
Esok pagi Althara kembali menjemputku tepat waktu. Aku berlari kebawah begitu aku memastikan di jendela kamarku bahwa yang menjemputku adalah Althara dan bukan si berengsek Devan.
“Hay” sapa ku dengan manis begitu aku menghampirinya.
Althara menyunggingkan senyum nya.
“Ceria banget. Dapet keajaiban apa gue hari ini liat lo ga cemberut” ledek nya yang heran melihat ku seceria ini.
“Hah, ngga apa-apa” tangkis ku berusaha menyembunyikan perasaan ku yang memang sedang bahagia melihat nya.
“Gak ngomel lagi karena ga gue jemput kan?” Ledek nya lagi, membuat ku malu karena telah memaki nya kemarin.
“Iya, sorry”
Althara menggelengkan kepalanya melilhat tingkah ku yang tersipu malu.
“Ya udah ayok”
Aku kembali tersenyum senang memakai helm nya lagi dan pergi menuju sekolah.
Jujur saja, aku merasakan ada kenyamanan setiap kali aku bersama dengan Althara. Berbeda dengan Devan, sejak awal aku sudah merasa risih jika dia selalu mengangguku.
Perasaan apa yang aku punya ini? Aku tidak mungkin memiliki perasaan kepadanya. Aku tidak boleh membuat perasaan ini semakin jauh, aku harus bisa mengenadilkan nya sebelum aku kecewa.
Hari terkahir latihan pun selesai.
“Haahh akhirnya latihan nya lancar. Ibu harap besok kalian bisa memenangi lomba ini ya, Ibu yakin kalian bisa,kalian bisa ngalahin sekolah lain dengan mudah, bu percaya itu” Optimis bu Renatha yang membuat kita semangat.
“Kita pasti bisa bu” ujar Edo.
“Bener,kita pasti bisa bawa piala lagi” tambah Kevin.
“Iya dong, vokalis nya kan baru, kali aja bisa membawa keberuntungan, iya ngga?” ucap Rizal sambil tertawa memuji ku.
Aku jadi teringat dengan sosok Tania.
Aku menatap Althara yang terlihat sedang memikirkan sesuatu ketika Rizal membahas sang vokalis baru. Aku yakin yang di maksud Vokalis lama adalah Tania tapi kemana dia sekarang. Namun aku merasa itu bukan urusan ku dan sebenarnya aku tidak perlu tahu itu.
“Permisi bu” seseorang berdiri di ambang pintu mengalihkan perhatian semua orang.
Devan. Aku begitu terkejut melihat nya, seketika membuat raut wajah ku menjadi kesal kembali.
“Latihan nya udah selesai bu?” Tanya nya melirik ku.
__ADS_1
Devan masih saja berani menghampiriku walau sudah ku peringati, begitu menyebalkan nya dia.
“Sudah, ada apa Devan?”
“Saya mau bicara dengan Althara bu”
Sontak aku langsung menatap Althara bingung. Dia berdiri dengan dingin tanpa berkata apapun, dan dia menghampirku.
“Tungguin gue, jangan kemana mana” pinta nya dengan serius.
Aku menganggukan kepala ku dengan khawatir. Rizal,Edo dan Kevin saling melempar pandang. Aku yakin mereka mengetahui sesuatu antara Althara dan Devan, dari tatapan mereka, karena mereka terlihat begitu khawatir sekali.
Ada apa sebenarnya antara Althara dan Devan ?
Aku duduk di depan ruang musik menunggu Althara.
“Al, gue duluan gak apa-apa? Ini udah sore banget” ujar Kevin keluar dari ruang musik.
“Iya gak apa-apa kak, aku masih nunggu Althara” ucap ku.
“Gue juga pergi ya, kalo ngga,lo coba Telepon dia deh”
“Udah kak, tapi ga aktif”
Aku mengangguk an kepala ku sambil tersenyum.
“By alhena”
“Bye kak hati-hati”
“Oke”
Lalu mereka semua pergi meninggalkan ku sendirian disini.
Aku sudah mulai bosan dan kesal menunggu Althara yang tak kunjung datang. Aku melirik jam di tangan ku, ini sudah sore sekali, harus berapa lama lagi aku menunggu nya disini.
Aku berdecak begitu kesal dan pergi mencari keberadaan Althara. Harusnya prinsip nya yang ‘tidak suka menunggu’ itu harus di terapkan juga kepadaku, agar dia tidak seenak nya seperti ini.
Aku terus berjalan di koridor sekolah mencari sosok Althara dan Devan sampai aku mendengar suara hantaman yang begitu besar.
Bug,,bug,,bug
Aku mempertajam pendengarkan ku berusaha mencari dari mana suara itu berasal,namun seperti nya suara itu berada jauh dari tempat ku berdiri. Aku mengikuti arah suara yang sudah mulai terdengar lebih jelas.
__ADS_1
“Lo emang berengsek!” Itu suara Althara.
Begitu terkejut nya aku melihat Althara yang sudah menindih Devan yang sudah terkapar tak berdaya. Althara sudah siap untuk kembali menghantam Devan dengan kepalan nya yang sudah di acungkan tinggi.
“ALTHARAA!!” Teriak ku berhasil menghentikan Althara.
Aku begitu syok dengan apa yang aku lihat ini, begitu banyak lebam di wajah Devan, baju nya yang sudah berantakan membuat Devan begitu memprihatinkan terkapar di lantai. Nafas Devan pun terlihat begitu cepat dan berat.
Althara berdiri masih membelakangiku, lalu dia berbalik dengan perlahan. Ternyata dia tak kalah kacau nya dengan Devan, aku menggelengkan kepalaku dengan sedih melihat Althara yang juga sudah terluka. Pipinya membiru, kening nya pun berdarah,rambutnya berantkan,dan baju nya sudah kusut tak beraturan. Dia menyeka darah yang ada di sudut bibirnya.
Althara berjalan menghampiriku. Dia berdiri di hadapan ku dan hanya menatap ku dalam diam. Aku melihat Devan yang berusaha duduk memegang perut nya yang terlihat kesakitan, dia menyandarkan diri di tembok menahan rasa sakit yang terlihat begitu parah.
Entah apa yang diributkan nya namun aku harus menolong Devan yang terlihat lebih membutuh kan pertolongan ku. Aku hendak melangkah kan kaki ku menghampiri Devan namun Althara memegang lengan ku.
Aku menatap nya bingung, dia sama sekali tak memberikan ku alasan kenapa dia menahan mu. Aku berusaha melepaskan diriku dengan kesal, namun tangan Althara tak membiarkan ku untuk lepas dari genggaman nya. Tatapan Althara begitu lirih, layak nya seperti orang memohon. Aku menghela nafas kesal dan mengikuti nya pergi dari sana.
Kita berhenti di salah satu minimarket dekat sekolah. Aku membersihkan dulu luka yang di terima Althara dengan obat yang aku beli di minimarket.
“Aww sakit” ujar nya sambil memajam kan matanya menahan pedih ketika aku mencoba membersihkan luka nya dengan alkohol..
“Aw, bisa pelan pelan ga sih Al”
dia terus saja meringis kesakitan. Namun aku berusaha sabar untuk tak menanggapi nya.
“Alhena, jangan kenceng-kenceng bisa ga sih, itu sakit !”
Emosi ku sudah mulai terpancing, dan aku menatap nya kesal.
“Kalo lo ga mau gue tolongin, kenapa tadi lo ga biarin aja gue bantuin Devan, kayak nya luka dia lebih parah dari lo !” Ucap ku kesal. Membuat dia diam merasa bersalah.
Aku menghela nafas begitu berat menatap nya yang hanya diam. Aku berdiri dan hendak pergi membeli minum Althara menahan tangan ku.
Aku menatap nya dengan kesal menunggu dia berbicara.
“Jangan lagi deketin Devan” ucap nya tak lagi terdengar menyebalkan.
Aku menatapnya bingung.
“Gue mohon” aku tersentak mendengar dia memohon tak biasanya.
Sebenarnya ada apa antara dia dan Devan, kenapa aku harus mengikuti keinginan nya ?
“Gue mau beli minum” ucap ku melepaskan genggaman tangan nya.
__ADS_1