
Suasana apartemen Raihan mulai agak sedikit ramai, sudah ada Bik Inah, Rizi, penghulu, Sabila dan juga Adit. Aisyah agak sedikit kecewa karena Bram tidak menampakkan diri disaat hari pentingnya ini. Satu-persatu Aisyah pandangi wajah mereka yang tersenyum menatapnya. Lalu matanya beralih pada Raihan yang tersenyum sangat lebar. Dia semakin tampan, Raihan sudah mengenakan setelan jas lengkap, dia juga sudah memakai peci. Mungkin Raihan ingin mengenakan baju terbaiknya disaat hari bersejarahnya ini.
Aisyah membalas senyuman Raihan dengan tulus. Mungkin, dirinyalah penyebab senyum Raihan itu muncul lagi sekarang. Sampai-sampai persetan dengan urusan restu dari calon mertuanya. Tapi dia juga takut karena dirinya, Raihan jadi anak durhaka. Tapi pikirkan itu nanti, yang terpenting buat Raihan bahagia, itu hal yag harus Aisyah lakukan mulai hari ini hingga nanti.
Tapi kesedihan itu masih menyempil dihatinya, bagaimana tidak, baru kemarin orang tuanya pergi untuk selamanya, dan hari ini dia menikah. Aisyah jadi bingung untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini. Tapi lagi-lagi dia butuh orang yang dia cintai, orang yang akan selalu melindunginya. Aisyah menoleh pada Raihan yang tengah berbincang dengan penghulu.
Aku mencintai mu Bang... Walau rasanya aku seperti mati karena kehilangan orang tua, tapi demimu, aku bangkit! Aku tidak ingin kau ikut bersedih karena ku, aku ingin kau bahagia bersama ku Bang, sudah cukup kau sedih selama ini..
Suasana apartemen dalam keadaan kondusif, aman dan terkendali. Rizi sudah mengerahkan anak buah mereka untuk mengatur semua keamanan, termasuk mata-mata Nyonya besar yang hingga saat ini selalu mengintai keberadaan Raihan. Bukan tidak bisa Raihan mengambil alih para bodyguard mamanya. Bisa sekali pun, karena Raihan yang punya kekuasaan penuh. Tapi saat ini Raihan enggan berurusan dengan mamanya itu. Raihan hanya ingin tenang menjalani kehidupannya dengan Aisyah.
Bik Inah menyentuh bahu Aisyah, menyentakkan gadis itu dari lamunannya.
"Ayo Nak! Sudah waktunya..." ucapan lembut Bik Inah membangkitkan senyum Aisyah. Walau Aisyah saat ini gugup setengah ampun, tapi berusaha dia menutupinya dengan senyuman.
Raihan menyambut Aisyah untuk duduk disampingnya. Setelahnya, Bik Inah menutupi kepala mereka dengan selendang. Raihan menjabat tangan penghulu dengan mantap, dan dengan satu tarikan nafas dia mengucapkan ijab qobul dengan lancar. Dan di sertai dengan kata SAH dari saksi pernikahan mereka. Aisyah memejamkan matanya sejenak, statusnya berubah menjadi istri seorang Raihan Ali, orang yang punya kekuasaan dan bukan orang sembarangan.
Setelah selesai berdoa, Raihan memasangkan cincin kawin mahal ke jari manis Aisyah, begitu juga Aisyah menyematkan cincin di jari manis Raihan. Setelahnya, Aisyah menyalam takzim tangan Raihan sebagai suaminya untuk pertama kali. Raihan memegang kepala Aisyah, dan mencium keningnya.
Semuanya begitu bahagia melihat pasangan baru ini, Sabila sampai meneteskan air mata melihat sahabatnya itu akhirnya menikah. Dia sampai bersandar pada bahu Adit, Adit lalu menepuk kepala Sabila. Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan ekspresi wajah yang tak bisa ditebak.
Raihan langsung mendatangi Bik Inah yang sedari tadi mengelap airmatanya dengan selendangnya. Raihan langsung menyalami orang yang telah mengurus dia dan kakaknya sedari bayi.
"Baik-baik rumah tangganya ya Tuan, semoga bahagia selamanya.."
Raihan langsung memeluk Bik Inah, dia agak sedikit terisak dan berbisik di telinga Bik Inah.
"Seandainya Mama bisa merestui kami, Bik..."
Bik Inah mengusap-ngusap punggung Raihan "Sabar Tuan, Insya Allah Nyonya akan berubah suatu hari nanti"
Raihan tertawa kecil dan menyeka air matanya "Insya Allah.."
Setelah acara akad selesai, satu persatu orang sudah mulai berpulangan, penghulu sudah langsung pulang setelah tugasnya selesai, disusul oleh Rizi yang ada urusan mendadak di kantor. Tinggal Sabila, Adit dan Bik Inah. Mereka berdua membantu Bik Inah beberes apartemen. Sedang Aisyah lagi manyun karena tidak di ijinkan untuk ikut membantu. Dia hanya boleh duduk di sofa, padahal dia sudah berganti dengan baju biasa tadi. Baju yang di bawa sama Sabila.
"Ada apa sayang? Kok manyun gitu?" ucap Raihan mengelus kepala Aisyah, lalu duduk disamping istrinya itu.
"Ai gak boleh bantuin..." Aisyah merengek dengan bibir manyun. Aisyah tidak tahu kalau suaminya sudah memperhatikan bibir itu sedari tadi.
Aduh, aku ingin sekali mencium bibir itu, bagaimana ini?
Raihan menoleh pada mereka bertiga yang lagi ada didapur, Raihan mengusap tengkuknya, entah kenapa dirinya terasa panas, padahal dia sudah membuka jasnya. Tapi tidak mungkin kan dia mengecup sekilas bibir istrinya sekarang ini? Kalau makhluk yang ada didapur itu melihat bagaimana? Dasar bodoh kau Rey, mengutuk diri sendiri dia.
Aisyah menoleh dan merasa khawatir karena Raihan tiba-tiba mengusap tengkuknya.
"Abang kenapa?" mulai panik.
Raihan terkekeh, menampilkan gigi putihnya yang rapi "Abang gak kenapa-napa sayang!"
Tapi ucapan Raihan tak dapat membuat istrinya tenang, dengan segera Aisyah mengambilkan air putih untuk Raihan. Padahal ya, Raihan hanya panas dingin karena hasratnya tak bisa di salurkan, bukannya sakit.
__ADS_1
"Minum dulu, Bang! Yang mana yang sakit?"
Raihan hanya bisa tersenyum lucu, dan lagi-lagi merasa aneh dengan sentuhan tangan istrinya yang begitu lembut mengusap-ngusap tengkuknya. Keringat makin bermunculan.
Aduh, lama-lama aku tidak tahan, apalagi ini pertama kali aku disentuh oleh wanita, apalagi ini istri ku yang menyentuh! Uuuhh kenapa makhluk-makhluk itu gak pulang-pulang sih? Gerutunya dalam hati.
Raihan menahan tangan Aisyah yang sibuk mengusap-ngusap tengkuknya, mungkin mengusap-usap sampai keluar asap dan keluar jin, wkwk. Raihan lalu menciumnya. Aisyah mengernyit.
"Abang udah gapapa?"
"Abang udah baikan, makasih ya.."
Aisyah tersenyum malu-malu, lalu Aisyah memandangi Raihan yang tersenyum padanya. Aisyah jadi kikuk lagi, untung saja aksi mereka berakhir karena makhluk yang ada didapur pamit mau pulang.
"Kami pulang dulu Ai! Selamat pengantin baru, semoga bahagia dan cepat dapat momongan" ucap Sabila memeluk Aisyah.
"Makasih banyak ya Sob!"
"Oh iya, ini hadiah dari gue dan Adit..kikikiik" Sabila menyerahkan bungkusan itu dengan cekikikan.
Aisyah menerima bingkisan itu dengan heran "Iihh apa nih?"
"Udah Lo buka aja nanti pas kami udah pulang ya!" ucap Adit dengan di iringi cekikikan juga. Aisyah jadi ilfil melihat kekompakan mereka bercekikikan berjamaah.
Dasar gila mereka!
Niatnya Adit juga mau memeluk Aisyah, tapi apa daya, Raihan sudah menatapnya dengan tajam dari tadi.
Bik Inah juga pamit untuk kembali ke mansion, takut kalau lama-lama dia keluar. Takut ketahuan oleh bodyguard nyonya besar. Akhirnya tinggallah mereka berdua di apartemen. Aisyah tahu kalau dari tadi suaminya memandanginya terus, Aisyah bingung harus melakukan apa, terlebih rasa gugupnya yang mulai naik persentasenya hampir seratus.
"A..abang butuh sesuatu?" tanyanya gugup.
"Abang gak butuh apa-apa sayang!" padahal Raihan juga gugup, tapi dia masih bisa menyembunyikannya dengan sempurna.
"Kalau gitu, Ai taruh ini ke dalam dulu ya, Bang!"
"Iya, taruh dikamar kita!" ucap Raihan beranjak ke sofa dan duduk.
"Eh, i..iya Bang!" Aisyah langsung berlari menuju kamar dan meletakkan paper bag pemberian sahabatnya tadi. Timbul rasa penasaran akan isinya. Belum lagi melihat isinya, Aisyah dikejutkan oleh pintu yang tertutup. Dia menoleh ke belakang, ternyata suaminya yang sedang mengunci pintu kamar mereka.
Aisyah menjadi gugup kembali, apalagi Raihan berjalan ke arahnya dengan tersenyum yang menggambarkan betapa gembiranya dia hari ini.
"Sayang, bisa ambilkan baju Abang?"
"I..iya Bang!"
Aisyah dengan sigap langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh suaminya. Lalu menyerahkannya pada Raihan. Saat Aisyah menyodorkan baju itu, tangannya ditarik oleh Raihan untuk duduk disampingnya. Raihan mencium tangan itu, dan menyentuh lembut tangan istrinya. Peluh keringat sudah mulai membanjiri tubuh Aisyah, gak tahu deh apa yang dia rasakan sekarang.
Raihan melepas jilbab Aisyah, dan membuka kuncir rambutnya. Tergerailah rambut indah Aisyah yang panjangnya hingga sepinggang. Raihan mengusap-ngusap rambut itu, dan menghirup aromanya.
__ADS_1
Huuuuff, untung aku keramas kan, jadi wangi itu rambut! Kalau gak, waduh! Entah apa nanti pikiran Bang Raihan! Aisyah bernafas lega.
Lalu Raihan menyentuh dagu Aisyah dengan telunjuknya agar menatapnya. Sedari tadi istrinya itu hanya menunduk dan tersenyum malu-malu. Membuat Raihan semakin gemas ingin... Ahh ingin apa ya?
"Ternyata istri Abang ini memang cantik ya?" Raihan memuji istrinya dari hati yang paling dalam. Membuat Aisyah ingin jingkrak-jingkrak saking bahagianya. Mengembang senyum dari bibir Aisyah, membuat Raihan frustasi. Tanpa aba-aba, dia mengecup bibir merah muda milik Aisyah, Mengecupnya lama.
Aisyah hanya bisa memejamkan matanya, kalau saat ini juga suaminya meminta haknya, dia sudah menyiapkan diri untuk itu. Setelah mendapat apa yang Raihan inginkan, yaitu mengecup bibir istrinya, dia lalu mengusap lembut bibir itu.
"I love you..." ucapnya lirih.
Belum lagi Aisyah menjawab, Raihan sudah mencium bibirnya kembali. Merasai dan menikmati bibir manis istrinya yang selama ini ingin sekali dia kecup itu. Agak lama mereka berciuman. Tapi sayang sekali, ada dering panggilan masuk di hp Raihan. Awalnya Raihan tidak mempedulikannya, tapi dering panggilan itu tidak berhenti. Dengan kesal Raihan mengambil hpnya, ternyata Rizi yang menelpon.
"Dasar jomblo! Mengganggu saja!" sungut Raihan.
Aisyah bangkit untuk duduk, merapikan lagi bajunya yang sudah agak berantakan. Dengan seksama dia mendengarkan suaminya yang sedang berbicara dengan Rizi melalui telpon. Kata-kata yang Aisyah tangkap hanya ada rapat penting yang mendesak. Setelah selesai menelpon, Raihan meletakkan hp itu di nakas. Menarik nafas untuk mengembalikan keadaan normalnya, setelah tadi sudah mulai agak-agak panas yang dia lakukan pada istrinya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah istrinya yang tersenyum.
Raihan lalu duduk disamping istrinya, membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Abang harus ke kantor! Ada hal mendesak yang harus dimusyawarahkan! Apa kamu mau ikut?"
Aisyah menggeleng "Ai di apartemen aja, Bang!"
"Yakin gak mau ikut? Abang khawatir kamu sendirian disini!"
Aisyah terkekeh "Ai udah besar Bang! Mana mungkin Ai takut!"
Raihan memeluk Aisyah dengan erat, menciumi ubun-ubun istrinya itu. Entahlah, semenjak Aisyah kehilangan orang tuanya dengan tidak wajar, Raihan jadi takut hal-hal yang tidak di inginkan menimpa istrinya.
Dengan perasaan enggan, Raihan bersiap-siap untuk pergi ke kantor, Aisyah berusaha membantu suaminya untuk bersiap-siap. Setelah selesai, Aisyah mengantarkan Raihan sampai depan pintu, lalu menyalami tangannya.
"Setelah Abang pergi, cepat kunci pintunya! Kamu jangan takut! Para bodyguard kita ada dibawah untuk menjaga mu!"
Aisyah terpana mendengar perkataan suaminya, gila! Gue dijaga sama bodyguard, mimpi apa ya gue semalam! Suami gue memang bukan orang sembarangan!
Aisyah mengangguk patuh, Raihan lalu mengecup kening, pipi, dan bibir Aisyah. Untuk yang satu itu, agak lama Raihan mengecupnya, kalau di tanya kenapa, ya suka-suka dialah! Kan sudah sepenuhnya milik dia.
Setelah Raihan pergi, Aisyah langsung masuk dan mengunci pintu. Dia segera menuju kamar, dan menyambar paper bag yang tak sempat dia unboxing tadi. Bagaimana mau unboxing paper bag itu, lah dia aja udah hampir di unboxing sama suaminya, hihi.
"Apa ya kira-kira isinya?" gumam-gumam sendiri.
"Hah? Apa ini?" pekiknya karena melihat suatu benda berwarna pink yang membuat dirinya geli.
Triiiing..
Dengan segera Aisyah mengambil hpnya dan melihat isi pesan itu.
~Jangan lupa di pakai yaaaaa...~
Aaaahhhh dasar gila mereka!
__ADS_1
Jeritnya dalam hati sambil nyengir kuda karena melihat benda berwarna pink itu lagi di tempat tidur.
.......................................