Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Yang Raihan Tunggu


__ADS_3

Raihan dengan agak sedikit berlari menuju ruangannya. Agar cepat selesai urusannya dan segera pulang untuk menuntaskan sesuatu yang tak jadi tadi. Rizi langsung berdiri, setelah Raihan masuk dan duduk di kursi kebesarannya untuk menyerahkan berkas-berkas yang sedari tadi sudah dia periksa.


"Kenapa sih, tidak kau saja yang menghandle?" ucapnya dengan ketus.


Rizi tergelak dengan mimik wajah Raihan yang begitu lucu baginya.


"Haha, kenapa Rey? Apa belum kau tuntaskan keinginan mu?"


"Bagaimana aku menuntaskannya? Panggilan bodoh mu itu menggangguku tahu!"


Rizi tergelak lagi, Raihan memasang wajah ilfil. Senang sekali jomblo satu ini. Dasar jomblo. Gak henti-henti Raihan mengumpat dalam hati.


"Memang apa sih yang mendesak! Sampai waktu ku terbuang percuma hanya untuk kesini! Lebih bagus aku bersama istri ku tadi!" mengomel terus, tapi tetap menandatangani berkas yang sangat perlu untuk rapat nanti.


Rizi geleng-geleng kepala melihat pengantin baru yang tak sabar untuk jadi pengantin sungguhan.


"Kau ingat kan tawaran kerja sama yang di ajukan oleh perusahaan Pak Gunawan?"


Raihan mengangguk "Hemmm, kenapa?"


"Kok kenapa sih Rey?"


"Ya aku malas saja berurusan dengan kakek itu! Dia kan mau jodohkan anaknya dengan istri ku!"


"Astagaa.. Kerjasama yang terjalin dengan perusahaan Pak Gunawan itu bisa menguntungkan perusahaan kita! Jadi aku mau kau bersikap profesional saat bertemu dia nanti!"


"Hemmmm" jawab Raihan seperti mengacuhkan omongan Rizi.


Tapi dia tetap menuruti perkataan Rizi dengan bersikap layaknya pemimpin perusahaan yang berwibawa.


"Baik lah, Pak! Saya sepakat menjalin kerjasama ini!" ucap Raihan menjabat tangan Pak Gunawan.


Senyum lebar dan wajah sumringah tercetak jelas diwajah orang tua itu saat menjabat tangan Raihan. Langkahnya semakin maju jaya untuk mendekatkan putranya dengan gadis yang menjadi karyawan di perusahaan Raihan, yang tak lain adalah Aisyah.


"Terima kasih, Pak Raihan!" ucapnya semangat dan hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Raihan.


"Oh iya Pak, kenalkan ini putra saya, Ghifari!"


Raihan menoleh pada orang yang di maksud Pak Gunawan, seorang laki-laki tampan berjas yang datang menghampiri mereka. Pandangan Raihan tak lepas dari lelaki itu.


Huuuff, untung masih gantengan aku! apa sih yang harus kutakutkan dari bocah seperti dia! Kalau dia macam-macam dengan istri ku, akan ku tendang dia dari dunia ini, langsung ke alam barzah sana!


Raihan manggut-manggut sendiri dengan pikirannya, sampai Ghifari mengucap salam pun dia tak dengar lagi. Rizi lagi-lagi geleng-geleng kepala, seakan-akan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh bosnya itu. Rizi lalu menyenggol lengan Raihan yang terus memperhatikan lelaki itu.


"Eh.. Ada apa?" Raihan berdehem, "Maafkan sikap saya!"

__ADS_1


"Assalammu'alaikum, Pak!" lelaki itu mengulurkan tangannya.


Raihan menyambut uluran tangan lelaki muda di depannya "Wa'alaikumsalam!" jawabnya singkat.


"Sepertinya kami akan sering kesini untuk membahas proyek-proyek kita, Pak Raihan!"


Aku gak mau kakek! Kenapa sih kalian tidak cepat pulang aja sana! Kalau bisa, tidak usah kembali lagi!


Lagi-lagi Rizi menyenggol pelan lengan Raihan, dengan isyarat mata Rizi menanyakan ada apa dengan Raihan. Raihan berdehem.


"Iya Pak! Bapak bisa sering datang hanya untuk membahas proyek! Jangan membahas hal lain!"


Jangan membahas istri ku maksudnya!


"Oh iya Pak, dimana karyawan Bapak yang itu?" berkeliling mata Pak Gunawan mencari keberadaan Aisyah. "Biasanya dia ikut rapat kan Pak?"


"Dia sedang sakit!" ketus Raihan menjawab.


Eh! Apa yang kukatakan? Kalau istriku sakit beneran gimana? Dasar bodoh!


"Hah? Kasihan sekali! Kalau boleh tahu rumahnya dimana ya, Pak?"


Haduh! Kakek ini kenapa lancang sekali sih!


Hemmm, seperti apa sih rupa gadis itu? Sampai setiap hari Papa membicarakannya!


"Iya juga ya?" terkekeh. "Baiklah Pak Raihan, Pak Rizi, kami permisi dulu" Pak Gunawan mengulurkan tangan.


Iya bagus, sana pergilah! Dan jangan kembali!


Raihan menyambut uluran tangan itu "Baiklah, Pak! Selamat jalan dan hati-hati.."


Raihan dan Rizi kembali ke ruangannya, Raihan menghempaskan tubuhnya pada sofa. Menghela nafas dia.


"Ada apa Rey?"  tanya Rizi. Dia meletakkan dua botol minuman dingin di atas meja. Raihan bangkit dari bersandarnya dan menyambar botol minuman itu.


"Kalau seandainya orang tua dan anaknya itu benar-benar mendekati istriku bagaimana?"


"Ya tinggal kau bilang saja kalau Aisyah itu istrimu!"


Raihan mendesah "Itu dia! Aku bukannnya tidak mau mengumumkan siapa istriku! Aku takut banyak mata-mata mamaku berada dilingkungan kantor ini!"


"Sabar Rey! Kau jangan takut! Yang terpenting Aisyah sudah ada di sisimu sekarang!"


"Iya, kau benar!" melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam.

__ADS_1


"Sudah malam! Aku pulang dulu! Kasihan istriku sendirian di apartemen!" ucap Raihan bangkit dan segera melangkah menuju pintu keluar.


"Kau mau diantar atau bagaimana?"


"Aku bawa mobil sendiri!" Raihan membuka pintu, melangkah keluar tanpa menutup pintu itu lagi.


"Kapan aku bisa menikah?" gumam Rizi dalam kesepiannya di ruangan itu.


Aku juga ingin menikah, huaaaaaa...


******


Ketukan pintu terdengar lebih nyaring saat Aisyah dengan tergesa-gesa berlari untuk membukakan pintu. Itu pasti suaminya yang sudah pulang, begitu pikirnya. Kenapa ketukan pintu lebih kuat dan lebih nyaring? Karena Aisyah merasa malu menggunakan baju tidur transparan pemberian Sabila dan Adit.


Dia hanya mematung dan grogi saat akan bertemu suaminya nanti. Mau bagaimana lagi? Dia tidak punya baju lain lagi, hanya baju saat Raihan membawa dia ke apartemen dalam keadaan pingsan. Dan Sabila hanya membawa kebayanya saja, tanpa membawa baju yang lain. Kan tidak mungkin dia memakai baju yang sudah terkena keringat dan bau asam.


Pintupun Aisyah buka perlahan, menampilkan lelaki ganteng nan memikat mata dan hati. Senyum indah terbit di bibir Abang Ganteng yang sudah resmi menjadi suaminya hari ini.


"Kenapa lama sekali buka pintunya sayang?" Raihan mendorong pintu agar terbuka lebih lebar, karena Aisyah hanya membukanya sedikit untuk menutupi rasa malunya menggunakan baju menerawang seperti ini.


Aisyah langsung menutup pintu, dan bersyukur Raihan tak memperhatikan penampilannya tadi. Karena Raihan langsung duduk dan membuka sepatunya. Setelah selesai, dia menoleh pada istrinya yang menunduk malu-malu. Raihan membelalakkan mata melihat penampilan istrinya. Begitu sangat menggoda dirinya.


"Baju apa yang kamu pakai itu sayang?" bertanya sok polos.


Aisyah menatap Raihan sebentar, lalu menunduk lagi sambil menyelipkan rambutnya yang tergerai ke telinga.


"Ma..maaf Bang, Ai pakai baju pemberian Sabila dan Adit! Baju Ai kan cuma satu yang Ai pakai waktu pingsan kemarin!" berbicarla sambil menunduk.


Astaga, bagaimana itu tak terpikirkan oleh Raihan, istrinya tidak membawa apapun. Bagaimana dia tidak becus menjadi suami, semua kebutuhan Aisyah kan, sudah menjadi tanggung jawabnya.


"Maafkan Abang sayang, Abang lupa untuk menyediakan semua kebutuhanmu.."


"Gak apa-apa Bang! Abang butuh sesuatu?" melihat sebentar lalu menunduk malu lagi. Raihan tak berkedip memandangi tubuh Aisyah dari balik baju tidur tipis itu. Hingga dirinya tersentak dengan sendirinya.


"Tidak ada sayang, Abang mandi dulu.."  Raihan beranjak menuju kamar, dan di ikuti oleh Aisyah. Saat Raihan mandi, Aisyah menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu.


Setelah selesai, Aisyah melihat kain penutup pintu balkon yang berterbangan terkena angin, Aisyah langsung menuju pintu itu untuk menutup dan menguncinya. Tapi niatnya batal karena melihat pemandangan kota dari atas sini. Semilir angin menerbangkan rambut indahnya. Aisyah berpegangan pada pembatas balkon, dia menikmati setiap angin yang berhembus menerpa wajahnya. Entah kemana rasa malunya saat ini, bisa saja orang dari bawah melihat ada penampakan wanita cantik sedang berdiri di balkon.


Raihan yang telah selesai mandi tersenyum melihat baju yang sudah di siapkan oleh istrinya di atas tempat tidur. Matanya berkeliling mencari keberadaan istrinya yang begitu menggoda dia tadi. Hup dapat! Raihan melihat pemandangan indah, rambut itu berterbangan terkena angin, begitu juga baju tipis itu. Tiba-tiba Raihan tersadar, istrinya sedang di alam terbuka dengan baju tipis seperti itu, Raihan pun belum sempat memakai bajunya, hanya ada handuk yang melilit di pinggangnya. Dengan segera dia menarik Aisyah ke dalam, lalu menutup dan mengunci pintu itu.


"Maaf Bang.." ucap Aisyah setelah tahu apa kesalahannya.


Raihan hanya diam, dia menghampiri istrinya yang menunduk, mengangkat dagu itu dengan jarinya,  dan mengecup sekilas bibir mungil Aisyah. Raihan mendudukkan Aisyah di tempat tidur, lalu dia kembali mencium bibir itu dengan lembut dan semakin dalam, Aisyah ambruk setelah Raihan mendorong dengan tubuhnya. Tangan Raihan sudah tidak bisa dikondisikan, Aisyah hanya bisa memejamkan matanya dan mencengkram sprei dengan kuat.


.........................................

__ADS_1


__ADS_2