Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Aisyah meyakinkan mama


__ADS_3

"Bapak mau berpikiran apa tentang saya? Yang pasti saya mencintai aisyah, bapak dan ibu hanya perlu mendukung hubungan kami aja!"


"Baik lah pak raihan, kami sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik bagi anak kami". Jawab ayah aisyah.


"Baik lah pak, buk, saya permisi dulu". Raihan bangkit dari duduk nya dan berjabat tangan dengan ayah aisyah.


"Iya pak raihan".


"Ai, abang pulang dulu, besok jangan terlambat, oke?"


"Iya bang, hati-hati ya".


Aisyah lalu mengantar raihan sampai depan rumah nya. Raihan menaiki dan menghidupkan motor nya, lalu memakai helm.


Sebelum dia melajukan motor nya, sekali lagi dia melihat gadis pujaan nya itu, lalu mengerling nakal pada aisyah, aisyah jadi malu-malu meong. Raihan melambaikan tangan nya, dan melajukan motor nya. Aisyah melambaikan tangan nya, dan tersenyum-senyum sendiri.


"Hayo, kenapa itu senyum-senyum sendiri?" tegur mama aisyah.


"Eh mama, gak ada senyum-senyum kok!".


"Ayo masuk, ada yang mau mama bicarakan".


"Oke ma!". Aisyah masuk ke dalam mengikuti mama nya, sampai di dalam terasa sunyi, rupa nya ayah aisyah lagi melaksanakan sholat isya.


Di kamar aisyah,


"Ada apa ma?". Tanya aisyah heran, kenapa mama nya tiba-tiba ingin bicara, apa dia akan kena marah karena sudah berani pacaran? Pikiran aneh-aneh mulai meneror otak nya.


"Nak, apa betul kamu suka sama pak raihan?"


"Ai suka sama bang raihan ma, bahkan lebih dari sekedar rasa suka". Berdebar-debar jantung aisyah mengatakan itu, ini adalah ucapan pertama nya pada mama nya kalau dia mencintai seseorang.


Mama aisyah menghela nafas, dia harus menjelaskan ini agar aisyah bisa menentukan sendiri bagaimana hubungan mereka ke depan nya. Mereka sebagai orang tua bukan tidak setuju, malah sangat senang memiliki calon menantu seperti raihan.


"Ai, ai tau kan kita dari keluarga yang kurang berada, sedangkan pak raihan, dia itu presdir, dia bukan orang sembarangan nak, bukan berarti ayah dan mama tidak setuju nak".


"Ma.. Maksud mama apa?" tanya aisyah heran.

__ADS_1


"Kita ini cuma kalangan biasa, mama gak tau gimana nanti keluarga pak raihan, apakah mereka akan menyetujui hubungan kalian atau tidak, mama harap kita harus tau batasan, tapi kalau kalian mau memperjuangkan hubungan kalian, mama sama ayah akan tetap mendukung". Panjang lebar mama aisyah menjelaskan.


Aisyah jadi tertegun, tapi dia mencoba tersenyum.


"Makasih ma, ai tau maksud mama, ai gak akan berpangku tangan karena bang raihan punya kekuasaan, ai mencintai bang raihan dalam kesederhanaan nya ma..., untuk keluarga bang raihaaan, mmm...semoga Allah memudahkan nya ma". Ucap aisyah sambil tersenyum, dia tidak tau kalo menjalani hubungan harus ada adegan seperti ini.


"Mama harap, ketika suatu hari nanti hubungan kalian harus kandas karena perbedaan kita, kamu jangan sedih nak, harus kuat ya!".


Mama aisyah menunduk ketika bicara seperti itu, dia takut sekali suatu hari nanti aisyah bakalan sakit dan sedih karena di tinggal raihan, atau karena keluarga nya yang tidak setuju sama hubungan mereka.


Aisyah tersenyum kecil, dia mendekat pada wanita yang telah melahirkan nya itu. Di rangkul nya bahu wanita yang di cintai nya itu.


"Apa pun yang terjadi suatu hari nanti, itu pasti sudah ketentuan dari Allah ma, kita gak bisa lari menghindar atau pun menolak ketentuan itu kan, apa pun yang terjadi kita harus siap untuk menghadapi nya kan ma?"


Eh kok bijak kali kata-kata ku ini? Apa aku dapat hidayah?


Mama mengangkat wajah nya, gadis kecil nya yang sudah beranjak dewasa dan sudah mengerti cinta itu bicara dengan bijak nya, tapi jawaban aisyah itu mampu menenangkan hati dan pikiran nya. Rasa nya dia ingin segera menyampaikan hal ini pada suami nya.


"Baik lah kalau begitu ai, mama sebagai orang tua hanya mau yang terbaik bagi anak gadis mama ini". Mama mengusap lembut pipi aisyah.


"Makasih ya ma atas semua nya".


"Sama-sama nak, ya udah sholat dulu, abis itu tidur". Mama aisyah lalu keluar dari kamar aisyah.


Aisyah berjanji pada diri nya dan juga orang tua nya, kalau dia akan kuat menjalani ketentuan dari Yang Maha Kuasa, apa pun itu, begitu kan yang harus di jalani ketika alur kehidupan mengantarkan mu pada yang tidak di inginkan. Mau menghindar juga tidak bisa kan, toh itu udah takdir yang tertulis untuk kita, mau gak mau ya harus di jalani.


Untuk cinta nya? Dia baru ini menjalani hubungan dengan seorang pria, pria yang mencuri hati nya, selama ini banyak yang mendekati diri nya, menarik simpati nya, tapi satu pun gak ada yang menarik hati nya, mau dari wajah atau pun sifat mereka. Tapi pada raihan, tersembul sesuatu yang istimewa pada raihan, ah entah lah aisyah juga gak tau sejak kapan dia mulai suka dan jatuh cinta pada raihan.


Setelah mandi dan melaksanakan sholat, aisyah rebahan sambil memainkan hp nya, dia teringat, apakah raihan sudah sampai apa belum? Apa rumah nya jauh dari rumah nya?, Apa dia terjebak macet?,dan 'apa-apa' yang lain berseliweran di pikiran nya. Bodoh kenapa dia tidak tanya tadi, aisyah lalu mengirimkan pesan pada raihan.


~abang, udah sampai belum?~


Karena belum ada balasan, aisyah jadi teringat mereka mengambil foto tadi di pantai, di buka nya galeri, di pandangi nya satu-satu foto mereka sambil tersenyum. Lalu dia mengirimkan foto itu pada raihan, tiba-tiba rasa kantuk menyerang nya,


sebelum tidur, dia buat status dengan foto mereka duduk samping-sampingan sambil tersenyum lebar pada kamera hp. Dia beri stiker love warna merah pada wajah raihan, dan tak lupa memberi caption 'LOVE'. Setelah itu aisyah ketiduran dan tak ingat apa-apa lagi.


***

__ADS_1


Setelah raihan menyerahkan motor pada pengawal nya, dia segera masuk dengan riang nya, tak lupa dia mengucap salam ketika memasuki istana nya itu. Di ruang tengah ada mama nya yang tengah duduk membaca majalah,


"Raihan, baru pulang?, dari mana nak?".


Diperhatikan nya wajah putra nya itu, tampak sekali kebahagiaan yang terpancar.


"Dari kencan ma!" raihan tampak malu-malu menjawab pertanyaan mama nya.


Mama raihan tampak kaget dan senang.


"Kencan?, sama siapa nak?"


"Ya sama calon menantu mama lah, sama siapa lagi, ada-ada aja pertanyaan mama!" sungut raihan.


"Abis nya kamu tadi bawa motor, mama takut kamu balapan lagi!"


"Gak ma tenang aja, udah ya, rey capek!".


"Tunggu rey, sama siapa tadi kamu kencan nya?, apa sama saniya?".


Raihan jadi kesal sendiri mendengar nama itu, perut nya tiba-tiba mual dan ingin muntah kalau mama nya lagi-lagi mau membahas wanita itu.


"Iihh siapa sih yang mau jalan sama dia!" terdengar nada jijik dari cara bicara nya.


"Jadi sama siapa dong kalau bukan sama saniya?" tanya mama mulai kepo.


"Yang pasti dia orang yang rey cintai, orang yang seratus kali lebih baik dari pada saniya yang selalu mama bangga-banggakan itu!". Jawab raihan dengan ketus nya.


"Apa dia setara dengan kita rey?".


Pertanyaan itu seketika membuat perut raihan bergejolak ingin muntah. Lebih mual dari pada membahas saniya tadi. Raihan lebih memilih diam dan berjalan dengan cepat menuju tangga.


"Rey kita belum selesai bicara!" teriak mama raihan.


"Besok kita bicarakan!" tegas raihan tanpa menoleh lagi pada mama nya.


Mama nya jadi khawatir, biasa nya kalau raihan bersikap seperti itu, tanda nya dia sedang marah. Apa ada yang salah dari perkataan nya?, dia hanya bertanya tentang kesetaraan gadis itu tadi, tapi kenapa rey marah pada nya?, siapa gadis itu?

__ADS_1


__ADS_2