
Aisyah masuk ke dalam ruangan Raihan, setelah pengawal di depan pintu itu mempersilahkannya untuk masuk.
"Ahh istriku akhirnya datang juga!" pekik Raihan kegirangan. Aisyah hanya berdiri mematung, menatap suaminya dengan intens.
Raihan merasa ada yang aneh, dia lalu berdiri dan berjalan menghampiri istrinya. Menarik pinggangnya dan mengajak istrinya untuk duduk di kursi kebesarannya, ralat maksudnya duduk di pangkuannya.
"Ada apa, sayangku? Kenapa cemberut begitu? Hmm?" Raihan membelai pipi Aisyah.
"Abang kenapa sih masih ngebiarin Mbak itu datang kesini?" ucapnya manja seperti anak kecil.
"Mbak? Mbak yang mana?"
Aisyah membuang muka dan cemberut "Malas ahh ngomong sama Abang!"
Raihan menangkup wajah Aisyah dan membawanya ke dalam pelukannya "Maafkan Abang, ini terakhir kalinya wanita sialan itu datang ke dalam kehidupan kita!"
Aisyah mengangkat kepalanya dari pelukan Raihan dan menghela nafas "Haaah, Ai capek!"
Raihan mengernyit "Capek kenapa sayang?"
"Capek aja! Restu Mama belum juga dapat! Dan ini, Abang terus-terusan diganggu sama wanita itu!" cibir Aisyah.
"Maafkan Abang, sayang! Abang janji, hal ini gak akan terulang lagi! Mungkin itu Mama yang nyuruh! Abang akan peringatkan mereka nanti!"
Aisyah hanya diam, dia bingung mau menjawab apa. Tapi jujur dalam hatinya, dia ingin mendekatkan hubungan suami dan mama mertuanya itu kembali seperti dulu. Apakah bisa? Aisyah menjadi gelisah sendiri.
"Sayang, ada apa?" Raihan menyentakkan Aisyah dari lamunannya.
Aisyah terkekeh kecil "Ai pingin peluk.." ucapnya manja, membuat Raihan gemas. Dia bukan memeluk, malah mencium bibir Aisyah dengan rakus. Setelahnya, dia membenamkan wajahnya pada dada istrinya yang lembut itu.
Sayangnya adegan itu terlihat oleh staf yang akan memberikan laporan pada Raihan. Pengawal lupa kalau Aisyah itu istri Raihan, maka dengan mudahnya dia membukakan pintu itu, dan membiarkan staf itu masuk. Aisyah yang kaget langsung berdiri kikuk. Beda dengan Raihan yang langsung memerah wajahnya karena marah.
"Beraninya kau masuk ke ruanganku?" hardik Raihan.
Wanita itu menunduk berulang kali dan meminta maaf karena kelancangannya, sebelum dia di usir oleh Raihan.
"Ai balik aja lagi ke ruangan ya, sayang?" ucap Aisyah tak enak.
"Jangan pikirkan hal itu sayang! Kamu istri Predir Utama di perusahaan ini! Kalau dia membicarakan yang tidak-tidak, Abang akan tindak lanjuti dia!" ucapan tegas seorang Raihan, pantang untuk di bantah! Asek!
Aisyah hanya bisa menghela nafas mendengar titah yang mulia suami. Bisa apa dia kalau bukan karena perlindungan suaminya. Bahkan Raihan menarik tangannya dan masuk ke kamar pribadi yang ada di ruangan itu, dia hanya bisa pasrah. Bukan pasrah sih, tapi dia juga suka. Mencari pahala itu memang sangat mudah didapatkan oleh suami istri, bahkan saat mereka di tempat tidur. Uhui!
Aisyah masih malu-malu saat Raihan memakaikan bajunya kembali, mau dimanapun suaminya meminta haknya, Aisyah harus siap! Walau masih terasa malu-malu miaw. Padahal sudah dua bulan mereka menikah.
__ADS_1
"Capek?" tanya Raihan yang hanya dijawab oleh anggukan dan senyum malu-malu ala Aisyah, walaa.
"Maafkan Abang ya sayang, habisnya..." Raihan memotong ucapannya, dia juga tersenyum malu-malu.
Aisyah mengerling nakal pada suaminya itu "Habisnya apa sayaaaaang?"
Raihan terkekeh, dia mencubit kecil hidung Aisyah "Sudah, pakai lagi jilbabnya sana!"
Aisyah memanyunkan bibir "Ahh Abang! Gak asik!"
Raihan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. Dia memilih keluar terlebih dahulu meninggalkan Aisyah dikamar pribadinya. Tempat dia beristirahat setelah lelah bekerja. Karena kalau sudah kelelahan, dia mudah sekali ketiduran. Untuk itulah, ruangan pribadi itu tercipta. Sesuai dengan selera Bos Besar.
Saat keluar dari kamar pribadinya itu, Raihan sempat berdiri dan tercengang karena sudah ada Pak Gunawan beserta Ghifari, dan tentu saja ada Rizi juga disana. Raihan melirik ke arah kamar, dimana istrinya masih berada disana. Lalu beralih lagi ke arah mereka yang memperhatikan dia dengan perasaan yang mungkin dibilang ehm, aneh.
"Rey, Pak Gunawan sudah datang dari tadi!" ucapan Rizi membuyarkan lamunan Raihan.
Apa? Dari tadi? Jangan-jangan mereka dengar lagi apa yang kami lakukan didalam?
"Rey..."
"Eh iya.." Raihan bergerak maju, menghampiri tamunya itu.
"Selamat siang, Pak!" sapa Pak Gunawan dengan senyum khasnya, dia menjabat tangan Raihan.
Lagi-lagi Raihan melirik kamar itu, semoga saja istrinya tidak keluar disaat seperti ini.
"Ayo silahkan duduk!"
"Ahh iya Pak, terima kasih!"
Saat mereka duduk, Aisyah keluar dari kamar itu. Pas pula Pak Gunawan melihat, langsung lah Pak Gunawan menyapa gadis yang ingin dia jadikan mantu itu.
"Eh, Nak? Sedang apa disitu?"
Aisyah kaget karena ada orang selain suaminya diruangan ini. Dan itu, orang tua dan putranya yang mau menolong dia waktu kecelakaan kemarin.
Eh buset, aku harus bagaimana ini? ~ Aisyah.
Sedang apa gadis itu diruangan Presdir? Bukannya, tidak sembarang orang yang boleh masuk kesini? ~Ghifari.
Raihan langsung mengalihkan pandangan Pak Gunawan dan Ghifari dengan berkas-berkas yang ada di meja. Tapi tetap saja, itu tidak bisa mengalihkan Pak Gunawan dari Aisyah.
Pak Gunawan berdiri dan menghampiri Aisyah,ingin rasanya Ghifari menepuk jidat melihat tingkah papanya. Kalau bisa, dia ingin menarik Papanya untuk duduk kembali dan menepuk jidatnya, eh. Malunya Ghifari sudah di ubun-ubun karena Raihan memperhatikan tingkah Papanya itu dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
Kenapa Papa yang menghampiri dia, sih? Kan aku yang mau yang dijodohkan? Kalau kayak begitu, seakan-akan Papa yang gatal, Pa! Mendekati gadis muda! Haduuh! ~Ghifari.
Apa-apan sih yang dilakukan kakek itu? Apa sih mau dia? Ingin sekali ku jitak kepalanya! ~Raihan.
"Apa kamu sudah sehat, Nak?"
Aisyah yang berdiri dengan perasaan canggung, bingung dia mau menjawab atau tidak. Ditambah lagi dengan Raihan yang menatapnya (atau menatap Pak Gunawan?) dengan tatapan tajam.
"Sa..saya sudah sehat, Pak! Terima kasih sudah menolong saya waktu itu!" Aisyah menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Wah, kamu sopan sekali!" Pak Gunawan tersenyum, memuji calon mantunya yang entah siapa namanya ini.
"Ehem, bisa kita kembali ke pembahasan kita Pak Gunawan?" Rizi berucap.
"Eh, maaf Pak Rizi!"
Alhamdulillah, kesempatan untuk kabur ini!
"Maaf, Pak! Saya kembali dulu ke ruangan saya! Permisi!" Aisyah langsung berlalu dari tempat itu. Modenya bukan siaga lagi, tapi bahaya! Mengingat wajah Raihan yang sudah emosi tadi.
"Bisa tidak, kalau kita membahas proyek, hanya itu saja yang kita bahas, jangan yang lain!" protes Raihan. Pak Gunawan cengengesan menanggapi ucapan Raihan.
Astaga! Dia tertawa pula! Dikira aku pelawak apa! Aku sedang tidak bercanda, Kakek!
"Maaf, Pak Raihan! Saya suka gadis itu! Cocok untuk jadi menantu saya!"
"Papa!" Ghifari melototkan mata.
"Kenapa? Kan kamu suka juga dengan gadis itu?" Pak Gunawan mengedip-ngedipkan matanya pada Ghifari.
Apa katanya? Bocah ini menyukai istriku? Kurang ajar!
Ingin rasanya Raihan menendang dua makhluk ini keluar dari ruangannya. Kalau bisa dia ingin menendang mereka sampai ke mars sana, biar tak usah kembali lagi kesini!
Rizi hanya tertawa tanpa suara melihat Raihan yang sudah mengepalkan tangannya. Untung saja, dia masih manusia biasa. Kalau dia manusia luar biasa, mungkin dia sudah bisa melihat asap keluar dari kepala Raihan.
"Emmmm, siapa nama gadis itu, Pak Rizi?"
"Namanya Aisyah!"
Raihan langsung melototkan matanya pada Rizi. Rizi hanya menaik turunkan alisnya, menggoda Raihan yang sudah sangat marah.
Memang enak cemburu? Cocok juga aku balas dendam! Karena dia juga seenaknya menyebutku jomblo! Wuahaha..
__ADS_1
..................................