
Raihan terbengong-bengong melihat istrinya yang begitu menikmati beberapa batang coklat di balkon kamarnya. Tapi ada yang heran, apa iya ada orang makan coklat sambil menyeka air mata? Apa karena begitu terharu dia merasakan lezatnya coklat itu, sehingga menitikkan air mata? Dan herannya lagi kenapa Raihan memikirkan hal konyol begini?
Akhirnya dia memutuskan untuk ikut bergabung bersama istrinya yang sedang duduk di balkon. Samar-samar terdengar isak lirih dari istrinya, ada apakah gerandong eh gerangan?
"Sayang?" panggil Raihan pelan, dia menyentuh pundak istrinya.
Aisyah berbalik, Raihan terkejut melihat mata istrinya yang sudah berkaca-kaca. Raihan langsung duduk di sebelah istrinya itu.
"Ada apa sayang? Kenapa menangis? Apa coklatnya kurang?" tanya Raihan khawatir. Jelas khawatir dong! tadikan, istrinya semangat dan bahagia, sekarang istrinya kenapa mewek begini? Apa benar ini yang dinamakan kesambet? Besok-besok Raihan akan belajar pada Ustadz tentang ini.
Bagi Aisyah, ingin sekali dia menjitak kepala suaminya dengan batu, seandainya itu mungkin! Tapi dia tidak berani, dia kan mau jadi istri sholehah, dia harus sabar seluas galaksi Bima Sakti. Ingin rasanya Aisyah menangis lebih kencang karena pertanyaan konyol suaminya.
"Bukan karena kurang loh, Bang!" semakin deras air matanya keluar. Raihan pun semakin panik. Dia langsung mengusap air mata istrinya itu.
"Aduh, aduh jangan menangis sayang! Ada apa sebenarnya? Kalau coklatnya kurang, kita bisa beli lagi! Kalau perlu, akan Abang beli pabriknya sekalian!"
Iyalah itu yang orang kaya! Batin Aisyah kesal.
Aisyah hanya menggeleng, dia juga gak tahu kenapa dia bisa menangis tiba-tiba.
"Jadi kamu kenapa?" Raihan menyelipkan rambut Aisyah ke belakang telinganya.
"Ai juga gak tahu kenapa, Bang!"
Gubrak! Raihan jadi cengap-cengap. Dia jadi yakin sekali ada hal ganjil sedang merasuki istrinya.
"Sayang, kita tenggelam aja yuk?" ajak Raihan frustasi.
"Tenggelam? Abang sendiri aja sana yang tenggelam!" ketus Aisyah.
"Habisnya Abang bingung dengan sikapmu sayang!"
Aisyah bangkit dari duduknya "Jadi Abang gak suka gitu!"
"Bu..bukan.." ucapan Raihan terpotong karena Aisyah marah dan langsung meninggalkan dirinya sendirian di balkon.
"Haaaaah.. Salah lagi!" gumamnya sambil mengusap wajahnya. Raihan pun ikut masuk ke dalam. Dilihatnya istrinya sudah anteng di tempat tidur dengan posisi miring. Raihan duduk, mengusap lembut kepala istrinya.
"Sayang, sudah tidur ya? Maafkan Abang ya?" usap-usap sekali lagi, dan akhirnya Raihan memilih untuk tidur, karena dia merasa Aisyah memang sudah tidur.
Aisyah membuka matanya, dia memang belum tidur tadi. Aisyah menghela nafas, dia juga heran dengan sikapnya. Besok dia akan meminta maaf pada suaminya itu. Mudah-mudahan dia tidak bersikap seperti ini lagi. Aisyahpun memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur.
__ADS_1
**
Entah khayalan atau bermimpi, Aisyah tidak tahu. Dia merasa sedang berada disebuah taman yang indah. Ada berbagai macam bunga tumbuh disana. Udara juga begitu sejuk, Aisyah menghirup udara itu dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali.
"Haaaaah segarnya...! Eh, tapi aku dimana ya?" Aisyah mengedarkan pandangannya menatap sekitar, hanya ada dia seorang.
"Tempat apa ini?" alisnya berkerut. Aisyah mencoba untuk berjalan, untuk mencari tahu dia sedang berada dimana saat ini. Lama-lama perasaan takut menderanya, dia mencoba berlari dan berlari hingga kelelahan. Aisyah mencoba mengatur nafasnya, dia menyeka keringatnya yang bercucuran.
"Aku dimana, sih?" terdengar frustasi nada bicaranya.
"Dek..." tiba-tiba suara seorang perempuan memanggilnya. Aisyah langsung refleks berbalik. Perempuan itu melambai-lambai memanggil dirinya. Dan entah kenapa seperti ada magnet, Aisyah langsung mendekat aja gitu.
Siapa dia? Batin Aisyah memperhatikan penampilan perempuan itu. Dia hanya mengenakan abaya putih yang sudah agak lusuh, dengan rambut panjang tergerai. Dia tersenyum lebar pada Aisyah yang hampir mendekat.
"Mmm maaf Kak, kalau boleh tahu ini tempat apa ya?" tanya Aisyah hati-hati pada orang asing di hadapannya ini. Yang dari tadi hanya tersenyum terus. Aisyah melirik tangannya yang selalu berayun dengan pelan. Tangan perempuan itu seperti menggenggam sesuatu.
Eh tunggu, bukannya itu bunga mawar?
Aisyah terkejut karena perempuan itu tiba-tiba menarik tangannya. Entah kenapa Aisyah tidak punya tenaga sama sekali untuk melawan. Akhirnya Aisyah hanya pasrah saat perempuan itu membawanya kesuatu tempat dengan pemandangan yang indah, yaitu sebuah danau dengan airnya yang begitu tenang. Aisyah mengernyit menatap danau itu lalu beralih menatap perempuan yang menariknya ini. Sesekali Aisyah masih bisa melihat bunga mawar di tangan perempuan itu.
Mereka akhirnya berhenti, perempuan itu melepaskan tangannya. Dia berbalik menghadap Aisyah. Lagi-lagi dia tersenyum manis. Memang wajah dia begitu pucat, tapi tetap tak bisa menyembunyikan kecantikan wajahnya.
"Ayo duduk.." ucapnya lembut, dia beranjak kekursi panjang yang menghadap ke arah danau.
"Danaunya indah ya, Dek?" perempuan itu tersenyum sambil menatap lurus ke depan. Lagi-lagi bunga mawar itu selalu ada digenggamannya. Entah kenapa hal itu jadi mengusik rasa penasaran Aisyah.
"Kamu belum pernah ke danau ini?" tatapan perempuan itu beralih menatap Aisyah yang tiba-tiba kikuk karena ketahuan sedang menatap serius bunga mawar itu.
"Eh, belum Kak!" jawab Aisyah grogi.
"Lain kali suruh Rey untuk mengajakmu kesini, Dek!"
"Rey? Apa maksud Kakak, Rey itu Bang Raihan?" tanya Aisyah heran.
Perempuan itu terkekeh kecil "Iya dong, Raihan suamimu!"
"Jadi, Kakak ini Kak Rachel?"
"Jadi siapa lagi?" ucapnya dengan senyum khas yang mirip sekali dengan Raihan suaminya.
"Masa kau tidak merasa sih, melihat kembaranmu dihadapanmu?" timpalnya lagi.
__ADS_1
Aisyah menutup mulutnya tak percaya, ternyata orang yang dihadapannya ini adalah kakak suaminya, yang berarti kakak iparnya. Memang dari foto yang pernah Aisyah lihat, wajah mereka memang begitu mirip. Tiba-tiba otak Aisyah loading kalau kakak iparnya ini sudah lama meninggal.
Aisyah memegang tangan kakak iparnya itu dengan perasaan sedih.
"Kak, apa Kakak belum tenang?"
Rachel terkejut akan ucapan Aisyah, dia menitikkan airmata. Rachel mengusap wajah Aisyah.
"Apa Kakak bisa tenang? Kakak juga gak tahu kapan bisa tenang!"
"Kenapa ngomongnya gitu, Kak? Ai akan selalu kirim doa untuk Kakak, untuk Mama, Ayah, dan juga untuk Papa mertua"
"Kamu orang yang baik! Seandainya Mama bisa melihat kebaikanmu dan menerimamu sebagai menantunya.."
Aisyah menunduk "Mama gak tahu kalau kami udah menikah, Kak!"
Rachel menghela nafas, dia menggenggam tangan Aisyah "Dek, apa kamu bisa merubah Mama?"
Aisyah terperanjak "Hemmm, Ai gak tahu kalau itu, Kak!"
Rachel tersenyum tipis "Mama sudah lama tidak berkunjung ke rumah Kakak!" Rachel memperlihatkan bunga mawar yang sudah terlihat layu dengan perasaan sedih "Sudah bertahun-tahun Mama tidak memberikan bunga seperti ini lagi..." lirihnya.
Aisyah memegang pundak Rachel, dia tidak mampu menjawab apapun. Bagaimanapun kakak iparnya ini pasti akan tetap memaafkan mamanya, walau secara tidak langsung dia meninggal juga karena mamanya.
"Apa Kakak sudah memaafkan Mama?"
Rachel hanya diam dan tersenyum, dia bangkit dari duduknya dan menarik tangan Aisyah untuk berdiri juga.
"Pulanglah, Dek! Terima kasih sudah mencintai Rey, dan..." Rachel mengusap perut Aisyah perlahan "Terima kasih sudah menjaga keponakan Kakak.."
"Hah? Keponakan?" Aisyah refleks ikut-ikutan memegang perutnya.
"Pulanglah.."
Tiba-tiba Aisyah merasa dirinya mundur kebelakang dan semakin menjauh dari Rachel. Rachel tersenyum dan kelamaan hilang ditelan asap.
**
Aisyah mengerjapkan mata, dan terkejut melihat tangannya sudah di atas perut seperti di alam mimpi tadi.
"Mimpinya seperti nyata..." gumamnya pelan, dia melirik ke arah suaminya yang tertidur dengan pulas.
__ADS_1
Perlahan dia bangkit dan berjalan ke arah suaminya. Aisyah menarik selimut ke tubuh Raihan, mengusap kepalanya, dan mencium kening suaminya itu, lalu Aisyah beranjak pergi ke kamar mandi. Seuntai senyum terukir dibibir Raihan, entah dia sadar dicium istrinya atau dia sedang bermimpi dicium istrinya? Hanya dialah yang tahu.
......................................