
Bram secara sembunyi-sembunyi mencoba menghubungi Rizi, dia mencari tempat yang agak sunyi agar orang-orang yang lagi baca yasin tidak kedengaran sama yang ditelpon. Dengan gelisah Bram menunggu panggilannya diangkat oleh Rizi. Dan akhirnya panggilan itu diangkat juga.
"Halo, Bram! Ada apa?"
"Bang, kapan kalian kembali?"
"Dua atau tiga hari lagi, ada apa Bram? Apa ada masalah?"
"Iya Bang, memang ada masalah!"
Rizi mulai khawatir, jangan sampai perasaan Raihan yang sering tidak enak, dan membuat dia tidak fokus bekerja itu menjadi kenyataan.
"Masalah apa Bram! Cepat bicara!"
"Orang tua Aisyah, meninggal dunia Bang!"
"Hah, apa! Meninggal kenapa Bram?"
"Mereka kecelakaan Bang, menurutku ada yang sengaja membuat orang tua Aisyah celaka!"
"Apa kau sudah mencari tahu siapa orangnya?"
"Aku sudah menyuruh anak buah kita untuk mencari tahu, Bang!.. Kalau bisa cepat pulang, Bang! Ai butuh Rey!"
"Baiklah Bram!"
Panggilan terputus, sekarang Rizi yang mulai gelisah untuk menyampaikan kabar duka ini pada Raihan. Dengan segera, dia menghampiri Raihan yang tengah sibuk diruangannya. Saat ini, mereka tengah berada di perusahaan cabang milik Wira Utama Grup.
"Rey..." ragu-ragu Rizi mau bicara.
"Hmmmm..." jawab Raihan tanpa menoleh pada Rizi. Karena dia sibuk sedang menanda tangani berkas-berkas.
"Aku ingin bicara berita penting..."
Raihan mengangkat wajahnya dan melihat Rizi yang menatap dia dengan tatapan khawatir.
"Ada apa? Kenapa wajah mu begitu? Bicaralah!" matanya beralih lagi ke berkas-berkas.
"Orang tua Aisyah meninggal, Rey!"
Raihan menghentikan tangannya yang hendak menandatangani berkas, dia melepaskan pulpennya. Langsung beralih ke Rizi, dia menatap Rizi dengan tajam.
"Apa yang baru saja kau katakan, hah?" Raihan bangkit dari duduknya, dia langsung menghampiri Rizi dan mencengkram kerah bajunya. Rizi hanya diam saja dengan perlakuan Rey padanya.
"Jawab! Apa yang kau katakan tadi!" bentaknya.
"Orang tua Aisyah meninggal, Rey! Dua-dua meninggal!"
Raihan memejamkan matanya, dia melepas kasar cengkraman tangannya pada kerah baju Rizi. Rasa bersalah menghantui diri Raihan. Ternyata ini penyebabnya dia selalu merasa gelisah meninggalkan Aisyah, bahkan sebelum pergi, dia tidak sempat bertemu dengannya.
"Rey, tenang! Ayo duduk!" Raihan pasrah saja tangannya di tarik Rizi untuk duduk di sofa.
Maafkan Abang, sayang! Abang gak disamping mu disaat-saat terpuruk seperti ini!
Rizi menyerahkan botol air mineral pada Raihan, agak memaksa dulu Rizi, baru Raihan mau meminum air itu.
"Dia pasti sedih sekali..." lirihnya.
__ADS_1
"Dia pasti membutuhkan aku disana.." lirihnya lagi.
Rizi menepuk pundah Raihan "Sabar, Rey!"
"Aku ingin pulang!" Raihan bangkit dari duduknya.
"Rey, jangan gila!"
"Apanya yang gila, hah! Aku mau pulang sekarang, aku ingin memeluknya dan memberinya kekuatan!"
"Iya, aku mengerti! Tapi tidak mungkin kita pulang sekarang! Lihat! Cuaca sedang buruk-buruknya!"
"Aaaahh dasar sial! Sial!" Raihan meninju-ninju dinding.
Rizi langsung menghentikan aksi gila Raihan, yang ingin melukai dirinya sendiri ,karena ketidak berdayaannya.
"Kita berdoa, agar cuaca cerah! Karena tidak mungkin kita kembali sekarang! Kemungkinan besok pagi kita berangkat!" ucap Rizi menenangkan Raihan yang tampak gusar sekali.
Raihan merebahkan dirinya disofa, dia menutup matanya dengan telapak tangannya.
Meninggal? Tapi kenapa harus sekaligus dua-dua? ~Raihan.
"Rey, aku bertaruh! Pasti sudah ada sesuatu yang mama mu buat kepada calon istrimu itu!"
Raihan membuka matanya, kata-kata Farhana tempo lalu, berdengung ditelinganya. Dia lalu bangun, menatap Rizi yang sedang mengecek hpnya. Sebenarnya Rizi mengutus anak buah mereka untuk mencari tahu penyebab meninggalnya kedua orang tua Aisyah.
"Zi, apa kau tidak heran dengan meninggalnya orang tua Aisyah?"
Rizi beralih menatap Raihan "Kenapa, Rey?"
Aku juga heran, makanya aku dan Bram mencari tahu ini! ~Rizi.
"Itu lah, yang membuat aku heran! Sepertinya ada yang sengaja!"
jawaban Rizi sontak membuat Raihan jadi mencurigai seseorang. Tapi mengingat siapa orang yang dia cuigai, dia jadi sedih.
"Ada apa, Rey?"
Raihan menarik nafas "Entah kenapa, aku mencurigai Mama!" ucapnya lemas.
"Jangan bicara sembarangan, Rey!"
Ya, walau aku juga mengarah ke arah Nyonya sih! ~Rizi.
"Kita akan segera mencari tahu, Rey! Kau tenang saja!"
Tapi kalau memang benar Nyonya, bagaimana! ~Rizi.
Raihan lagi-lagi menarik nafas panjang, sialnya dia ingin sekali merokok, menghilangkan gundah di hatinya, sayangnya dia lupa membawa rokoknya.
"Aku ingin pulang!"
Rizi menghela nafas, lagi-lagi Raihan merengek seperti anak kecil.
*****
Sampai kedua orang tua Aisyah dimakamkan pun, Bram, Sabila dan Adit tak pernah beranjak dari sisi Aisyah. Aisyah sudah mulai tampak tenang, sebagai hamba dan anak yang baik, dia berusaha untuk tidak menangis lagi, meratapi kepergian orang tuanya. Walau sesekali dia mssih meneteskan airmata.
__ADS_1
Siapa yang tidak sedih, bahkan Allah ambil sekaligus kedua orang tuanya. Dia selalu berfikir Allah terlalu sayang untuk menaikkan dia ke kelas yang lebih tinggi. Dengan tatapan sendu, Aisyah menaburkan bunga dimakan kedua orang tuanya.
"Terima kasih Ayah, Mama! Sudah membesarkan Ai hingga belajar jadi anak yang kuat dari hari ini, hingga ke depannya..." lirihnya.
Sabila yang mengelus lengan Aisyah sedari tadi juga tak bisa menahan airmatanya. Begitu juga Adit, apalagi Bram, ingin sekali dia memeluk wanita yang dicintainya itu. Tapi dia sadar akan posisinya.
Setelah selesai dari pemakaman, mereka kembali ke rumah Aisyah. Disana masih ramai memang tetangga-tetangganya. Semuanya pada menghibur Aisyah. Sampai tibalah malam, semua orang pada berpulangan. Sepi sudah mulai terasa.
"Ai, makan ya?" bujuk Sabila.
Aisyah menggeleng "Gue gak selera..."
"Jadi mau makan apa?" tanya Bram lembut.
"Ai gak pingin apa-apa, Bang!"
Mereka semua menghela nafas, dari kemarin Aisyah belum ada makan apapun. Cuma air minum seteguk yang baru masuk ke tenggorokannya.
"Ai, gue tahu Lo lagi sedih banget, tapi Lo jangan nyakitin diri Lo sendiri, dong! Sedih Mama sama Ayah kalau Lo kayak gini!" Adit memberi nasihat.
Aisyah berpikir, dia memikirkan kata-kata Adit barusan. Memang benar, tidak mudah untuk langsung bangkit dari keterpurukan. Aisyah hanyalah manusia biasa, yang begitu banyak kekurangan. Tapi memikirkan kalau dia sakit karena tidak makan, bisa jadi dia merepotkan sahabat-sahabatnya.
"Iya, gue makan!"
Mereka bertiga tersenyum lega, satu-per satu mereka menyuapi Aisyah sambil sesekali becanda. Tiba-tiba Aisyah teringat pada Raihan, tidak dipungkiri kalau dia sangat membutuhkan Raihan saat ini.
"Ai, gue nemenin Lo ya disini?" tanya Sabila, dia tidak mau membiarkan sahabatnya itu sendirian.
Aisyah tersenyum kecil "Gak usah, Sob! Gue masih berani kok tinggal sendirian disini!"
"Kalau gak ayo tidur di rumah Abang aja!" ajakan Bram lebih gak masuk akal lagi pikir Aisyah.
"Gak Bang, Ai gapapa kok!"
"Gue khawatir banget sama Lo, Ai! Lo gak makan-makan, kalau tiba-tiba lemes gimana?"
Adit mengiyakan kata-kata Sabila "Iya Ai!"
"Kalau gak, Abang suruh ibu tidur sini ya?" tanya Bram lagi.
Sabila dan Adit mengangguk-ngangguk "Iya Ai, mau ya?"
Aisyah lagi-lagi tersenyum kecil, lagi-lagi dia menolak.
"Insya Allah gue gapapa, kalian juga harus istirahat! Dari kemarin gak ada tidur! Kalau ada apa-apa, gue pasti telpon kok!"
Lagi-lagi mereka bertiga menghela nafas.
"Ya udah deh kalau itu mau Lo! Kami pulang ya? Cepat telpon kalau ada apa-apa!" ucap Sabila.
Aisyah mengangguk, mereka kemudian pamit dan pulang ke rumah masing-masing. Tinggal lah Aisyah seorang diri. Dia lalu duduk, matanya berkeliling memperhatikan setiap sudut rumah yang dipenuhi dengan kenangan bersama kedua orang tuanya. Lagi-lagi dia meneteskan airmata.
Tiba-tiba dia ingin melihat kamar orang tuanya. Dengan lemas dia bangkit menuju kamar mama dan ayahnya. Dia buka pintu itu pelan, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kebaya yang tergeletak di atas kasur. Aisyah lalu mengambil kebaya itu, dan mengusapnya pelan.
"Ini kebaya Mama! Apa ini keinginan terakhirmu, Ma? Melihat Ai menikah memakai kebaya ini?" lirihnya.
Aisyah menangis lagi, dia memeluk kebaya itu dengan kesedihan yang sangat memilukan.
__ADS_1
....................................................