
Dengan kepala terangkat, wanita itu berjalan ke arah pintu mansion setelah dipersilahkan masuk oleh beberapa pengawal di pintu gerbang.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Santoso" ucap wanita itu pada kepala pelayan yang menyambut didepan pintu.
"Sebentar Nyonya.."
Saniya langsung duduk tanpa diperintah, dia mengedarkan pandangannya, memperhatikan setiap detail interior yang ada diruang tamu itu. Saniya tersenyum licik, mungkin kali ini, mangsanya bisa dia taklukkan.
Tak lama yang ditunggu hadir. Lelaki paruh baya itu terkejut bukan kepalang karena ada penampakan medusa di ruang tamunya. Sedang duduk santai pula dia disana, seakan-akan nyonya di mansion itu.
"Sedang apa kau disitu?"
Saniya menoleh dan tersenyum licik, dia bangkit dari duduknya dan mengusap perut buncitnya, seakan-akan mengisyaratkan kalau dia sedang mengandung anak, hasil perbuatan lelaki itu.
"Apa kau tidak tahu hasil dari perbuatanmu!"
Pak Santoso langsung menarik lengan Saniya menjauh dari ruang tamu itu. Mereka ke ruang kerja Pak Santoso. Semoga saja tidak ada yang melihat.
"Apa yang kamu mau, hah?"
"Aku meminta pertanggung jawabanmu, Santoso!"
"Pertanggung jawaban apa? Aku merasa tidak berbuat sesuatu padamu!"
Saniya menyeringai "Oh ya? Lantas kenapa kamu mengajak aku kesini, kalau kamu tidak berbuat salah!"
Santoso terdiam, kesempatan yang baik bagi Saniya.
"Aku mau kau bertanggung jawab atas anak ini! Kalau tidak, aku akan lapor polisi, dan imbasnya perusahaanmu akan hancur!"
"Tapi aku sudah punya anak dan istri, Saniya!"
"Aku tidak mau tahu, yang pasti aku minta pertanggung jawabanmu!"
"Kalau kau mau, aku akan menikahimu, tapi kau harus mau jadi istri keduaku!'
Tanpa berpikir, Saniya langsung menyetujui saran itu. Karena bukan Saniya namanya kalau tidak berbuat licik. Tidak apa tua, asal dia kaya raya. Untuk istri pertama Santoso, dia akan campakkan nanti.
"Baiklah, aku setuju!"
Selamat Pak Santoso, kamu masuk ke dalam jebakan mulut buaya betina. Tapi sebelum Saniya melancarkan aksinya pada keluarga Santoso, terlebih dulu dia akan melancarkan aksi balas dendamnya.
**
Setelah melakukan aksi panas mereka, Raihan dan Aisyah saling berpelukan mesra. Raihan dari tadi terkikik geli karena Aisyah menghembusi telinganya terus.
"Aduh, geli sayang! Lihat, Abang sampai merinding!" Raihan memperlihatkan lengannya yang merinding.
"Hihi, habisnya Ai gemes.."
"Haha, gemes apa sih, Acheeel..." Raihan mencubit gemas pipi istrinya yang dirasa semakin chubby. Raihan juga teringat sesuatu yang sekarang juga semakin berisi. Dia menyentuh benda lembut itu. *******-***** sedikit, dan sok mengamati. Aisyah geli melihat tingkah laku suaminya itu.
"Kenapa sih, Bang? Kok ngelihatinnya gitu?"
Raihan terkekekeh menampilkan gigi rapinya "Abang rasa ini kok makin berisi ya, sayang?" tetap, tangan tak berubah tempat dan tak berubah gerakannya, malah semakin menjadi.
"Ahh, apa iya ya, Bang?" Aisyah jadi ikut-ikutan mengamati dua benda kenyal miliknya itu.
Eh, apa karena aku hamil ya makanya makin berisi gini?
"Tapi Abang suka sayang, makin...ahh makin-makinlah pokoknya!"
__ADS_1
Raihan mendusel-duselkan kepalanya pada benda kenyal favoritnya itu. Aisyah sampai mendesah karenanya. Aisyah mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh suaminya yang sudah menurun karena mengamati sesuatu tadi.
"Sayang..."
"Hemmm, apa Achelku?"
"Apakah Abang sudah ingin punya anak?"
Raihan terdiam sejenak, lalu mengulum senyum dan mengelus kepala Aisyah dengan sayang.
"Di umur Abang yang sudah memasuki 34 tahun ini, sudah tentu ingin sayang. Tapi, semua itu kehendak dari Allah. Kalau kita di izinkan untuk memilikinya, Alhamdulillah. Tapi, kalaupun belum, Abang harap kita bersabar ya? Dan ingat, jangan jadikan itu beban! Kita jalani semuanya bersama-sama sayang!"
Aaaahhhh kok so sweet begitu sih suamiku ini...
Aisyah terharu dan memeluk suaminya itu dengan erat. Sesekali dia menghadiahi Raihan dengan ciumannya. Raihan jadi begitu gemas, dia langsung membalas ciuman Aisyah dengan bertubi-tubi, dan akhirnyaaaaa... Mereka melakukan itu sekali lagi. Setelah mereka selesai memadu cinta, Aisyah terlelap karena sudah merasa lemas dan capek. Raihan mengecup kening istrinya dengan perasaan sayang.
"Terima kasih, Achelku... Abang mencintaimu"
Greb! Aisyah membuka matanya dan langsung melihat jam dinding yang menunjukkan sudah waktunya sholat maghrib. Aisyah bangun dan duduk, dia melihat suaminya masih berdzikir dengan khusuknya. Aisyah tersenyum melihat pemandangan indah itu. Seorang Abang ganteng memakai baju koko, sarung dan kopiah tengah duduk di atas sajadah sambil berdzikir dengan tasbihnya.
Masya Allah Abang...
Mengingat dirinya belum mandi, Aisyah lantas segera turun dari tempat tidur. Dia langsung masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai, Aisyah keluar dengan penampilan segar. Rambutnya masih basah, terbukti dengan adanya lilitan handuk di atas kepalanya.
Saat dia keluar tadi, Aisyah melihat suaminya sudah mengganti sarung dan baju kokonya dengan kaos dan celana training. Raihan duduk di balkon kamar mereka. Tampak dia sedang memikirkan sesuatu. Aisyah penasaran, tapi dia belum melaksanakan kewajbannya. Akhirnya dia memutuskan untuk sholat lebih dulu.
"Abang.."
Raihan tersentak dari lamunanya dan menoleh pada istrinya yang cantik, dengan rambut basah tergerai. Andai Raihan bisa membuat rambut itu basah lagi, hehe.. Tapi kasihan nanti istrinya kalau disuruh mandi wajib terus, takut masuk angin. Tadi saja istrinya sudah muntah-muntah.
Raihan tersenyum, tangannya terulur, agar Aisyah datang untuk dia peluk. Aisyah langsung menyambut tangan itu dan segera duduk disamping suaminya. Raihan memeluk dan sesekali menciumi puncak kepala Aisyah.
Aisyah mendongakkan wajahnya dan menatap Raihan yang tengah menatap langit yang sudah mulai berubah warna. Aisyah mengusap lembut dada suaminya itu.
Eh, kenapa istriku bisa tahu? Apa dia juga tahu kalau Bik Inah tadi datang kemari?
Saat Aisyah masih tertidur tadi, Bik Inah mendatangi apartemen mereka. Raihan senang sekali Bik Inah datang, dia mempersilahkan Bik Inah untuk masuk, tapi Bik Inah hanya ingin menyampaikan keadaan mamanya yang tengah sakit sekarang. Raut wajah Raihan berubah seketika, saat Bik Inah sudah pergi dari apartemennya. Dalam hati dan pikirannya muncul perkiraan yang bermacam-macam. Antara percaya dan tidak.
Apa ini cuma akal-akalan mamanya, agar dia kembali ke mansion. Tapi, dilihat dari orang yang menyampaikan, rasanya tidak mungkin kalau itu cuma tipuan. Walau hati kecilnya tidak bisa berbohong, kalau dia juga begitu merindukan mamanya. Saat berdoa tadi, dia juga sempat menitikkan air mata. Dan selesai sholat, dia mencoba menenangkan dirinya kembali di balkon sambil menunggu istrinya selesai mandi dan sholat.
Karena tidak mendapat jawaban, Aisyah menangkup wajah Raihan untuk melihat dirinya. Aisyah membelai wajah itu.
"Abang, kalau Abang rindu sama Mama, pulanglah dulu Bang"
"Gak, sayang! Biarlah Mama tahu kalau yang Mama lakukan itu salah! Bukan sekali ini aja dia berbuat begitu, Abang gak mau berpisah darimu sayang" Raihan menjatuhkan kepalanya di pundak Aisyah.
Aisyah mengusap kepala Raihan yang bersandar pada bahunya "Ya sudah kalau Abang gak mau, tapi jangan sampai lama-lama marahnya, Bang! Dia orang tua kita, bahkan tinggal dia lagi! Ai udah gak punya orang tua, dan yang tersisa hanya Mama sekarang"
"Tapi apa kamu gak ingat dulu perlakuannya gimana?"
Iya sih, kalau ingat-ingat itu bawaannya pingin nampol aja! Huuuf, aku juga sebenarnya masih sakit hati, sih! Tapi, pelan-pelan aku harus bisa lah memaafkan mertuaku itu. Semoga suatu hari nanti, setelah beliau tahu tentang pernikahanku dengan anaknya, beliau mau menerimaku apa adanya, dan merestui kami ,hmmmm.
"Itulah tanda Mama begitu sayang sama Abang, makanya dia pilihkan perempuan yang baik menurut dia"
Raihan mendengus kesal "Huh, sayang apanya? Sudahlah gak perlu membahas Mama lagi!"
Aisyah menghela nafas "Maafkan Ai ya, sayang?"
Raihan mengangkat kepalanya, sekarang dia memeluk Aisyah seperti pertama mereka duduk tadi. Raihan membenamkan kepala Aisyah didadanya, dia mengusap-ngusap kepala Aisyah. Tiba-tiba Aisyah teringat akan mimpinya. Dia langsung mengangkat kepalanya dari dada bidang Raihan. Saking semangatnya dia membenahi posisi duduknya, Raihan sampai melepaskan pelukannya.
"Abang, Kak Rachel suka bunga mawar ya?"
__ADS_1
Raihan mengernyit "Achel kok bisa tahu?"
Aisyah lalu menceritakan semua mimpinya dengan detail, kecuali saat Rachel mengusap perutnya. Itu Aisyah akan merahasiakannya. Raihan pun menjadi pendengar yang budiman disaat istrinya itu sedang bercerita.
"Apa semua itu benar ya Bang?"
Raihan terkekeh "Aneh ya? Masa Kak Rachel bisa masuk ke dalam mimpimu, sayang? Tapi semua itu memang benar, sih!"
"Memang apa hubungannya danau sama bunga mawar?" tanya Aisyah tak mengerti dengan penasaran yang terselubung.
Raihan menatap langit yang sudah gelap karena malam "Dulu, Abang, Kakak, Mama dan Papa, sering sekali piknik di danau itu. Saat Abang dan Kak Rachel bermain-main, kami menemukan sebuah tanaman bunga mawar, Kak Rachel lalu memetik beberapa dan membawanya. Dia lalu memberikan bunga itu untuk Papa dan Mama. Semenjak itu, dia jadi penyuka bunga mawar, bahkan Papa membuatkannya rumah kaca hanya untuk supaya dia bisa menanam bunga mawar kesukaannya itu!"
"Danau itu juga jadi tempat favoritnya, dia sering duduk disana saat dia sedih..." Raihan mendesah sedih ketika mengingat kembali kenangannya bersama Rachel.
"Abang, dalam mimpi itu, Kak Rachel ingin sekali mama datang kemakamnya dan membawakannya bunga mawar... Dia bilang, mama sudah bertahun-tahun gak datang"
"Tapi, apa iya, orang yang sudah meninggal bisa memberi pesan begitu?" sambung Aisyah lagi.
"Apa karena Kak Rachel meninggal dengan gak wajar, makanya..."
Omongan Aisyah terpotong karena Raihan menatapnya dengan tajam, Aisyah langsung menunduk, dia takut sudah salah bicara dan menyinggung perasaan suaminya.
"Ma..maaf Bang"
Raihan mendesah, dia membuka tangannya "Ayo kesini.."
Aisyah beringsut mendekati suaminya, dia melingkarkan tangannya pada pinggang Raihan.
"Jangan marah, sayang.." ucap Aisyah dengan nada manja.
"Abang gak marah! Maaf, kalau Abang belum sanggup bercerita tentang kematian Kak Rachel!"
Aisyah manggut-manggut "Gapapa, Bang!"
"Pasti Bik Inah yang cerita, kan?"
"Hah? Kenapa Abang bisa tahu?"
"Abang tahu dari bodyguard yang sering mata-matain kamu sayang!" Raihan mencubit ujung hidung Aisyah.
Aisyah memancungkan bibirnya "Uuhh Abang.."
"Masuk yuk sayang, Abang lapar!"
"Ahh iya Bang!"
Wah, anakku pasti sudah lapar nih, maafin Mama ya? habisnya ngobrol sama ayahmu gak ada habisnya! hihi..
Aisyah mengusap-ngusap perutnya ketika Raihan sudah dulu masuk kedalam.
Mereka kemudian menikmati makan malam mereka.
....................
Terima kasih sudah mampir 😊. sehabis membaca, jangan lupa like ya?
Like dari pembaca itu bagaikan duren runtuh, loh! Apalagi ditambah komen dan giftnya! Ditunggu ya, Reader❤️
Salam hangat dari Ils Dydzu.
Oh iya, mampir juga dong ke novel temen aku! enak loh ceritanya, beda dari yang lain!
__ADS_1