
Hari demi hari telah berlalu. Dengan berat hati aku mengetikan surat resign di dalam laptop ku ketika malam hari.
Aku harus menepati janji ku kepada Althara. Namun seperti nya berat sekali untuk mengambil keputusan. Aku tidak pernah memimpikan diri ku menjadi Owner di restaurant Daniel. Aku merasa masih terlalu jauh untuk melangkah kesana,tapi Daniel mematahkan rasa pesimis ku dan dia menganggap ku pantas untuk menjadi seorang pemiliki Restaurant itu. Daniel selalu bilang jika aku layak mendapatkan itu semua.
Keesokan nya Althara menjemput ku di pagi hari.
“Aku udah urus kepindahan ku di Bandung. Aku menempati rumah lama ku” Ucap Althara ketika kami sudah setengah perjalanan menuju Restaurant.
“Rumah lama? Bukan nya rumah lama kamu di Bandung di jual?” Tanya ku mengerutkan kening.
Ketika mengingat dulu pernah mencari Althara kerumah nya dan aku mendapati rumah nya sudah di huni oleh keluarga lain.
“Siapa bilang?” Heran nya.
“Aku pernah kesana,terus aku liat yang nempatin nya orang lain”
“Itu saudara ku. Mereka izin untuk tinggal disana selama beberapa bulan sampai rumah mereka yang di Bandung selesai di bangun terus mereka pergi lagi dan rumah ku kosong. Kemarin udah mulai di bersihin sama pekerja ku,barang-barang pun udah di lengkapi kembali”
Aku menganggukan kepala ku.
“Terus kamu gimana?” Tanya Althara dia menanyakan tentang rencana resign ku.
“Aku udah buat surat resign nya. Tapi aku bener-bener masih bimbang Al, aku jadi kefikiran sama tawaran Daniel”
Althara masih diam menatap lurus jalanan fokus menyetir.
“Kamu bisa bayangin ga? Aku jadi salah satu pemilik Restaurant itu,dan aku ga perlu bangun semua dari awal karena aku kan udah ngerti dan paham struktur dan prosedur nya kaya apa,jadi aku tinggal jalanin aja Restaurant nya. Apa ga sebaiknya aku coba dulu untuk beberapa tahun Al?”
Althara diam sejenak memikirkan keinginan ku.
“Semua keputusan ada di tangan kamu. Apapun yang buat kamu bahagia aku akan dukung”
Jawab nya dengan wajah yang datar,seperti tidak senang namun dia tidak bisa membuat ku sedih.
“Cafe yang di Bandung ?” Tanya ku.
“Itu akan tetap aku kelola. Biar aku sama anak-anak yang coba urus Cafe itu,itung-itung kita coba terjun ke dunia bisnis,kalo ga cocok kita bisa tutup Cafe itu kan”
Ujar Althara membuat ku terharu. Dia benar-benar tidak ingin membuat ku bimbang,dia ingin aku bahagia dengan keputusan ku.
“Oke” jawab ku dengan manis.
Kita sampai di depan Restaurant ku.
“Nanti pulang nya aku mau ke kantor dulu bareng Riani?” Ujar ku sambil melepaskan seatbelt.
“Ada apa?” Tanya nya.
“Aku mau kasih data sales ke Daniel”
“Jadi aku jemput kesana ?”
Aku menganggukan kepala ku.
“Iya”
“Ya sudah”
“Bye Althara” pamit ku sebelum membuka pintu mobil.
“Bye Alhena” jawab nya sambil tersenyum manis,lalu aku keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam Restaurant.
Aku segera bekerja di belakang meja kerja ku. Aku mengejar data sales ku yang akan aku berikan kepada Daniel sore nanti.
__ADS_1
Aku melihat Riani yang baru saja melayani pengunjung.
“Ri” panggil ku.
“Ya” Riani menghentikan langkah nya.
“Lo masuk pagi kan?” Tanya ku.
“Iya. Kenapa emang?”
“Pulang kerja anter gue ke kantor ya” ucap ku merengek.
“Duh mau ngapain sih. Gue males nih,kenapa lo ga minta anter Althara aja?” Ujar nya mengerutkan kening.
Aku langsung memasang wajah cemberut.
“Ri please. Gue males naik mobil macet banget ntar. Gue minta anter lo nanti gue traktir makan” pinta ku membuat mata nya membulat.
“Makan di masakan Jepang” seru nya berantusias.
“Iya oke” ucap ku sambil malas.
“Yes”
“Ya udah berarti pulang nya tunggu gue ya” ucap ku.
“Oke” jawab nya dengan penuh semangat. Lalu kami kembali ke pekerjaan kami masing-masing.
Sore hari aku dan Riani sudah sampai di kantor. Riani terlihat malu,karena dia jarang sekali datang ke kantor jika tidak ada hal yang sangat penting. Di kantor ini hanya bos bos besar saja yang bekerja di sini,dan para atasan Restaurant yang selalu mengadakan meeting di kantor ini.
“Lo yakin Daniel ada di kantor?” Tanya ku kepada Riani. Karena sebenarnya aku belum membuat janji kepada Daniel akan memberikan data sales yang di minta nya di berikan di kantor.
“Menurut group chatting yang gue baca sih gitu. Daniel katanya ada di kantor sampai jam 7 malem”
Aku menganggukan kepala dengan terus berjalan menuju ruangan Daniel yang berada di lantai 6 paling atas.
Aku dan Riani sampai di depan ruangan Daniel.
“Receptionist nya mana?” Tanya Riani melihat meja receptionist kosong tak ada orang.
“Gak tau”
Aku mendekati pintu besar di samping meja receptionist. Pintu ruangan Daniel terlihat tidak di tutup rapat.
“Kayak nya lagi ada tamu deh” ucap ku meyakini.
Riani terlihat sedang berusaha mendengarkan sesuatu dari dalam sana.
“Kita tunggu aja di ruang tunggu” ucap ku dengan hendak melangkah pergi.
“Tunggu,tunggu,tunggu” bisik nya menahan tangan ku.
“Apasih” kesal ku kepada Riani. Dia menaruh jari nya di depan mulut mengisyaratkan agar aku tidak berisik.
Dia menajamkan telinga nya.
“Daniel kayak nya lagi ngomongin elo deh” ujar nya.
Aku pun jadi penasaran dan ikut menajam kan telinga ku. Menyingkapkan rambut di belakang telinga ku,dan mendekatkan telinga ke pintu yang tidak tertutup rapat.
“Gue juga gak tahu kenapa si Alhena sampai ga mau” ucap nya Daniel kepada seseorang di dalam sana.
“Padahal ga akan mungkin gue semudah ini nawarin orang untuk jadi Owner. Dia malah nolak dan bilang mau resign ” lanjut nya dengan kesal.
__ADS_1
Suara seseorang lelaki terdengar terkekeh menertawakan cerita Daniel.
“Serius dia nolak buat jadi Owner ?” Tanya pria itu tak percaya.
“Serius. Dia tetep sama pilihan nya untuk ngelola Cafe di Bandung. Paling berapa sih omset yang di dapat di Bandung,paling cuma dikit” cibir Daniel membuat ku kesal.
“Haha lo kenapa sih? Kayak nya ngebet banget sama tuh cewe”
“Gue cuma mau dapetin dia. Gue kira dengan mengangkat dia jadi Owner suatu saat dia bakalan luluh sama gue. Kalo dia terima tawaran itu,udah pasti kita bakalan terus ketemu kan,dan kesempatan gue buat bareng dia terus bakalan kewujud ” ucap nya membuat ku tak percaya dengan tujuan nya.
“Sampe segitunya lo?” Ucap laki-laki lain dengan masih menertawakan Daniel.
“Bukan cuma itu. Lo tau kan gimana pinternya tuh cewe ?”
“Iya”
“Kalo dia jadi Owner Restaurant gue,gue udah ga akan susah-susah cari asisten,udah biarin aja dia yang kerja ngelola resto tanpa gue pantau,dan gue bisa seneng-seneng di luar kan ?”
“Haha gila lo,bukannya jadiin istri malah jadiin asisten”
Aku benar-benar kesal ingin masuk melabrak nya di dalam,tapi Riani menahan tangan ku untuk tetap diam dan mendengarkan mereka dulu.
“Loh iya,dia gua jadiin istri tapi sekaligus asisten”
Lalu mereka kembali tertawa.
“Seengganya istri juga harus bisa gue manfaatin buat bantu usaha gue,iya ga ? Dan gue bisa seneng-seneng terus di luar cari cewe baru”
Tertawa mereka begitu renyah membuat ku tidak tahan lagi. Bisa-bisa nya dia bisa meremehkan aku. Dia fikir jika aku menjadi istrinya aku akan mau di suruh-suruh dia layaknya asisten ? Dan lagi dia mengira aku bisa mudah nya di perbudak oleh dia ?
Riani menatap ku yang sudah mulai kesal. Dia panik karena takut jika aku melakukan hal yang bodoh dengan mendobrak masuk kedalam.
“Ya dia emang bodoh. Dia ga tau mana yang terbaik untuk masa depan dia” lanjut Daniel.
Kesabaran ku sudah habis. Aku membuka pintu besar itu lebar-lebar.
Aku menatap Daniel yang sedang bersandar di meja nya kini berdiri terkejut melihat ku. Laki-laki yang tengah berbicara dengan Daniel pun ikut terkejut dari duduk nya. Aku mengenal laki-laki itu. Dia adalah salah satu kerabat Daniel yang membantu mengelola Restaurant nya.
“Maaf kalau saya lancang masuk ke ruangan Bapak dengan tidak sopan” ucap ku dengan tegas menatap Daniel dengan tajam.
Aku melangkah kan kaki mendekati Daniel. Daniel dan teman nya ini terlihat begitu panik namun tida berkata sedikit pun.
“Selama ini saya sudah banyak bantu anda untuk mengelola Restaurant. Bahkan selama ini saya menjadi tangan kanan anda dan saya ga pernah nuntut untuk meminta naik gajih,ataupun naik jabatan kan? Karena saya senang dengan pekerjaan yang saya lakukan,saya pun sudah cukup bahagia dengan jabatan yang saya miliki di Restaurant” ujar ku dengan kesal.
Dia hanya menatap ku dengan bingung.
“Saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi owner di Restaurant anda. Bukan karena saya bodoh, tapi karena saya tidak gila jabatan seperti orang-orang yang di luar sana yang berusaha bekerja keras demi mendapatkan promosi jabatan. Saya hanya senang bekerja,dan saya ingin bekerja sesuai keinginan saya. Bukan berarti saya bisa dengan mudah di bodohi oleh orang-orang seperti kalian,yang hanya ingin memanfaatkan kecerdasan orang untuk kepentingan sendiri”
Teman nya yang duduk pun diam tak dapat membantu.
“Anda memberikan saya restaurant hanya karena anda percaya diri saya akan mau menjadi istri anda?”
Aku menyunggingkan senyuman dengan ketus.
“Saya tidak segampang itu? Hanya karena anda memberikan saya Restaurant dan mempercayai saya bisa mengelola Restaurant sendiri bukan berarti saya mau jadi pasangan hidup anda,apalagi saya di jadikan asisten demi anda yang ingin ber senang-senang di luar sana. Aku ga sebodoh itu Daniel” ucap ku yang sudah muak dengan 'saya' dan 'anda'
“Alhena” panggil nya dengan gugup.
“Maksud ku bukan seperti itu” ujar nya dengan berusaha tersenyum tenang.
Aku memberikan berkas yang dari tadi ku pegang untuk ku berikan kepadanya.
“Ini data yang Bapak minta. Ini pekerjaan terakhir saya,dan surat resign akan segera saya kirim malam ini ke E-mail Bapak” ucap ku berusaha untuk sopan.
__ADS_1
“Saya permisi. Dan senang pernah bergabung dengan perusahaan Bapak” pamit ku dengan terus sinis menatap nya.
Lalu aku membalikan badan ku dan segera pergi dari sana dengan penuh emosi.