
Raihan dan Rizi tiba juga di Rumah Sakit, tempat dimana Bram di rawat. Agak ragu Raihan mau masuk ke kamar perawatan Bram. Ada canggung dan rasa tidak enak hati, mengingat perlakuan kasar nya pada Bram.
Rizi yang mengetahui itu pun menepuk lembut punggung Raihan.
"Ayo Rey.." ucap Rizi sambil tersenyum.
Raihan mengangguk "Iya ayo!"
Rizi pun membukakan pintu untuk Raihan.
"Assalammu'alaikum" ucap mereka bersamaan.
"Wa'alaikumsalam" jawab Bram dari dalam.
"Hai Bram" sapa Rizi.
Bram menoleh, dan dia terkejut, karena bukan Rizi saja yang menjenguk nya, tapi juga ada Raihan.
"Mmm, masuk Bang, mmm, Rey" ucap Bram canggung.
Rizi mengambilkan kursi untuk Raihan duduk.
"Duduk lah Rey..."
Raihan pun duduk di kursi pemberian Rizi. Mula-mula mereka hanya diam, Rizi memahami kalau mereka masih ada rasa canggung.
"Eheeem..." Rizi berdehem.
Raihan dan Bram menjadi salah tingkah. Tapi akhir nya Raihan berani membuka suara nya.
"Mmmm, bagaimana keadaan mu Bram?"
"Alhamdulillah, aku udah mulai baikan Rey, mmm Rey, akuu..."
Omongan Bram terputus karena Raihan sudah mengangkat telunjuk nya, isyarat supaya Bram jangan bicara lagi, karena dia yang akan bicara.
"Bram, maafkan aku, aku begitu emosi waktu itu, aku sampai memukuli teman terbaik ku hingga pingsan, maafkan aku Bram, aku sangat menyesal.." ucap Raihan dalam, dan penuh penyesalan, sampai-sampai dia menunduk karena sedih sudah bertindak semena-mena pada teman terbaik nya itu.
Bram tersenyum, Bram tepuk punggung Raihan.
"Hei Bos, seperti nya bos ku ini bukan tipe orang mewek seperti ini, dia itu orang yang tangguh, lagi pula wajar kalau kau marah Rey, aku telah berani mengusik yang menjadi milik mu, maafkan aku.."
Raihan mengangkat wajah nya, dia pegang tangan Bram. Dia tersenyum.
"Aku sudah tahu kalau kau menaruh perasaan sama Aisyah, tapi aku tidak tahu kalau kau sampai seberani ini.." ucap Raihan terkekeh.
"Iyaaa, itu lah salah ku Rey, aku mohon maafkan aku ya?"
"Iya Bram, maafkan aku juga ya?"
"Eheeem..." Rizi berdehem lagi.
Raihan dan Bram menoleh bersamaan dengan mata malas.
"Drama banget sih kalian!" ejek Rizi.
Dengan kesal Raihan mengambil bantal yang jadi sandaran tangan Bram dan melemparkan nya ke wajah Rizi.
"Dasar sialan..!" umpat Raihan.
"Uuuhh apaan sih kau Rey..!" gerutu Rizi.
Bram tertawa lebar melihat mereka.
"Begini lah, kalau dia tidak tahu rasa nya suka pada seorang gadis" ejek Raihan membalas Rizi.
__ADS_1
Rizi dengan kesal memukul lengan Raihan " dasar keparat kau Rey!"
"Oh sudah berani ya melawan bos?" tanya Raihan tapi dengan mode becanda.
Mereka pun tertawa bersamaan, Raihan pun lega, Bram mau memaafkan diri nya. Sekarang ini, bagaimana cara nya mendapatkan maaf dari kekasih nya, Aisyah.
"Aku butuh bantuan kalian!" kata Raihan.
"Apa masalah Aisyah ya?" tanya Bram.
Raihan mengangguk "Iya Bram, seperti nya dia masih marah!"
"Tenang, serahkan pada ku!" ucap Rizi sambil menepuk dada nya.
"Aseeeeek!" kata Bram.
Raihan memandang aneh Rizi "Memang kau bisa apa?.. Kau kan tidak ada tahu menahu nya tentang wanita!"
Ya Allah tajam nya mulut si Rey ini, minta di tabok itu mulut! Batin Rizi.
"Pokok nya kau tenang saja Rey, aku akan atur semua nya!" ucap Rizi.
Raihan pun mengangguk "Oke, selama ini kau memang bisa mengatur semua nya, aku mengandalkan mu!"
-----------------------------
Setelah lepas maghrib, Aisyah mengajak Sabila bertemu di taman kota. Aisyah merasakan suntuk yang luar biasa saat ini. Dia bingung, dan juga khawatir pada Raihan. Karena sampai sekarang nomor nya tidak bisa di hubungi. Sedang kan dia tidak tahu dimana Raihan tinggal, kalau tahu aja, udah dia sambangi mungkin (dengan catatan kalau dia berani).
Bolak-balik dia menghela nafas. Macam udah punya anak banyak nan lasak-lasak pula, begini lah kalau orang jatuh cinta, lebih parah lagi suntuk nya dari pada Mamak-mamak yang bingung besok mau masak apa. Wkwk.
Sabila yang memperhatikan pun jadi bingung karena nya, kenapa nih anak? Apa kesambet atau bagaimana? Apa perlu ruqyah?
Tiba-tiba Sabila jadi merinding. Dia pegang tengkuk nya.
Gantian Aisyah yang memperhatikan makhluk hidup di sebelah nya yang dari tadi memegangi tengkuk nya. Aisyah memonyongkan bibir nya.
Sabila terkejut "Eh, mana ada!" jawab nya kikuk.
"Mana ada apa nya?" tanya Aisyah lagi.
Belum sempat Sabila menjawab, hp Aisyah berdering, ada panggilan masuk.
"Eh bang Rizi, ada apa konon dia menelepon nih?" ucap Aisyah dengan nada berbeda.
Betul kan, dia kesurupan?.. Kayak mana cara nya aku kabur ini?.. Tapi kenapa gak di angkat itu telpon, kan mulai gila nih si Ai! Batin Sabila.
"Woi, kenapa gak di angkat itu telpon nya?"
"Hmmm, malas!" jawab nya singkat.
Sabila geleng-geleng kepala. Dan ternyata, gak cuma sekali Rizi menelpon. Dengan kesal Sabila merebut hp itu dari tangan Aisyah.
"Halo, Pak?"
"Iya, ini saya Sabila, Pak... Mmm, kami lagi ada di taman kota Pak!"
Aisyah berbisik-bisik " Apa kata nya?" pelan sekali dia bicara.
Sabila mengisyaratkan dengan tangan nya, supaya Aisyah diam. Tak lama, Sabila mematikan hp nya dan menyerahkan nya pada Aisyah.
"Nih hp lo!"
Aisyah menerima hp nya " Apa kata Bang Rizi?"
"Pak Rizi mau kesini kata nya, mau jumpai lo Ai!"
__ADS_1
"Yaaaaah, kenapa gak Bang Raihan sih yang kesini?" ucap Aisyah sedih.
Sabila menepuk punggung Aisyah " Tenang Ai, semua masalah pasti akan terlewati!"
"Hmmm, apa Bang Raihan akan mengakhiri hubungan kami ya melalui Bang Rizi?... Tapi aku kan gak salah Bil, malah aku yang di marah-marah sama Bang Raihan!"
"Udah Ai, jangan mikir yang aneh-aneh!"
Aisyah mengangguk tak semangat "Hmmm.."
Setengah jam mereka menunggu, akhir nya Rizi datang juga.
"Assalammu'alaikum, maaf ya lama" sapa Rizi.
"Wa'alaikumsalam.." jawab mereka bersamaan, "Gak apa-apa Pak!" sambung Sabila lagi.
"Mmm, ada apa Abang datang kesini malam-malam?" tanya Aisyah penasaran.
"Ya, kalian ngapain juga di sini malam-malam?" tanya Rizi kembali.
"Biasa Pak, kami mau nungguin bintang jatuh, mana tahu ya kan, habis jatuh langsung terkabul!" jawab Sabila sambil terkekeh, geli rasa nya dia menjawab seperti itu. Aisyah dengan gemas memukul lengan Sabila sambil tertawa juga.
"Apa nya yang terkabul?" tanya Rizi sambil menaikkan alis nya sebelah.
"Ya, doa nya lah Pak yang terkabul, masak yang lain.."
"Doa itu mohon nya sama Allah, bukan sama bintang jatuh!"
Sabila memanyunkan bibir nya mendengar jawaban tegas Rizi. Ya iya lah, masak mohon sama bintang jatuh, sedangkan bintang aja ciptaan-Nya? Hayo?
Astaga Pak, gak bisa becanda ya.. Batin Sabila.
Rizi lalu duduk di bangku taman lain nya, bersebelahan dengan bangku yang lagi di duduki oleh Aisyah dan Sabila.
"Abang kesini mau bicarakan tentang Raihan" langsung aja dia ke inti pembicaraan, kenapa dia bisa sampai ke taman kota malam-malam begini. Ya pasti karena bos nya itu.
Sedikit-sedikit Sabila mencuri-curi pandang pada Rizi.
Duh, Pak Rizi ini ganteng juga kalau di lihat-lihat, tapi kelihatan sekali dia sudah dewasa, hmmm kenapa dia gak kawin-kawin ya? Batin Sabila.
"Bang Raihan kenapa? Apa dia baik-baik aja Bang?" tanya Aisyah khawatir.
"Dia baik-baik aja Ai, masih bernafas dia, tenang aja!" jawab Rizi sambil memainkan tangan nya untuk menenangkan Aisyah.
"Hmmm, jadi kenapa dia gak bisa di hubungi Bang?" tanya Aisyah dengan perasaan sedih.
"Hp nya rusak Ai, oh iya, Abang cuma mau kasih tahu keadaan Raihan sekarang ini Ai!"
"Ya Allah Bang Raihan kenapa?" tak terasa air mata lolos dari mata indah nya.
Sabila menjadi khawatir "Ai, jangan nangis Sob!"
Eh, aku ketahuan nangis! Batin Aisyah.
"Aku gak nangis Bil, mata ku cuma kemasukan binatang kecil aja, minta di ruqyah nih mata, hehe.." balas Aisyah becanda agar tak ketahuan kalau dia agak sedih saat ini.
Sabila memanyunkan bibir nya " Uuuhh apaan sih lo Ai!"
Aisyah terkekeh kecil melihat tanggapan Sabila seperti itu. Dia bersyukur punya sahabat yang sangat sayang pada nya.
"Abang boleh gak ceritakan tentang masa lalu Raihan?"
Aisyah mengernyit "Masa lalu?.... Masa lalu apa Bang?"
Sabila seperti nya juga penasaran seperti apa masa lalu dari kekasih sahabat nya ini. Dia mulai ambil ancang-ancang untuk mendengarkan.
__ADS_1
Rizi pun tersenyum sambil menoleh pada kedua gadis yang penasaran itu.
............................................