Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Bik Inah Melesat


__ADS_3

Setelah wanita yang dianggap stres oleh Bik Inah itu sudah hilang batang hidungnya, Bik Inah langsung membalikkan badan dengan segera setelah mendengar bawahannya berteriak. Dengan langkah sigap Bik Inah langsung melesat ke arah keributan itu. Saking melesat dengan cepat, pengawal sampai menutup mata melihatnya. Kenapa tidak, Bik Inah mengangkat tinggi-tinggi roknya, sehingga terlihatlah sesuatu pembungkus berbentuk segitiga dari balik roknya.


Sesampainya, Bik Inah hampir terjengkang kaget melihat Nyonya besarnya sudah cengap-cengap dan hampir kejet-kejet karena kehabisan nafas. Seandainya itu cowok ganteng, Bik Inah akan dengan sukarela memberikan nafas buatannya yang terkenal begitu ampuh. Terbukti saat suaminya kejebur sumur beberapa tahun lalu karena frustasi Bik Inah mau cari suami baru. Dengan terpaksa Bik Inah memberikan nafas buatan, dan alhasil suaminya itu dilarikan ke Rumah Sakit karena terkena radang paru akibat nafas buatan Bik Inah.


"Kalian bagaimana, sih? Sudah kusuruh untuk membawa Nyonya ke dalam, kan?"


Para pelayan yang masih junior itu menunduk. "Maafkan kami, Buk!" ucap salah satu dari mereka.


Tidak disangka, Nyonya Besar semakin cengap-cengap. Akhirnya Bik Inah menyuruh Dokter keluarga untuk datang dan merawat Nyonya besar.


"Bik, sambil saya infus dan saya beri obat, tolong agar Nyonya besar dikompres ya?" ucap Dokter yang bernama Edward itu.


Bik Inah tampak cemas dan khawatir "Apa demam Nyonya tinggi ya, Dok?"


"Iya Bik! Dan tolong panggilkan Tuan Rey segera ya?"


"Kenapa, Dok? Ada apa?"


"Demam Nyonya besar begitu tinggi, sehingga dia meracau! Yang Beliau racaukan nama Nona Rachel dan Tuan Rey, tapi lebih sering memanggil Tuan Rey! Tolong ya, Bik? Sepertinya jiwa Nyonya juga agak terguncang! Mungkin dengan kehadiran Tuan Rey, Nyonya akan lebih baik!"


Dokter itu lalu memeriksa kembali tekanan darah mama Raihan. Bik Inah memilin jari tangan, dia bingung. Dia juga begitu khawatir dengan keadaan majikannya. Dia tak pernah sakit selama ini, apakah ini karma? Tidak, tidak, tidak! Hempaskan pikiran jahat, begitu kira-kira pemikiran Bik Inah.


Bagaimana ini? Aku bingung! Tuan Rey orangnya begitu keras. Apalagi dia benar-benar marah waktu itu? Bagaimana ini?


**


Raihan memeluk istrinya yang sedang memasak sesuatu yang begitu menggugah seleranya. Dia juga mencium aroma harum dari rambut istrinya yang basah.


"Lagi masak apa, sayang?" tanya Raihan sambil menciumi leher Aisyah.


Aisyah terkekeh kecil karena geli "Lagi pingin menumis kangkung pakai terasi, Bang! Abang mau, kan?"


"Apa yang istri Abang masak, Abang pasti akan makan!" mencium rambut, menyibakkannya kesamping, lalu mencium leher istrinya sekali lagi. "Abang tunggu di meja makan ya, Achel?"


Aisyah menghentikan sejenak acara masaknya, dan berpaling menatap punggung suaminya yang berjalan menuju meja makan.


"Kok Ai dipanggil Achel?"


Raihan duduk, lalu menopang dagu dengan tangannya, sok-sok berpikir dengan ekspresi imutnya. Aisyah jadi tidak tahan ingin mencubitnya. Langsung saja dia mematikan kompornya, dan berlari menuju suaminya. Dan benar saja langsung mencubit gemas pipi suaminya.


Raihan tertawa geli karena Aisyah tak cukup sekali mencubit pipinya. Dia menangkap tangan istrinya itu. Lalu meletakkannya dipipi. Raihan tersenyum hangat pada istrinya.


"Kamu orang yang paling berharga bagi Abang! Menurut Abang, memanggilmu dengan nama akhirmu itu, begitu spesial bagi Abang! Dan hanya Abang yang akan memanggilmu begitu..."


Aisyah terharu mendengar penuturan suaminya itu, dia langsung menghambur memeluk suaminya. Raihan mengeratkan pelukannya. Begitu bahagia dia memiliki orang yang begitu dia cintai ini. Apapun yang terjadi, Raihan tidak akan pernah melepaskan Aisyah. Dia akan melawan semua orang yang berani mengusik kebahagiaannya dengan Aisyah.


"Apa Kak Rachel dipanggil Achel juga, Bang?" tanya Aisyah yang masih melingkarkan tangannya ke pinggan Raihan.


Raihan menggeleng "Kan cuma Abang yang punya panggilan itu, khusus untukmu sayang"


Raihan melepaskan pelukannya "Kita makan yuk, Abang udah lapar nih.." Raihan memegang perutnya dengan wajah...ahh lagi-lagi imut bagi Aisyah.


Kalau anak kita laki-laki, pasti ganteng kayak Abang. Tapi kalau anak kita perempuan....

__ADS_1


Aisyah terkekeh. Entah terkekeh karena pikirannya, atau karena wajah imut Raihan.


"Sebentar ya sayang, Ai siapkan dulu!"


"Iya Achel.."


Aisyah tersipu malu, hampir saja dia menabrak sesuatu didepannya. Refleks dia memegang perutnya.


Huuuf, untung kamu tidak kenapa-napa sayang...


"Kamu gapapa sayang?" Raihan sampai bangkit dari duduknya.


Aisyah menggeleng dan tersenyum malu-malu sambil meninggalkan Raihan yang terpaku memandangi istrinya yang sedang tersipu.


**


Di ruang kerja trio koplak


"Adiiiiitttt..." Aisyah cubit-cubit gemes pipi Adit yang putih. Kenapa putih? Karena Adit pakai foundation tadi. Alhasil nempel semua itu foundation adit ditelapak tangan Aisyah.


"Aaaaiiiiiii, sakit tahu!" Adit mengusap-ngusap pipinya yang merah "Aduuuhhh.. Lo apa-apaan, sih?" kesal Adit.


"Hihihi, maaf ya say! Dari kemarin-kemarin, gue gemes banget pingin cubit pipi lo!" Aisyah memainkan tangannya, seoalh-olah ingin mencubit lagi, Adit langsung menghindar.


"Mak lampir, kenapa nih si Ai?" Adit bersembunyi dibalik punggung Sabila.


"Hahaha.. Lo jangan gitu sama Ibu hamil, Dit!"


"Jadi memang benerkan, Ai? Lo udah tes, kan?" pertanyaan Sabila mencercah Aisyah yang hanya menjawabnya dnegan tersenyum.


"Alhamdulillah langsung garis dua!"


Sabila langsung memeluk Aisyah "Ya Allah, gue seneng banget, tahu!" Sabila mengusap perut Aisyah dengan sayang "Sehat-sehat ya, Nak? Disini ada Tante Bila sama Om Adit yang akan selalu jagain kamu.."


Adit tampak sesekali menyeka airmatanya. Percayalah, diantara mereka bertiga, dia yang paling sensitif hati dan perasaannya.


"Adit, kenapa nangis?" tanya Aisyah heran.


Adit bergerak dari tempat dia diam. Ikut nimbrung bersama kedua sohibnya itu.


"Gue seneng banget Ai tahu lo hamil gini! Nih, nih! Cubitin lagi pipi gue!" Adit menyodorkan pipinya, dan sekali lagi Aisyah mencubit pipi Adit.


Aisyah terharu sekali, beruntung dia memiliki sahabat seperti mereka.


"Terima kasih, Sahabat-sahabatku..."


"Kalau lo ngidam sesuatu, bilang ya Ai!" ucap Adit dengan wajah senangnya. Aisyah dengan antusias mengangguk.


"Apa tanggapan Pak Raihan, Ai?"


"Dia belum tahu, Bil! Rencananya, waktu dia ulang tahun, disitu gue kasih tahu!"


"Uuuhh so sweeet..." ucap Adit sambil memeluk dirinya sendiri. Spontan Aisyah dan Sabila memutar mata malas, terlebih juga Sabila yang hampir muntah.

__ADS_1


*


Siang ini, Aisyah harus menyerahkan laporan pada atasan mereka, yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri, Raihan Ali. Dengan senang hati dia melenggang pergi keruangan suaminya. Walau ada juga mata karyawan yang melirik dia dengan aneh. Mungkin gosip dia waktu itu sudah menyebar dengan cepat seperti angin kentut. Aisyah hanya angkat bahu menanggapi lirikan ghibah dari karyawan yang sedang berkumpul itu. Toh, dia juga tidak berdosa berduaan dengan suaminya.


Pintu dibukakan oleh pengawal biasa yang menjaga pintu Presdir. Hal pertama yang dia lihat adalah suami gantengnya yang tersenyum hangat padanya. Dan ternyata bukan hanya suaminya yang tersenyum begitu, ada Ghifari juga. Dia juga melakukan hal yang sama dengan suaminya.


Aisyah hanya tersenyum simpul, lalu dia mengangguk memberi hormat. Selayaknya karyawan pada atasannya.


"Permisi Pak, ini laporan kami bulan ini" Aisyah menyerahkan berkas laporan itu pada Rizi.


Raihan hanya menatapnya dengan perasaan cinta. Ghifari suda mulai curiga.


Pak Raihan menatap dia dengan pandangan berbeda, apa mereka punya hubungan? ~ Ghifari.


"Mmm Aisyah, jangan kembali dulu! Ada laporan yaang harus kalian kerjakan!" ucap Rizi. Aisyah mengangguk.


Ingin rasanya Aisyah menatap sekilas suaminya, tapi disini ada Pak Gunawan juga Ghifari. Dia tidak ingin mereka menaruh curiga. Tak lama, datang seorang tamu, sepertinya kalangan pengusaha atas seperti suaminya. Tampangnya tampak seperti bule. Tapi Bapak itu tidak sendiri, dia bersama seorang wanita cantik berpenampilan modis ala sekretaris kantoran.


Eh itu siapa Bapak itu? Anaknya? Sekretarisnya?  Apa selingkuhannya? Wkwkwk. ~ Aisyah.


Raihan spontan berdiri untuk menyambut tamu penting disini. Dia mengulurkan tangannya pada Bapak itu.


"Selamat Datang, Tuan Albert!" ucap Raihan dengan senyum ramah.


Tuan Albert menjabat tangan Raihan "Terima kasih, Tuan Raihan! Eh, ada Tuan Gunawan juga disini!"


"Selamat datang!" ucap Pak Gunawan. Mereka berjabat tangan.


"Terima kasih!"


"Ayo silahkan, Tuan Albert!" Raihan mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Ayo duduk!" ucapnya pada gadis yang dia bawa. Gadis itu mengangguk patuh.


"Ada apa Tuan Albert berkunjung kesini? Bukankah kerja sama yang kita sepakati selama ini berjalan dengan baik?"


"Saya ingin mengenalkan anak saya pada Tuan Raihan!"


Raihan menoleh sekilas pada gadis yang tersenyum malu-malu itu padanya. Lalu mengalihkan pandangannya lagi ke Tuan Albert. Aisyah yang memperhatikanpun timbul rasa tidak enak dihati.


"Namanya Dona, dia lulusan terbaik dari Universitas ternama di luar negeri. Dia juga Sekretaris andalan saya! Saya ingin menjodohkan dia dengan anda, Tuan Raihan!"


Dada Aisyah bergemuruh. Nafasnya naik turun menahan cemburu yang berbalut emosi. Yang buat emosi, suaminya sempat memandangi gadis itu, dan tidak menjawab apapun saat Tuan Albert mau menjodohkannya. Merasa semakin tidak enak, Aisyah langsung bergegas meninggalkan ruangan itu tanpa permisi.


Raihan tahu pasti ada yang salah, makanya istrinya pergi begitu saja. Ingin rasanya dia pergi dari sini dan menyusul istrinya. Tapi sial, Tuan Albert masih ada disini.


Sial! Kedatangan orang tua ini membuat istriku kesal saja!


Ghifari menyadari ada hal aneh antara Aisyah dan Raihan.


Ada apa sebenarnya diantara mereka? Kenapa Aisyah begitu kesal dan keluar begitu saja?


...............................

__ADS_1


__ADS_2