi kabar dari Tania setelah dia keluar dari sekolah dulu. Aku ga pernah tau kalo ternyata dia kuliah di Jerman satu tahun setelah aku kuliah disana. Kita ga sengaja ketemu di Lobby kampus waktu itu,aku hampir ga ngenalin dia tapi dia negur aku. Aku aja sempet bingung bisa ketemu lagi sama dia di Jerman”
Sudah seperti sinetron bukan ?
“Dia bilang dia punya kesempatan dari pertukaran mahasiswa di kampusnya. Dia kuliah di Jogja dan dia dapat penawaran buat pertukaran mahasiswa di kampus ku, dan waktu itu hari pertama dia belajar disana,dia minta aku buat temenin dia karena dia masih bingung dengan bahasanya”
“Dan kamu mau kan?” Sinis ku menatap nya.
Dia menggelengkan kepalanya.
“Aku bilang sama dia,kalau dia cuma perlu download aplikasi translate di handphone nya biar mudahin dia artiin bahasa Jerman”
Sedikit lega aku mendengarnya,setidak nya Althara tidak murahan mau begitu saja di peralat wanita yang dulu menyakitinya.
“Selama disana dia memang suka buntuti aku di kampus dan dia suka banget bikin aku risih,dia suka pura-pura minta tolong ini minta tolong itu,tapi ga pernah aku tanggepin,yang sering tanggepin malah Rey dulu. Kalau kamu masih perlu bukti aku bisa telepon temen-temen aku buat ceritain gimana cuek nya aku ke Tania dulu selama kuliah”
Aku masih saja diam.
Aku masih merasa kecewa walaupun Althara sudah menjelaskan semua nya. Aku tau dia berusaha untuk jujur tapi hati masih saja merasa sakit hati karena menyaksikan sendiri Tania ada dirumah nya.
Althara menggenggam kedua tangan ku.
“Alhena” lirih nya.
“Kamu harus percaya selama ini cuma kamu yang aku fikirin,aku ga pernah sedikit pun bisa lupain kamu. Bukan kamu aja yang tersisa selama beberapa tahun kemarin,aku juga tersiksa sama penyesalan yang terus hantuin aku selama di Jerman,please percaya sama aku”
Ujar nya dengan tatapan nya yang begitu tulus. Membuat ku menjadi merasa luluh kembali.
“Tapi kamu harus janji. Setelah ini ga ada yang boleh kamu tutup tutupin lagi Althara” ujar ku memperingati nya.
“Aku janji” ucap nya dengan tersenyum.
“Aku janji akan mengembalikan semua waktu yang sempet kebuang sama kamu”
“Berarti kamu harus tebus waktu 6 tahun aku yang udah kamu tinggalin” kesal ku memicingkan mata kepadanya.
Althara tersenyum manis kepadaku.
“Aku tinggalin kamu selama 6 tahun,dan aku akan menebusnya dengan selamanya” ujar Althara menatap ku begitu dalam.
__ADS_1
Aku menatap nya dengan bingung. Althara masih menatap ku dengan begitu dalam dan penuh kasih sayang nya.
Dia memegang leher ku dan mencium bibirku dengan lembut.