
Aisyah menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Dari tadi air matanya meluncur sendiri tanpa izinnya.
"Setengah bulan setelah kepergian Non Rachel, Tuan besar tak sengaja menemukan surat di bawah bantal Non Rachel!"
Aisyah mengeryit "Surat? Apa Kak Rachel yang nulis, Bik?"
Bik Inah mengangguk "Iya Non! Isi suratnya tentang perlakuan mamanya terhadap dia dan kekasihnya dulu, dia juga berpesan, agar melindungi Tuan Raihan dari keegoisan mamanya.."
"Haaaah Ya Allah..."
"Semenjak Tuan menemukan surat itu, dia begitu marah! Dia tak sangka kalau perilaku istrinya itu begitu! Semenjak itu, Tuan sering sakit-sakitan, dan akhirnya menyerah.."
Aisyah mengangguk pelan dan memegang tangan Bik Inah "Bik, Aisyah janji, Aisyah akan selalu disamping Bang Raihan, apapun yang terjadi!" ucap Aisyah dengan keyakinan tinggi.
Bik Inah tersenyum "Bibik merestui kalian, Nak!"
Aisyah membalas dengan senyuman semangatnya "Terima kasih, Bik!"
****
Di kantor perusahaan,
"Lihat deh, Ai! Ini cantik loh baju akadnya!" celetuk Sabila.
Aisyah menggeser kursinya "Mana?"
Sabila menunjukkan hpnya "Ini, cantik kan?"
"Itu terlalu mewah, Bil!"
Sabila kecewa karena pilihannya ditolak, dengan semangat dia menscroll lagi pilihan-pilihan baju yang ada di internet.
Adit ikut menggeser kursinya "Lo mau baju yang gimana sih say?"
Aisyah mengetuk-ngetuk pulpen di dagunya "Hemmm, gue mau yang sederhana aja, Dit! Yang mirip sama baju Mama gue waktu dia menikah!"
"Oh iya, memang lebih baik yang sederhana aja Ai, yang pentingkan momen pas Lo nikah!"
Aisyah tersenyum, mulai membayangkan diri setelah statusnya berganti menjadi seorang istri nanti.
"Wuuuuh, mulai deh menghalu!" sindir Sabila. Adit jadi tertawa lebar.
"Hahaha, biarin napa! Heboh banget Lo!" ketus Aisyah, dia menggeser lagi kursinya. Pura-pura mengerjakan sesuatu, padahal dia udah kalah malu tadi karena di sindir Sabila.
Tiba-tiba dering hpnya berbunyi, ada pesan masuk dari Raihan.
"Woi, kayaknya gue bakalan keluar lagi nih!"
"Mau kemana, Ai?"
"Bang Raihan ngajakin gue ke butik!"
"Lama-lama karyawan sini bakalan tahu kalau Lo calon istrinya Pak Raihan, Ai! Kalau Lo asik pergi berdua aja!" celetuk Sabila.
"Gue gak keluar dari sini barengan kok, Bil!"
"Hati-hati, Ai! Mana tahu ada yang lihat, gue takut dia ngadu sama Mama Pak Raihan.." tambah Adit.
Aisyah tersenyum "Insya Allah gue hati-hati, makasih atas perhatian kalian, Sob!"
"Iya, hati-hati.." ucap mereka berdua.
Aisyah tersenyum dan mengangguk, lalu segera dia keluar dan menunggu Raihan di halte bus yang tak jauh dari kantor. Tak lama mobil Raihan datang, ternyata bukan hanya Raihan, ada Rizi juga. Tanpa menunggu Rizi yang membukakan mobil, Aisyah sudah duluan masuk dan duduk di samping Raihan. Dan sialnya, ada dua karyawan wanita yang melihat Aisyah masuk ke dalam mobil Raihan.
Raihan tersenyum pada Aisyah "Maaf ya sayang, kamu pasti menunggu lama!"
"Ai rela Bang menunggu lama, satu atau dua jam gak masalah, asal kita bisa bersama selamanya tanpa menunggu lagi" ucapnya terkekeh.
__ADS_1
Raihan tertawa renyah dan mengusap kepala Aisyah "Haha, dari mana kamu belajar kata-kata itu?"
Rizi pasang wajah ilfil , Ya elah, bisa pula dia menggombalin lajang tua itu! Makin klepek-klepek lah itu si Rey, uuuhhh! Haaaah semoga aku segera juga ya Allah.
"Kita mau ke butik mana ini, Zi?"
"Kemarin aku tanya sama Sinta, ada butik terbaik di kota ini..."
Memukul bangku depan, Aisyah sampai terkejut "Apa? Kau bertanya sama Sinta? Kalau ketahuan aku yang mau menikah bagaimana?" Mulai panik sendiri.
"Kau tenang, Rey! Aku bilang kalau keluarga ku yang akan menikah!"
Raihan menarik nafas "Huuuff, untung saja!"
Aisyah tertawa geli, sedang Rizi geleng-geleng kepala melihat kehebohan Raihan.
Mereka akhirnya sampai, Rizi membukakan pintu mobil Raihan, sedang Raihan, membukakan pintu mobil Aisyah. Padahal Aisyah sudah kebelet pingin turun sendiri.
"Butik Maysa" gumam Aisyah.
"Kau sudah memeriksa tempat ini?" tanya Raihan kepada Rizi yang ada disampingnya.
"Aku sudah menyuruh anak buah kita untuk memata-matai tempat ini, Alhamdulillah aman, aku juga sudah memberitahu pegawai butik itu kalau kau akan datang, jadi semuanya sudah terkendali, mereka tidak akan berani membocorkan rahasia mu!"
Raihan mengangguk "Oke, Zi! Kau memang andalan ku! Ayo sayang kita masuk!" ucap Raihan menggandeng tangan Aisyah.
"Ayo, Bang!"
Mereka berjalan sebentar lalu berhenti, Raihan menoleh ke arah Rizi yang bersandar pada mobil, dia tengah memeriksa sesuatu di hpnya.
"Hei jomblo, kau ikut masuk tidak?"
Apa? Jomblo katanya? Dasar kurang ajar! Aku juga tidak mau jomblo tahu!
Rizi memasang wajah jutek "Ngapain aku ikut?"
Aisyah terkekeh, Rizi langsung pasang wajah protes.
"Ayo, kenapa diam saja? Aku ingin calon istri ku dilayani langsung oleh pemilik butik itu!"
Aisyah mengeryit "Kenapa gitu, Bang? Kan udah ada pegawainya?"
Raihan menoel dagu Aisyah dengan tangan satunya "Gak papa sayang, dia pasti lebih tahu baju mana yang pas untuk mu! Kan dia desainernya.."
Aisyah mengangguk grogi "Iya, Bang!"
Astaga, bodohnya aku! Memang kapan aku pernah ke butik? Huaaaa..
Tiba-tiba mereka terkejut karena Rizi sudah meneriaki mereka, ternyata dia sudah di depan pintu butik itu. Entah kapan dia sudah sampai disana. Raihan dan Aisyah langsung melangkahkan kaki mereka lagi yang sempat terhenti itu.
Rizi membukakan pintu butik "Uuhh dasar micin! Eh apa itu ya? Micin kan?"
Aisyah tertawa lebar "Haha, bucin namanya, Bang!"
"Sudah, jangan ladenin dia, jomblo mana tahu apa-apa!" ejek Raihan.
Padahal pun dia juga tak mengerti itu bucin itu apa.
Bucin? Bucin itu apa ya? Terbodoh sendiri Raihan memikirkan itu.
"Dasar kurang ajar kau, Rey!" umpat Rizi, tapi dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Sudah, sudah ayo kita masuk!" perintah Raihan.
Pegawai butik langsung mendatangi mereka, mereka menganga tak percaya melihat Presdir Wira Utama Grup mau mampir ke butik mereka ini. Ini semacam berkah bagi mereka.
"Si..silahkan duduk Tuan!" pegawai butik mempersilahkan, agak gugup dia. Raihan hanya mengangguk, Aisyah membalas perlakuan sopan pegawai butik itu dengan senyuman.
__ADS_1
Oh, jadi ini calon istri Tuan Raihan? Manis ya? Eh dia senyum, ada lesung pipinya..
Mereka lalu duduk, sedang Rizi duduk di hadapan mereka sambil memainkan hpnya. Belakangan ini, semenjak Raihan dan Aisyah sudah bertunangan, pekerjaan dia semakin banyak, memantau semua gerak gerik pengawal-pengawal dari nyonya besar. Apa lagi ini, mereka mau menikah, semakin banyak lagi, belum lagi urusan kantor.
Aisyah mengedarkan pandangannya, menatap gaun-gaun cantik yang terpajang disana.
Cantik semua gaunnya, pasti harganya mahal semua. Huaaaa jiwa ku meronta, gaji ku setahun gak cukup kali untuk beli satu potong baju disini. Pingin nangis aku tuh.
Hei, Zi! Cepat panggil pemilik butik ini! Kenapa dia lama sekali!"
Rizi melototkan matanya "Kau cerewet sekali sih, Rey! Sebentar lagi dia datang!" Aisyah cekikikan melihat tingkah kekanakan Abang-abang yang sudah dewasa ini.
"Uuuhh, kalau dia lama, kita cari butik lain!"
Pegawai butik jadi tidak enak karena mendengar celotehan Tuan Raihan yang ganteng itu.
"Maaf Tuan, sebentar lagi Nyonya datang, biasanya dia sudah datang! Mungkin terkena macet di jalan" keringat dingin dia bicara.
Raihan tampak mengacuhkannya, dia lebih ke memandang calon istrinya.
Rizi tersenyum "Tidak apa-apa, Dek!"
Raihan terperanjak, Adek? Uhh sok ramah sekali!
"Kamu boleh duduk, jangan lama-lama berdiri, nanti capek!" padahal dia bicara gitu sambil mengecek hp. Tapi yang dinasihatin, udah panas dingin. Merasa bahagia kali ya dia atas sikap perhatian Rizi.
Raihan memperhatikan Rizi, Rizi yang merasa di perhatikan, meninggalkan menatap layar hpnya sebentar dan melotot ke arah Raihan.
"Ngapain kau melihat ku seperti itu? Naksir?"
Raihan melototkan matanya, dia bergidik "Hiiii, perasaan sekali!"
"Aisyah, lebih baik kau cari laki-laki lain saja, Rey ini sudah gak normal!"
Aisyah tergelak "Haha, gapapa, Bang! Hati Ai udah terikat pula sama Bang Raihan, hihi"
Raihan berbinar "Makin cinta Abang sama Ai!" . Mereka cekikikan berdua.
Rizi pasang wajah ilfil "Haaah dasar kalian berdua ini!"
Terdengar suara mobil dari luar, sepertinya pemilik butik sudah datang. Terbukti dari pegawai yang berdiri tadi sudah hilang entah kemana. Ternyata dia menyambut bosnya di pintu luar.
"Sudah ada tamu?" lembut sekali dia berbicara.
"Sudah Nyonya! Mereka sedang duduk, mereka ingin di layani oleh Nyonya! kalau Nyonya tahu siapa yang datang, wah butik kita pasti terkenal!" ucapnya semangat.
"Baiklah, ayo kita masuk!"
Mereka lalu masuk ke dalam, nyonya itu berjalan duluan, sedang pegawainya ada di belakangnya membawakan tas mahal miliknya.
"Sepertinya pemilik butik ini sudah datang, Rey!" ucap Rizi menyadarkan Raihan yang asik memandangi Aisyah. Aisyah jadi kikuk sendiri karena pandangan Raihan selalu mengarah padanya.
"Selamat pagi..." ucapnya ramah.
Rizi sontak berdiri melihat siapa pemilik butik ini. Raihan heran kenapa Rizi berdiri terpaku begitu. Raihan ikut berdiri, Aisyah juga ikut-ikutan. Dan alangkah terkejutnya dia ketika mengenali siapa wanita pemilik butik ini. Karena Raihan sudah berdiri, Rizi menoleh dengan perasaan khawatir. Aisyah jadi bingung, kenapa Raihan terpaku begitu, pemilik butik itu juga. Dia jadi semakin bingung, karena dia tak mengerti apa yang telah terjadi.
Wanita itu membuka kacamata hitamnya dan dengan gugup dia berusaha mengumpulkan tenaganya untuk bilang "Rey..."
Raihan langsung membuang mukanya sembarang, dia tiba-tiba kikuk dan agak grogi.
Aisyah jadi heran, dia minta penjelasan pada Rizi dengan isyarat mata. Rizi hanya memainkan matanya, maksud dia, dia akan menjelaskan nanti.
Siapa wanita itu? Kenapa Bang Raihan bisa sampai terpaku begitu? Wanita itu juga! Sial, kenapa aku cemburu? ~ Aisyah.
Sial! Setelah 6 tahun, kenapa kita bisa bertemu lagi? ~Raihan.
...............................
__ADS_1