7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Membuat Roni mengerti


__ADS_3

Esok pagi aku langsung menelepon teman-teman ku untuk membicarakan tentang hal kemarin ketika aku tiba-tiba bertemu Roni dan menceritakan tentang apa yang di katakan Roni kepada semua teman ku lewat video call.


“Hah Roni beneran ngomong gitu?” Tanya Tata tak percaya.


“Iya bener” jawab ku dengan meninggalkan handphone ku di atas meja kerja di kamar dan aku sibuk kesana kemari bersiap untuk pergi.


Aku mengambil bando bulu ku yang berada di lemari pakaian ku lalu kembali ke meja kerja ku.


“Terus dia berani minta nomer gue depan Althara lagi. Gila kan dia?”


“Wah nyari mati si Roni. Dia ga tau apa lo sama Althara udah mo married. Jangan sampe dia jadi pengacau di acara pernikahan kalian nanti” ujar Ghea menakuti ku.


“Ih apaan sih lo. Mana bisa dia ngacauin pernikahan gue sama Althara. Siapa emang dia?” Tanya ku begitu geli membayangkan nya.


Ketiha teman ku di video call tampak tertawa mendengar nya.


“Tapi dia sekarang udah sukses tau Al. Dia udah keren mapan,ganteng, berotot ah pokok nya keren banget” ujar Tata masih saja mengkhayalkan tentang kehidupan Roni sekarang.


“Ih ya udah lo aja tuh pepet dia,gue sih ogah banget” ucap ku dengan raut wajah yang begitu jijik.


“Eh bentar Althara telepon ini” ucap ku melihat ada nama Althara muncul di layar ponsel ku menghalangi gambar teman-teman ku.


“Oke oke” jawab mereka.


Lalu aku langsung menerima telepon dari Althara.


“Kenapa whatsapp mu susah di hubungi?” Tanya Althara langsung saja memarahi ku.


“Aku lagi teleponan sama temen-temen ku tadi conference video call maaf” ucap ku dengan menyelipkan ponsel di antara telinga dan bahu ku.


“Tumben” ujar Althara.


“Iya kita lagi bahas tentang baju bridesmaids sama groomsman nanti warna apa gitu terus model gimana” ucap ku sedikit berdalih.


Awal nya memang kita membicarakan tentang hal itu, namun akhirnya aku bergosip tentang Roni yang tiba-tiba selalu menggangguku.


“Hari ini kamu kemana?”


“Aku temenin Mama ke rumah saudara dulu,lalu pulang nya mau liat liat contoh undangan dulu untuk disini. Undangan untuk disana udah kamu liat kan?” Tanya ku. Karena aku dan Althara masing-masing memiliki tugas untuk mengurus pernikahan di tempat masing-masing.


“Uda. Ya seperti biasa,aku hanya tinggal bilang oke”


Aku tertawa mengingat Althara tidak pintar dalam menilai hal semacam itu. Dia mempercayai semua pilihan yang di berikan Bunda dan Ayah nya.


“Besok aku pulang ke Bandung dan kita beli bahan untuk bridesmaids dan groomsman ya” ujar Althara.


“Oke”


“Hati-hati dan kabari aku secepatnya ya”


“Oke Althara”


Lalu dia menutup telepon nya. Aku langsung bersiap untuk pergi mengantar Mama jalan-jalan demi kepentingan acara pernikahan ku.


Beberapa hari kemudian. Althara mengajak ku untuk pergi fitting baju pernikahan di sebuah boutique besar di Bandung. Lalu esok lusa aku dan Althara juga harus fitting baju pernikahan di Jakarta. Begitulah kesibukan ku dan Althara saat ini dan sampai nanti hari pernikahan kami selesai.


Gaun pengantin ku di Bandung bernuansa putih sedangkan di Jakarta bernuansa emas. Kami hanya mengikuti keinginan keluarga kami masing-masing untuk semua nya. Dari nuansa,dekorasi,tempat,katering dan model dari undangan nya. Kami hanya bertugas untuk melihat dan menyetujui nya saja.


Hari ini aku memakai kemeja putih polos dan memakai jeans panjang dan memasukan kemeja ke dalam celana nya. Sehingga pinggang slim ku dapat terlihat. Aku mengikat rambut ku seperti kuncir kuda dan menggelombangkan nya agar terlihat lebih bervolume. Sementara Althara hanya memakai kaos oversize abu dam celana besar berwarna hitam. Dia tampak tampan dengan style seperti orang korea.


“Capek?” Tanya Althara melihat ku yang begitu lesu berjalan di dalam mall.


“Lumayan” jawab ku dengan tersenyum kepadanya.


Aku dan Althara baru saja membeli perlengkapan tambahan untuk acara pernikahan kami nanti. Kami hanya membeli bahan baju untuk bridesmaids dan groomsmen untuk teman-teman kami pakai nanti.


Mereka juga akan memakai nya di Bandung dan di Jakarta. Mereka akan menemani kami sampai acara kami selesai.


“Makan dulu?” Tanya Althara dengan terus merangkul ku.


Aku langsung terlihat bersemangat dan menganggukan kepala ku. Aku memeluk Althara dari samping sambil berjalan mencari sebuah Restaurant yang akan kita kunjungi.


“Alhena” panggil seseorang menghampiri ku.


Roni. Aku terkejut melihat nya,bahkan Althara juga bingung. Kita menghentikan langkah melihat Roni berjalan ke arah kami.


“Hay Althara” sapa Roni ketika melirik Althara.


Roni tampak begitu rapih dengan pakaian nya yang formal dan rambut nya begitu rapih.


“Lo lagi apa disini?” Tanya ku berusaha ramah.


“Aku ada kerjaan,baru aja mau pergi lagi” jawab nya.


“Kalian lagi apa disini?” Tanya Roni.

__ADS_1


“Kita baru aja belanja bahan pakaian,terus baru aja mau cari makan” jawab Althara mewakili ku.


“Mau makan?” Tanya Roni.


“Iya” jawab Althara dengan tenang.


“Mau coba di Restaurant ku?” Tanya Roni.


Aku dan Althara saling tatap bingung dengan tawaran nya.


“Kebetulan aku buka salah satu Restaurant disini. Ada di lantai atas,masakan nya jepang enak juga kok. Aku yakin bisa cocok dengan lidah kalian” sambung nya.


“Oh ngga ngga. Ngga usah,aku lagi ga mau makanan jepang,aku lagi mau makan ayam bakar gitu makanan lokal kayak nya enak deh” ucap ku berusaha begitu meyakinkan.


Althara semakin curiga melihat ku.


“Kenapa Al, bukan nya kamu suka makanan jepang?” Tanya Roni menatap ku dengan tajam.


Aku balas menatap nya dengan kikuk. Dari mana Roni tahu jika aku suka dengan makanan Jepang?


Althara menatap ku semakin bingung.


“Ya dia memang suka makanan Jepang” sahut Althara dengan terus menatap ku curiga.


“Kita makan di tempat nya” ujar Althara dengan ketus menatap ku.


Dia mengetahui ada yang aneh antara aku dan Roni. Dia mencurigai sesuatu,dia mau mencari tahu tentang rasa curiga nya.


“Bagus. Ayo ikut aku” ujar Roni mengajak kami.


Althara masih saja menatap ku dengan sinis. Aku hanya bisa menundukan kepala ku karena dia telah bisa membaca raut wajah ku yang kikuk,padahal aku pun tidak tahu darimana Roni tahu makanan kesukaan ku.


Kita sampai di Restaurant Roni. Kami langsung duduk dan pekerja melayani kami layak nya pelanggan vip.


“Kalau ada yang kurang,kalian bisa panggil pelayan aku ya” ucap Roni setelah semua makanan di hidangkan di atas meja dengan cepat,padahal ini bukan fast food.


Aku dan Althara segera menyantap semua makanan ala jepang itu,dari Sushi,Ramen,dimsum dan olahan lain nya.


Beberapa jam kemudian aku dan Althara menghabiskan makanan di meja.


Althara tersenyum melihat ku yang begitu lahap makan,terlihat sekali aku sudah kelaparan,Althara juga tahu persis jika aku begitu menyukai makanan Jepang ini.


“Kenyang?” Tanya nya menyentuh pipi ku.


Aku tersenyum kikuk kepadanya dengan malu.


“Aku kenyang Althara” ucap ku dengan manja.


“Oya?”


“Iya bener”


“Ya udah,kita pulang ya”


“Aku ke kamar mandi dulu” ucap ku meminta izin.


Aku melirik toilet yang berada di belakang meja kasir.


“Oke” jawab Althara.


Aku langsung pergi ke toilet meninggalkan Althara sendiri disana.


Beberapa menit kemudian,aku keluar dari toilet dan mendapati Roni sudah berada di depan toilet.


Aku menatap Roni dengan bingung.


Aku melirik sign toilet itu,memastikan aku tidak salah masuk toilet.


“Ini toilet cewe Ron” ujar ku mengira jika dia salah menunggu untuk masuk ke toilet.


“Iya gue tahu. Gue cuma mau ngomong sesuatu Al” ujar Roni.


“Ya udah ngobrol nya di sana aja bareng Althara” ucap ku dengan hendak pergi meninggalkan nya.


“Sebentar Al” Roni menahan ku.


Aku terkejut melihat tangan nya yang memegang tangan ku.


“Sorry” ujar Roni sambil melepaskan genggaman nya.


“Gue cuma mau bicara berdua sama lo Al”


“Bicara apa sih Ron?” Kesal ku yang sudah mulai malas.


“Al,apa lo ga bisa terima perubahan gue sekarang? Lo ga tertarik dengan apa yang gue punya sekarang?”

__ADS_1


Aku mengkerutkan kening ku mendengar ocehan nya.


“Maksud lo? Kenapa lo bisa berfikir kalo gue bakal suka sama lo sekarang?” Tanya ku begitu heran dengan rasa percaya diri nya.


“Gue udah berubah Al. Gue udah lebih seperti cowo lo. Gue bisa kasih semua yang lo mau sama seperti Althara. Lo apa ga bisa coba buka hati lo untuk gue dulu?”


Aku tertawa kecut mendengar ocehan nya yang terlalu percaya diri.


“Roni. Denger ya,gue seneng lo udah berubah,gue juga ga nyangka kata-kata gue yang hanya asal ngomong bisa jadi motivasi untuk lo berubah jadi kaya gini. Tapi bukan berarti gue juga harus ikut andil dengan perubahan lo Ron. Gue cuma liat doang dan tau kabar lo kaya gini aja udah seneng. Dan harusnya lo ga perlu dapet penghargaan apa-apa dari gue dengan perubahaan lo” ujar ku dengan kesal.


“Tapi Al. Seengga nya lo mau dulu untuk coba buka hati lo untuk gue, kasih waktu gue untuk buktiin semua sama lo. Kalo gue juga layak untuk bisa dapetin lo”


Aku berdecak kesal mendengar dia yang semakin ngawur. Karena kita hanya saling kenal selama sekolah saja dan setelah itu aku hampir lupa pernah berteman dengan dia,lalu tiba-tiba dia datang dan mau mencoba hubungan dengan aku.


“Alhena gue udah kagumin lo semenjak SMA dan gue berusaha berubah seperti Althara biar gue bisa pantas buat jadi saingan dia sekarang”


“Dan lo udah ngerasa pantas?” Tanya Althara yang tiba-tiba saja datang dan menyahuti ucapan Roni.


Aku menatap nya terkejut dan sudah harus meratapi diri ku yang pasti akan di marahi nya setelah ini.


Althara menghalangi ku untuk berdiri tepat di hadapan Roni. Mereka saling perang menatap dengan sinis.


“Lo fikir sekarang lo udah pantes buat dapetin Alhena hanya karena lo udah memiliki segalanya?” Tanya Althara mencibir Roni.


“Dengar Ron. Lo ga tahu gimana Alhena,orang yang memiliki derajat yang lebih tinggi dari pada lo aja bisa dia tolak,apalagi cuma lo Ron. Saingan yang pantas bersaing sama gue cuma cowo yang punya rasa rendah hati dan ga sombong kaya lo. Percaya sama gue,Alhena ga sematre yang lo kira” ujar Althara begitu mewakili perasaan ku.


“Gue dan Alhena akan menikah bulan ini. Dan lo pasti akan gue undang ke acara pernikahan gue”


“Dan satu lagi” ujar Althara menunjukan Bill yang baru saja di bayar Althara.


“Gue disini adalah pengunjung Restaurant lo,bukan datang sebagai seorang yang cari keuntungan karena restaurant ini milik teman kita jadi bisa makan gratisan. Kita bayar” ujar Althara menyerahkan Bill itu ke telapak tangan Roni.


Althara menggenggam tangan ku.


“Kita pulang” ajak nya dengan menatap tajam mata ku.


Aku masih saja diam tak menjawab nya. Althara menarik tangan ku keluar dari Restaurant dan meninggalkan Roni yang terpatung di tempat nya.


Di sepanjang jalan aku dan Althara terus saja diam tak berbicara. Aku diam karena aku takut,sementara Althara diam karena dia kesal karena aku telah menyembunyikan tentang Roni.


“Kenapa dia terlihat begitu terobsesi sama kamu?” Tanya Althara akhirnya tanpa menoleh ku dengan terus mengemudi.


“Aku juga ga tau tar. Dia tiba-tiba saja bilang kalo dia berubah seperti itu karena termotivasi ucapan aku dulu”


“Ucapan apa?” Tanya Althara.


“Iya memang dulu Roni terlihat cupu di kelas aku,penampilan dia pun keliatan banget kalau dia si kutu buku dan kaya gada semangat hidup gitu. Terus aku cuma kasian aja sama dia,dia sama sekali ga punya temen,dia kaya kesepian. Dan aku sering bilang sama dia,kalo pinter aja ga cukup buat dia bisa di hargain orang-orang,minimal penampilan dia harus bisa buat orang lain tertarik atau ga sekedar di hargain sama orang-orang di sekitar nya. Dan dia bener-bener berubah” ujar ku dengan sedikit menyesal karena aku memberikan motivasi kepada orang yang ternyata terobsesi kepadaku.


“Dia baper cuma karna itu?” Tanya Althara tak menyangka.


“Ya aku juga ga tau pasti” jawab ku dengan ragu.


Lalu Althara tiba-tiba tertawa,aku menatap nya dengan bingung.


“Kenapa?” Tanya ku heran.


“Hahaha ngga,aku rasa itu lucu,dia berubah seperti itu bertahun tahun karena motivasi dari kamu,dan tiba-tiba dia bilang kalau dia ingin kamu juga bisa suka dengan hasil jeripayah dia berubah” ujar Althara dengan terus tertawa. Dia merasa jika hal itu lucu untuk nya,sedangkan aku mengira jika dia akan marah besar karena itu.


“Altharaaaa” kesal ku.


“Kok kamu ga marah?” Lanjut ku.


“Buat apa?” Tanya dia dengan berusaha menghentikan tawa nya.


“Aku cuma ga suka aja dia tadi seolah pantes bersaing sama aku,aku kira karena dia mantan kamu atau mungkin dia sempat deket sama kamu dulu,jadi aku marah karena kamu ga pernah cerita tentang itu. Ternyata cuma fans sekolah” jawab Althara dengan menggelengkan kepala.


Althara memang benar. Sikap Roni memang membuat aku juga terkejut dengan keinginan nya yang ingin aku mencoba menyukai nya hanya karena perubahan yang dia miliki. Tapi aku kira Althara akan menanggapi dengan serius tentang itu.


“Ya berarti motivasi kamu bagus Al,mendorong orang untuk berubah seperti ini”


“Ya tapi dia bisa-bisanya nyuruh aku buat coba buka hati aku buat dia. Kamu ga takut kalo dia ngambil aku dari kamu?” Tanya ku menakuti nya.


“Aku ga akan takut kamu di ambil siapapun. Karena aku yakin kamu ga akan bisa pergi dari aku” ujar nya begitu percaya diri.


“Masa?” Ledek ku dengan wajah begitu tak yakin.


“Mau buktikan?” Tantang Althara membuat ku takut.


“Eh ngga ngga,buktikan apa?” Jawab ku panik


“Iya iya aku ga akan mungkin bisa pergi jauh dari kamu,karena dimana pun aku,kamu selalu berputar di sekitar aku kan?” Jawab ku dengan mengingatkan kisah tentang polaris atau Dhruva star.


Lalu kita berdua tertawa.


Hari itu kita langsung membagikan bahan kain dan jass untuk mereka yang akan menjadi bridesmaids dan groomsmen di acara pernikahan kita nanti. Biar mereka langsung yang menjahit nya sendiri dengan model yang mereka inginkan.

__ADS_1


Aku dan Althara kembali mengurus hal lain di rumah kita masing-masing.


__ADS_2