Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Farhana Menemui Aisyah


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Raihan hanya diam saja. Dia tidak akan memaafkan mamanya, seandainya dia berani menyakiti Aisyahnya. Dia menoleh ke arah Aisyah yang tengah melihat-lihat dari kaca mobil. Raihan genggam tangan Aisyah, Aisyah terperanjak. Raihan menatapnya dengan sendu, Aisyah jadi kikuk.


"Apapun yang terjadi, Abang akan selalu melindungi mu!"


Aisyah tersenyum hangat "Terima kasih, Bang!'


Raihan dan Rizi kembali lagi ke kantor setelah mengantar Aisyah ke rumahnya. Rizi menatap Raihan yang tengah fokus pada pekerjaannya. Ada suatu hal yang ingin dia sampaikan. Tapi rasanya mengganjal di hatinya. Bukan apa, dia takut Raihan marah padanya.


"Rey.." ragu-ragu Rizi.


"Hmmmm"


"Ada kendala dengan proyek kita di daerah X, Rey!"


"Lalu?" tanya Raihan dengan mata masih fokus pada berkas-berkasnya.


"Sepertinya, pernikahanmu akan sedikit ditunda beberapa hari, Rey!" takut-takut Rizi.


Eh, hening? Dia gak marah pemirsa.


Raihan menghentikan kegiatannya sejenak, lalu dia berpikir.


"Apa kita memang harus kesana?"


Eh, tumben dia tidak marah?


"Iya, Rey! Kau kan pimpinan langsung perusahaan"


"Hmmm, baiklah! Tapi hanya dua hari saja kita disana ya? Aku tidak mau lama-lama meninggalkan Aisyah!" ucapnya khawatir.


"Baiklah, Rey! Akan aku urus persiapannya!"


Raihan mengangguk, tapi dalam hatinya ada perasaan tidak enak.


Kenapa perasaanku tidak enak begini? Ahh, mungkin aku terlalu berlebihan, semoga tidak ada kejadian yang aneh-aneh.


***


"Hmmm, kapan ayah sembuh ya? Aku ingin sekali melihat ayah sehat seperti sedia kala..." gumam Aisyah sedih.


Pagi ini sebelum berangkat bekerja, Aisyah disuruh mamanya berbelanja kebutuhan dapur di pasar. Setelah selesai, dia segera pulang. Dia juga takut terlambat bekerja. Walau Raihan sudah jadi tunangannya. Tetap aja dia ingin jadi karyawan yang disiplin.


Saat Aisyah tengah berjalan pulang, lewatlah sebuah mobil mewah. Ya, itu mobil Farhana. Entah ada angin apa, matanya membawa dia melihat Aisyah yang tengah berjalan sambil menjinjing keranjang belanjaan.


Itu bukannya calon istri Rey?


"Pak, hentikan mobilnya!"


"Jangan, Nyonya! Kita bisa ditabrak orang nanti!"


"Apa sih maksud Bapak? Saya buru-buru mau turun, Pak!"

__ADS_1


"Kalau mau hentikan mobil ya jangan di tengah jalan dong, Nyonya! Harus di pinggir jalan, baru selamat.."


Farhana memasang wajah kesal "Pak, saya suruh berhenti! Saya buru-buru, Paaaaaak!!!"


"Loh, kenapa Nyonya gak nyuruh dari tadi cobak?"


Farhana menepuk jidatnya kesal "Astaghfirullaaaaah.."


Akhirnya pak supir mengerti maksud nyonyanya untuk segera menepikan mobil itu. Untung saja bapak itu tidak bertanya, kenapa kita ke tepi? Kita kan gak di tepi pantai? Asek.


Dengan tergesa-gesa Farhana turun dari mobilnya, agak setengah berlari dia menghampiri Aisyah.


"Dasar bodoh! Kenapa aku pakai high heels begini sih kalau tahu aku mau lari-lari?" kesal sendiri dia. Bodoh amat dah Farhana.


"Dek, Dek! Tungguuuu!"


Aisyah merasa seperti ada yang memanggil dirinya, tapi siapa? Lagi pula dia dengarnya manggil adek, ahh mungkin dia kehilangan adeknya. Begitu pikir Aisyah. Diapun angkat bahu, dan melanjutkan jalannya lagi.


"Dek, berhenti kamu dek!" teriak Farhana.


Karena Aisyah merasa dirinya tidak dipanggil siapapun, dengan santai dia melenggang pergi sambil menggoyang-goyangkan keranjangnya. Alamat, berceceran semua itu cabe-cabe, keluar semua dari keranjang. Pertanyaannya, apakah Farhana akan mengutip cabe-cabe Aisyah yang berceceran itu? Farhana pun menjawab, bodoh kali aku! Kurang kerjaan, aku aja susah mengejar dia, konon disuruh ngutipin cabenya pula!


"Adek yang bawa keranjang belanjaaaaan...!" panggil Farhana lagi, dia hampir putus asa mengejar Aisyah.


Aisyah berhenti, dia memperhatikan sekitar. Tidak ada yang bawa keranjang belanjaan seperti dirinya. Dia menoleh ke belakang, dan terperangah melihat siapa yang datang menghampirinya.


"Mbak Farhana?" gumamnya heran.


Farhana ngos-ngosan, dia menyeka keringat di dahinya. Aisyah agak keheranan memperhatikan makhluk berjilbab di depannya.


"Mbak baik-baik aja?"


"Alham..du..lillah, aaaa..khir..nyaaa, ka...muuuu, ber..hen..ti..ju..ga!" terbata-bata dia bicara saking capeknya.


Aisyah pun jadi ikut-ikutan merasa sesak nafas karena mendengar Farhana bicara.


Mbak ini kenapa ya?


"Mbak, kita duduk disitu dulu ya?" tunjuk Aisyah ke bangku taman.


Farhana hanya mengangguk, mereka akhirnya duduk di bangku taman yang Aisyah tunjuk tadi.


Aisyah merogoh botol air mineral yang ada di keranjang belanjaannya. Agak ragu dia mau memberikannya pada Farhana.


"Emmmm, maaf, Mbak! Saya punya ini.. Sepertinya Mbak butuh minum"


Farhana langsung menerimanya dengan senang hati, dia lalu membuka dan meminum air mineral itu.


"Mbak gak jijik kan?"


"Hahaha, jijik apa sih, Dek! Mbak dulu juga seperti mu! Hidup dalam kesederhanaan.."

__ADS_1


Aisyah terperangah "Hah? Masa sih, Mbak?"


Farhana mengangguk dan tersenyum "Oh iya, kita belum kenalan? Nama Mbak, Farhana.." Farhana mengulurkan tangannya.


Aisyah langsung menyambut tangan Farhana, dia menyalami tangan itu. Farhana terkesima atas kesopanan Aisyah.


"Saya Aisyah, Mbak!" tersenyum ramah dia.


Duh, manis sekali kamu, Dek! Pantas Rey sepertinya cinta sekali!


"Kapan kalian akan menikah?"


Aisyah tampak bingung menjawabnya, Farhana mengerti, mungkin Aisyah masih ragu bicara dengan orang baru seperti dia.


"Jangan takut, Dek! Apa Mamanya Rey sudah ada buat sesuatu pada mu?"


Aisyah terperanjak, dari mana Mbak ini tahu?


"Gak, gak ada buat sesuatu kok sama Aisyah, Mbak! Mama Bang Raihan baik banget.."


Farhana tak percaya "Jangan bohong, Dek! Mbak yakin dia pasti sudah berbuat sesuatu! Mana mungkin dia setuju menikahkan anaknya sama orang seperti kita!"


Aisyah hanya diam saja, dia bingung mau menjawab apa.


"Ayo, Dek! Jangan ragu cerita sama Mbak! Mbak menemuimu agar kamu selalu hati-hati dalam intaian Mamanya Rey!"


"Hmmmm, Mama Bang Raihan sepertinya memang gak suka sama Aisyah! Waktu ke rumah mereka, Aisyah di bilang sampah! Huuuf sakit sekali, Mbak!"


"Itu masih permulaan, Dek! Jangan sampai dia menyakiti kamu dan keluargamu! Mbak kasih saran, apapun yang dia lakukan, jangan sungkan untuk bicarakan semuanya sama Rey!"


"Tapi, Mbak... Aisyah gak mau dia jadi anak durhaka!"


Farhana menghela nafas "bukan dia yang durhaka, tapi Mamanya! Rey selama ini diam, karena tidak tahu apa yang sudah Mamanya lakukan di belakang dia! Sudah waktunya dia tahu kebusukan Mamanya!"


Aisyah tampak berpikir, Farhana mengerti keadaan Aisyah. Dia menepuk bahu Aisyah dan tersenyum.


"Mbak serahkan semua sama mu, Dek! Mbak hanya bisa mendoakan keselamatan dan kebahagiaan kalian!"


"Aisyah hanya ingin Bang Raihan bahagia, Mbak!"


Farhana mengangguk dan tersenyum, pembicaraan mereka teralih ke hal lain. Seperti kapan Farhana menikah, dan anak yang menabrak Aisyah waktu menguping pembicaraan mereka kemarin di rooftop. Sesekali mereka tertawa renyah.


Sayang sekali, pemandangan itu tertangkap oleh anak buah Mama Raihan. Selama ini, mereka terus memantau pergerakan Aisyah dan keluarganya. Kapan waktu yang tepat untuk menghabisi mereka semua.


"Nyonya Besar! Ada Farhana disini! Sepertinya dia sedang memberitahukan sesuatu pada Aisyah!" dia diam dan mendengarkan perintah Nyonya Besarnya melalui telepon.


"Baik Nyonya Besar! Kami akan laksanakan malam ini!"


Pria itu menutup telponnya, dan seringai jahat muncul di wajahnya. Menatap mangsa yang tengah bercengkrama itu.


.......................

__ADS_1


__ADS_2