
“Tuan..Tuan...”teriak bodyguard di luar pintu apartemen Raihan.
Raihan langsung bangkit dari rebahannya, duduk sebentar mengusir kantuk yang teramat sangat. Dia sempat ketiduran sepeninggal istrinya ke minimarket tadi.
“Kenapa mereka berteriak begitu sih?” gumamnya sambil mengusap-ngusap wajahnya.
Panggilan dan gedoran pintu terdengar lagi. Ada apa sampai mereka berteriak memanggil dirinya begitu? Deg! Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada istrinya. Langsung Raihan berlari untuk menemui anak buahnya.
"Ada apa?" tanyanya dengan berdebar-debar.
Para bodyguard pada ketakutan dan bingung untuk menyampaikan berita yang tidak mengenakkan begini pada bos besar mereka.
"Nyonya keserempet motor, Tuan!"
"Apa?" pekik Raihan.
"Maafkan kami, Tuan!"
"Apa yang kalian lakukan hingga istriku kecelakaan, hah?"
Bentak Raihan, ingin rasanya dia meninju orang yang berbicara ini. Tapi akan dia lakukan itu nanti. Raihan langsung berlari, dalam hatinya dia sudah sangat takut sekali.
**
"Ya Allah, ini kan karyawannya Pak Raihan!" ucapan tegas seorang Bapak berusia lebih dari separuh abad, menandai kalau dia tidak salah lihat.
Laki-laki yang berjongkok itu mendongakkan wajahnya ke arah papanya "Papa kenal dia?"
"Sudah! Nanti kita bicarakan! Ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" perintah orang tua itu.
Aisyah yang meringis kesakitan masih bisa sadar dengan kata-kata dibawa ke rumah sakit. Dia masih ingat kalau Bapak itu pernah hadir waktu meeting beberapa bulan lalu di perusahaan suaminya. Tapi yang saat ini dia inginkan adalah kedatangan suaminya.
Cepat datang suamiku!
"Apa kamu bisa berdiri?" tanyanya dengan lembut di iringi dengan senyuman manis. Aisyah mendongak sedikit melihat wajah lelaki didepannya, dia tersenyum lagi. Aisyah langsung menundukkan pandangannya.
Kenapa dia senyum-senyum sih? Udah tahu orang kesakitan juga! Kemana lagi suamiku, huhu!
Wah! Dia gadis pemalu!
Para bodyguard Raihan memecah belah kerumunan agar bos besar mereka bisa lewat. Dengan langkah cepat Raihan berjalan menuju istrinya yang terduduk dengan siku dan kaki yang berdarah. Tampak kalau istrinya itu sedang menahan sakit. Ingin rasanya dia menangis karena tidak becus menjaga istrinya, hingga istrinya sakit seperti itu.
Tapi, dari jauh juga tampak manusia yang tak asing bagi Raihan. Ya, itu Pak Gunawan dengan putranya yang notabene akan dijodohkan dengan istrinya. Raihan menghentikan langkahnya sejenak. Orang tua dan anaknya itu sedang berusaha membantu istrinya, tapi istrinya menolak dengan cara halus. Mata istrinya berkeliling seperti mencari keberadaannya. Dan hup! Netra mereka bertemu.
Aisyah rasanya ingin menangis melihat kedatangan suaminya. Dari sorot wajahnya dia meringis meminta tolong. Melihat itu Raihan langsung berlari menuju Aisyah. Ingin rasanya dia memeluk wanitanya itu. Tapi, ada koleganya disana. Sedang mereka tidak tahu kalau Aisyah ini sudah menjadi istrinya. Raihan jadi bingung harus berkata apa nanti. Akhirnya dia memutuskan untuk mendekat saja, mungkin itu bisa membuat istrinya nyaman.
__ADS_1
"Eh Pak Raihan kok bisa disini? Selamat malam, Pak!" sapa Pak Gunawan yang hanya di balas anggukan kepala saja oleh Raihan. Itupun tanpa melihat orang tua itu. Pandangannya hanya fokus pada Aisyah.
"Kamu tidak apa-apa?" Raihan berjongkok untuk memastikan keadaan istrinya.
Ghifari bisa menangkap gelagat Raihan yang begitu aneh baginya, tatapan Raihan seperti orang yang begitu menyayangi gadis yang terluka itu.
"Maaf Pak! Sebaiknya kita bawa saja ke rumah sakit!" ucap Ghifari.
"Kalian pulang lah! Aku bisa mengurus karyawanku!"
Deg! Karyawan? Hati Aisyah terasa sakit mendengar ucapan seperti itu dari mulut suaminya. Tiba-tiba saja dunia terasa gelap bagi Aisyah. Seketika dia ambruk. Semua orang langsung panik, tak terkecuali juga Raihan.
**
Aisyah mengerjapkan matanya, pelan-pelan dia bangun untuk bersandar. Raihan yang sedang membawa baskom dan handuk kecil segera menghampiri Aisyah yang hendak bangun.
"Kamu sudah sadar sayang? Alhamdulillah..." Raihan membantu Aisyah untuk bersandar.
"Abang khawatir sekali sayang.." Raihan mengelus kepala Aisyah, Aisyah yang menunduk mendongakkan wajahnya, menatap suaminya yang menatap dia dengan sendu. Lalu Aisyah menundukkan kepalanya lagi, tidak berniat dia untuk menjawab perkataan suaminya.
"Minum dulu obatnya sayang, tadi dokter sudah mengobati lukamu dan memperbannya"
Aisyah langsung menoleh pada luka-lukanya yang terasa perih itu sebelum Raihan memberikannya obat. Setelah minum obat, dengan telaten Raihan membasuh seluruh tubuh Aisyah dengan air hangat yang dia bawa tadi. Lalu dengan cekatan mengganti baju istrinya itu. Sekarang penampilan Aisyah kelihatan lebih segar.
Raihan menggenggam tangan Aisyah dan beberapa kali menciumnya "Bagaimana perasaanmu sekarang sayang?"
Raihan menaikkan alisnya "Sedih kenapa sayang? Apa Abang ada salah?"
"Ai ini cuma istri yang gak di anggap!" jawabnya dengan mode lebih ketus lagi.
"Ya Allah, kenapa bicara seperti itu?"
"Abang bicara gitu tadi sama Pak Gunawan!"
Raihan geleng-geleng kepala, dia mengerti akan perasaan istrinya. Dia juga tidak mau menyembunyikan hal ini. Tapi rasanya ini lebih baik untuk melindungi istrinya dari hal yang tidak di inginkan.
"Sayang.." panggil Raihan dengan lembut.
"Apa!" bentak Aisyah. Raihan terperanjak karena di bentak oleh istrinya. Dia langsung bangkit dari duduknya dan berdiri.
"Aisyah Rachel! Jangan pernah sekalipun kau membentak suamimu!" ucap Raihan tegas. Aisyah jadi ciut ketakutan, ini pertama kalinya suaminya membentak dia. Walau gak bentak yang teriak-teriak gitu sih.
"Ma..maaf suamiku, hiks..hiks.." Aisyah terisak, padahal tadi niatnya dia hanya ingin protes.
Melihat Aisyah menangis, Raihan jadi tidak tega. Raihan hanya ingin mendidik istrinya agar jangan jadi kebiasaannya membentak ataupun ketus pada suami.
__ADS_1
Raihan memeluk Aisyah yang masih menangis sesegukan "Maafkan Abang, bukan maksud Abang membentak... Memang tidak seharusnya sikapmu tadi seperti itu sama Abang"
"Maafkan Ai, Bang! Ai cuma sedih Abang gak mengakui Ai sebagai istri Abang di depan Pak Gunawan tadi..hiks..hiks"
"Bukan maksud Abang untuk tidak mengakuimu sayang, Abang hanya ingin melindungimu! Lihat! Kamu sampai keserempet motor begini, bisa jadi ada orang yang tidak suka dengan Abang dan melampiaskannya padamu!"
"Hmmm, iya Bang, Ai mengerti!" menjawab dengan pasrah, tidak mau membantah atau memprotes lagi.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya? Abang ada urusan dengan Rizi!" Raihan akan bangkit, tapi ditahan oleh Aisyah. Aisyah memegang lengan Raihan dengan kuat.
"Abang mau kemana? Jangan tinggalin Ai!"
Raihan tersenyum dan mengelus pipi Aisyah "Abang hanya keluar sebentar sayang! Istirahatlah! Para bodyguard ada diluar pintu untuk menjagamu!"
"Baiklah, Bang!"
Raihan mengecup kening Aisyah "Istirahatlah sayang!" Aisyah hanya mengangguk dan memperhatikan Raihan mengambil jaketnya. Sebelum keluar dari pintu, Raihan sempat tersenyum pada Aisyah. Aisyah menghela nafas, lalu menjatuhkan tubuhnya.
Begini ya punya suami seorang presdir, sibuk terus! Udah malam juga! lhmmmm.
Aisyah mengambil hpnya, dia lalu mendial nomor Sabila. Tak lama panggilan itu diangkat oleh Sabila.
~"Assalammu'alaikum, Ai!"
"Wa'alaikumsalam, belum tidur, Bil?"
~"Belum nih, ada apa, Ai?"
"Besok, temanin gue yuk ke makam ayah mama!"
~"Ada apa, Ai?" terdengar suara khawatir dari sana.
"Gue gapapa, cuma kangen aja!"
~"Ya udah, besok kita ke makam ya?"
"Iya Bil! Makasih ya, Assalammu'alaikum.."
~"Wa'alaikumsalam.."
Setelah selesai menelpon, Aisyah menghela nafas lagi. Sedih masih terasa dihatinya. Lalu tanpa dia sadari, dia sudah terlelap ke alam mimpi.
.....................................
Maaf para readers yang manis, partnya cuma sedikit. dan upnya baru bisa 3 hari sekali. karena suami baru aja pulang dari dinasnya di luar pulau. Jangankan untuk nulis, sekedar megang tab aja udah gak bisa terjabanin lagi 🤣. Terima kasih yang sudah setia dengan Abang Ganteng Itu, semoga kita sehat selalu..
__ADS_1
Salam hangat dari ILs DyDzu 😊❤️