
Pagi menjelang subuh, Aisyah mengerjapkan mata. Menggerakkan seluruh tubuhnya yang dia rasa hampir remuk redam. Disampingnya terbaring lelaki ganteng yang memeluknya dengan posesif. Pelan-pelan Aisyah singkirkan tangan itu. Dia lalu memiringkan tubuhnya menghadap suaminya yang tidur dengan posisi miring. Dia pandangi wajah ganteng suaminya, dirasa-rasa dan di perhatikan memang ganteng ya? Ada-ada saja pemikiran Aisyah pagi itu.
Pelan-pelan Aisyah menarik selimut hingga ke leher Raihan, Aisyah takut Raihan masuk angin karena tidur tanpa memakai apapun. Mau bagaimanapun juga dia begitu malu mengingat kejadian tadi malam. Setiap ingat itu, Aisyah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Malu, begitulah katanya.
Aisyah turun perlahan dari tempat tidur, saat dia berdiri, dia meringis menahan sakit. Tapi berusaha Aisyah menahannya tanpa mengeluarkan suara, takut kalau suaminya akan terbangun. Cepat dia mencari bajunya yang sudah tercampak entah kemana, lagi-lagi dia harus memakai baju itu, karena hanya baju itu yang tersisa. Kan dia tidak bawa apa-apa saat ke apartemen ini. Aisyah segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Raihan menggeliat, mengusap-ngusap wajahnya. Lalu melihat kesamping, tak ada istrinya. Kemana istrinya sepagi ini?
"Sayang.." panggilnya, tidak ada jawaban.
"Ai..." teriaknya lagi. Dia teriak sambil tiduran, malas sekali rasanya untuk bangun.
Yang lagi dikamar mandi tergesa-gesa keluar untuk menjawab suara yang memanggilnya.
"Iya Bang!"
Raihan tergelak, Aisyah jadi heran kenapa suaminya tertawa menatap dirinya.
"Ada apa sayang?" tanya Aisyah .
"Lihatlah rambut mu!"
Aisyah meraba rambutnya, astaga busa semua! Dia lupa membilas rambutnya saat suaminya heboh berteriak seperti kehilangan sesuatu saja. Aisyah memanyunkan bibirnya, dia tidak tahu kalau suaminya sudah mulai gereget lagi karena ulahnya yang memonyongkan bibir itu. Raihan menarik tangan Aisyah hingga terjatuh ke tempat tidur, tepat di atas tubuhnya.
"Bang, Ai mandi dulu!" memohon dengan wajah dibuat seiba mungkin.
"Gak boleh!" ucap Raihan mulai lasak dengan tangan dan bibirnya.
"Tapi ini busa semua, Bang! Nanti tempat tidur kita basah!"
"Gak boleh!" lagi-lagi perintah sudah dikeluarkan untuk yang kedua kalinya.
Aisyah hanya bisa pasrah, tiba-tiba kata-kata Sabila terngiang di telinganya, tentang kepatuhan istri terhadap suami yang meminta haknya di ranjang.
Iya, iya aku ingat! Tapi rambut ku masih berbusa loh..!
Akhirnya Aisyah diam dan membiarkan suaminya mendapatkan sekali lagi yang di inginkannya. Tidak boleh menggerutu, tidak boleh mengumpat, apa lagi sampai dendam ya pemirsa. Melayani suami itu berpahala, loh! Hihi.
__ADS_1
***
Raihan sudah siap dengan setelan jasnya, rambutnya yang basah sudah tersisir dengan rapi. Senyum terus mengembang dari bibirnya. Saat ini Raihan tengah duduk di atas tempat tidur memperhatikan istrinya yang tengah mengeringkan rambut dengan handuk. Bagi Raihan, hal sederhana seperti itu membuat dirinya gemas, dia lalu bangkit dan memeluk Aisyah dari belakang.
"Abang.." ucapnya kaget, dia menghentikan kegiatannya karena suaminya sibuk menciumi lehernya.
Raihan membalikkan tubuh Aisyah, dia mencengkram pinggang istrinya, "Kamu kenapa cantik sekali begini sih?"
Lagi-lagi, belum sempat Aisyah menjawab, Raihan mencium bibir Aisyah tanpa peringatan dan aba-aba, tangan Raihan sudah menyentuh sesuatu. Aisyah hanya pasrah kalau suaminya mengajak dia lagi ke tempat tidur, tapi ternyata gak, Raihan melepaskan pagutannya. Dia lalu membelai pipi Aisyah.
"Kita sarapan apa, Bang?" Aisyah berkata begitu, karena sudah menahan lapar.
"Para bodyguard sebentar lagi akan datang sayang, mereka membawakan kita makanan" mengecup bibir Aisyah lagi.
Tak lama para bodyguard datang, Raihan langsung mengunci Aisyah di kamar, tidak mungkin dia membiarkan Aisyah keluar dengan baju tipis itu, bisa gila dia nanti! Gak mungkin juga kali Aisyah mau keluar dengan baju seperti itu, Rey!
Bukan hanya makanan, para bodyguard itu juga membawa baju, perlengkapan Aisyah, dan juga bahan makanan. Untuk pilihan baju, tentu saja atas pilihan Raihan. Entah kapan dia menyuruh anak buahnya itu, hanya dialah yang tahu.
"Kamu sudah bisa bekerja sayang?" tanya Raihan setelah selesai dengan sarapannya.
"Insya Allah udah bisa, kenapa Bang?"
"Hmmm, Ai naik apa ke kantornya?"
Tiba-tiba terbesit sedih di hatinya, dia sudah menikah secara resmi di mata hukum dan agama, tapi statusnya sebagai istri harus tersimpan rapi entah sampai kapan.
Raihan mengusap wajah Aisyah yang kelihatan agak murung "Ada apa Sayang?"
"Sampai kapan Ai sembunyi terus Bang? Sembunyi jadi istri Abang!"
Raihan tergelak "Sembunyi apanya sih, Ai! Istri Abang itu cuma kamu! Cuma keadaan yang gak memungkinkan, Abang takut kamu kenapa-napa!"
Aisyah menghela nafas, kalau suaminya sudah bicara seperti itu, dia tidak bisa membantah lagi. Mungkin suaminya lebih mengerti, atau mungkin juga menjaganya dari perbuatan mamanya. Tanpa berkata-kata Aisyah membereskan semua piring kotor dan mencucinya. Setelah selesai, Aisyah langsung mengganti baju dengan baju kerja. Raihan bingung kenapa istrinya hanya diam dari tadi. Segera dia menyusul Aisyah yang tengah memakai jilbabnya.
Raihan memeluknya dari belakang "Ada apa Sayang?"
Aisyah memutar tubuhnya dan menangkup wajah Raihan "Ai gak kenapa-napa sayang, ayo berangkat! Sudah siang ini!"
__ADS_1
Raihan menaikkan alisnya sebelah "Yakin gapapa?"
Aisyah tersenyum mengalahkan terbitnya mentari "Iya sayang, nanti Ai pergi bareng Sabila aja"
"Kalau gitu cium Abang!" Raihan sudah menunjuk setiap inci wajahnya. "Disini, disini, disini..."
Aisyah mengernyit "Hah?"
Kenapa aku yang harus cium sih Bang? Eh tapi Bang Raihan dari tadi udah mencium aku! Gapapa deh, aku cium biar suamiku tambah senang! Bukannya itu tujuanku? Dasar payah!
"Ayo cium sayang!" ucapnya mulai tak sabaran.
"Iya, iya! Ai cium!" muach muach, Aisyah semangat mengecup semuanya, sampai Raihan terkikik geli.
"Ya sudah, Abang berangkat ya sayang?"
Aisyah mengambil tangan Raihan dan menciumnya, Raihan langsung mencium kening istrinya.
"Kalau mau berangkat, kabarin Abang!"
Aisyah meletakkan tangannya di pelipis layaknya orang hormat "Siap Bos!"
Raihan tergelak kecil dan mengelus kepala istrinya sebelum melangkahkan kakinya keluar pintu. Beberapa menit setelah suaminya berangkat, Aisyah segera turun dari apartemen karena Sabila sudah menunggunya di bawah.
"Katanya banyak bodyguard disini? Tapi mana semua mereka?" gumamnya.
Padahal para bodyguard sedang memasang mata awas pada nyonyanya yang sedang berlari ke arah temannya. Aisyah tidak tahu, karena mereka hanya memakai baju biasa, bukan pakai baju hitam ala bodyguard itu.
"Aduh cerah sekali nih wajah pengantin baru, cuit cuit.." Sabila menggoda Aisyah yang langsung dibalas dengan monyongan bibir.
"Udah ayo berangkat!" Aisyah langsung naik ke atas motor.
"Baiklah Nyonya Raihan!"
Aisyah menyenggol gemas lengan Sabila "Apa-apaan sih Lo!" Sabila hanya terkekeh.
Mereka lalu berangkat, tanpa mereka ketahui, bodyguard suruhan Raihan juga ikut bergerak mengiringi dan melindungi nyonyanya dari jauh, sebelum mata-mata lain membahayakan jiwanya.
__ADS_1
........................................