
Setelah urusan pekerjaan mereka selesai, Pak Gunawan beserta Ghifari pamit undur diri. Rizi merasa risih karena diperhatikan terus oleh Raihan.
"Kenapa kau terus memperhatikanku, Rey?" Rizi curi-curi lirik, sedang Raihan terus menatapnya dengan tajam.
"Aku belum pernah membunuh orang!" jawab Raihan dingin.
Rizi terperanjak "A..apa maksud mu, Rey?"
"Aku akan membunuhmu, kalau sekali lagi kau membantu mereka mencari tahu tentang istriku!" Ujar Raihan serius.
"Rey, kau becanda ya?"
Raihan menunjuk wajahnya "Kau lihat wajahku? Apa aku becanda?"
Rizi menelan ludah, dia tidak sangka kalau Raihan bisa serius juga dengan dirinya. Tiba-tiba Rizi teringat akan info yang dia dapat.
"Rey, aku punya sesuatu!"
"Sesuatu apa?"
"Sesuatu ini akan melupakan niat jahatmu itu untuk membunuhku!" Raihan mendengus saat melihat Rizi mengotak-ngatik hpnya. Lalu dia menyerahkan hp itu pada Raihan.
"Apa ini?" tanya Raihan heran.
"Lihat saja!"
Raihan lalu melihat foto-foto yang ada di hp Rizi. Seketika alisnya berkerut "Ini foto wanita itu, kan?"
Rizi mengangguk "Yup!"
Raihan melempar hp itu, Rizi dengan gelagapan menangkap benda berharganya.
"Dasar sialan! Untuk apa kau menunjukkan foto wanita iblis itu padaku?" umpat Raihan.
"Dasar bodoh! Apa kau tidak lihat, slide pertama foto Saniya bersama seorang pria tua?" Rizi membalas umpatan Raihan dengan kesal. Belum lagi melihat sampai akhir, sudah menyimpulkan sendiri.
Raihan mengedikkan bahu "Apa peduliku?"
Rizi menghela nafas "Makanya dilihat lagi slide selanjutnya! Dislide selanjutnya itu, ada foto Saniya membeli alat tes kehamilan!"
Raihan mendongak, dan melototkan matanya "Hah? Dia beli alat tes kehamilan? Apa jangan-jangan dia hamil anak pria tua itu?"
Rizi memainkan alisnya "Bisa jadi!"
Raihan sumringah "Wah, ini bisa jadi bukti kuat kalau wanita itu memang ja****!"
"Semoga Nyonya menerima berita ini dengan baik, Rey!"
Raihan mengangguk "Oh, iya! Kau dapat info ini darimana? Kita sepatutnya memberi mereka bonus yang besar!"
"Syukur juga teman-teman istrimu itu bertemu Saniya! kalau tidak, mungkin kita tidak akan tahu kebusukan dia!"
__ADS_1
''Aku akan menaikkan jabatan mereka nanti!"
"Aku juga akan naik jabatan kan, Rey?" Rizi mengedip-ngedipkan mata, membuat Raihan geli dan jijik.
"Jabatanmu ini sudah tinggi? Kau mau jabatan apa lagi?"
"Aku ingin jabatan sepertimu!" terselip nada becanda, tapi terdengar serius oleh Raihan.
"Dasar laknat! Kau mau menggantikanku menjadi Presdir!" bentak Raihan.
"Kalau bisa, sih!" Rizi menjawab untuk menggoda Raihan, kapan lagi bisa membalas kekurang ajaran Raihan, kalau tidak sekarang. Mumpung kesempatan masih ada.
"Kurang ajar! Jabatan yang cocok untukmu itu raja jomblo sejati, dunia akhirat! Hahahaha..."
Rizi bangkit dari duduknya, dia mengambil bantal sofa dan melempar bantal itu ke arah Raihan yang masih tertawa terbahak.
"Sialan! Beraninya kau melempar bantal pada bosmu!"
"Kau bukan bos! Lebih cocoknya, kau itu calon mayat!" Rizi mengejek sembari duduk lagi disofa.
Raihan mengambil bantal yag dilemparkan Rizi tadi padanya, dia tersenyum licik. Lalu dia melemparkan bantal itu dengan lemparan yang kuat, tepat mengenai kepala Rizi.
"Sialan!" umpat Rizi.
"Kau juga calon mayat, Jomblo!"
"Reeeeeyyyy....!" Rizi mengeram. Akhirnya dua pria dewasa itu bergumul seperti anak kecil yang sedang bermain. Setelah kelelahan, mereka rebahan dan sambil bercekikikan ria. Kikikikikik...
**
Merasa namanya dipanggil, Aisyah membalikkan badannya. Setelah tahu siapa yang memanggil, ingin rasanya Aisyah mengambil jurus si Yi di kartun Boboiboy, lariiiii lajuuuuu. Namun sayang pemirsa, yang memanggil itu sudah ada dihadapan Aisyah.
"Mmmm, ada apa ya, Pak?" Aisyah takut sekali kalau sampai suaminya melihat hal ini.
"Kamu belum pulang? Kita ke kantin dulu, yuk?"
Aduh, nekat nih cowok ngajakin aku ke kantin! Tahu suami gue, bonyok Lo nanti, Pak!
"Saya sudah mau pulang, Pak! Maaf ya Pak, mungkin lain kali!"
"Oh ya sudah, tidak apa-apa! Saya bakalan sering kesini, kok! Lain kali juga bisa.." pemuda itu tersenyum manis, wanita yang memperhatikannya pasti bisa kelepek-kelepek nanti.
Aisyah hanya bisa tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya sedikit. Aisyah sedikit menggerakkan kakinya untuk kabur, tapi lagi-lagi pemuda itu memanggilnya.
"Apa kamu sudah tahu nama saya?"
Untuk apa juga aku tahu, Pak!
Aisyah hanya meringis sambil geleng-geleng. Pemuda itu lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Aisyah. Tapi, Aisyah hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Pemuda itu langsung menarik tangannya lagi sambil tersenyum lebar, menampilkan giginya yang putih. Ingin rasanya Aisyah melambaikan tangan ke kamera, ingin menyerah gitu maksudnya.
Kenapa aku ada diposisi seperti ini, sih? Kalau orangnya gak ganteng gak papa, lah ini ganteng kayak pangeran Arab Saudi, imbang-imbang sama suami akuuu.. Astagaaaa...
__ADS_1
"Maaf ya, kamu benar! Bukan hal baik kalau lelaki dan perempuan saling bersentuhan, maafkan saya! Saya cuma mau mengenalkan diri! Nama Saya Ghifari!"
Aisyah menganggukkan kepala "Senang berkenalan dengan Bapak! Dan tadi kenapa Bapak bisa tahu nama saya?"
"Pak Rizi yang memberitahu tadi!"
Hah? Aisyah bengong, jangan-jangan Rizi sudah dihajar suaminya di ruangan atas sana?
Ghifari menjentikkan jemarinya tepat didepan wajah Aisyah yang bengong "Halo.. Aisyah?"
"Eh! Iya Pak?... Mmm maaf, Pak! Saya duluan ya Pak? Saya sudah ditunggu oleh teman saya!"
"Ahh iya, hati-hati di jalan ya?" Ghifari tersenyum lebar, Aisyah langsung lari menghindari Ghifari yang masih berdiri memandanginya dari jauh.
**
"Woi, woi.. Kenapa Lo lari-lari?" tanya Sabila heran.
"Lo tahu kan, kolega suami gue yang sering datang ke kantor ini?"
Sabila tampak berpikir, lalu mengangguk "Iya, iya gue tahu! Jangan bilang kalau anaknya naksir Lo, ya?"
"Entahlah, Bil! Gue rasa iya sih!"
"Hati-hati Lo, Ai! Jangan sampai suami Lo marah ya? Hahaha.."
Aisyah memanyunkan bibirnya "Malah ketawa! Udah ayo jalan!"
"Iya, iya Nyonya Raihan!"
Merekapun pergi dari kantor perusahaan Wira Utama Grup, menggunakan motor Sabila yang berjalan agak santai. Pas sekali jalan juga sepi. Entah kenapa, tiba-tiba Aisyah ingin sekali minum air kelapa muda. Mereka lalu berhenti ditempat penjualan kelapa muda. Setelah membeli, Aisyah dan Sabila duduk disebuah bangku panjang yang tersedia disana. Saat mereka duduk, pemandangan mereka menjorok ke arah jalanan kota.
"Ai, setahu gue, Lo kan gak suka minum kelapa muda?"
"Tunggu ya, gue mau pesen lagi!" Aisyah langsung melengos pergi ke tukang penjual kelapa muda, meninggalkan Sabila yang menatapnya nanar.
"Lo kok ngeri banget minumnya? Nanti masuk angin!"
"Hehe, habisnya seger banget, Bil!" Aisyah menyedot habis sisa air kelapa mudanya.
"Aneh deh, gue ngelihat Lo!"
"Aneh kenapa?"
"Lo kan gak suka kelapa muda! Ahh atau jangan-jangan.."
"Jangan-jangan apa? Yang bener deh kalau ngomong, Bil!" sebal Aisyah.
"Jangan-jangan Lo hamil, Ai?"
"Hah?" Aisyah spontan menjatuhkan sedotan dari gigitannya.
__ADS_1
.................................