
Rachel yang sudah patah hati teramat dalam, memutuskan kembali ke mansionnya. Kencang sekali dia mengendarai mobilnya. Walau hujan lebat sekalipun dia tak peduli keluar dari mobilnya. Bahkan dia menendang pengawal yang hendak memayunginya. Dengan langkah cepat dan tangan gemetar dia memasuki mansion. Dengan sekuat tenaga dia membanting pintu dengan keras.
Papa, Mama dan Raihan yang tengah duduk di sofa terlonjak kaget mendengar suara pintu yang dibuka secara paksa. Mereka menoleh ke arah Rachel yang masih berpegangan pada gagang pintu. Langsung saja mereka menghampiri Rachel yang sudah basah kuyup itu.
"Kamu kenapa, Chel?" tanya Papa khawatir.
"Ayo masuk, Nak! Nanti kamu masuk angin!" ucap Mamanya. Dia mencoba memegang lengan putrinya itu.
Tiba-tiba Rachel menoleh dan memandang tajam mamanya. Dia lepaskan pegangan tangannya. Dia maju selangkah ke arah mamanya dengan tatapan tajam dan menakutkan, Mamanya refleks beringsut mundur. Sepertinya, mamanya itu sudah tahu apa sebabnya.
"Rachel, Rachel, kamu kenapa?" Papa setengah berteriak. Dan mencoba menahan Rachel supaya tidak mendekati mamanya. Papanya merasa putrinya seperti orang kesurupan.
"Kak, Kakak kenapa?" Raihan berteriak.
Mama yang ketakutan hanya bisa mundur ke belakang "Rachel, sadar! kamu kenapa!"
Tiba-tiba Rachel mencengkram bahu mamanya, dengan susah payah papa dan Raihan menarik badan Rachel. Tapi sepertinya tenaga Rachel kuat sekali saat ini.
"Apa mau mu, Ma! Jawab aku!" teriaknya, dia goncangkan tubuh mamanya ke depan dan ke belakang.
Bik Inah yang mengintip dari balik tembok jadi khawatir, apa yang sedang terjadi pada Rachel. Ya Allah, Non Rachel kenapa?
"Ya Allah, Rachel kamu kenapa? Rey, bantu Papa!" dengan sekuat tenaga mereka berdua menarik Rachel yang masih mencengkeram bahu mamanya.
Mamanya sedikit bernafas lega. Dia mengelus-ngelus dadanya.
Ada apa dengan mu, Chel?
Raihan dan papanya mendudukkan Rachel di sofa. Raihan dengan sayang
Menyelipkan rambut kakaknya yang basah ke balik telinga.
"Coba cerita sama Papa, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu berbuat seperti itu sama Mama mu?"
Rachel tiba-tiba menangis, dengan sabar papanya memeluknya. "Ada apa, Nak? Coba cerita sama Papa?"
"Kenapa Mama tega sama Rachel, Pa? Dimana salah Rachel?"
Papanya tak mengerti apa maksud dari perkataan putrinya ini. Matanya menatap sekilas ke arah istrinya yang wajahnya agak sedikit pias itu.
"Rey, panggil Bik Inah! Suruh dia membantu Kakak untuk mengganti pakaiannya!"
"Baik, Pa!" Raihan langsung berlari ke arah dapur. Tak lama, Raihan datang lagi bersama Bik Inah.
"Bawa dia ke kamar, Bik!"
"Baik, Tuan!" Bik Inah langsung membopong Rachel yang agak lemas itu ke kamarnya.
"Rey, setelah Kakak selesai berganti pakaian, temani dia ya?" ucap papanya mengelus kepala Raihan.
"Baik, Pa!" Raihan bergegas mengikuti Kakaknya dan Bik Inah.
Papanya langsung menoleh pada istrinya "Kemarilah!"
Mama Raihan segera mendekat ke sofa dan duduk di samping suaminya.
__ADS_1
"Apa yang sudah kau lakukan pada Rachel?"
"Aku melakukan apa, Mas? Aku hanya ingin yang terbaik untuk dirinya!" menjawab dengan tidak suka.
"Apa maksud mu?"
"Aku tidak suka dengan pemuda yang disukai Rachel itu!" ketusnya.
Papa Raihan melotot tak percaya "Apa maksud mu? Apa yang sudah kau lakukan, hah? Tidak kau lihat bagaimana terguncangnya Rachel?"
Mama Raihan hanya diam, tak mau menjawab.
"Kau mau jawab, atau aku pukul?" Papa Raihan sudah berteriak. Mama Raihan langsung takut.
"Maafkan aku, Mas! Aku hanya menemui pemuda itu, dan menyuruhnya untuk tidak melanjutkan lagi hubunganya dengan Rachel!"
Papa Raihan menghela nafas berat "Ya Allah, kebodohan apa yang telah istri ku lakukan?" lirihnya.
"Aku tidak bodoh, Mas! Apa Mas mau malu, punya menantu seperti dia?"
"Apa yang harus aku malukan, kalau putri ku bahagia bersama dengan pemuda yang di cintainya?"
"Tapi Mas..."
"Cukup!!!" berteriak. Mama Raihan ketakutan, selama ini, suaminya tidak pernah berteriak padanya.
"Pergi kau ke kamar! Jangan keluar sebelum kau sadari apa kesalahan mu!"
Dengan malas, Mama Raihan masuk ke kamarnya. Papa Raihan lalu mendatangi Rachel di kamarnya.
Dengan sedih Bik Inah menjawab "Non Rachel diam terus dari tadi Tuan! Bahkan Tuan Raihan sudah mengajaknya bicara, tapi dia hanya diam saja!"
"Haaaah, terima kasih, Bik!"
Bahkan papanya juga tidak mampu membuka kebisuan Rachel. Dia seperti telah kehilangan semangat hidupnya. Beberapa hari ini, keadaan Rachel semakin buruk. Dia sering menjerit-jerit sendiri. Kadang dia menangis tersedu-sedu. Kalau tibanya dia diam, dia hanya memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Gadis cantik yang ceria itu sudah mulai terlihat berbeda. Rambutnya yang rapi di kuncir Bik Inah pun jadi berantakan lagi kalau dia sudah mengamuk. Bik Inah dan Raihan senantiasa menemaninya kalau Papanya sedang bekerja. Itupun kalau Raihan libur sekolah. Mamanya sama sekali tidak diperbolehkan melihat Rachel. Pernah suatu hari, wanita itu melihat Rachel di kamarnya. Seketika ,Rachel langsung mengamuk dan menjerit-jerit sambil menjambak rambutnya sendiri.
Semua sangat prihatin dengan keadaan Rachel, Papa Raihan jadi lebih sering memarahi istrinya. Karena dirinya, putrinya itu jadi sakit seperti ini. Dia tidak melarang siapapun yang mau menikahi putrinya. Dia tidak ada kriteria khusus untuk lelaki yang ingin jadi menantunya. Dia hanya ingin, lelaki itu sayang pada putrinya. Tapi, dia tidak tahu, apa sebenarnya yang telah istrinya lakukan sampai seperti ini keadaan putrinya.
Raihan mendatangi Kakaknya yang sedang duduk di dekat jendela. Rambutnya berterbangan terkena angin. Dengan sigap Raihan langsung merapikan rambut kakaknya. Dia menguncir rambut kakaknya itu. Setelah selesai, dia lalu duduk di samping kakaknya. Dia genggam tangan kakaknya itu.
"Kak.." panggilnya pelan.
Rachel menoleh ke arah adiknya dan tersenyum, Raihan begitu bahagia, karena kakaknya mau menoleh dan tersenyum padanya. Biasanya, kalau ditanya, Rachel hanya diam dan hanya memandang lurus dengan tatapan kosong. Ingin segera dia menelpon papanya akan hal menggembirakan ini.
"Apa Kakak mau makan sesuatu?"
Rachel hanya tersenyum, dia mengelus kepala adiknya itu. "Rey, kalau Kakak melompat dari jendela ini, apa Kakak akan mati?"
Raihan menatap heran kakaknya "Apa maksud Kakak? Jangan yang aneh-aneh!"
Rachel tertawa kecil dan menoyor kepala Raihan "Kakak becanda! Dasar bodoh!"
Raihan tertawa, Alhamdulillah, Kakak udah sembuh!
__ADS_1
"Rey, kalau kamu nanti dewasa, dan suka sama seorang gadis, jangan lihat dia dari statusnya! Lihat dia dari hatinya!"
"Hehe, pasti Kak!"
Rachel mengelus lagi kepala adiknya itu "Pesan Kakak, hati-hati sama wanita yang kita sebut Mama itu!"
"Maksud Kakak, kenapa kita harus hati-hati sama Mama? Dia kan Mama kita, Kak!"
"Heh, dia itu wanita licik! Kakak membencinya!"
"Kakak, gak boleh bicara seperti itu! Dia orang tua kita! Nanti kita berdosa!"
"Rey, Kakak ingin makan sesuatu, bisa tidak belikan makanan di luar?"
"Bisa, Kak! Rey pergi dulu ya!"
Rachel tersenyum "Iya...!"
Ternyata itu obrolan terakhir mereka. Karena tak lama Raihan pergi keluar. Mama mereka masuk ke kamar. Maksud hati dia, dia ingin meminta maaf dan akan mencarikan lelaki yang lain , yang lebih pantas untuk Rachel.
"Aku tidak mau! Siapa kau yang berhak mengatur hidup ku?" bentak Rachel.
"Aku ini Mama mu! Aku pantas mencarikan yang terbaik untuk putri ku!"
"Aku bukan putri mu wanita licik!" dengan kasar Rachel mendorong tubuh mamanya.
Bik Inah yang mendengar keributan langsung berlari ke kamar Rachel. Dengan cepat dia menahan tubuh Rachel yang ingin mencekik mamanya.
"Non Rachel jangan kayak begini.." Bik Inah menangis. Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Kurang ajar sekali kamu Rachel! Gara-gara lelaki itu, kau jadi kurang ajar sama Mama!"
"Kau bukan Mama ku wanita jahat!" teriaknya.
"Non, sabar Non, istighfar!" ucap Bik Inah menenangkan Rachel yang sudah menggeliat melepaskan diri untuk menyerang mamanya.
"Biar kamu tahu aja! Aku bisa membunuh lelaki yang kau cintai itu sekarang juga!"
"Nyonya Besar, tolong hentikan! Kasihan Non Rachel! Tolong keluar Nyonya!"
Dia memang mau keluar, tapi tetap saja mengeluarkan kata-kata yang membuat Rachel makin down. Dengan hati-hati Bik Inah membopong Rachel ke tempat tidur. Dia usap keringat yang membasahi wajah dan lehernya. Dia lalu memeluk gadis itu dengan perasaan kasihan. Rachel menangis kencang di pelukan Bik Inah. Dia lalu menceritakan semua yang sudah mamanya lakukan untuk memisahkan dia dengan lelaki yang di cintainya.
"Astaghfirullah..." lirih Bik Inah. Dia tidak mau berbicara banyak yang akan makin memperburuk keadaan Rachel.
"Bik, Rachel mau tidur, Rachel lelah.."
Bik Inah mengelus kepala Rachel "Iya Nak, tidurlah kalau mau tidur, tenangkan dirinya ya, kalau perlu apa-apa, panggil Bibik ya, Nak?"
Rachel tersenyum "Tutup pintunya ya, Bik?"
Bik Inah lalu keluar dari kamar Rachel dan menutup pintunya pelan. Ada perasaan tidak enak di hatinya meninggalkan Rachel sendirian di kamarnya.
Ya Allah, lindungi lah anakku Rachel, kasihan dia...
....................................
__ADS_1