Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Pergi


__ADS_3

Raihan membuka pintu kamarnya pelan, dia tutup juga pintu itu dengan pelan, lalu menguncinya. Dengan lemas dia menduduki pinggiran tempat tidurnya. Tiba-tiba terdengar isak tangis. Lelaki itu menangis.


"Kenapa mama terlalu egois, kenapa mama mementingkan dirinya sendiri?.. Apa dia tidak belajar setelah kehilangan kakak?.. Apa dia tidak takut kehilangan aku seperti kehilangan kakak?" lirihnya dalam kesedihan.


Lama di menangis, setelah sadar dari kesedihannya, dia mencoba untuk tegar. Lalu dia bangkit menuju lemarinya, mengambil koper dan mulai menyusun baju. Sudah bulat keputusannya untuk meninggalkan rumahnya ini, Raihan lebih memilih untuk tinggal di apartemennya yang baru.


Tok..tok..


"Tuan.." panggil Bik Inah.


Raihan membukakan pintu dan mempersilahkan Bik Inah masuk.


"Bik, tolong bereskan baju-baju ku!"


"Loh, Tuan mau kemana?"


"Gak perlu tahu aku kemana Bik, yang penting aku tenang dalam menjalani kebahagiaan ku!" ucapnya sembari duduk di sofa yang ada di kamarnya.


"Iya Tuan, Bibik bereskan ya.."


Bik Inah mulai membereskan baju Raihan satu persatu ke koper. Sambil sesekali melihat Raihan yang tengah murung sambil melihat langit-langit kamarnya. Setelah selesai, Bik Inah ikut duduk di samping Raihan.


"Tuan, jangan sedih lagi, Bibik jadi ikutan sedih!"


Raihan tersenyum simpul sambil melihat ke arah Bik Inah, bagaimanapun juga, Raihan sangat sayang sama Bik Inah, dari dia bayi, Bik Inah yang sudah mengurusnya. Maka tidak heran, kalau mereka sangat dekat.


"Aku ingin sekali mengajak Bibik ke tempat ku yang baru, tapi lebih baik kalau Bibik di sini aja, sambil sesekali menasehati mama"


"Bagaimana mana bisa Tuan, Nyonya sampai sekarang tidak berubah, dia tidak mikir kalau anak lelakinya sebentar lagi udah mau tiga puluh empat tahun, dan belum menikah.."


Raihan menghela nafas "Kalau aku ngikutin semua keinginan mama, lebih baik aku tidak menikah seumur hidup ku, Bik!"


"Sssttt, eh Tuan, gak baik ngomong begitu!"


"Iya, iya Bik!.. Apa Bibik bisa jaga rahasia?"


"Rahasia apa Tuan?" tanya Bik Inah penasaran.


"Aku akan menikahi Aisyah, apa Bibik setuju?"


Mata Bik Inah berbinar "Wah, Alhamdulillah, Bibik sangat setuju, Non Aisyah itu cantik dan sholehah, orangnya juga sopan, gak kayak si kampret itu!" tiba-tiba Bik Inah kesal.


Raihan menaikkan alisnya "Hah kampret?"


"Iya Tuan, itu yang namanya Saniya!"


Eh aku bilang aja gak ya kalau dia lagi hamil? Batin Bik Inah.


Raihan langsung pasang wajah jijik "Dia itu lebih dari kampret Bik!"


"Entah kenapa Nyonya bisa suka ya sama dia?"


"Bisa gak, kita gak usah bahas mereka, Bik!.. Enek aku!" ketus Raihan.


Bik Inah nyengir "Oke, Tuan!"


"Apa Bibik bisa bantu aku nanti di pernikahan ku dengan Aisyah?"


"Bisa dong, Tuan!.. Tapi kalau Nyonya tahu, bagaimana?"


"Tenang, itu bisa kita atur!.. Ya sudah, aku pergi dulu Bik!"

__ADS_1


Raihan bangkit dari duduknya, begitu juga Bik Inah. Raihan menyalami Bik Inah.


"Aku pergi, Bik!"


"Tuan gak akan kesini lagi?" tanya Bik Inah sedih.


"Selagi mama masih seperti ini, aku gak akan pernah kembali Bik!"


"Tapi kalau Bibik kangen gimana?"


Raihan tersenyum "Aku akan menghubungi Bibik nanti!"


Raihan lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya, dan menoleh sekali lagi ke arah Bik Inah.


"Selamat tinggal, Bik!.. Tolong jaga Mama ya?"


"Pasti, Tuan!"


Raihan tersenyum, lalu meninggalkan Bik Inah di kamarnya, Bik Inah menangis. Begitu sedih dia.


Ya Allah, jagalah anak ku, kasihan dia, mamanya begitu mementingkan status sosial. Gak sadar-sadar juga walau dia udah kehilangan anak perempuannya. Batin Bik Inah sedih.


Mama Raihan bangkit dari duduknya, begitu juga Saniya, ketika melihat Raihan menuruni tangga dengan menyeret kopernya.


"Rey, mau kemana kamu?"


Tanpa menoleh dan tanpa menjawab, Raihan terus saja berjalan ke arah pintu keluar. Mama Raihan langsung mengejar dan menarik lengan Raihan.


"Rey, jawab!" teriak mamanya.


Raihan berhenti "Apa lagi yang harus aku jawab Nyonya?"


"Jangan seperti ini Rey, Mama hanya ingin kamu bahagia dengan orang yang tepat!"


"Rey, jangan tinggalkan Mama!"


Raihan berhenti lagi, dan tanpa menoleh dia bicara "Mama gak akan pernah berubah, walaupun aku mati!"


Mama Raihan terisak "Rey, jangan bicara seperti itu!"


Raihan tak peduli, dia melangkahkan kakinya keluar dan hilang dari pandangan mamanya. Mama Raihan pun menangis sejadi-jadinya. Saniya lalu mendekati mama Raihan dan merangkulnya. Sedang Bik Inah hanya melihat dari atas. Dia juga bingung, sebenarnya Nyonya nya itu pantas tidak menerima perlakuan begitu dari anaknya, tapi kan ini juga karena ulahnya.


"Sabar Tante, ini semua karena pengaruh gadis kumuh itu!"


Mama Raihan menyeka air matanya "Iya San, kamu benar sekali, memang kurang ajar dia, aku akan kasih pelajaran nanti!"


****


Raihan akhirnya tiba di apartemennya, tadi dia mengendarai mobilnya sendiri dan meminta Rizi juga ikut menemaninya.


"Kenapa harus drama banget sih Rey?" ucap Rizi sambil meletakkan koper Raihan.


"Drama apa maksud mu?" tanya Raihan yang lagi membuka jendela.


"Ngapain pake bawa koper segala? Kan aku bisa belikan semua keperluan mu!"


Raihan hanya memasang wajah ketus "Diamlah Kau!"


Raihan lalu duduk di sofa, dan menyandarkan kepalanya, dia pejamkan matanya. Tampak sekali kalau dia lelah, bukan tubuhnya yang lelah, tapi hatinya.


Rizi yang melihatnya hanya bisa menghela nafas, dia lalu ikut duduk di samping Raihan.

__ADS_1


"Aku ingin pembagian perusahaan dengan Mama!" ucapnya, tapi masih dengan posisi kepala bersandar di sofa.


"Kenapa Rey?"


"Aku berniat ingin meninggalkan perusahaan, dan hidup apa adanya dengan Aisyah! Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan Mama kalau itu menyangkut keselamatan Aisyah!"


"Jangan seperti itu Rey, kau berhak atas perusahaan papa mu, delapan puluh persen sudah atas nama mu, dan sisanya itu punya Nyonya!"


"Ya, benar juga, bagaimana aku bisa melindungi Aisyah ku, kalau aku tidak punya kekuasaan?"


"Itu lah maksud ku tadi Rey, aku yakin Nyonya tidak akan tinggal diam setelah kau memutuskan meninggalkan dia!"


Raihan pasang wajah ketus "Biarkan saja dia!" ucapnya sambil memejamkan matanya lagi.


Rizi tampak berpikir "Kenapa Nyonya begitu ya? Padahal wajah Aisyah itu sangat mirip dengan orang yang dirindukannya!"


"Sudahlah Zi, aku bosan mendengarnya, Mama gak akan berubah!.. Oh ya, sudah kau urus administrasinya?"


"Sudah Rey, kau tenang saja, aku akan cari tahu tanggal berapa kalian bisa menikah, aku pergi dulu, jaga diri mu!" ucap Rizi sambil memegang bahu Raihan dan pergi dari sana.


"Hmmmm.." ucap Raihan, dia memejamkan matanya lagi, dan tertidur.


Aku dimana? Batin Raihan. Raihan bingung, karena dia berada ditempat yang entah dimana. bahkan tidak ada siapa-siapa di sana.


"Dek..." sapa seorang gadis cantik dengan rambut panjang tergerai, kira-kira berusia 20 tahun.


Raihan membalikkan badannya, dan alangkah terkejutnya dia melihat orang yang menyapanya tadi.


"Kakak?.." ucapnya tak percaya. Dia langsung lari memeluk gadis itu.


Gadis itu juga memeluk Raihan dengan erat. di tempat ini, tingkahnya seperti dia masih remaja yang begitu manja dengan kakaknya.


"Rey rindu sekali sama kakak!" ucap Raihan melepaskan pelukannya dan memandangi wajah cantik gadis di depannya.


Gadis itu tersenyum "Kakak juga rindu sekali sama Rey, Rey udah tinggi ya sekarang?" ucap nya sambil mengacak-ngacak rambut Raihan.


"Bagaimana gak tinggi, Kak! Rey sekarang udah 33 tahun, udah tua!" celotehnya sambil tertawa.


Gadis itu hanya tersenyum, Raihan jadi bingung, biasanya kakaknya orang yang senang becanda. Tapi ini hanya tersenyum dan diam, tidak mau meladeni celotehannya. Tapi ada yang beda dengan penampilan kakaknya.


Kenapa kakak pakai baju abaya begini? Biasanya kan penampilan kakak selalu modis dan modern. Batin Raihan.


"Kak.." panggil Raihan, dia heran kenapa kakaknya banyak diam dan hanya memandang ke depan.


Gadis itu menoleh "Hmmm.. Apa Rey?"


"Kakak jangan pergi lagi ya, di sini aja sama Rey.."


"Kakak harus pergi, Rey!"


"Tunggu Kak, apa kakak gak mau ketemu sama Mama?"


Gadis itu yang dari tadi tersenyum, jadi murung ketika mendengar pertanyaan dari Raihan.


"Perjuangkan lah cinta mu, Dek!" ucap gadis itu sambil berlalu dari hadapan Raihan.


Tiba-tiba kabut datang, dan kabut itu membuat mata Raihan perih. Raihan lalu mengedip-ngedipkan matanya. Dia mencoba membuka matanya perlahan-lahan. Ternyata dia ada di apartemennya. Raihan mencoba duduk, dan mengusap wajahnya.


"Aku bermimpi, tapi kakak sepertinya memberi pesan, haaaah, akan kulakukan apa yang kakak katakan, Insya Allah Rey pasti bisa kak!" lirihnya.


Rey akan datang ke rumah mu, Kak, dengan membawa cinta Rey yang mirip sekali dengan mu...

__ADS_1


........................


__ADS_2