
Aisyah memilih duduk di sebuah kursi besi panjang di taman bagian belakang gedung perusahaan. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sedih, sakit hati, semua bercampur jadi satu. Ingin sekali dia menjambak rambut Raihan tadi, seandainya bisa. Tapi apalah daya, dia hanya seorang istri, ya seorang istri yang mencoba menjadi lebih baik lagi. Tapi kalau seandainya Raihan menerima perjodohan dari kakek bule itu, Aisyah tak segan-segan akan meracuni Raihan.
"Hai..."
Tiba-tiba ada suara lelaki disebelahnya. Tapi itu bukan suara suaminya, ingin rasanya dia membuat banjir bandang tempat ini dengan airmatanya.
"Kopi?.."
lelaki itu menawarkan sesuatu pada Aisyah. Mau tidak mau Aisyah membuka tangan yang menutup wajahnya. Lalu dia menoleh kesamping, tampaklah penampakan lelaki tampan berjas yang sedang menyodorkan satu cup kopi panas padanya. Lelaki itu tahu kalau Aisyah menyukai kopi, karena dia sering melihat Aisyah meminum minuman hitam itu dikantin.
"Pak Ghifari?" yang disebut namanya hanya terkekeh menampilkan gigi putih rapinya. Cepat-cepat Aisyah membuang muka sembarang.
"Minum kopi, Aisyah?" tawar lelaki itu lagi. Aisyah melirik cup yang dipegang oleh Ghifari. Dan mau tak mau mengambil cup itu dan menyeruputnya sedikit. Lelaki itu tersenyum puas.
"Terima kasih, Pak!"
"Minumlah, supaya kamu tenang!" dia juga menyeruput kopi miliknya.
Aisyah mengangguk dan menyeruput lagi kopi itu sedikit demi sedikit. Lama-lama menjadi bukit, eh salah.
"Bapak sedang apa disini? Bukannya tadi sedang ada rapat?"
"Ahh itu tidak penting! Saya khawatir sama kamu yang keluar tiba-tiba tadi!"
Waduh! Aisyah memilih tidak menjawab, dia memilih meminum kopi miliknya.
Ghifari memperhatikan tangan Aisyah yang tengah memegang cup, matanya menyipit memperhatikan benda bulat mungil melingkar di jari manis Aisyah.
"Aisyah, boleh saya tanya sesuatu?"
Aisyah menghentikan acara menyeruputnya, dia menoleh ke arah Ghifari yang menatap dia dengan intens.
"Eh iya, Pak? Mau tanya apa?"
"Kamu sudah menikah ya?" hancur sudah harapanku, Aisyah!
Aisyah tampak ragu-ragu mau menjawab. Jawab tidak ya? Kalau ketahuan, aku menghancurkan karir suamiku gak ya? Tapi sampai kapan aku disembunyikan terus. Katanya menyembunyikan pernikahan ini karena takut aku akan celaka! Tapi sampai sekarang tak terjadi apa-apa tuh! Dasar menyebalkan!
"Jawab saja Aisyah! Saya memang menaruh hati padamu. Dan rencananya, dalam waktu dekat ini saya akan melamar kamu!"
Deg, Aisyah menoleh dan menatap Ghifari dengan ekspresi tak percaya.
"Bapak suka sama saya?"
Ghifari mengangguk "Saya sudah suka sama kamu saat pertama kita ketemu, saat kamu mengoceh gak jelas di depan pintu minimarket, haha.."
"Hah?" Aisyah mencoba mengingat kejadian yang dimaksud Ghifari, tiba-tiba dia terkekeh, karena dia berbicara sendiri waktu itu.
"Tapi sepertinya, saya harus mengubur dalam-dalam impian saya untuk menikahi kamu, karena kamu sudah menikah!"
Aisyah tersenyum simpul "Bapak kenapa bisa tahu saya sudah menikah?"
"Hahaha... Semua orang akan tahu dari cincin yang melingkar dijarimu itu"
Aisyah terperanjak dan langsung melihat cincin pernikahannya dengan Raihan. Dia lalu menunduk sedih, dan tak lama dia menyeka air matanya.
"Hei, kenapa sedih? Apa ada yang salah dari kata-kata saya?"
__ADS_1
Aisyah menggeleng, dan menyeka air matanya kembali "Orang-orang pasti akan mengira saya perempuan murahan yang mencoba mendekati Presdir, padahal Presdir itu suami saya!" ucap Aisyah menunduk.
Ada terpaan kesedihan dihati Ghifari. Benar, Dugaan dia tidak salah, pasti ada sesuatu antara Aisyah dan Raihan. Ternyata mereka suami istri. Ghifari mencoba menguatkan hatinya. Dia kembali tersenyum. Tampaknya, dari ucapan Aisyah yang kembali menyeka air matanya, pasti ada sesuatu yang tersembunyi. Apa Aisyah tidak bahagia?
Seandainya Aisyah tidak bahagia bersama Raihan. Dia akan siap mengambil Aisyah dari Raihan, apakah itu terdengar jahat?
"Maaf kalau pertanyaan saya salah, Aisyah!"
Aisyah tertawa miris, dia lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Saya tidak tahu kenapa pernikahan ini disembunyikan terus oleh suami saya!" diam sejenak dan menunduk "Mungkin dia malu punya istri dari kalangan bawah seperti saya! Seperti juga Mamanya yang gak menyukai saya, Pak!"
"Buktinya tadi, saat Bapak itu mau menjodohkan dia dengan anaknya, dia malah diam aja!" sambungnya lagi.
Ghifari terkesiap. Sebenarnya, Raihan tadi langsung menolak secara halus dan bilang kalau dia sudah punya kekasih. Dan Tuan Albert juga memaklumi itu. Sudahlah, dia tidak mau memberitahukan hal itu pada Aisyah.
Aisyah menghela nafas, dia merasa sudah salah membeberkan masalah rumah tangganya dengan Ghifari.
"Maafkan saya, Pak! Tidak seharusnya saya membicarakan hal ini sama Bapak!"
Ghifari tersenyum "Kamu butuh teman untuk mengeluarkan semua unek-unek di hati kamu, Aisyah!"
Aisyah terkekeh "Terima kasih, Pak!"
Tak lama lewat beberapa karyawan perempuan melewati mereka. Semua menatap mereka dengan sinis. Terutama pada Aisyah.
"Huh, dasar sok alim! Padahal dia murahan banget loh temen-temen!" ucap karyawan satunya.
"Iya ya? Gak Presdir, gak rekan Presdir, semua diembat sama dia!" karyawan lain ikut menimpali.
Sepertinya mereka sengaja berbicara dengan keras, agar Aisyah dengar. Aisyah menunduk dan sedih. Ghifari menjadi kasihan melihatnya. Ghifari bangkit dan hendak pergi.
"Bapak mau kemana?"
"Tidak perlu, Pak! Saya permisi dulu!" Aisyah langsung bangkit dari duduknya dan pergi dari situ.
Ghifari hanya bisa mendesah sambil memandangi Aisyah yang berlalu. Dan ternyata sudah ada tangan yang terkepal menyaksikan itu semua.
Aisyah agak setengah berlari mencari toilet. Dan untung saja toilet itu kosong. Langsung saja dia menumpahkan semua airmatanya disana. Sampai-sampai dia memukuli dadanya yang begitu sesak.
Apa salahku? Mereka hanya tidak tahu statusku yang sebenarnya, tapi semua pada menghakimiku! Kenapa semua orang pada menyakitiku, sih!
Dering pesan berbunyi di hp Aisyah. Aisyah menyeka airmatanya, dan melihat pesan dari siapa.
~Temui Abang!~
Aisyah menghela nafas yang panjang. Dari bentuk pesannya yang menggunakan tanda seru begitu, sudah dipastikan kalau suaminya itu sedang marah.
Sepanjang jalan hanya ada bisikan dari mulut-mulut tak berguna yang mencemooh dirinya. Jalan lurus saja ke depan, begitu dia menguatkan dirinya. Kalau tidak, mungkin dia sudah berhenti dan meremas mulut mereka satu persatu. Lagi-lagi dia menghela nafas, dia tidak mau tersulut emosi, tidak baik bagi kehamilannya.
Aisyah berhenti sejenak, tidak ada pengawal yang biasa berjaga di depan pintu ruangan suaminya. Aisyah membuka pintu itu tanpa mengetuk. Terasa sunyi, karena Rizi juga tidak ada di ruangan. Aisyah mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Raihan. Ternyata Raihan ada dikursi kebesarannya, menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata sambil melipat tangan didada. Alisnya berkerut, sepertinya sedang banyak pikiran.
"Abang.."
Raihan membuka mata, dia bangkit dari sandarannya. Raihan menatap istrinya yang hanya menunduk. Dia mendesah, lalu bangkit menghampiri istrinya dan berdiri dihadapannya.
"Kenapa menunduk? Apa kamu tahu kesalahanmu?"
Aisyah hanya diam, sepertinya dia sudah kehabisan energi karena sudah menangis tadi. Lagi pula, tiba-tiba pusing menyerangnya. Mungkin karena efek kehamilannya.
__ADS_1
"Kenapa hanya diam?" Raihan menaikkan suaranya. Aisyah sampai terkejut.
Aisyah mengangkat kepalanya yang tertunduk, dan berani menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya emosi Raihan langsung runtuh kalau melihat istrinya mau menangis seperti itu.
"Ai diam karena merasa gak ada yang perlu diomongkan!"
"Kamu kira Abang tidak tahu apa yang kamu lakukan di taman belakang tadi?"
"Ai gak melakukan apa-apa! Abang kira Ai melakukan apa?"
"Apa yang kamu lakukan bersama Ghifari tadi?"
Aisyah semakin emosi. Pertanyaan Raihan seakan-akan menyatakan, kalau dia sudah berbuat sesuatu yang tercela.
"Apa maksud Abang! Ai cuma sedih karena Abang gak mau menolak perjodohan dari Tuan itu tadi! Ai mana tahu kalau dia datang menemui Ai!"
"Jangan bohong, Ai!"
Dia bahkan gak mau memanggilku dengan panggilan istimewanya kalau sedang marah!
"Apanya yang bohong??? Ya, Ai melakukan kesalahan! Ai bilang kalau Ai ini istri Abang! Apa itu salah? Apa Abang marah?! Apa Abang malu mengakui Ai sebagai istri dihadapan mereka tadi! Sampai Abang mau dijodohkan pun, cuma bisa diam?!!"
Raihan terkesiap mendengar apa yang dikatakan istrinya. Istrinya sampai menangis sesegukan begitu. Bukan tidak mau dia membeberkan pernikahannya. Sampai saat ini, dia masih trauma karena perlakuan mamanya dulu. Raihan takut berpisah dari Aisyah.
"Selama ini Abang takut Ai akan dicelakakan orang suruhan Mama, kan? Tapi sampai saat ini, gak ada yang celakain Ai tuh!"
Aisyah mengusap dadanya yang terasa sesak. Raihan menjadi sedih, tapi rasa cemburu melihat istrinya dengan Ghifari tadi belum mereda. Walau dari tadi dia hanya diam tak menanggapi omongan kesal istrinya.
Aisyah menyeka airmatanya, dia mundur beberapa langkah. Dan berpegangan pada sebuah kursi. Dia terkekeh, menertawai ironi hidupnya.
Sayang, apa Abang terlalu menyakiti perasaanmu?
"Maaf, Ai hanya orang miskin yang akan membuat malu Abang, jika Abang mengakui Ai sebagai istri dihadapan semua orang!"
Kepalanya berdenyut, rasanya begitu pusing yang Aisyah rasakan saat ini. Refleks dia memegangi kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa?" Raihan langsung mendekat dan memegangi bahu Aisyah. Raihan begitu khawatir.
Aisyah langsung melepaskan tangan Raihan. Dia tidak mau disentuh saat ini. Dia begitu sedih dan emosi. Ditambah lagi kepalanya yang sudah begitu pusing.
"Sayang..." lirih Raihan saat Aisyah hendak meninggalkan tempat itu.
"Sayang!" Raihan menarik tangan Aisyah.
Aisyah menolehkan kepalanya sedikit tanpa membalikkan badan, "Ai pingin sendiri.." Aisyah melepas paksa tangannya dari cengkraman Raihan. Dan pergi dari ruangan suaminya.
Raihan menatap sendu kepergian istrinya, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Apakah terlalu kasar kata-katanya? Apa karena dia terlalu cemburu? Begitu jahatkah dia pada istrinya? Raihan membuang nafas dengan kasar. Dia menyugar rambutnya ke belakang.
Ya Allah, apa yang telah aku lakukan?
......................
Terima kasih yang sudah mampir dan baca novel aku. Sehabis baca, biasakan tekan likenya, ya? Hitung-hitung sebagai bensin agar terus melaju untuk menulis novel iniš¤.
Jangan lupa juga untuk komen ya? Terima kasih.
Salam hangat dari Ils Dydzu.
__ADS_1
Mampir juga ke Novel teman aku nih, Mak yang super kocaak! Ceritanya seru, loh!