7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Permintaan atau perintah


__ADS_3

Aku merenung di kamar ku sendiri mengingat hal yang telah ku katakan kepada Althara di puncak tadi. Aku memeluk kedua kaki ku di atas kursi dan menatap keluar jendel.


Mengapa aku merasa sedih,aku merasa semua ini salah. Aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan ku selama beberapa tahun ini. Harusnya aku masih membenci Althara,tapi kenapa ketika bertemu lagi dengan nya perasaan benci itu seakan akan hilang meminta ku untuk melupakan semuanya. Ini salah,aku tidak boleh lemah seperti ini,Althara harus menerima ganjaran atas semua yang telah dia perbuat.


Handphone ku berdering di atas meja.


Rey.


“Hallo”


“Hay Rey”


“Kamu habis dari mana?”


“Aku habis jalan tadi siang”


“Ooh. Tadi aku nyari kamu ke resto tapi ternyata kamu libur”


Aku mengerutkan kening ku.


“Terus kamu cari aku kerumah?”


“Ngga,habis dari resto aku langsung ke kantor ada kerjaan”


Aku ingat persis tadi Althara jelas mengatakan jika Rey sedang menuju rumah ku. Dan aku kira Althara tahu schedule ku dari Rey.


“Hallo” panggil Rey.


“Iya iya Rey”


“Kamu habis main sama siapa?”


“Sama temen”


“Temen mana? Tadi aku liat Riani ada di Resto kerja siang”


Entah mengapa aku begitu kesal mendengar ucapan Rey. Aku mengerutkan kening ku.


“Kamu fikir temen aku cuma Riani?”


“Ngga ngga gitu,maksud aku ga gitu All” Rey terdengar panik.


“Sorry aku cuma khawatir aja tadi kamu pergi sama siapa?”


Ya memang harus di khawatirkan Rey, aku memang pergi dengan Althara.


“Eh tar,dari mana lo? Lama amat hahah”


Althara ada disana ?


“Kamu lagi dimana Rey?”


“Aku di Cafe Fadil Al,semua lagi pada kumpul”


Semua berarti Althara pun ada.


“Oh ya udah,aku mau ke kamar mandi dulu ya Rey”


“Oke Alhena,selamat malam”


“Selamat malam Rey”


Esok harinya.


Aku mulai di sibukan lagi dengan pekerjaan ku di Restaurant.

__ADS_1


“Al kita makan dulu yuk”


“Bentar Ri,gue masih sibuk input data ini”


“Ayolah al makan dulu” Riani menggoyang kan lengan ku.


“Iya iya iya bentar”


Lalu aku mengikuti nya ke luar Restaurant.


“Al, gimana kabar lo dan Rey?” Tanya nya ketika kami tengah menyantap burger kami.


“Kenapa emang?”


“Gue cuma nanya aja, gue juga jadi ikut kefikiran masalah lo”


Riani membuat ku kembali sedih mengingat semua nya.


“Gue juga ga tau ri harus gimana, gue ngerasa bersalah banget sembunyiin ini semua dari Rey, tapi gue ga tau harus mulai cerita gimana sama dia. Di sisi lain Althara udah terlanjur ngeliat kedekatan gue sama Rey”


“Terus?”


“Gue udah berusaha nunjukin ke Althara kalo gue baik-baik aja tanpa dia, tapi kenapa ketika gue liat wajah dia yang kecewa gue malah ngerasa kalo ini salah”


“Lo masih sayang sama dia al”


Aku menggelengkan kepalaku menangkis prasangka yang dikatakan Riani.


“Lo ga bisa sangkal itu” ujar Riani.


“Rasa sakit gue udah ngalahin rasa sayang yang gue punya ke dia ri”


“Lo yakin itu?”


Aku menatap Riri dengan bingung.


Riri terlihat gugup,dia pun terlihat memikirkan sesuatu.


“Al, gue minta lo buat move on tuh dari dulu, dari awal lo cerita tentang masalah lo dengan Althara. Tapi sampe sekarang lo ga bisa move on kan ? Sampe akhirnya Althara balik lagi lo masih aja belum bisa move on. Kenapa lo ga kasih dia kesempatan untuk jelasin dulu semuanya sih al,setelah itu terserah lo mau tinggalin dia atau terima dia lagi”


“Ngga gue ga mau!” Ujar ku dengan teguh pendirian.


Riani terdengar menghela nafas nya. Dia sudah kesal melihat keras kepala ku yang tidak bisa di lawan nya lagi.


Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun dari Althara. Sekuat apapun alasan yang akan di berikan nya,tidak sepatutnya dia meninggalakan ku seperti itu. Setidaknya dia memberikan sedikit penjelasan dari awal walaupun itu akan terlihat menyakitkan, tapi itu akan lebih aku terima dan lalu melupakan dari pada dia menggantungkan alasan nya selama 6 tahun.


Beberapa hari berlalu. Di hari libur kali ini aku telah membuat janji dengan novel-novel yang ada di toko buku untuk mengunjungi mereka. Sudah lebih dari satu minggu aku tak mengunjungi mereka. Dan aku sudah amat merindukan novel-novel baru yang tertata rapih di setiap rak nya.


Aku mulai menyisir buku novel yang berada di lantai bawah dengan tenang. Aku membaca setiap isi sinopsis nya dan jika tidak tertarik aku kembalikan ke tempat asalnya.


Lalu aku menaiki tangga pergi ke lantai 2 dan mulai mencari novel-novel baru disana,jika ada yang bagus aku menyimpan nya di tote bag belanja ku.


Seseorang bertubuh tinggi berdiri di samping ku,terlihat oleh ekor mataku. Aku tak mengacuhkan pria itu dan terus fokus mencari cari novel di depan ku.


“Mau berapa lama lagi kamu muter-muter disini?”


Pria itu mengejutkan ku. Aku memegang dada ku yang berdebar kencang.


“Althara kamu ngapain disini?” Kesal ku.


“Ini tempat umum kan?”


“Iya aku tau ini tempat umum,kamu ngapain kagetin aku kaya gini?”


“Aku nunggu kamu dari tadi”

__ADS_1


Aku terdiam tak lagi bertanya. Untuk apa dia menunggu ku dari tadi ?


Wajah ku masih terlihat begitu kesal namun aku berusaha tak memperdulikan nya dan kembali mencari novel.


“Aku yakin kalo toko buku ini belum tutup kamu bakalan terus disini sampai ada petugas yang usir kamu”


“Lalu?” Sinis ku.


“Aku lapar”


Begitu di buat heran aku dengan alasan dia mengangguku hanya karena dia kelaparan. Aku menatap dia dengan tajam dengan melipat kedua tangan ku.


“Lalu ?” Tanya ku lagi, kali ini dengan sinis.


“aku mau makan”


Althara benar-benar kembali setelan awal nya,terlihat menyebalkan.


“Ya kalo kamu mau makan tinggal makan sendiri kan ga perlu aku suapin?”


Althara terdiam tak menjawab. Aku meninggalkan nya yang berdiri di sana namun akhirnya tetap membuntuti ku.


Aku terus berusaha tak mengacuhkan nya. Biarlah dia mengikuti ku sampai lelah,aku tak akan perduli.


Sesekali aku melirik dia yang sudah mulai ikut membaca buku.


Kenangan di masa lalu kini muncul kembali dalam ingatan ku. Dulu dia sering sekali menemani ku mencari novel di toko buku persis seperti ini. Namun dulu dengan penuh cinta dan kebahagiaan bukan dengan sifat menyebalkan dan dingin seperti ini.


Setelah selesai mencari buku aku menyerahkan tote bag yang berisi novel-novel ku kepada kasir. Althara ikut menaruh buku pilihan nya dengan buku belanjaan ku.


“Satuin aja mbak” ucap nya lalu Althara menggeser tubuh ku.


Dia membayar semua belanjaan nya. Setelah pembayaran selesai Althara mengambil tas belanja nya dan membawanya pergi.


Aku bingung melihat buku belanjaan ku di bawa nya pergi tanpa permisi,membuat ku harus mengikuti kemana buku ku akan di bawa Althara.


Dia berjalan masuk kedalam mall yang berada tepat di samping toko buku dan duduk di salah satu Restaurant junkfood favorite kami. Dengan memesan makanan yang sama seperti dulu,tanpa menanyakan apa aku ingin makan makanan lain.


Aku dan Althara mulai makan paket burger dengan Ekstra cheese. Kita saling diam tak ada yang berbicara. Aku hanya bisa mengikuti apa yang di inginkan nya tanpa berbicara sedikit pun,aku tidak perlu mengobrol dengan dia,biarkan dia melakukan hal apa yang di ingin kan nya, namun tidak akan membuat ku getar untuk kembali dengan mudah kepadanya.


Lalu handphone Althara berdering. Sebuah pesan masuk kedalam handphone nya.


Dia terlihat tersenyum menerima pesan itu. Dia menyimpan handphone nya kembali di meja.


“Kita ke Dufan” ucap nya membuat ku tersedak.


“Uhukk.uhukk” aku langsung mengambil minuman ku.


“Apa?”


“Kita ke Dufan”


“Mau apa?”


“Kamu ga tau Dufan tempat apa?” Tanya nya sinis.


Aku mengerutkan kening ku.


“Ngga, aku ga mau!” Kesal ku dengan tegas.


“Aku ga minta persetujuan kamu untuk kamu ikut”


“Ini permintaan atau perintah?”


Althara terlihat tersenyum dengan tipis. Aku baru menyadari kalimat yang baru saja ku lontarkan dengan spontan. Kalimat yang begitu keramat di tujukan untuk Althara jika dia sudah memaksakan suatu hal.

__ADS_1


“Keduanya” jawab Althara.


__ADS_2