Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Maafkan Abang!


__ADS_3

"Ai lo kenapa?" Sabila langsung membopong Aisyah untuk duduk.


"Ai kenapa? Apa yang sakit?" Adit begitu khawatir, dia mengusap-ngusap tangan Aisyah.


"Gue pusing.."


"Bil, ambilkan minyak angin di tas gue!"


Tanpa menjawab, Sabila segera mengambil minyak angin di tas Adit. Dia lalu mengoleskan sedikit minyak itu dikening Aisyah. Sabila lalu memijit kepala Aisyah dengan pelan.


"Dit, ambilin air hangat!"


"Oke!"


Aisyah begitu terharu sekali dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Lagi-lagi dia mengeluarkan air mata berharganya. Sabila yang sedang memijit kepala Aisyah pun terkejut karena mendengar isak tangis Aisyah. Sabila lalu berjongkok dihadapan Aisyah. Gadis itu menggenggam tangan Aisyah dengan erat.


"Ada apa? Jangan nangis, Ai! Nanti anak lo juga nangis!... Ada apa? Coba cerita sama gue?"


Aisyah menggeleng, Sabila menghela nafas. "Ya sudah, kalau lo gak mau ngomong sama gue, tapi please, jangan nangis lagi! Pikirkan anak lo!"


Tak lama Adit datang membawa air putih hangat "Diminum dulu ya, Ai!"


Sabila membantu memegangi gelas itu agar Aisyah mudah untuk minum.


"Sudah?"


Aisyah mengangguk "Sudah! Makasih!"


"Sekarang lo butuh apa, Ai?"


"Gak ada, Dit! Gue mau pulang!" perlahan-lahan Aisyah bangkit dengan dibantu Sabila untuk mengambil tasnya.


"Gue anterin ya?"


Aisyah menggeleng dan tersenyum tipis "Gak usah, Bil! Gue pergi!"


Dengan berat hati Sabila membiarkan Aisyah untuk pulang sendiri.


Sabila menghela nafas "Haaah, Ai..."


"Apa begitu ya orang ngidam, Bil?"


"Gue gak tahu, Dit! Gue kan belum pernah hamil! Tapi kayaknya dia lagi bertengkar deh sama Pak Raihan"


"Hemmmmm, semoga mereka baik-baik aja, ya?"


"Haaah, iya Dit!"


Raihan begitu gelisah saat tahu istrinya keluar dari ruangannya. Sedari tadi dia terus memantau istrinya melalui CCTV yang tersambung ke laptopnya. Tampaknya, keadaan istrinya memang tidak baik. Untung saja, sahabat istrinya begitu sayang dan perhatian. Seharusnya dia yang melakukan semua itu, tapi pasti istrinya akan menolak, karena istrinya masih marah.

__ADS_1


Raihan keluar dari ruangannya dengan terburu-buru. Rizi yang sedang berada di private room kantin langsung meninggalkan acara minum kopinya untuk mengejar Raihan.


"Sial!" dia menendang udara karena kesal tidak menemukan istrinya dimanapun. Padahal dari CCTV, terlihat istrinya berjalan ke luar pintu kantor.


"Ada apa, Rey?"


"Aisyah marah, dan sekarang dia pergi!"


Rizi langsung mengeluarkan hpnya untuk menghubungi para anak buah mereka. Tapi, Raihan menghentikan tindakan Rizi.


"Antar aku pulang!"


"Kenapa Rey? Kau berpikir dia pulang ke rumah ya?"


"Ya mau kemana lagi istriku akan pergi!"


"Bisa jadi dia pergi dari hidupmu karena kau terlalu mencurigainya!"


Raihan menendang kaki Rizi, Rizi sampai mengaduh kesakitan. "Dasar keparat! Jangan banyak bicara lagi, cepat antar aku!"


Sesampainya, Raihan langsung berlari menuju apartemennya. Dia mencoba membuka pintu yang tak terkunci, Raihan menghela nafas lega, karena istrinya tidak kabur kemana-mana. Raihan langsung masuk dan mengunci pintu. Dia langsung ke kamar mereka, dan benar saja, istrinya sedang berbaring di tempat tidur mereka.


Raihan mendekat, dia memperhatikan istrinya yang tidur menyamping. Herannya, kenapa Aisyah memakai selimut tebal di siang hari begini? Merasa ada yang aneh, Raihan menyibakkan selimut itu. Istrinya bahkan tidak mengganti baju kerjanya, dia hanya membuka jilbabnya.


"Sayang?"


"Ma... Ai dingin, Ma!"


"Ya Allah, badan kamu panas sekali sayang.."


"Ma, Ai dingin, Ma!" lagi-lagi Aisyah meracau, Raihan mengusap wajahnya dengan kasar. Ini lah akibat dari perbuatannya, istrinya begitu sedih sampai bisa demam tinggi begini.


Raihan merebahkan Aisyah lagi, dia menyelimuti seluruh tubuh istrinya dengan selimut tebal. Sudah kalut pikirannya. Raihan membuka jasnya, dan menyampirkannya di sofa. Dia menggulung lengan kemejanya. Kemudian Raihan mengambil air untuk mengompres Aisyah yang masih meracau.


"Sayang... Ini Abang, maafin Abang.." 


Sudah beberapa kali dikomprespun, panas Aisyah tak turun juga. Akhirnya, Raihan membuka seluruh baju Aisyah, begitu juga dengan dirinya yang sudah tak berbaju. Raihan lalu memeluk Aisyah dengan erat. Lama-lama dia juga ikut tertidur.


Raihan membuka matanya saat sayup-sayup mendengar suara orang muntah-muntah. Tunggu, bukankah itu suara istrinya? Raihan menoleh kesamping, tidak ada istrinya. Raihan langsung bangkit dan memakai bajunya kembali. Dia segera menyusul istrinya di dalam kamar mandi.


Dilihatnya Aisyah yang masih berusaha mengeluarkan isi perutnya di wastafel. Raihan membantu dengan memijit-mijit pelan tengkuk Aisyah.


"Sudah sayang, jangan dipaksa lagi, nanti malah sakit"


Aisyah menghidupkan air keran dan membasuh wajahnya. Raihan mengelap wajah Aisyah dengan handuk kecil. Raihan menuntun Aisyah keluar dari kamar mandi, dan mendudukkannya pada kursi. Aisyah memegangi kepalanya yang masih begitu pusing.


"Minum dulu air hangatnya, sayang"


Raihan meletakkan gelas kosong itu ke meja setelah semua isinya habis diminum oleh Aisyah. Kemudian dia berjongkok dan mengusap-ngusap wajah Aisyah. Aisyah hanya diam saja diperlakukan begitu oleh suaminya.

__ADS_1


"Yang mana yang sakit, Achel?". Aisyah menggeleng.


"Kita ke dokter ya?"


"Gak perlu, bang!"


Ngapain juga ke dokter? Bukannya begini ya orang hamil? Aku harus tetap bersyukur walau harus mual dan muntah!


"Sayangku, Achelku yang cantik, maafkan Abang ya sayang?" Aisyah hanya diam, Raihan mendesah gelisah.


Rasakan, Bang! Memang enak!


"Sayangku? Jangan marah sayang? Abang memang salah sudah melukai perasaanmu!"


Huh, baru sadar kalau sikap Abang memang berlebihan dan menyebalkan! untung ada anak kita di dalam perut Ai, kalau gak, Ai bakalan gak bisa tahan emosi dan akan langsung menjambak rambut Abang tadi!


"Hukum Abang sayang, Abang memang salah sudah melukai orang yang Abang cintai!" Raihan menunduk, dia frustasi karena istrinya hanya diam.


Memang Abang mau dihukum apa? merah susu kuda liar? atau jumping dari gedung tinggi? pilih mana, Bang? ayo-ayo!


Dasar gila! kejam banget aku mikir begituan!


Aisyah menangkup wajah Raihan yang masih menunduk. Aisyah menundukkan badannya sedikit untuk mengecup kening suaminya.


Haaaaah, sebenarnya Ai masih marah, Bang! Tapi, itu pengajaran yang salah untuk anak kita! Ai akan maafkan Abang, biar dia tahu kalau memaafkan itu sesuatu yang mulia.


"Ai maafkan..."


Senyum secerah mentari muncul pada Raihan. Dia juga langsung memeluk dan mengecupi seluruh wajah istrinya. Tapi pada bagian bibir agak di lamakan oleh Raihan durasinya.


"Terima kasih sayang!"


Aisyah hanya mengangguk dan tersenyum. Raihan ikut tersenyum senang melihat bidadarinya tersenyum lagi. Raihan berlutut, lalu memegang kening Aisyah, guna mengecek apakah demamnya sudah turun atau belum.


"Alhamdulillah panasnya sudah turun sayang.."


Aisyah tersenyum lega "Alhamdulillah"


Setelah menyentuh kening, Raihan menyentuh pipi istrinya dan membelainya dengan sayang. Lalu menyentuh bibir indah istrinya yang berupa magnet untuk selalu dia cium. Mengusapnya sebentar sebelum tangannya turun ke leher, dan berakhir pada dada Aisyah.


Raihan mengusap-ngusap benda lembut itu dan akhirnya meremasnya dengan pelan. Raihan langsung ngedusel-duselkan kepalanya di benda yang lembut itu. Aisyah meremas rambut Raihan. Karena sudah tak tahan lagi, Raihan menggendong Aisyah, Aisyah sampai kaget dan langsung melingkarkan tangannya ke leher Raihan.


"Abaaang.." ucapnya manja, menjadikan Raihan semakin tidak tahan.


Sore yang tenang itu, menjadi saksi adanya suara rintihan-rintihan dan peluh gairah dari sepasang suami istri yang sedang bergumul dalam indahnya cinta dan penyatuan tubuh.


............................ ...


Terima kasih sudah mampir 😊. sehabis membaca, jangan lupa like ya? atau boleh juga dilike dulu, baru dibaca 🤭

__ADS_1


Like dari pembaca itu bagaikan duren runtuh, loh! Apalagi ditambah komen dan giftnya! Ditunggu ya, Readers yang manis ❤️


Salam hangat dari Ils Dydzu


__ADS_2