
Di kantor,
~Sayang, Abang akan ke luar kota beberapa hari~
Aisyah jadi tidak semangat membaca pesan dari Raihan.
~Tapi Bang, pernikahan kita juga tinggal beberapa hari lagi~
~Nanti kita ketemu ya sayang~
"Hmmm, jadi gak semangat..." gumamnya pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Sabila.
"Ada apa, Ai? Kenapa gak semangat?"
"Hmmm, Bang Raihan mau ke luar kota!"
"Ya elah Ai, gitu aja Lo gak semangat! Nanti kan bisa ketemu lagi!"
Aisyah memanyunkan bibirnya "Dasar pujangga cinta! Enak banget Lo kalo ngomong ya! Masalahnya, pernikahan gue tinggal menghitung hari, Bil!" jawab Aisyah kesal.
"Masih menghitung hari, Ai! Bukan menghitung bintang di langit!"
"Bodoh amat!"
"Hahaha, nanti Lo juga terbiasa, Presdir kan memang biasa ke luar kota!"
Tiba-tiba dering panggilan di hp Aisyah berbunyi,
"Mama?" gumamnya.
"Siapa yang telpon, Ai?'
"Mama! Gue angkat dulu!" Aisyah lalu bangkit dan berjalan ke arah dekat jendela.
Sabila memperhatikan air muka Aisyah yang sebentar berubah, panik, sedih dan takut. Sesekali dia menyeka air yang keluar dari ujung matanya. Sabila merasa ada yang tidak beres. Langsung saja dia menghampiri Aisyah. Karena Sabila mendekat, buru-buru Aisyah menghapus air matanya.
Hah kan benar! Dia sedang menangis.
Sabila melingkarkan tangannya di pundak Aisyah "Ada apa, Sob?"
"Ayah, masuk rumah sakit! Gu...gue takut sekali, Bil!" Aisyah menjatuhkan kepalanya di pundak Sabila. Sabila langsung menepuk dan mengelus kepala Aisyah.
"Menangis lah, Ai! Keluarkan semua! Sudah cukup Lo pendam selama ini!"
Adit yang baru saja masuk ke ruangan, gelagapan melihat Aisyah yang menangis di pundak Sabila. Tidak pernah Aisyah seperti itu.
"Ya Allah, ada apa?" tanyanya khawatir.
"Ayah Ai masuk rumah sakit!"
"Jadi sekarang gimana? Ayo kita cepat kesana!" ucap Adit.
"Iya Ai! Ayo!"
__ADS_1
Aisyah menyeka air matanya, dia merapikan jilbabnya yang berantakan karena bersandar pada Sabila.
"Gak perlu! Biar gue aja! Kalau Bang Raihan nanyain gue, bilang gue ada urusan ya?"
"Hmmm, ya udah kalau itu kemauan Lo! Jangan lupa cepat kabari kami kalau butuh apa-apa!"
Aisyah mengangguk, dia kemudian mengambil tasnya dan pamit pada sahabatnya. Dengan terburu-buru dia berjalan ke arah pintu keluar dengan wajah tertekuk. Sayangnya, pemandangan itu terekam oleh Rizi. Sepertinya ada yang tidak beres. Langsung saja dia menghampiri teman-teman Aisyah di ruangannya.
"Kemana Aisyah tadi?" tanyanya dengan wajah datar.
"Eh, dia ada urusan Pak!" jawab Sabila.
Rizi menaikkan alisnya sebelah, memandangi wajah Sabila yang agak pias karena takut ketahuan bohong. Lama dia memandangi wajah Sabila, sebelum akhirnya keluar dari ruangan mereka tanpa sepatah katapun.
Sabila geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh Rizi. "Dasar gila!"
Adit tertawa terbahak-bahak "Pak Rizi naksir Lo tuh Mak Lampir!"
Sabila memanyunkan bibirnya kesal "Dasar! Ternyata Lo lebih gila lagi!"
Setelah keluar dari ruangan mereka tadi, Rizi jadi berpikir. Apakah dia akan memberitahukan hal ini pada Raihan apa tidak. Tapi masalah proyek mereka saat ini lebih penting. Rizi memutuskan untuk tidak memberitahukan Raihan. Semoga tidak ada hal aneh yang terjadi.
Rizi membuka hpnya, memeriksa jadwal-jadwal yang harus dilaksanakan.
"Sudah waktunya berangkat"
"Rey, sudah waktunya kita berangkat!"
"Kenapa cepat sekali? Aku belum ada menemui Aisyah!"
Raihan dengan berat hati pergi tanpa bertemu dulu dengan kekasihnya. Ada perasaan tidak enak dihatinya, bergentayangan dan menghantui pikirannya.
Semoga tidak ada yang terjadi dengan Aisyah ku.
****
Waktu sudah menunjukkan kalau malam yang larut akan segera tiba. Aisyah dengan cemas menunggu kabar dari orang tuanya. Dari tadi tidak ada kabar dari mereka. Ke rumah sakit apapun, Aisyah juga tidak tahu. Saking kepikiran sama orang tuanya, Aisyah sampai lupa dengan Raihan yang tengah memikirkan dirinya.
"Haaah, kemana aku harus menyusul mereka? Kalau naik ojek online juga sudah kemalaman! Minta tolong sama Bila juga gak mungkin!"
Akhirnya Aisyah memutuskan untuk sholat isya terlebih dulu. Supaya kecemasan di hatinya hilang. Dan bisa berpikir dengan jernih apa yang akan dilakukan selanjutnya. Selesai berdoa dan belum lagi melepas mukenah, tiba-tiba dering panggilan berbunyi, dengan segera Aisyah bangkit dan berlari ke arah hp yang berbunyi itu.
"Halo..."
"Apa benar ini kerabat dari ibu Saudah?"
"Saya anaknya! Ada apa dengan orang tua saya?"
"Kami dari Rumah Sakit X mau memberitahu, kalau orang tua Anda berada di sini dalam keadaan meninggal karena kecelakaan! Kami harap Anda segera datang!"
Jedeeeeer! Seperti ada petir yang menyambar diri Aisyah. Dia menjatuhkan hpnya, dan langsung terduduk lemas. Aisyah menangis tersedu-sedu.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya dalam isakan tangis yang memilukan. Dia bingung, apa yang harus dia lakukan saat ini. Tiba-tiba Aisyah kepikiran sama Bram.
__ADS_1
Aisyah langsung menyeka airmatanya dan mulai bangkit untuk berlari ke rumah Bram. Dengan masih memakai mukenah dia berlari sekencang-kencangnya tanpa memakai alas kaki. Airmatanya tak henti-henti keluar. Saat ini pikirannya sedang berkecamuk. Dia memijak pecahan kaca saja sampai tidak terasa. Walau darah deras mengucur dari kakinya.
Aisyah tetap berlari, dan berlari, meminta bantuan Bram. Orang yang paling dekat dengan rumahnya. Semoga saja Bram di rumah saat ini. Karena biasanya dia selalu ditugaskan oleh Raihan ke luar kota.
Dengan nafas terengah-engah dia mencoba mengetuk pintu.
"Assalammu'alaikum..."
Tapi rumah itu terasa hening, mungkin sang pemilik rumah sudah tidur. Aisyah tidak patah semangat, dia mencoba dan terus mencoba sampai akhirnya pintu rumah itu terbuka. Dan syukurnya, Bram yang membuka pintu.
"Ai?" panggilnya dengan perasaan heran, ngapain Aisyah malam-malam ke rumahnya dengan memakai mukenah. Bram khawatir karena airmata Aisyah mengucur dengan deras.
"Bang Bram, tolong Ai!" dia lemas dan terduduk.
Bram dengan sigap menolong "Ya Allah, Ai ada apa?" tanyanya cemas.
Ibu Bram terbangun dari tidurnya dan segera keluar, dia terkejut karena Aisyah sudah lemas.
"Ya Allah, Ai! Ada apa, Nak?"
"Bu, tolongin Ai! Mama sama Ayah meninggal di rumah sakit!" ucap Aisyah perlahan.
Bram dan ibunya terkejut mendengar penuturan dari Aisyah yang menangis sesegukan itu. Ibu Bram langsung memeluk Aisyah. Aisyah semakin menjadi nangisnya. Bram juga sedih melihat keadaan Aisyah. Tiba-tiba mata Bram teralih ke arah kaki Aisyah yang mengeluarkan darah.
Bram langsung berjongkok untuk memeriksa kaki Aisyah "Ai, kaki kamu kenapa?" dengan debar-debar asmara, dia memberanikan diri memegang kaki Aisyah.
Kasihan sekali, kakinya terluka pun dia sampai tidak tahu~ Bram.
Aisyah yang di tanya hanya geleng-geleng lemah. Dia sudah lemas karena menangis terus. Dengan cekatan ibu Bram langsung masuk untuk mengambil perban, betadine, jilbab dan juga air putih.
Bram dengan segera mengobati kaki Aisyah, memperbannya dengan rapi. Sesekali dia curi-curi pandang pada Aisyah yang sudah agak tenang setelah diberi minum. Bram tidak bisa menutupi debar-debar asmara dihatinya. Dia tidak bisa menampik kalau perasaan itu masih ada.
Setelah selesai, Bram segera masuk untuk mengambil jaket dan mengeluarkan motor sportnya. Sedang Aisyah dibantu ibu Bram mengganti mukenahnya dengan jilbab.
"Bu, lebih baik kami segera ke rumah sakit itu guna memastikan!"
"Iya, Bram!" ibu Bram kembali memeluk calon mantunya yang tak jadi ini. Dia membesarkan hati Aisyah.
"Ai bisa jalan?" Bram bertanya begitu, karena lukanya tepat di tapak kaki Aisyah.
"Ai masih bisa jalan, Bang!" dengan tertatih-tatih dia berjalan menuju Bram yang sudah duduk di atas motor.
Bram langsung saja membantu Aisyah, tanpa ragu-ragu Aisyah mengambil tangan itu untuk menuntunnya. Lagi-lagi debaran asmara itu hidup lagi di hati Bram. Ini pertama kalinya dia memegang tangan Aisyah. Aisyah sebenarnya tak peduli, yang dia pikirkan saat ini hanya ingin segera sampai ke rumah sakit.
Dengan hati-hati Bram membantu Aisyah naik ke atas motornya yang agak tinggi itu.
"Pegangan, Ai!" ucap Bram, dia takut Aisyah jatuh. Karenakan, kondisi Aisyah sudah lemas, ditambah darah yang keluar karena luka itu.
Tanpa ragu-ragu Aisyah memegang jaket Bram, lagi-lagi jantung Bram berdebar keras. Tapi dia berusaha mengesampingkan itu. Dengan segera mereka pergi ke rumah sakit yang diberitahu oleh penelpon tadi.
Sepanjang jalan, Aisyah berusaha berdzikir, menenangkan hatinya yang sudah tak karuan. Kalau memang berita itu benar, sebatang karalah dia nanti. Lagi-lagi Aisyah menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran yang membuat dirinya semakin gundah.
Sedang jauh disana, duduk seorang wanita dengan senyum mengembang yang penuh dengan kemisteriusan.
__ADS_1
............................................