7 Hari Bersama Althara

7 Hari Bersama Althara
Mati lampu dan dia disini


__ADS_3

Keesokan nya lagi aku pergi kembali ke Cafe ku untuk mengecek pekerjaan para tukang yang hampir selesai menyusun kursi dan meja disana. Hari itu Althara masih ada pekerjaan,janji bertemu dengan client nya di Jakarta berangkat tadi pagi dan dia bilang hanya sebentar mungkin sampai sore dan langsung menjemput ku di Cafe.


Hari sudah malam. Dan turun hujan begitu deras malam itu dengan petir kilatan yang mencekam di sekitar Cafe.


Althara menelepon ku ketika aku hendak membongkar barang-barang baru ku di tengah Cafe.


“Ya” sapa ku dengan menyelipkan ponsel di antara bahu dan telinga ku sementara kedua tangan ku sibuk bekerja mengeluarkan hiasan dinding Cafe.


“Alhena. Tunggu aku sebentar lagi ya,hujan deras dan ada kecelakaan di jalan tol” ucap Althara dengan begitu panik.


“Iya Althara aku masih disini” ucap ku yang masih saja sibuk membongkar barang-barang ku.


Tiba-tiba suara petir begitu keras terdengar membuat ku dan Althara terkejut.


“Hujan besar kamu jangan keluar,tunggu sampai aku datang” pinta Althara begitu khawatir nya.


“Baik tuan” jawab ku dengan tersenyum.


Lalu aku menutup telepon nya dan kembali menyelesaikan pekerjaan ku.


Malam itu begitu dingin. Tapi untung nya aku memakai baju kemeja panjang berwarna cream dan celana katun hitam panjang juga di Cafe. Aku sempat bertemu dengan teman Papa disini jadi aku di minta Papa untuk berpakaian se formal mungkin untuk bertemu dengan orang penting itu yang akan membantu perizinan pembangunan Cafe. Dan pakaian ku sudah tampak seperti bos besar yang begitu anggun. Dengan rambut yang di gerai indah dan memakai high heels.


“Bu kita pulang dulu ya” ujar seorang tukang yang terlihat sudah bersiap untuk pulang.


“Ga akan nunggu hujan reda pak?” Tanya ku yang sebenarnya masih ingin di temani mereka sampai Althara datang.


“Ngga bu. Soalnya istri saya khawatir kalo saya belum pulang” ujar tukang bangunan yang sudah setengah paruh baya itu.


“Iya bu anak saya juga sudah nanyain terus” sahut pria yang lain nya dengan raut wajah yang begitu kasihan.


Aku begitu bingung dan takut karena akan di tinggal sendiri di Cafe dengan hujan yang masih begitu deras.

__ADS_1


“Ya udah gak apa-apa. Bapak bapak semua pulang aja” ujar ku dengan berat hati namun aku pun tidak boleh egois meminta mereka untuk menemani ku sementara keluarga mereka sudah khawatir menunggu di rumah nya.


“Bener bu?” Tanya bapak tukang itu.


“Iya pak gak apa-apa. Bapak pulang aja”


“Ya udah. Ibu hati-hati ya disini. Kita pulang dulu”


“Iyaa” jawab ku dengan tersenyum kaku.


Lalu tersisa lah aku sendiri di Cafe dengan sepi nya suasana Cafe itu karena belum ada Tv atau pun musik untuk menghangatkan ku.


Aku terus berkeliling di Cafe itu untuk memajang hiasan hiasan dinding yang akan memperindah tampilan tempat makan para pengunjung. Kilatan besar terlihat sangat terang dengan petir yang menyambar dan dikuti suara gemuruh yang menyeramkan.


Aku sampai menjatuhkan bingkai gambar ku ke lantai karena saking terkejut nya dengan suara petir yang besar itu. Dan tidak lama listrik pun mati. Suasana gelap di dalam Cafe pun semakin mencekam dan menyeramkan.


Aku langsung mengeluarkan ponsel ku dan langsung menyalakan flash untuk menerangi pandangan ku. Dengan panik aku langsung berlari keluar dan menelepon Papa untuk meminta pertolongan.


“Hay sayang sudah pulang?” Jawab Papa.


“Pa aku masih di Cafe semua tukang sudah pulang,dan aku masih nunggu Althara menjemput, dia masih di jalan kejebak macet. Tapi tiba-tiba ada petir besar,dan listrik nya mati Pa” panik ku dengan terus menatap gelap nya Cafe.


“Itu paling hanya MCB nya saja sayang. Coba kamu cek ke bagian samping instalasi listrik?” Ujar Papa meminta ku untuk mengikuti arahan nya yang tak aku pahami apa yang di maksud Papa. Namun aku tahu tempat berkumpul nya aliran listrik itu dimana.


“Sebentar” lalu aku berjalan dengan hati-hati ke arah samping Cafe mencari pusat listrik yang berbentuk kotak dan di tutup oleh pintu besi.


“Itu belum di kunci kamu boleh buka saja pintu instalasi itu”


Lalu aku membuka nya dengan perlahan, dan terlihat lah banyak nya saklar saklar yang berwarna warni dan tulisan singkat singkat yang ada di atas saklar nya untuk membedakan satu dan yang lain nya. Namun tetap saja aku tak bisa mengerti.


“Sudah nak?” Tanya Papa.

__ADS_1


“Ya sudah” ucap ku dengan bingung menatap banyak sekali saklar dan kabel-kabel yang tertata rapih di dalam sana.


“Sekarang kamu liat saklar biru kan?”


“Ya” sahut ku menatap begitu banyak nya saklar yang berwarna biru.


“Kamu cek Mini Circuit Breaker nya ke atas atau ke bawah? Kalau ke bawah kamu ke atas in aja langsung. Kalo sampai listrik nya masih saja mati kamu cek saklar yang warna merah paling bawah itu biasanya aliran nya terlalu kuat tapi kamu hati-hati soalnya aliran listrik yang itu belum benar di pasangkan tapi gak apa-apa karena sudah di sambung ke daya yang kuat terus cek lagi yang MCB kuning nya bisa di ke atasin atau ngga..”


“Pa..pa..pa” panggil ku menghentikan ocehan Papa yang sudah membuat ku begitu pusing.


Lalu Papa berhenti dan mendengarkan ku.


“Alhena kuliah jurusan Tata Boga Pa bukan jurusan teknik. Alhena ga ngerti apa yang Papa omongin” ucap ku mengingat bahwa anak sati satu nya ini adalah perempuan yang feminim.


Lalu terdengar Papa menghela kan nafas nya.


“Maaf sayang. Papa sebentar lagi kesana,kamu tunggu ya, ga apa-apa gelap-gelapan dulu sebentar?”


“Ya udah ga apa-apa Alhena tunggu aja pa”


“Ya udah, tunggu sebnatr lagi ya”


“Iya Pa” lalu aku menutup telepon nya dan memutuskan untuk menunggu Papa dan Althara di depan Cafe.


Namun ketika ku berbalik dan berjalan menunduk menatap ponsel ku,aku langsung menabrak seseorang yang bertubuh tinggi dan begitu kokoh dengan tubuh nya yang tampak gagah tepat di belakang ku.


Aku terkejut dan menjatuhkan handphone ku. Aku membiarkan ponsel ku terjatuh ke lantai dan menengadahkan wajah ku menatap jelas wajah yang sudah menabrak ku.


Wajah nya begitu gelap karena tidak ada penerangan yang bisa memperlihatkan wajah nya. Aku terus mengkerutkan kening ku melihat jelas wajah pria yang hanya berdiri itu dengan perasaan takut.


Lalu kilatan petir yang begitu terang membantu ku memberikan cahaya di sekitar ku dan terlihat lah wajah pria yang begitu jelas di hadapan ku.

__ADS_1


“Roni!” Kaget ku dengan menarik nafas begitu dalam.


__ADS_2