Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Pagi-pagi Aisyah sudah berada di kantin dengan secangkir kopi panas dan beberapa cemilan dimejanya. Wajahnya begitu berseri-seri dan sesekali bibirnya menyunggingkan senyum. Tak lupa dia mengelus perutnya yang (menurut dia) sedikit agak mulai membuncit.


Aisyah teringat saat bertanya pada Raihan tentang panggilan anak mereka kalau mereka sudah punya anak nanti.


"Papa! Abang mau anak kita memanggil Abang dengan sebutan Papa!"


"Kenapa harus papa?"


"Karena Abang merindukan Papa, jadi kalau anak kita memanggil papa, seperti jadi obat bagi Abang.." Raihan tersenyum lebar saat mengucapkan itu, membuat Aisyah klepek-klepek. Dan akhirnya Aisyah memutuskan untuk memanggilnya dengan sebutan papa.


Sebentar lagi Abang akan tahu, kalau di dalam sini ada anak kita yang sedang berkembang...


Sabila menepuk pundak Aisyah "Woi... Kenapa lo senyum-senyum?"


"Dasar! Kaget gue tahu!" gerutu Aisyah dengan memanyunkan bibirnya.


Sabila terkekeh sambil menggeser kursi dan duduk. Aisyah memperhatikan plastik hitam yang dibawa Sabila.


"Eh apa tuh, Bil?" Aisyah menunjuk dengan pandangannya.


Sabila mengangkat plastik itu "Ini?" Aisyah mengangguk.


"Ini baju Pak Rizi!" jawabnya santai.


Aisyah membelalakkan mata "Hah? Kok bisa?"


Sabila langsung menjawab karena melihat wajah Aisyah yang begitu penasaran, dan pastinya sudah bergentayangan pikirannya. Sabila langsung menceritakan kronologis kejadian mengerikan yang dia alami tadi malam. Dan syukurnya Pangeran Rizi, eh maksudnya Pak Rizi datang menyelamatkannya bukan dengan sebuah pedang, melainkan dengan sebuah kayu balok.


Aisyah hanya nyengir-nyengir melihat ekspresi wajah Sabila yang seperti orang kesemsem. Aisyah memegang tangan Sabila yang sedari tadi memegang plastik hitam itu. Seakan-akan itu sebuah benda yang berharga.


"Tapi lo gapapa, kan? Lain kali jangan bertingkah keluar malam-malam!"


"Iya, maaf! Lain kali gue gak berani lagi, deh!" Sabila mengacungkan dua jari membentuk huruf V pada Aisyah, berjanji gitu maksudnya.


"Tapi sayang banget, Bil! Pak Rizi pergi sama suami gue!" Aisyah berbicara sambil menyeruput kopinya, dan sambil memperhatikan wajah Sabila yang agak kecewa.


"Yaaaah, kemana Ai?"


"Kayaknya lagi meeting diluar! Udah sabar, nanti kan dia balik! Udah gak sabaran ya?" cibir Aisyah dengan terkekeh geli.


Sabila memanyunkan bibirnya "Uuuhhh, awas lo Ai udah berani nyindir-nyindir gue!"


"Hahaha, nyindir apa? Gue aja lagi minum kopi tahu!"


Sabila kembali memanyunkan bibirnya, dan langsung bersedekap dada dengan kesal. Aisyah semakin tertawa geli melihat tingkah Sabila. Tanpa mereka ketahui, sudah ada orang yang melihat mereka dari meja yang ada dipojokan. Dia fokus memperhatikan Aisyah yang begitu manis ketika tertawa. Dia mengangkat cangkir yang berisi kopi itu ke udara, ketika dia melihat Aisyah meminum kembali kopinya. Seakan-akan dia mengajak untuk bersulang.


Kenapa aku datang disaat kau sudah ada yang memiliki...


"Bil, nanti jam istirahat temenin gue, yuk?"


"Kemana?"


"Ke makam kakak ipar gue!"


Sabila tercengang, bukannya Aisyah baru dari sana beberapa bulan lalu? Apa jangan-jangan dia ngidamnya ingin kemakam? Ngidam jenis apa itu?


"Bukannya lo baru dari sana?"


"Iya sih, cuma kemaren itu gue dimimpiin! Tadinya gue ngajak suami gue, cuma kan dia lagi meeting sekarang!"

__ADS_1


Sabila manggut-manggut. Entah mimpi apa yang dimaksud Aisyah dia pun tidak tahu. Yang jelas apa yang di inginkan oleh sohibnya yang sedang hamil ini, akan dia turuti semampunya.


"Ya udahlah yuk kita masuk!" Sabila beranjak dari kursinya, dia kan cuma karyawan yang berharap gaji dikantor ini, jadi harus profesional, dong! Walau dia juga tidak tahu profesional yang bagaimana, wkwk.


"Iya..." Aisyah hendak berdiri, tapi entah bagaimana dia hampir saja jatuh. Untung Sabila sigap memegangi lengannya.


"Aii, hati-hati, dong! Makanya pelan-pelan kalau mau berdiri!" omel Sabila singkat, padat dan jelas.


"Iiisss iya Bila cerewet!"


Mereka lalu pergi dari kantin itu dengan sesekali bercanda. Dan semua itu tak lepas dari pandangan pria yang juga minum kopi disana.


**


Saat jam istirahat kantor, Aisyah dan Sabila pergi sebentar ke makam kakak ipar dan mertuanya.


Disaat yang bersamaan, datang dua buah mobil mewah di makam itu. Pelan-pelan penumpangnya turun dibantu oleh beberapa pelayan dan pengawal yang juga turun dari mobil satunya.


"Pelan-pelan Nyonya besar.."


Beberapa pelayan membantu nyonya itu untuk naik ke kursi roda. Bukan tidak bisa berjalan, belakangan ini dia selalu lemas, sampai-sampai berdiri saja tidak mampu.


Saat nyonya itu sudah duduk dengan nyaman, matanya langsung tertuju pada dua gadis yang sedang berziarah dimakam suami dan putrinya. Dia menajamkan lagi pandangannya, sepertinya dia tahu siapa mereka.


Bukankah itu kekasihnya Rey? Sedang apa dia disini?


"Dekatkan aku pada mereka, aku ingin tahu apa yang mereka lakukan"


"Baik Nyonya besar"


Mereka mendekat, tapi tidak terlalu dekat, sehingga masih bisa mendengar pembicaraan dua gadis itu. Mama Raihan terenyuh saat Aisyah berdoa dimakam suaminya dan diaminkan oleh temannya. Setelah selesai, Aisyah menabur bunga diatas makam mertuanya.


Mama Raihan terperanjak mendengar kata 'Papa' dari mulut Aisyah. Apa mereka sudah menikah? Kalau tidak, mana mungkin gadis itu memanggil suamiku dengan sebutan papa.


Mereka kemudian ke makam Rachel, setelah selesai berdoa, Aisyah menaburkan bunga keatas makam Rachel. Kemudian Aisyah mengambil sebuah buket besar, berisi bunga mawar merah yang begitu harum. Aisyah lalu meletakkan bunga itu tepat di nisan yang bertuliskan nama Rachel.


"Kata Bang Raihan, Kakak suka bunga mawar. Jadi, Aisyah bawakan untuk Kakak..." ucapnya dengan nada sedih.


"Wah, gue juga suka bunga mawar.."


Aisyah tersenyum menanggapi ucapan Sabila. Dia beralih lagi menatap nisan Rachel.


"Lo tahu gak, gue mimpi apa kemaren itu?"


"Apa?"


"Gue mimpiin Kak Rachel ngajakin gue ke danau, dia juga selalu megang bunga mawar. Tapi gue heran, karena bunganya itu layu banget.."


"Terus..terus? Apa yang Kakak ipar lo sampein? Biasanya, kalau dimimpiin sama orang yang udah meninggal, ada suatu pesan yang gak kesampaian dari yang meninggal!"


Aisyah berpikir sebentar dan membenarkan kata Sabila. Dia lalu berjongkok dan mengusap nisan Rachel dengan tatapan sendu.


"Lo tahu hal yang paling di inginkan Kak Rachel apa?"


"Memang apa, Ai?" Sabila antusias sekali ingin tahu.


"Dia ingin Mama mertua gue datang ke makam dia, bawain bunga mawar kesukaan dia! Tapi gue gak tahu caranya, Bil! Pernikahan kami aja, beliau belum tahu, kan? Kalau tahu pun, Mama pasti gak suka sama gue!" ucap Aisyah menunduk sedih.


Sabila terhenyak, dia lalu mengusap-ngusap pundak Aisyah. "Udah, lo jangan sedih, kasihan anak lo nanti!'

__ADS_1


Mendengar itu semua, tak terasa air mata Mama Raihan yang melihat mereka dari jauh lolos tanpa izinnya. Ternyata, Raihan sudah menikah. Dia sudah mulai merestui hubungan mereka saat dirinya jatuh sakit dan ketika sering bermimpi tentang suami dan putrinya. Yang dia harapkan adalah Raihan pulang membawa istrinya itu ke rumah.


Tapi, sampai saat ini Raihan begitu marah pada dirinya. Padahal dia sangat merindukan putranya itu. Dan melihat menantunya yang sangat mirip dengan putrinya, begitu ingin rasanya Mama Raihan memeluk menantunya itu. Tapi kalau dia tahu siapa yang mencelakakan orang tuanya, apakah menantunya itu akan memaafkan dirinya ini?


Aisyah mengusap kembali nisan Rachel,


"Kak, maaf! Aisyah gak tahu caranya buat Mama datang ke makam Kakak. Tapi, Aisyah akan berusaha membuat mereka bersatu dan berkumpul kembali! Aisyah janji..."


"Udah ya Ai, lo jangan terbawa suasana begini! Lagi pula kita jangan lama-lama disini, lo kan lagi hamil!"


Mama Raihan terperanjak saat mendengar kata hamil. Apakah menantuku sedang hamil sekarang? Ya Allah, rasanya begitu bahagia karena aku sebentar lagi aku akan punya cucu. Semoga suatu hari aku bisa melihatnya...


"Ya sudah, yuk kita balik ke kantor!" Aisyah hendak berdiri, tak lupa Sabila membantunya dengan memegang pundak Aisyah.


Ketika mereka berbalik, mereka terkejut karena sudah ada Mama Raihan disana. Aisyah dan Sabila saling pandang. Aisyah lalu menganggukkan kepala, dan dibalas anggukan juga dengan Sabila. Mereka kemudian melangkahkan kaki dari area pemakaman itu.


Dari jauh Aisyah sudah menatap tajam mertuanya. Karena kalau boleh Aisyah jujur, dia masih sakit hati sekali dengan perlakuan mertuanya beberapa tempo lalu. Sedang mertuanya menatap dia dengan sendu, memperhatikan setiap inci wajah dan tubuh Aisyah yang dia rasa semakin mirip dengan putrinya.


Mama Raihan merasa, seolah-olah putrinya hidup kembali. Putrinya itu seperti berlari dengan tangan terbentang hendak memeluk dirinya.


"Mamaaaaa..." dalam bayangannya, putrinya itu berteriak memanggil dirinya.


Tak sadar, Mama Raihan membentangkan tangannya juga untuk membalas pelukan putrinya. Tapi, putrinya itu berhenti dan tiba-tiba saja menjelma menjadi Aisyah yang masih menatapnya dengan dingin. Sabila saja sampai kebingungan melihat situasi ini. Karena menantu dan mertua sama-sama saling menatap, apakah ini drama jatuh cinta antara dua orang yang saling menatap? Untuk menantu dan mertua, misalnya?


"Ra..rachel..." Mama Raihan mencoba bangkit dari kursi rodanya. Para pelayan membantunya untuk berjalan mendekati Aisyah.


"Ai..." Sabila mencoba memanggil Aisyah yang dari tadi diam dan menatap tajam mertuanya terus.


Aduh, Ai lo kenapa? Jangan bilang lo kesurupan arwah penasarannya kakak ipar lo! Lo lagi hamil, Ai!


Mama Raihan akhirnya sampai dihadapan Aisyah dengan susah payah.


"Rachel..."


Saat Mama Raihan mau mengusap pipi Aisyah yang dia sangka Rachel, tangannya terhenti seketika karena Aisyah memegang tangannya. Aisyah menurunkan pelan tangan itu.


"Maaf, saya bukan Rachel! Anda ingat kan siapa saya? Saya hanya sampah!"


Aisyah langsung melangkahkan kakinya pergi, diikuti Sabila yang kebingungan dengan keadaan yang sedang terjadi.


"Racheeeel..! Jangan pergi, Naaaaak!"


Mama Raihan mau mengejar Aisyah, namun baru berjalan satu langkah, dia sudah terhuyung dan jatuh tersungkur.


Semua pelayan dan pengawal berteriak "Nyonya besar!!"


Racheeel, maafin Mama!


Air matanya mengalir deras kala melihat Aisyah dan Sabila sudah pergi dengan motor mereka. Semakin jauh dari pandangannya yang mulai buram dan lama-lama menjadi gelap. Mama Raihan pingsan.


Rachel...


..........................


Terima kasih sudah mampir dan membaca novel aku. Harap berikan likenya ya saat sudah membaca. Kalau like duluan juga boleh, tapi harap dibaca kemudian, ya? Jangan lupa juga untuk komen, vote dan giftnya..


Karena, tiada artinya Penulis tanpa Pembaca. Bagaikan Bumi yang tidak bisa tanpa Bulan. Bagaikan manusia yang tiada artinya tanpa oksigen! Ya, iyalah, cengap-cengap dan kejet-kejet kemudian, hahaa maaf becanda!


Salam hangat dari Ils Dydzu

__ADS_1


__ADS_2