
Malam harinya Althara menjemput ku tepat waktu.
Aku hampir lupa untuk bilang kepada Althara tentang rencana ku untuk pergi ke Bandung besok. Dan aku akan bilang kepada Althara ketika kita di perjalanan pulang.
“Al,aku lupa bilang. Kalo besok pagi aku pergi ke Bandung” ucap ku ketika kita sudah meninggalkan restaurant dengan mobil nya.
“Oke” jawab nya dengan singkat dan dingin dengan tatapan lurus kedepan.
“Mungkin aku pergi selama 3 hari”
“Iya” jawab nya lagi.
Aku bingung kenapa dia tidak ada mengintrogasi ku seperti biasa ? Dia sama sekali tidak menanyakan pergi dengan apa,pergi dengan siapa,atau menanyakan hal yang lain nya. Padahal dia selalu bersikap over protective kepadaku.
Dia melajukan mobil nya ke komplek rumah nya sendiri,aku mengerutkan kening ku melihat mobil ini melaju bukan ke arah rumah ku.
“Kok kita kesini?” Bingung ku.
“Aku mau siap-siap dulu”
“Hah siap-siap?”
Lalu kita sampai di rumah Althara. Dia memarikan mobil nya lalu turun tanpa mengajak ku.
Aku langsung keluar mengejar Althara yang masuk ke dalam rumah. Ada Bunda yang langsung menghampiri ku sementara Althara langsung menuju kamar nya.
“Hay Alhena”
“Hay Bunda”
“Udah pulang kerja ?” Tanya Bunda melihat ku yang masih memakai pakaian formal kerja ku.
“Iya Bunda,aku baru pulang kerja tapi Althara malah langsung ajak kesini jadi aku ga sempet ganti baju”
“Ga apa-apa. Kalian mau kemana kok Althara buru-buru?” Heran Bunda melihat Althara yang melesat masuk ke kamar nya.
“Ga tau Bunda” jawab ku sambil melirik ke arah tangga.
“Bunda sebentar ya aku samperin dulu Althara” Bunda menganggukan kepalanya.
Aku mengejar Althara le lantai atas.
“Althara” panggil ku.
Dia sudah mulai membuka lemari dan memilih baju.
“Althara,kamu mau kemana ?”
“Aku mau antar kamu”
“Tapi Al, aku bisa berangkat sendiri. Aku udah biasa pulang pergi ke Bandung”
“Untuk sekarang jangan di biasakan lagi”
Aku semakin kesal,namun tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Dia sudah membawa beberapa baju di dalam tas yang di tenteng nya dan berdiri di hadapan ku. Aku menatap nya dengan tajam.
“Kenapa?” Tanya nya dengan ketus.
Aku memutar kan bola mata ku dengan malas dan pergi dari kamar nya.
Ketika di bawah Althara mencari Bunda yang sedang bermain dengan Laluna di ruang TV.
Terlihat Bunda sedang merapihkan mainan-mainan Laluna ke dalam box sedangkan Laluna sedang asik melihat-lihat buku hewan di samping nya.
“Ka Alhena” teriak Laluna lalu dia berlari ke arah ku melewati kaka nya.
Althara hanya bisa pasrah dan diam melihat adik nya yang seperti tidak melihat nya. Aku tersenyum melihat tingkah lucu Laluna yang langsung memeluk ku dengan manis.
“Kamu mau kemana ? Kok bawa tas gitu?” Tanya Bunda dengan menatap heran tas yang di jinjing Althara.
“Aku mau antar Alhena ke Bandung Bunda” jawab nya.
Aku menuntun Alhena untuk menghampiri Bunda.
“Aku mau ke Bandung Bunda,tapi padahal aku belum ajak Althara” jawab ku ketus sambil melirik sinis Althara.
Bunda tersenyum melihat tingkah anak nya.
“Inisiatif anak bunda emang terlalu tinggi sepertinya”
Aku memajukan bibir ku namun sambil tersenyum kepada Bunda.
“Ga apa-apa, biar Althara bisa jaga kamu di perjalanan,dan biar dia bisa ketemu sama orang tua kamu untuk minta maaf”
Justru itu yang aku khawatirkan. Aku belum siap mempertemukan Althara dengan Mama dan Papa,aku takut mereka marah kepada Althara, aku takut mereka malah mengusir Altahra jika tiba-tiba dia muncul di hadapan Mama dan Papa.
Kenapa Althara selalu melakukan suatu hal tanpa kesiapan dariku dulu. Ini selalu membuat ku sport jantung setiap saat.
Aku dan Althara sampai di rumah ku. Dia menyimpan tas nya di sofa lalu merebahkan diri dengan duduk disana.
“Aku ganti baju dulu”
Akhirnya aku memperbolehkan Althara menginap di rumah ku agar besok pagi kita langsung berangkat ke Bandung.
Aku pergi ke kamar dan mengganti pakaian dengan piama tidur yang masih saja bergambar bintang. Lalu aku menemani nya di sofa menonton film. Lampu semua sudah di padam kan,hanya cahaya dari Tv lah yang menyinari kami berdua.
Aku mengingat apa yang di bicarakan aku dan Riani tadi siang di Restaurant.
“Althara”
__ADS_1
Dia melirik ku sebentar untuk menyauti ku dan kembali menonton film.
“Teman-teman kamu gimana?”
“Kenapa mereka?”
“Apa mereka nyalahin kamu juga?”
“Nyalahin apa?”
“Masalah kamu dan Rey”
“Aku masih belum mendapat kabar dari mereka”
“Gimana kalo mereka malah nyalahin kamu? Terus kamu di jauhin mereka” aku jujur dengan kecemasan ku.
“Aku belum menjelaskan apapun sama mereka, tapi aku yakin mereka pasti akan lebih mengerti dari Rey”
“Aku khawatir Al” ucap ku menatap nya dengan sedih.
“Bagaimana kalau kamu tetap di salahin sama mereka” sambung ku.
Althara menarik nafas nya dan menggeserkan badan nya untuk mengahad denganku. Dia memegang lembut pipi ku.
“Kamu jangan fikirin itu Alhena. Mereka mau mengerti aku atau ngga,itu urusan mereka. Yang terpenting aku udah berusaha untuk jujur dan mengatakan semua yang sebenarnya. Dan aku lebih memikirkan kamu, aku gamau sampai kamu terpengaruh sama mereka” ucap nya meyakinkan ku untuk tenang.
Aku melihat kesungguhan Althara,dia saja bisa setenang itu kenapa aku harus panik dengan pertemanan mereka.
Aku menganggukan kepala ku dan menyandarkan kepala ku di bahu nya.
Ke esokan nya aku dan Althara sudah siap untuk pergi ke Bandung. Barang bawaan kami sudah di masukan ke dalam bagasi mobil Althara.
Handphone ku berdering ketika Althara melajukan mobil nya.
Daniel.
Aku menatap layar ponsel ku mengingat pembicaraan ku dengan Daniel di tempat makan malam itu.
“Kenapa malah di liatin ?” Tanya Althara ketika melirik layar ponsel ku yang terus saja aku biarkan.
“Mau kamu atau aku yang angkat” sinis nya.
Aku melirik Althara dengan mata ekor ku dengan kesal aku langsung mengangkat telepon nya.
“Hallo”
“Hallo Alhena, kamu dimana?”
“Aku di perjalanan ke Bandung niel. Ada apa?”
“Ke Bandung? Aku kira kamu berangkat besok”
“Ada meeting di kantor nanti siang aku butuh kamu” aku melirik Althara di samping ku.
“Aku udah di jalan”
“Ya sudah aku sendiri aja”
“Kan ada yang lain dulu niel”
“Gak apa-apa. hati-hati Alhena”
“Oke”
Lalu dia menutup telepon nya.
“Kenapa?”
“Daniel minta aku ikut meeting di kantor”
“Lalu?”
“Aku bilang ga bisa”
“Kamu harus ikut?”
“Ngga juga”
“Aku tahu dari Rey,kalo Daniel sering deketin kamu”
Aku menggedikan bahu ku memperlihatkan aku tidak tahu dan tidak peduli dengan itu.
“Lalu kenapa kamu ga mau ?” Tanya nya membut ku mengerutkan kening.
“Padahal dia bos kamu,tampan mirip orang Rusia,baik juga kan?”
Dia meledek ku,aku tau dia cemburu.
“Aku harus mau?”
Sekarang balik dia yang menggedikan bahu nya.
“Kalo aku mau, udah dari awal aku terima Daniel” ujar ku.
“Dia udah dari dulu ngejar kamu?”
“Mungkin”
Lalu aku memperhatikan nya dengan sinis. Dia masih terlihat kesal dan cemburu kepada Daniel.
“Lalu selama ini kamu di Jerman udah dapet berapa perempuan?” Tanya ku dengan menatap nya tajam.
__ADS_1
Sebenarnya itu adalah pertanyaan yang sering membuat ku penasaran selama aku kembali dengan Althara,apakah dia punya mantan selama di jerman? Atau dia pernah memiliki hubungan dengan wanita lain selama tidak dengan aku? Aku selalu penasaran apa dia sama seperti ku atau malah dia bisa dengan mudah mendapatkan pengganti ku?
Dia mengerutkan kening nya seperti sedang berfikir.
“Ga ada”
Aku mencibir nya.
“Ga mungkin ga ada. Disana pasti banyak perempuan yang kamu deketin kan?”
“Perempuan disana ga ada yang seru”
“Masa?” Tanya ku tak percaya.
“Kamu masih mau tanya teman-teman aku?” Tantang nya.
Aku lalu tersenyum untuk menertawakan nya.
Aku percaya kamu Althara.
Setelah beberapa jam perjalanan kami sampai di depan rumah ku. Rumah yang dulu Althara sering menjemput ku dengan motor nya. Kini dia datang dengan penampilan baru dan kehidupan baru nya.
Althara tampak santai turun dari mobil dan mengeluarkan barang-barang di bagasi. Dia tidak seperti ku yang panik ketika pertama kali lagi bertemu dengan Bunda nya.
Althara mengangkat tas besar kami kedalam rumah. Aku menarik nafas begitu dalam. Baru kali ini aku merasa nervous bertemu orang tua ku sendiri,alasan nya karena kali ini aku pulang membawa Althara.
Aku memijit bel rumah,dan tidak lama seorang wanita paruh baya membuka pintu.
“Non Alhena” ucap Bi Inah terkejut melihat ku.
Itu Bi Inah. Pembantu di rumah yang sudah mengurus keluarga ku dari sejak aku masih kecil.
“Bi ” aku memeluk nya dengan lembut.
“Non apa kabar?”
“Baik Bi”
Lalu Bi Inah melirik laki-laki yang ada di samping ku dengan mengingat keras sesuatu yang ada di fikiran nya.
“Den Althara?”
Althara tersenyum kepadanya.
“Iya Bi” Althara mencium punggung tangan Bi Inah dan memeluk nya.
“Ya ampun Den kemana aja? Makin ganteng gini Aden” ucap dia dengan terus mengelus elus lengan Althara.
“Iya Bi aku baru pulang dari luar negri”
“Oh. Ayo masuk masuk Non,Den, Ibu lagi di aer”
Bi Inah sudah seperti keluarga untuk kami,untuk itu Mama selalu mengajarkan ku jika jangan bersikap tidak sopan kepada Bi Inah walaupun Bi Inah adalah ART atau Asisten rumah tangga.
“Buu”
Lalu Mama muncul dari balik pintu dapur.
“Alhena”
“Mamaaaa”
“Akhirnya pulang juga” ucap Mama memeluk ku dengan lembut.
“Papa mana?”
“Papa masih di kantor”
Mama melihat Althara yang sudah tersenyum kepadanya di belakang ku.
“Althara”
Mama langsung melepaskan pelukan ku dan langsung menghampiri Althara.
Althara menaruh kedua tas jinjing di lantai dan menyambut pelukan hangat Mama.
“Maa”
Mereka langsung berpelukan begitu erat.
Aku heran kenapa bisa Mama seramah itu kepada Althara padahal Mama tahu sendiri bagaimana Althara sudah membuat anak nya frustasi selama di tinggalkan oleh nya.
“akhirnya kamu pulang juga” ucap Mama sambil terus memeluk Althara.
Aku mengerutkan kening ku.
“Iya Ma”
Lalu Mama melepaskan pelukan nya.
“Gimana kuliah kamu disana?”
Disana? Aku semakin curiga dengan mereka.
“Selesai Ma” jawab Althara.
“Tunggu ..tunggu” ucap ku menghentikan acara ‘kangen-kangenan’ mereka.
“Mama tau Althara selama ini kuliah di Jerman”
Mama diam dan tersenyum sekaligus sedih menatap ku.
__ADS_1