Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Rachel (3)


__ADS_3

Raihan dengan girang memasuki rumah, sambil membawa beberapa bungkusan makanan kesukaan kakaknya.


"Dari mana Tuan?" tanya Bik Inah yang heran dengan Raihan yang tampaknya gembira sekali.


"Dari luar, Bik! Belikan makanan kesukaan Kakak!" jawabnya sumringah.


"Wah, Kak Rachel pasti suka itu, sudah sana antar ke kamarnya ya,Tuan?"


"Iya Bik, Rey antar dulu ya?" dengan setengah berlari dia menaiki tangga menuju kamar kakaknya.


Tok..tok..


"Kak, ini Rey! Rey bawa makanan kesukaan Kakak nih?"


Tak ada jawaban, hanya keheningan yang ada. Raihan lalu menempelkan daun telinganya di pintu kamar kakaknya.


"Hemmm, apa Kakak tidur ya? Aku taruh dalam saja ahh makanan Kakak!"


Raihan lalu membuka pintu itu dengan pelan, dia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar kakaknya. Rachel tak ada di tempat tidurnya. Ahh, mungkin kakak lagi duduk di balkon kamarnya. Itu kan tempat favorit kakak, pikir Raihan. Raihan segera menuju balkon, nihil, kakaknya juga tak ada disana.


Kemana Kakak? Gak mungkin dia keluar kan? Ahh mana mungkin, semenjak sakit ini kan, Kakak gak pernah keluar kamar.


Samar-samar Raihan mendengar suara keran air dari dalam kamar mandi. Raihan lega, karena kakaknya berada di dalam kamar mandi. Dia lalu duduk di sofa, dan menunggu kakaknya keluar dari kamar mandi. Satu jam berlalu, tak ada tanda-tanda kalau kakaknya akan keluar dari sana.


Raihan mulai khawatir, ini diluar dari kebiasaan kakak nya. Kakaknya tak pernah berlama-lama jika di kamar mandi. Bahkan, dia sampai di omelin kakaknya kalau dia lama-lama dikamar mandi.


Teringat Raihan akan omelan kakaknya,


**


"Kamar mandi itu kan lembab, Dek! Banyak setan disitu! Kamu mau di tangkap setan?"


"Ngapain Rey takut, Kak! Kakak kan juga salah satunya, sudah terbiasa Rey lihat setan!" tertawa Raihan.


"Apaaaa?? Dasar kau ya, Reyyyyyy? Hiyaaaaaaa...." Rachel langsung bergaya ala-ala kungfu dan langsung mengejar Raihan. Langsung saja Raihan mengeluarkan jurus langkah kaki seribu. Sambil lari, sambil mengejek kakaknya yang tengah mengejar dia.


"Awas kau ya Rey, kalau Kakak dapat menangkap mu, Kakak suruh kau traktirin Kakak!"


"Weeeeek, itu kan kalau Kakak bisa!" ejek Raihan.


**


"Haaaaah, aku gedor saja lah!" begitu keputusannya.


Tok..tok..

__ADS_1


"Kak, Ini Rey, Kakak kenapa gak keluar-keluar, Kak?"


Hening, tidak ada jawaban.


"Kak? Kakaaaaak?" agak berteriak Raihan. Jegrek, jegrek, tak bisa terbuka , karena pintunya terkunci dari dalam.


Ahh gak iya ini, itu keran air hidup terus. Ngapain Kakak didalam lama-lama begini coba? Aku dobrak saja lah!


Dengan sekuat tenaga, Raihan mendobrak pintu kamar mandi itu. Braaaaaak!!!


Raihan langsung masuk ke dalam dan mematikan keran air, karena air sudah meluber-luber dan membanjiri lantai kamar mandi.


"Kak?" panggilnya.


Raihan tanpa ragu membuka ruangan mandi yang tertutup itu. Dia sibakkan tirai itu, dan alangkah terkejutnya dia melihat kaki yang menggantung, jantungnya berdebar keras. Dia memberanikan diri melihat dari kaki hingga ke kepala yang tergantung itu. Seketika dia lemas, dia terhuyung hingga terjatuh ke lantai.


"Kakaaaaaaaaak...!!!!!!" Raihan berteriak sekencang-kencangnya.


Mamanya dan Bik Inah segera berlari setelah mendengar jeritan Raihan.


Mereka tergopoh-gopoh masuk ke kamar Rachel.


"Rey...!" panggil mamanya.


Terdengar lirih Raihan dari kamar mandi. Jantung mereka berdebar, dengan segera Mama dan Bik Inah berlari menuju kamar mandi.


"Tuan Rey, kenapa berteriak?" tanya Bik Inah panik.


Dengan tangan gemetar, Raihan menunjuk ke arah kakaknya yang sudah terbujur kaku, tergantung pada tali yang terikat di plafon kamar mandinya yang agak tinggi itu.


Mama Raihan langsung histeris melihat kondisi putrinya yang sudah tak bernyawa itu. Begitu juga Bik Inah menutup mulutnya tak percaya.


"Ya Allah, Nak!" Mama Raihan segera bangkit dan memegangi kaki Rachel yang sudah dingin itu. Dia menangis histeris disana. Sedang Raihan hanya diam membisu menyaksikan itu semua, terlihat pucat wajahnya.


Bik Inah dengan segera menelpon para pengawal dan para pelayan untuk membantu. Bik Inah sebenarnya ingin memeluk Rachel juga, tapi lebih baik dia menyiapkan sesuatu yang lain.Tapi dia bingung, apakah jenazahnya diturunkan sekarang atau bagaimana. Dia juga dilanda kecemasan luar biasa untuk menelpon papa Raihan.


Bik Inah mengumpulkan semua keberanian dan tenaga yang ada, lalu dia mengambil gagang telepon yang ada dikamar Rachel, dan menelpon tuannya. Tak lama terdengar nada telepon tersambung.


"Halo.." yang di telpon menjawab.


"Tu...Tuan Besar.." terbata-bata Bik Inah bicara.


"Bik, ada apa?" Papa Raihan sudah mulai gelisah.


"Tu..tuan pulang sekarang ya?"

__ADS_1


"Ada apa, Bik? Jawab!"


Bik Inah tidak bisa lagi menahan air matanya yang sedari tadi sudah mau jatuh.


"Tuan, Non Rachel udah gak ada..." terisak dia.


"Apa maksud mu Bik? Rachel ada di kamarnya tadi!" mulai panik dan marah.


"Tuan, sebaiknya Tuan segera pulang, saya tutup dulu.."


Bik Inah kembali lagi ke kamar mandi, dia langsung memeluk Raihan. Dia membiarkan Nyonya besarnya itu menangis dengan posisi yang sama seperti tadi.Tak lama Raihan juga menangis sesegukan di pelukan Bik Inah.


"Bik, Kakak Biiiik.."  lirihnya.


Bik Inah juga ikutan menangis. Tak lama Papa Raihan datang, dia bingung melihat semua orang pada menunduk sedih. Dia segera berlari menaiki anak tangga. Setelah tiba di kamar Rachel, dia semakin bingung melihat mereka menangis di kamar mandi. Segera dia masuk ke dalam kamar mandi, dan tanpa sengaja langsung melihat mayat Rachel yang masih tergantung, seketika seperti ada petir menyambar dirinya. Papa Raihan terhuyung ke belakang, terasa lemas seluruh tubuhnya. Untung saja dia bersandar pada tembok.


Raihan bangkit karena melihat papanya lemas, dia langsung memeluk papanya dan menangis.


"Pa...."


"Ya Allah..." lirihnya, lalu dia memeluk Raihan dan menangis tersedu-sedu. Dengan tenaga yang masih ada, sambil memeluk Raihan, dia beranjak dari tempatnya bersandar. Pelan-pelan dia gapai dinding demi dinding untuk bisa sampai ke mayat Rachel. Setelah sampai, dia pandangi wajah anaknya yang biasa ceria dan suka tersenyum itu, sekarang wajah itu sudah berubah jadi pucat pasi dan dingin, dalam keadaan menunduk tergantung dengan rambut tergerai, Tak ada lagi keceriaan dan senyum manja yang biasanya Rachel tunjukkan.


Kepala pengawal mendekati Bik Inah yang duduk bersimpuh di lantai kamar mandi.


"Bagaimana, Bik? Kita turunkan saja ya? Kasihan Non Rachel kalau lama-lama dibiarkan menggantung terus?"


"Iya, saya bicara dulu dengan Tuan Besar.."


Bik Inah memberanikan diri mendekati majikannya itu. "Tuan, kita turunkan saja Non Rachel ya? Kasihan dia kalau dibiarkan terus.."


Papa Raihan menyeka air matanya "Iya Bik..dengar kalian semua, aku tidak mau kematian anakku ini sampai ke media, tutup rapat semua mulut kalian, kalian dengar itu?!" dengan tegas Papa Raihan memberi perintah.


Semua pengawal dan pelayan mengangguk "Baik Tuan Besar!"


Sampai mayat Rachel di mandikan dan di sholatkanpun, Mama Raihan tak henti-hentinya menangis. Sedang Raihan, dia hanya sesekali menangis, dia harus kuat untuk menguatkan mamanya. Papanya terlihat tegar, tapi siapa yang tahu di dalam hatinya seperti apa.


Setelah seminggu kematian Rachel, Papa Raihan hanya diam, dia tidak mau bicara, bahkan pada Raihan sekalipun. Dia ingin sekali memukul istrinya itu, sebab istrinya lah, dia kehilangan seorang anak perempuan yang sangat di cintainya, seorang anak yang ceria dan humoris, selalu cerewet sama adiknya. Dia juga kepercayaan papanya memimpin di perusahaan cabang milik mereka. Walau umurnya masih 20 tahun, Rachel sudah sangat piawai memimpin perusahaan.


Tapi apalah daya, semua ini juga salahnya, dia yang salah dalam mendidik istrinya. Dia juga tidak becus, dengan tidak menyertakan pengawal-pengawalnya untuk membuntuti kemana istrinya pergi dan memata-matainya ketika bertemu dengan siapapun.


Karena terhalang restu oleh keegoisan istrinya, anaknya pergi untuk selama-lamanya.


Chel, maafkan Papa, Nak.. Lirihnya dalam hati.


...............................

__ADS_1


Maaf ya para sweets readers, part yang ini agak sedikit aku nulisnya. di karenakan harus pake emosi saat menulis, dan badan author juga agak kurang enak. jadi harap maklum ya..


Tetap setia dan jangan lupa tinggalkan jejak-jejak cinta kalian di novel pertama aku ini, maacih..😊


__ADS_2