Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Sisi Lain Raihan


__ADS_3

Setelah menjawab salam dari raihan, aisyah pun berdiri dari duduk nya. Sebenar nya dia agak grogi, apakah benar itu bunga dari raihan atau bukan.


"Selamat pagi abang".


"Selamat pagi juga dek, udah diterima bunga nya?"


"Eh udah bang, tapi gak tau itu dari siapa?"


Ya ampun aisyah betapa polos nya, baru juga aku nanya bunga nya udah diterima apa belum, malah dia gak tau itu dari siapa. Batin raihan.


Raihan geleng-geleng kepala. Aisyah jadi bingung, kenapa bang raihan geleng-geleng kepala pikirnya.


"Adek, buatkan abang kopi ya?" perintah raihan dengan nada bicara yang lembut selembut sutra.


"Mmm oke bang, tunggu ya!".


Aisyah lalu bergegas ke pantry untuk membuatkan kopi raihan. Sambil menunggu, raihan berpikir untuk melaksanakan dhuha dulu sebelum memulai pekerjaan nya.


Raihan pun membuka jas nya, melepas jam, menggulung kemeja nya sampai siku, kalau adegan itu di slow motion, waduh bisa kelepek-kelepek makhluk bernama wanita,


termasuk juga emak-emak tukang lari-lari sore di lapangan taman kota itu, mereka fans fanatik raihan, sampai-sampai mengikuti akun sosmed raihan yang tak ada isi nya itu. Ahh gak ada foto nya pun tak apa, yang penting akun sosmed abang ganteng itu gak di privat.


Aisyah yang sudah selesai membuat kopi pun kembali keruangan, dibuka nya pintu, menampilkan seorang abang ganteng tengah sholat di musholah kecil yang ada diruangan itu. Seketika hati aisyah terenyuh dan kagum melihat penampakan yang indah itu.


Aduh bang, dil hai tumharaa bang.


Aisyah tersenyum, lalu meletakkan kopi di atas meja. Ditunggu nya raihan yang sudah selesai sholat. Dipandangi nya raihan tanpa berkedip. Raihan yang tahu dia dipandangi oleh gadis pujaan nya itu seketika langsung grogi, tapi senang. Siapa juga yang gak senang kalo kita diperhatiin sama orang yang kita suka ya kan.


"Eheeeem". Raihan berdehem,


"Eh, maaf bang, hehe". Aisyah jadi salah tingkah dan malu.


"Hehe..". Raihan tertawa kecil.


Eh kenapa bang raihan malah ketawa.


Karena malu, aisyah menutup muka nya dengan nampan yang dibawa nya tadi, entah saking malu nya, dia terlalu kuat menutup muka, bukan nya tertutup dia malah kesakitan.


"Aduh!". Hidung aisyah pun merah karena ulah nya sendiri, sok malu-malu meong, meong nya aja gak malu tuh, hehe.


Karena mendengar kata aduh dari aisyah, raihan langsung menghampiri nya.


"Ya Allah kenapa dek?"


"Hehe, gapapa bang, grogi aja, hehe".


"Kenapa harus grogi coba, jangan grogi-grogi sama abang, masa nanti kita tinggal serumah grogi-grogian?". Padahal raihan sendiri juga grogi.


"Eh maksud abang?" aisyah mengernyit tak mengerti.

__ADS_1


"Hehe, gak ada apa-apa dek". Raihan menggaruk-garuk kepalanya .


kenapa garuk-garuk raihan? apa ada kutu nya?


Tak lama rizi datang bersama seorang karyawan, dari mimik wajah nya rizi sedang marah, nampak dari wajah karyawan nya yang ketakutan.


"Ada apa zi? Seperti nya kau marah sekali?"


Raihan bertanya setelah dia duduk di kursi kebesaran nya.


"Jelaskan pada atasan mu apa kesalahan mu!" bentak rizi pada karyawan yang bernama Danu itu.


Danu pun langsung berlutut dihadapan raihan, aisyah yang sedari tadi memperhatikan pun terkejut, sebegitu besar kekuasaan raihan pikirnya, sampai-sampai karyawan mau berlutut pada nya.


"Maafkan saya pak, saya menyalah gunakan posisi saya sebagai kepala divisi, saya mohon ampuni saya pak!". Danu berbicara dengan perasaan bersalah dan bergetar sambil menundukkan kepala nya.


"Bertele-tele sekali! Jelaskan dengan rinci kesalahan mu!" rizi kesal, kenapa tinggal bilang kesalahan nya aja ribet sekali.


"Tenang lah rizi!" raihan mencoba menenangkan rizi yang kesal nya sudah sampai ubun-ubun.


"Saya mengambil uang perusahaan pak, maafkan saya pak!"


Raihan tampak biasa aja alias pasang wajah datar.


"Apakah ada alasan sehingga kau berani berbuat dosa dengan mencuri? Kau kan bisa mengajukan pinjaman ke perusahaan!". Raihan bertanya.


"Untuk apa uang itu?". Raihan bertanya dengan tegas.


Untuk setiap masalah di perusahaan nya dia selalu berusaha untuk tenang dalam mengambil sikap dan keputusan. Karena dengan tenang, hati dan pikiran pun bisa jernih untuk memikirkan solusinya.


"Anak saya terkena kanker pak, usaha istri saya juga sudah bangkrut, dana nya habis untuk pengobatan anak kami, maka dari itu saya memakai uang perusahaan ini pak, tolong ampuni saya pak!". Danu sampai menangis menjelaskan alasan nya pada raihan.


"Hmmmm, tapi kau tau kan itu perbuatan dosa? Kalau kau sampai masuk penjara bagaimana?"


.


"Ampuni saya pak". Danu sampai menangis tersedu-sedu.


"Haaaaaah!". Rizi hanya bisa menghela nafas, biar lah kali ini dia menyerahkan urusan ini pada raihan, biasa nya sih dia yang menangani hal beginian.


"Berdiri lah!"


Danu pun berdiri sambil menyeka air mata nya dengan tangan.


"Aku akan memaafkan mu, tapi setiap kesalahan, pasti ada konsekuensi nya kan?"


"Iya pak". Danu menunduk.


"Aku tidak akan memecat mu, juga tidak akan mengurangi gaji mu, tapi aku tidak akan memberikan bonus lagi pada mu sampai hutang mu lunas di perusahaan ini". Tegas raihan.

__ADS_1


"Terima kasih pak!". Agak lega danu mendengarnya.


"Rizi urus lah biaya pengobatan anak nya, dan pantau terus perkembangan pengobatan anaknya!". Raihan memberi perintah pada rizi.


"Baik lah pak!". rizi pun harus melaksanakan perintah raihan, ya iya rizi kan cuma anak buah nya.


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih pak, makasih banyak!". Danu pun berlari memeluk kaki raihan, rizi yang sudah jengah mau menghentikan aksi bawahan nya itu, tapi raihan sudah mengkode rizi untuk tidak mendekat.


"Berterima kasih lah pada Allah, kalau kau tidak memakai uang perusahaan itu, kan kita tidak akan tau kalau anak mu butuh biaya untuk pengobatan nya".


Raihan menepuk punggung karyawan nya itu.


"Bangun lah! Berhenti lah menangis, kau harus bisa tunjukkan pada istri mu kalau kau kuat, agar dia juga kuat, dia pasti lebih sedih dari mu!".


"Masyaa Allah, makasih banyak pak, semoga bapak selalu dalam lindungan Nya".


"Terima kasih! Sekarang kembali lah keruangan mu".


Danu pun kembali keruangan nya dengan tak henti-henti mendoakan raihan atas kemurahan hati nya.


Kembali ke ruangan raihan,


Aisyah menjadi sangat takjub melihat kepemimpinan raihan, dia sama sekali tidak kejam pada bawahan nya. Berbeda sekali sama rizi yang galak, saat ini dia kesal, jadi dia ke kantin dulu minum kopi untuk nenangkan diri nya. Padahal bisa aja ya dia minum di ruangan, ahh suka-suka rizi lah mau berbuat apa.


Haah masyaa Allah bang, aku pada mu!.


Aisyah jadi senyum-senyum sendiri,, semakin nyata rasa nya kalau dia benar-benar udah jatuh cinta sama raihan.


Di ambil nya hp, aisyah pun membuat status di akun sosmed nya.


~Dil hai tumhara bang, aku pada mu.~


Aisyah cekikikan sendiri. Raihan yang memperhatikan pun langsung berdehem.


"Eh...", aisyah jadi kikuk.


"Hmm dek, abang mau bicara boleh?"


Ahh lembut kali dia bicara, tipe-tipe pria idaman, ulala.


"Boleh bang, ai dengarkan". Aisyah tersenyum, yang menjadikan raihan siaga satu hampir pingsan.


Aduh, senyum nya manis kali lagi, jantung ku jadi maraton ini! tapi aku harus nyatakan perasaan ku sama aisyah, harus!.


"Mmmm dek, abang.....".


Tiba-tiba pintu terbuka, ternyata rizi dan bram yang datang, gagal deh..


Dasar sialan mereka berdua!

__ADS_1


__ADS_2